Ini adalah kisah tentang dua insan yang sangat jauh berbeda, tetapi jatuh cinta.
Takdir menyedihkan menimpa keduanya selama hidup sampai Mahapatih Candrakumara Dewananda dan Putri Balqis Humaira Azhari meninggal dalam pesakitan memperjuangkan cinta untuk melampaui sekat-sekat agama dan sosial.
Tapi...
Kisah Candrakumara dan Balqis kembali terjalin dengan inkarnasi modern mereka. Candrakumara terlahir kembali sebagai Garalt Zayn Mahesa, seorang bintang film yang sangat menawan. Dan Balqis terlahir kembali sebagai Aneska Zoya Raveena, seorang gadis cantik nan lugu yang bermimpi menjadi seorang aktris besar. Semesta mempertemukan mereka kembali.
Dapatkah mereka mencegah tragedi yang sama terjadi pada diri mereka? Atau justru takdir pahit itu akan terulang lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke Bali
Zoya datang ke rumah Zayn dan untuk kesekian kalinya dia selalu melihat rumah itu dalam keadaan yang sangat berantakan. Bahkan, yang kali ini dilihatnya jauh lebih parah dari sebelum-sebelumnya.
Pecahan kaca berserakan di mana-mana, belum lagi barang-barang yang ada di sana sudah hancur semua. Dan, Zayn tertidur di antara pecahan kaca itu dengan posisi tengkurap, di kakinya juga terdapat beberapa kaca yang menancap.
Dengan perlahan, Zoya berjalan melewati serpihan kaca itu. Lalu, dia berusaha dengan selembut mungkin untuk melepaskan pecahan kaca yang menempel di kaki Zayn sehingga membuat laki-laki itu terkejut dan terbangun dari tidurnya.
"Maaf," ucap Zoya.
Zayn duduk dan menarik kakinya, tetapi Zoya tetap mendekat dan berusaha melepaskan kaca itu. Sebenarnya, Zoya itu phobia terhadap pecahan kaca, tetapi dia harus melawan ketakutannya itu untuk mengobati kaki Zayn agar tidak semakin parah.
"Jangan lakuin ini!" ucap Zayn seraya menarik kakinya dengan kasar.
Zoya tidak menghiraukannya dan tetap berusaha untuk memegang kaki Zayn.
"Udah, cukup! Kenapa lo selalu ada di sekitar gue?!" bentak Zayn seraya berdiri lalu menyeret Zoya dengan kasar.
"Zayn, apa yang kamu lakuin?" tanya Zoya seraya berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Zayn yang sangat menyakitinya.
"Gue muak sama semua ini! Gue lebih baik sebelumnya! Gue lebih bahagia sendirian!" teriak Zayn seraya terus menyeret Zoya menuju pintu.
"Zayn, dengerin aku."
"Gue ngarasa kecekik semenjak lo dateng ke sini! Pergi lo dari sini!" bentak Zayn lalu mendorong Zoya keluar dari kamar itu dan segera menutup pintunya. Setelah itu dia terduduk di depan pintu seraya menangis.
"Zayn, buka pintunya. Aku mohon," ucap Zoya dari luar lalu duduk tersandar di depan pintu itu.
"Kita semua jadi lemah, Zayn. Kamu ketakutan, aku juga. Aku pikir itu hidup aku. Terus, kamu dateng ke dalam hidup aku, dan mengubah semuanya. Kamu nggak boleh biarin aku sendirian setelah ngasih semua ini. Aku cinta sama kamu! Ini kan yang kamu mau dari dulu? Sekarang ini udah terwujud, kemauan kamu buat ngubah keberuntungan aku. Seenggaknya, tolong buka pintunya demi aku. Aku mohon," ucap Zoya lalu menangis sesegukan, hatinya hancur melihat Zayn seperti itu. Jika kepopulerannya adalah penyebab semua ini, maka Zoya bersedia melepaskannya asal dia tetap bisa bersama dengan Zayn, seperti dulu.
Perlahan Zayn mulai tenang dan membuka pintu kamar itu lalu duduk di hadapan Zoya. Sedangkan gadis itu hanya bisa menatap dirinya dengan air matanya yang terus mengalir.
"Bantu aku, aku mohon bantu aku," lirih Zayn.
Zoya menghapus air mata yang jatuh di pipi Zayn, lalu mengecup pucuk kepala laki-laki itu dan membawa Zayn ke dalam pelukannya untuk menenangkannya.
"Ayo kita pergi ke suatu tempat, yang jauh dari orang-orang yang mengganggu kita," ucap Zoya.
Kemudian mereka berdua mulai mengemasi barang-barang mereka. Zoya tidak pulang ke rumahnya karena dia punya banyak pakaian yang dia simpan di rumah itu, sehingga itu lebih memudahkannya untuk berkemas.
Zoya sudah memikirkannya, mereka akan pergi ke Bali dan berlibur di sana selama beberapa hari. Mereka akan menginap di villa Zayn yang ada di sana sehingga itu bisa menghemat budget liburan mereka.
Setelah semuanya siap, mereka segera terbang ke Bali. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa mereka pergi ke sana, termasuk orang tua mereka masing-masing.
***
Saat sampai di sana, mereka istirahat sebentar di sofa, lalu melihat-lihat kamar untuk tempat mereka istirahat.
"Tapi cuma ada satu kamar," ucap Zoya.
"Siapa yang bilang gitu? Ada kamar lagi kok di sebelah," ucap Zayn.
"Tapi kamu bilang pemanasnya disitu nggak hidup, aku nggak bisa tidur kalo kedinginan. Secara, cuacanya lagi dingin banget sekarang," ucap Zoya yang sebenarnya adalah kode agar dia dan Zayn tidur bersama, seperti hari-hari yang lalu.
"Kalo gitu ... apa aku aja yang tidur di sana?" tawar Zayn.
Yang namanya laki-laki, memang sudah ditakdirkan untuk memiliki insting yang lemah sehingga itu membuat mereka tidak paham dengan suatu kode.
"Kenapa tidur di sana? Situasinya emang kayak gini. Ini situasi di mana kita nggak punya pilihan lain. Tidur aja di sini," ucap Zoya.
"Ini bukan situasi yang buruk banget," ucap Zayn.
"Tapi aku peringatin sama kamu, dilarang ciuman atau apapun itu selain tidur doang. Nggak boleh."
"Kenapa kamu rempong banget, sih? Aku juga nggak bakal ngelakuin itu."
"Kamu nggak bisa ngejamin kejadian masa depan."
"Ini bukan jaminan, aku emang nggak bakal ngelakuin itu. Aku nggak berniat ngelakuin itu."
"Beneran? Kalo gitu aku tidur aja di kasur yang sama?" tanya Zoya lalu berjalan ke arah kasur.
Zayn hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa ekspresi kamu kayak gitu?" tanya Zoya.
"Ekspresi aku?"
Zoya berjalan ke arah Zayn dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Zayn lalu memandangi wajah tegang orang di hadapannya itu dengan saksama.
"Kenapa pipi kamu merah? Kamu pake blush on?" tanya Zoya.
"Aku?" Zayn malah bertanya balik.
"Kenapa telinga kamu merah?"
"Apa? Ini karena aku kepanasan."
"Kamu kepanasan? Aku nggak ngerasa panas. Okelah, anggap aja itu karena kamu kepanasan. Kalo gitu, aku rebahan dulu," ucap Zoya seraya membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk itu dan tidak ingin memperpanjang pembahasan karena dia sudah sangat mengantuk sekarang.
"Huh?" Zayn mati gaya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan hanya bisa terdiam karena otaknya merespon sangat lambat sekarang.
Zoya kemudian menepuk-nepuk space kasur di sebelahnya. "Kamu nggak bakal tidur?" tanyanya pada Zayn yang masih mematung di tempatnya.
"Ya aku pasti tidurlah," ucap Zayn lalu melangkah perlahan menuju kasur dan berbaring di sebelah Zoya. Aneh, padahal dia sudah sangat sering tidur berdua dengan Zoya tetapi kenapa sekarang rasanya sangat berbeda?
Zoya kemudian melancarkan aksinya yang kedua yaitu membuat Zayn memeluk dirinya dan berbaring di lengan Zayn. Sehingga dia bisa merasakan hangatnya pelukan laki-laki itu.
"Aku ngantuk, tolong matiin lampunya," ucap Zoya.
Zayn kemudian bangun dan mematikan lampu kamar itu."Dasar cewek, sukanya nyuruh dan maksa orang doang. Jangan lakuin itu di tempat lain!" ucapnya lalu kembali berbaring di atas kasur.
"Lakuin lagi," ucap Zoya dengan senyum yang mengembang di bibir tipisnya.
"Apa?"
"Yang barusan kamu lakuin."
"Apa yang barusan aku lakuin? Cewek macam apa yang nggak tau malu--"
Zoya tertawa renyah karena itu. "Yang itu, comel banget."
"Coba lakuin lagi," pinta Zoya.
"Kamu aja, kamu" ucap Zayn seraya menggelitiki tubuhnya yang membuat gadis itu tertawa so hard.
"Oke-oke. Aku nggak bakal bilang itu lagi," ucap Zoya.
"Cewek macam apa yang--" Perkataannya tiba-tiba terhenti saat Zoya menarik tangannya dan kembali berbaring di atasnya seraya memeluk Zayn.
***
"Gimana mungkin mereka ngilang?" tanya David karena dia baru saja mendapat kabar bahwa Zayn dan Zoya tidak ada di rumah dan tidak ada yang tahu mereka pergi ke mana.
"Saya nggak tahu, Pak" ucap suara di seberang telepon.
"Jadwal syuting Zoya padat banget, dan ada meet and greet yang digelar buat Zayn dan Zoya. Siapa yang bakal ngelakuin itu kalo mereka nggak ada? Cari tahu keberadaan mereka," ucap David.
"Baik, Pak."
***
Bersambung...
Next up. 😉
Semangat untukmu. 😊
Salam manis dari STILL IN LOVE. 💖
Ditunggu kelanjutannya. 😉
Salam manis dari Still In Love. 😊
maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya...
Semangat menulisnya
Salam dari LOVATY
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
hmmm...