NovelToon NovelToon
Bocah Cadel Itu Suami Ku

Bocah Cadel Itu Suami Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.

Sampai suatu malam… hidupnya berubah.

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.

Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.

Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui

•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨


•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍

" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian?

Bab 31 — Sarapan dan Perhatian Kecil

Pagi itu, Brielle bangun lebih awal, seperti biasa. Sudah beberapa hari sejak pernikahan mereka, namun rasanya masih sedikit asing, meskipun mereka mulai merasa lebih nyaman satu sama lain. Brielle berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan, memilih nasi goreng dan telur ceplok sebagai menu simpel yang bisa mereka nikmati bersama.

Sambil menunggu, Brielle sempat berpikir tentang betapa cepatnya hidup mereka berubah, dari yang semula hanya perjodohan menjadi kenyataan yang harus mereka jalani. Meskipun awalnya canggung, Brielle mulai merasa hubungan mereka tidak seburuk yang ia bayangkan.

Setelah selesai menyiapkan sarapan, Brielle menyusun piring di meja makan. Tak lama kemudian, Nevran datang dengan wajah yang tetap dingin, seperti biasa. Namun, saat melihat sarapan yang sudah siap, ia memberi sedikit komentar.

“Beneran lo yang masak ini?” tanya Nevran, dengan ekspresi sedikit terkejut.

“Ya, masa iya gue nggak bisa masak? Cuma yang simpel kok, enggak sehebat masakan Bunda lo,” jawab Brielle sambil menyendok nasi goreng ke dalam piring.

Nevran mengangguk sambil duduk. Suasana terasa sedikit lebih santai saat mereka mulai makan bersama. Tanpa ada pembicaraan yang terlalu serius, mereka saling mengobrol ringan tentang kegiatan sekolah dan hal-hal sepele yang membuat pagi itu terasa lebih nyaman.

Setelah sarapan, mereka beranjak menuju depan rumah. Brielle hendak menaiki motor Nevran, namun tiba-tiba Nevran memberikan jaket kulit hitamnya.

“Hah? Kenapa?” Brielle bertanya, bingung dengan tindakan Nevran.

Nevran tersenyum tipis. “Tutupin paha lo. Gue nggak mau orang lain lihat.”

Brielle merona, merasa sedikit canggung tapi juga terkejut dengan perhatian Nevran yang biasanya dingin. “Ya ampun, Cadel!” Brielle hanya bisa tersenyum malu, meskipun hatinya sedikit berdebar.

Mereka pun berangkat ke sekolah. Begitu sampai di parkiran, sahabat-sahabat mereka sudah menunggu. Axel berdiri dengan ekspresi datar, tidak tampak terlalu semangat, sementara yang lain sedikit bercanda.

Nevran melambaikan tangan tanpa berbicara banyak, tetap dengan sikap tenang. “Kalian berdua makin terlihat lebih deket ya sekarang,” Axel berkata sambil tersenyum nakal. Brielle memerah mendengarnya.

Axel hanya melirik sesaat lalu mengangguk. “Mereka sih biasa aja, yang penting jangan ganggu orang lain.”

“Tenang aja,” Kyven menyahut sambil tertawa. “Gak bakal ada yang ganggu kok.”

Brielle mulai merasa lebih santai. Meski Nevran tetap terkesan tidak terlalu peduli dengan obrolan sahabat-sahabatnya, Brielle sudah mulai terbiasa dengan sikap dinginnya.

---

Jam Istirahat

Kring! Kring!

Bel berbunyi nyaring, menandakan waktu istirahat telah tiba. Seketika, suasana sekolah berubah menjadi lebih riuh. Para siswa berhamburan keluar kelas, ada yang berjalan santai sambil mengobrol, ada pula yang bergegas menuju kantin.

Brielle dan sahabatnya memutuskan untuk pergi ke kantin. Keisha dan Celine segera mencari tempat duduk yang kosong. Suasana kantin cukup ramai, tapi akhirnya mereka menemukan meja di sudut yang masih tersedia.

“Kalian cari tempat duduk aja, gue yang pesen makanannya. Kalian mau pesen apa?” tanya Keisha.

“Gue mau bakso sama es teh,” jawab Brielle cepat, perutnya sudah tidak sabar untuk diisi.

Keisha mengangguk lalu menoleh ke Celine. “Kalo lo, Lin? Mau pesen apa?”

Celine tersenyum tipis. “Gue samain aja sama si Brielle.”

“Oke, gue pesen sekarang,” ujar Keisha sebelum melangkah ke antrian.

Setelah beberapa menit menunggu, Keisha kembali dengan nampan berisi pesanan mereka.

Baru saja mereka mulai menikmati makan siang, kantin kembali dipenuhi dengan kehebohan kecil. Nevran dan gengnya baru saja datang. Aura mereka yang dingin dan berwibawa membuat para siswa lain secara otomatis menyingkir.

Nevran berjalan di depan, diikuti oleh Axel, Derryl, Nayel, Kyven, dan Haikal. Tatapan mereka menyapu seisi kantin sebelum akhirnya memilih duduk di meja tak jauh dari Brielle dan sahabat-sahabatnya.

Brielle yang tadinya fokus makan, melirik sekilas ke arah mereka. Namun, ia memilih untuk mengabaikan dan kembali menikmati baksonya. Merasa kurang pedas, ia pun mengambil botol sambal dan mulai menuangkannya ke dalam mangkuk.

Namun, sebelum suapan ketiga, tiba-tiba sebuah tangan menahan pergelangannya. Brielle mendongak dengan kening berkerut, lalu bertemu dengan tatapan tajam Nevran.

Tanpa banyak bicara, Nevran mengambil botol sambal itu dari tangan Brielle dan mengembalikannya ke tempat semula.

“Jangan kebanyakan sambal,” ucapnya dingin.

Brielle menatapnya dengan bingung. “Hah? Kenapa emangnya?”

Nevran menghela napas seolah tak sabar. “Lo mau sakit perut?”

Brielle mendengus kecil, merasa heran dengan sikap Nevran yang tiba-tiba melarangnya. Namun, sebelum ia sempat membalas, suara Derryl ikut menimpali dengan nada menggoda.

“Wah, wah... perhatian banget si pak bos sama bu bos,” cengirnya, menimbulkan reaksi tawa kecil dari yang lain.

Brielle melirik Nevran, yang tetap memasang ekspresi datarnya. Meskipun begitu, entah kenapa, hatinya merasa sedikit hangat dengan perhatian kecil yang diberikan Nevran barusan.

---

Pulang Sekolah

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring. Suasana di sekolah mulai ramai dengan para siswa yang bergegas meninggalkan kelas.

Nevran dan Brielle berjalan berdampingan menuju parkiran. Tidak seperti biasanya, sahabat-sahabat mereka sudah pulang lebih dulu.

Saat mereka hampir sampai di parkiran, Brielle menoleh ke arah Nevran. “Cadel, nanti kita mampir dulu ke rumah Mommy gue ya.”

Nevran melirik Brielle dengan tatapan datar. “Mau apa emang?”

Brielle menghela napas pelan. “Gue kangen banget sama Mommy. Semenjak gue pindah ke rumah lo, gue jadi jarang komunikasi. Jadi bisa kan mampir?”

Nevran terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Bisa, tapi gue nggak bakal lama. Soalnya gue harus ke markas.”

Brielle mengangguk paham. Dia tahu seberapa sibuknya Nevran dengan urusan gengnya. “Oke, tapi sebelum ke rumah Mommy, kita mampir dulu ya ke kafe buat beli cupcake.”

Nevran menghela napas. “Iya, yaudah ayo naik.”

---

Rumah Mommy Elena

Setelah mampir ke kafe, mereka akhirnya sampai di rumah Mommy Elena. Malam mulai turun. Brielle dengan semangat turun dari motor dan langsung menekan bel rumah.

Tak lama, pintu terbuka, dan sosok Mommy Elena muncul dengan senyum lembutnya. “Assalamu’alaikum.”

Nevran langsung memberi salam dengan sopan. “Wa’alaikumsalam, Mom.”

Namun, sebelum sempat berkata lebih jauh, Brielle langsung berlari ke arah ibunya dan memeluknya erat.

“Mommy! Brielle kangen banget!” ujar Brielle dengan suara penuh kerinduan.

Mommy Elena tertawa kecil, membalas pelukan putrinya. “Aduh, Brielle! Mommy kaget. Kamu tiba-tiba aja meluk.”

Brielle tertawa kecil sambil masih memeluk ibunya. “Hehehe, soalnya kangen banget.”

“Mommy, Daddy mana kok gak ada?” tanya Brielle.

“Daddy lagi ngurus perusahaan yang ada di luar negeri, sayang,” jawab Mommy Elena.

Mommy Elena tersenyum lembut, mengusap kepala putrinya. “Yaudah, ayo masuk. Nanti Mommy buat minuman buat kalian.”

Namun, sebelum Brielle bisa melangkah masuk, Nevran langsung menyela. “Eh, nggak usah, Mom. Nevran mau langsung pamit.”

Mommy Elena menatap Nevran dengan sedikit heran. “Kenapa buru-buru banget?”

“Nevran harus ke markas, soalnya ada urusan penting.”

Mommy Elena akhirnya mengangguk mengerti. “Yaudah, hati-hati di jalan.”

Nevran mengangguk. “Iya, Mom.”

Sebelum pergi, Nevran menoleh ke Brielle yang masih berdiri di depan pintu. Ia melangkah mendekat dan menatap Brielle dengan tatapan tajam namun lembut.

“Gue pergi dulu, jangan nakal,” ucapnya sambil mengangkat tangan untuk mengacak rambut Brielle dengan gemas.

Brielle membelalakkan mata, refleks mundur sedikit. “Ih, rambut gue jadi berantakan!” gerutunya, sambil cepat-cepat merapikan rambutnya.

Nevran terkekeh. “Biarin aja, tetap cantik kok.”

Brielle merasakan pipinya mulai memanas. “H-Halah, yaudah sana! Jangan lama-lama!” ucapnya pura-pura kesal.

Nevran hanya tersenyum tipis, lalu berbalik menuju motornya. Setelah menyalakan mesin, ia melirik Brielle sekali lagi sebelum akhirnya melaju pergi.

Mommy Elena yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka hanya tersenyum penuh arti. “Udah saling nyaman, ya?” godanya pelan.

Brielle langsung tersentak. “Hah?! A-apa sih, Mommy!” ujarnya gugup, buru-buru masuk ke dalam rumah sebelum ibunya menggoda lebih jauh.

Mommy Elena hanya tertawa kecil melihat reaksi putrinya.

---

Di Markas Dravin Clutch

Nevran tiba di markas dengan cepat. Begitu sampai, ia langsung disambut oleh sahabat-sahabatnya yang sudah berkumpul.

“Lama banget,” kata Axel dengan nada datar. “Kita udah nunggu dari tadi.”

Nevran mengangkat alis. “Ada masalah?”

Haikal, yang selalu paling tenang di antara mereka, menyilangkan tangan. “Geng Venom ngajak kita balapan.”

Nevran menatap mereka dengan tajam. “Balapan?” Ia menyeringai, matanya berkilat penuh tantangan. “Menarik. Kita terima tantangan mereka.”

Derryl mengangguk. “Balapannya di jalanan perbukitan. Lo siap?”

Nevran menatap mereka dengan yakin. “Gue selalu siap.”

Bersambung

1
Arin
Itu artinya biar dirimu sadar apakah ada Cadel di hatimu? Apakah dirimu merasa kehilangan karena cadel tidak suka usil lagi...... Coba tanya hatimu Elle? Cadel pentingkah dihatimu???
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
SANG
Widih...
SANG
Asik banget💪👍
SANG
Wah.....
kikyoooo
mangat mangat ... sesama author🤭
Alia Chans: thancu dah mampir😉
total 1 replies
SANG
Aku kasih apa ya, bintang lima aja deh. Moga sampai tamat dan mendapatkan rangking.
SANG
Semangat dek👍💪
SANG: Oke dek. lanjut💪👍
total 2 replies
SANG
Lanju👍💪
SANG
Bunga untukmu dek/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Jhylara_Anfi
orang2 tulisan pada rapi gini ya, ga kaya aku sih yg masih amburadul
Jhylara_Anfi: iyah pastinya💪
total 2 replies
Lucky Ferdinand Sihombing
lanjutttgt
Lucky Ferdinand Sihombing
Gak brisik gak Briellle 🤣🤣
Lucky Ferdinand Sihombing
lucu bet mereka berantam 🤣🤣
Lucky Ferdinand Sihombing
hadir 💪
jeeny sihombing
lanjut pokoknya💪
jeeny sihombing
keren
cila_aa
Haii salam kenal kak🖐


bantu support juga yaa😇
Alia Chans: Salken juga kk☺
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
et si cadel bisa ae maen nyosor aja 😩
Wulandari Ayuningtyas: wkwk🤣🤣
total 2 replies
Wulandari Ayuningtyas
itu om om suruh share lok buruan thor,mau aku gampar dengan kata kata 🤣
Wulandari Ayuningtyas: iya biar sadar dia 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!