NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BADAI DI DUA BENUA

Sementara deru motor balap yang ditumpangi Davika dan Gus Zayyad membelah malam menuju pelabuhan utara, SUV hitam besar milik logistik Zayyad bergerak dengan keheningan yang intimidatif menyusuri jalan tol lingkar luar Jakarta. Kaca filmnya yang ekstra gelap memisahkan ketegangan di dalam kabin dari gemerlap lampu metropolitan yang basah sisa hujan.

Di kursi penumpang baris kedua, Nara duduk dengan jemari yang saling bertautan erat di atas pangkuannya. Khimar abu-abu gelapnya tampak sedikit lungset. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi yang empuk, namun pikirannya berputar hebat bagai baling-baling helikopter.

"Pak..." Nara membuka suara, memecah keheningan yang sejak tadi merayap di antara mereka. Suara dosen mudanya yang biasa terdengar artikulatif kini terdengar parau. "Kalau apa yang dikatakan orang-orang Kamil tadi benar ... artinya pernikahan Nara dengan Gus Zayyad ini sejak awal sudah cacat karena dendam masa lalu?"

Bapak Handoko, yang duduk di samping Nara, tidak langsung menjawab. Matanya yang mulai diselimuti kerutan penuaan menatap kosong ke luar jendela, memperhatikan siluet gedung-gedung pencakar langit yang bergerak mundur. Jaket taksi daringnya terasa mencekik leher.

"Nara," suara Bapak terdengar berat dan dalam, sarat akan beban sejarah yang selama dua puluh tahun ini ia kubur rapat-rapat di bawah lantai rumah sederhana mereka. "Abah Kiai—ayahnya Zayyad—adalah orang baik. Beliau adalah guru Bapak, sekaligus orang yang paling terpukul ketika Bapak memutuskan keluar dari lingkaran pesantren Jombang dengan membawa hak ibumu. Tapi Kamil... dia mewarisi kelicikan ayahnya, Kiai Mansyur. Bagi mereka, draf perjanjian pranikah yang menghapus profesimu itu bukan untuk merendahkanmu, tapi untuk memancing Bapak keluar dari persembunyian."

Nara menahan napas. "Jadi, Gus Zayyad tahu tentang ini semua?"

"Zayyad anak yang cerdas, Nara. Dia tahu, tapi dia dikepung oleh dewan pengasuh yang dipengaruhi Kamil. Pernikahan ini... adalah satu-satunya cara bagi Abah Kiai untuk mengembalikan kehormatan keluarga kita sekaligus membersihkan nama baik pesantren dari fitnah sengketa tanah yang dibuat Kiai Mansyur dulu. Zayyad menerima perjodohan ini bukan sebagai bisnis, tapi sebagai bentuk kepatuhan mutlak seorang anak," jelas Bapak Handoko, tangannya yang kasar bergerak mengusap punggung tangan Nara, mencoba memberikan kekuatan yang mulai terkikis.

Tiba-tiba, pengemudi SUV hitam di depan melirik kaca spion tengah. Wajahnya yang tegas tampak menegang di bawah lampu dasbor yang remang-remang.

"Pak Handoko, Mbak Nara, tolong merunduk," perintah sang sopir dengan nada dingin yang terlatih. "Ada dua mobil SUV putih tanpa plat nomor mencoba menjepit kita dari lajur kiri dan kanan sejak pintu tol terakhir."

Nara tersentak. Melalui kaca samping, ia bisa melihat siluet moncong mobil lain yang perlahan menyamai kecepatan mereka, memancarkan aura ancaman yang pekat di tengah jalan tol yang mulai sepi menembus malam yang kian larut.

...****************...

Sementara itu, bermil-mil jauhnya menembus batas negara dan zona waktu, roda-roda raksasa pesawat Boeing 777-300ER menghantam landasan pacu Bandara Internasional Pudong, Shanghai, dengan entakan yang solid. *Thrust reverser* menderu garang, menahan laju burung besi seberat ratusan ton tersebut di atas aspal yang berkilau akibat siraman lampu landasan.

Di dalam kokpit yang dipenuhi pendar lampu indikator digital yang rumit, Kapten Sagara, Mas Gara mematikan sistem autothrottle dengan gerakan tangan yang sangat presisi dan tenang. Wajah tampannya yang berstruktur tegas tampak kaku tanpa ekspresi, khas seorang pilot senior yang memiliki ribuan jam terbang. Di balik seragam putih kaptennya yang rapi dengan empat garis emas di bahu, aura dinginnya begitu pekat.

Begitu pesawat berhenti sempurna di gerbang kedatangan dan tanda kenakan sabuk pengaman dimatikan, Gara mengembuskan napas panjang. Ia melepas *headset* penerbangannya, lalu meraih ponsel pintar taktis miliknya dari dalam tas dokumen.

Begitu menonaktifkan *Flight Crew Mode*, layarnya seketika dibanjiri oleh belasan notifikasi panggilan tak terjawab dari satu nama: **Davika (Jerry)**. Ada juga satu pesan enkripsi masuk dari nomor tak dikenal yang menampilkan aksara Korea: *“시작됐다 (Sudah dimulai).”*

Mata tajam Gara menyipit, memancarkan kilat amarah yang tertahan di balik ketenangannya yang sedingin es. Sebagai kakak tertua yang memegang peran sebagai pelindung utama keluarga Mwohan, ia tahu persis arti dari pesan tersebut. Urusan masa lalu Jombang yang selama ini ia pantau secara rahasia akhirnya meledak malam ini, tepat saat ia berada di ketinggian tiga puluh lima ribu kaki.

"Kapten Gara, ada masalah?" tanya kopilot di sampingnya, menyadari perubahan aura yang mendadak mencekam dari sang kapten.

"Urusan domestik," sahut Gara pendek, suaranya bariton, datar, dan tidak menerima bantahan.

Dengan gerakan yang sangat gesit dan taktis, Gara menekan sebuah nomor panggilan satelit terenkripsi yang langsung terhubung ke jaringan rekannya di Jakarta—seorang mantan intelijen yang kini mengelola logistik keamanan di pelabuhan utara.

"Hendra, ini Gara," ucap Gara langsung tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung. "Adik bungsuku, Davika, kemungkinan besar sedang menuju ke arah gudang lamamu di pelabuhan utara. Dia membawa motor balapku dan... anak mahkota Al-Anwar. Aktifkan sistem pelacakan satelit untuk plat nomor motorku sekarang juga. Jangan sampai ada satu pun orang Kamil yang menyentuh radius lima ratus meter dari posisi adikku."

Gara berdiri dari kursi kokpit, menyambar pet kaptennya, dan melangkah keluar menuju pintu deboarding dengan langkah kaki yang lebar dan konstan. Di bawah langit Shanghai yang asing, sang pelindung utama keluarga Mwohan telah mulai menggerakkan bidak caturnya sendiri dari jarak jauh, bersiap memotong setiap tangan yang berani mengusik ketenangan rumah mereka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Lampu sorot dari dua SUV putih di lajur kiri dan kanan memantul agresif pada kaca spion SUV hitam yang ditumpangi Nara dan Bapak Handoko. Gerakan mereka sangat taktis, perlahan-lahan merapat hingga menyisakan jarak kurang dari setengah meter dari bodi mobil. Mereka mencoba mengunci pergerakan, memutus semua celah bagi sang sopir untuk berpindah lajur atau melakukan akselerasi.

"Mbak Nara, Pak Handoko, tetap merunduk dan pegangan yang kuat!" tergah sang sopir logistik. Tangan kekarnya mencengkeram kemudi dengan erat, matanya fokus menatap lurus ke depan mencari celah di antara beberapa truk kontainer yang melaju lambat di lajur kiri tol ringkar luar.

Nara menarik napas dalam-dalam, merapatkan tubuhnya ke arah Bapak Handoko yang dengan sigap memeluk bahunya. Di dalam kegelapan kabin, detak jantung Nara berdegup kencang, namun rasionalitasnya sebagai seorang dosen mencoba memproses situasi dengan cepat. *Ini jalan tol. Jika mereka memaksakan benturan fisik di sini, itu akan memicu kecelakaan beruntun.* Kamil tidak mungkin seberani itu bertindak di area publik terbuka, kecuali jika dokumen yang mereka bawa di dalam mobil ini memang sekritis itu hingga harus direbut kembali dengan menghalalkan segala cara.

*Dug!*

Guncangan keras melanda kabin saat SUV putih di lajur kanan sengaja menyenggol spion dan spakbor samping SUV hitam. Suara gesekan logam yang kasar berdenging nyaring, memercikkan bunga api yang terlihat sekilas dari balik kaca film yang gelap.

"Kurang ajar," desis sang sopir logistik. Ia menarik tuas transmisi ke mode manual, menurunkan gigi secara instan untuk mendapatkan torsi maksimal. Mesin diesel twin-turbo SUV hitam itu menderu garang, melepaskan tenaga besar yang seketika mengentak tubuh Nara ke belakang.

Sopir logistik itu memanfaatkan celah sempit di antara dua truk kontainer di depan. Dengan perhitungan yang sangat presisi, ia membanting setir ke kiri, menyalip lewat bahu jalan tol yang berbatu dan sempit, memotong jalur SUV putih yang mencoba menguncinya dari kiri. Manuver ekstrem itu berhasil membuat satu SUV putih pengejar kehilangan momentum dan tertinggal di belakang truk, namun SUV putih yang satunya lagi dengan cepat berbelok mengikuti, terus menempel ketat bagai bayangan maut.

...----------------...

Sementara itu, di dalam area terminal kedatangan Bandara Internasional Pudong yang megah dan berarsitektur futuristik, Kapten Sagara berjalan dengan langkah lebar yang konstan. Seragam putih kaptennya yang kontras dengan jaket kulit hitam yang tersampir di bahu menarik perhatian beberapa pasang mata, namun pandangan Gara tetap lurus ke depan, dingin dan tidak tersentuh. Poninya yang tertata rapi sedikit bergerak seiring dengan langkah taktisnya menuju ruang tunggu kru penerbangan.

Ponsel di telinganya kembali bergetar. Suara Hendra, rekannya di Jakarta, terdengar di sela-sela desis statis panggilan satelit terenkripsi.

"Gara, pelacakan plat nomor motormu sudah aktif," lapor Hendra cepat. "Adikmu, Davika... dia benar-benar gila. Data GPS menunjukkan dia baru saja memacu motormu dengan kecepatan di atas seratus tiga puluh kilometer per jam, meliuk-liuk di dalam gang pemukiman sebelum akhirnya berhenti di swalayan dua puluh empat jam. Sekarang mereka bergerak lagi menuju pelabuhan utara."

Gara menghentikan langkah kakinya tepat di depan dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan malam kota Shanghai yang gemerlap oleh lampu-lampu pencakar langit. Rahang tegasnya mengetat.

"Siapa yang bersamanya?" tanya Gara, suara baritonnya begitu rendah dan mematikan.

*"Gus Zayyad. Tapi dari analisis rekaman kamera pengawas lalu lintas yang berhasil saya retas sekilas... penampilan mereka berubah total. Davika menyamar dengan pakaian dewasa dan riasan tebal, sedangkan Zayyad... dia kelihatan seperti model atau aktor televisi. Mereka sangat rapi menyamar untuk mengelabuhi patroli polisi."*

Mendengar hal itu, satu sudut bibir Gara terangkat tipis, memancarkan seringai dingin yang langka. *Jerry kecilnya ternyata memanfaatkan seluruh ilmu estetika modisnya di saat kritis.* Namun, senyum itu lenyap dalam sekejap, digantikan oleh fokus komando yang mutlak.

"Hendra, buka gerbang otomatis gudang nomor empat di pelabuhan utara lewat sistem jarak jauh begitu motor Davika mendekat dalam radius seratus meter," perintah Gara, nadanya tidak menerima kegagalan. "Nyalakan pemancar sinyal satelit cadangan di sana agar ponsel Davika bisa mendapatkan enkripsi penuh. Aku akan melakukan panggilan video dengannya begitu aku tiba di hotel kru."

Gara memutuskan panggilan, memasukkan ponselnya ke saku celana, dan kembali melangkah membelah keramaian bandara Shanghai. Di kepalanya, draf rencana taktis telah tersusun rapi. Jika Kamil mengira bisa memanfaatkan jarak ribuan mil untuk menghancurkan keluarganya, maka orang itu telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya. Sang pelindung utama keluarga Mwohan tidak perlu berada di bumi Jakarta untuk mengendalikan jalannya badai.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!