Avery Edwards melampiaskan kemarahannya pada Lucas Aylmer. Tiba-tiba saja gadis itu mencium Lucas, hanya demi memperlihatkan jika bukan dia yang dicampakan oleh Alden, yang telah menjalin kisah cinta dengannya sedari masa sekolah menengah atas. Sementara Alden baru saja mulai bekerja, dan tertangkap basah berselingkuh. Tepat di hari kelulusan Avery. Sedang patah hati, malah dimintai pertanggung jawaban.
"Kau telah menciumku?" imbuh Lucas seraya berkata lagi, "Kau harus bertanggung jawab!"
Avery tidak habis pikir dengan pria yang sedang meminta pertanggungan jawaban darinya. Merasa dirinya masih terlalu muda, menikah bukanlah priorotas utamanya. Akankah Avery bisa lepas dari tuntutan Lucas, atau sebaliknya malah tunduk dan patuh akan ingin dan mau Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMI SETENGAH HARI
Lucas berdehem, dengan kikuk dia pun menjawab, “Dari Ayahmu!”
“Ayah, apakah dia tahu tentang pernikahan ini?” tanya Avery kepada suaminya itu.
Melihat wajah Avery yang berubah menjadi sedikit pucat, Lucas pun meraih tangan Avery lalu menciumnya, “Selama kau belum bilang aku boleh mengatakan tentang status-mu yang sekarang kepadanya, maka tentang pernikahan ini akan menjadi rahasia kita!”
Avery pun merasa lega. “Lalu bagaimana cara kau mendapatkan tiara itu?” tanya Avery lagi penasaran.
“Karaken Grup mengatur penawaran investasi kepada Grup Edwards dengan syarat ayahmu memberikan tiara itu kepada kami!” imbuh Lucas.
“Oh begitu!” imbuh Avery sedikit lega. Dia berpikir jika Ayahnya tahu pada saat ini dia telah menikah, maka pasti Ayahnya itu akan memaki dan mengutuknya habis-habisan.
Teringat tentang jiwa yang murni, Lucas pun mendekati Avery, Untuk mencium aroma khas dari tubuh pengantin kecilnya itu. Pria itu tidak bisa menahan kekagumannya ketika mencium wangi yang manis dan hangat dari tubuh pengantin kecilnya itu, ini adalah wangi aroma legendaris di dalam dunia vampir.
Tetapi wajahnya langsung berubah menjadi kaku dan tegang, ketika mengingat banyak yang menginginkan kematian dari jiwa yang murni. Tiba-tiba saja Lucas langsung memeluk Avery. Baru setengah hari menikah, tapi sudah setengah mati merasa takut kehilangan.
Avery langsung saja terkejut, dan spontan berkata. “T-tuan… aku sedang datang bulan!”
Mendengar perkataan lugu berbalut sedikit ketakutan, Lucas pun langsung melepaskan pelukannya dari tubuh pengantin kecilnya itu. Dia pun mundur satu langkah, sedikit tertawa kecil sambil memijit-pijit pelipis alisnya.
“Apa kau takut aku akan memakanmu!” tanya Lucas setengah bercanda.
“Ah tentang itu… eum… maksudku aku … eum tidak takut denganmu, hanya saja masih belum siap!”
Lucas semakin merasa gemas dengan pengantin kecilnya itu, Dia pun bersimpuh di depan Avery. Meraih tangannya, menciumnya lalu meletakan di pipinya dan berkata. “Selama kau tidak mengizinkan aku untuk menyentuhmu, maka aku tidak akan melakukannya!”
Lucas memeluk pinggul ramping Avery, seraya menyandarkan kepalanya. “Selama kau ada bersamaku, itu sudah cukup… itu sudah cukup!”
Avery sedikit terkejut mendengar perkataan Lucas, dengan perlahan pun dia mengulurkan tangannya ke puncak kepala suaminya itu. Dalam hati Avery berjanji akan menjadi istri yang bisa diandalkan untuk Lucas.
Pada saat ini Lucas merasa seperti sedang tenggelam dalam surga kenikmatan, memeluk Avery seperti saat ini, benar-benar terasa indah. Mengikis rasa lelah dan sakit dari pertempuran-pertempuran di masa lalu. Sangat damai di hati.
Lucas melepaskan pelukannya. “Dalam beberapa hari ke depan, aku akan pergi dinas. Apakah tidak apa-apa?” tanya Lucas.
“Tentu saja boleh, Menikah artinya mengikat hati kita satu sama lain untuk saling setia. Tapi, bukan berarti mengambil kebebasan kau mau pergi ke mana!” imbuh Avery.
“Wah lihatlah kau sudah besar ya sekarang!” imbuh ledek Lucas kepad Avery.
“Aku sekarang adalah seorang wanita yang sudah menikah, meski tanpa cicin pernikahan!”
Avery menolak memakai cincin yang Lucas berikan, karena tidak ingin status pernikahannya diketahui. Bagi Lucas itu tidak penting, yang dia tahu saat ini dia sedang merasa bahagia, karena bisa menemukan Avery, belahan jiwanya di antara miliaran orang di luar sana. Semesta telah memilihnya untuk menjadi pemilik Avery, si jiwa murni.
“Apa kita akan tidur satu kamar!” tanya Avery dengan sedikit berhati-hati.
Lucas langsung mencubit hidung pengantin kecilnya itu. “Tentu saja, memangnya harus tidur di mana!”
“Oh begitu ya!” imbuh Avery sembari mengusap-usap tengkuk lehernya.
Lucas memasukan jemari tangannya ke sela-sela jari tangan Avery. “Ayo, kita makan. Kau pasti sudah lapar.”
Avery dengan patuh mengikuti langkah Lucas. Sementara itu, pada saat ini Nyonya Stela dan Harper sedang berada disebuah rumah pondok, di sebuah Pedesaan. Terlihat Harper sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya. Semalam sudah tidak ada lagi mimpi buruk yang menghantui, sudah tidak melihat hantu-hantu yang aneh dan menyeramkan lagi seperti waktu itu.
“Ma, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Harper yang sedang memikirkan pernikahannya dengan Aldein.
“Untuk saat ini, kita di sini saja dulu. Kita beri kesan jika kau benar-benar terpukul akan peristiwa waktu itu!” imbuh Nyonya Stela.
“Dan aku peringatkan kau harus berhenti menghubungi Aldein untuk sementara dulu. Beri kesan jika kau benar-benar sedang tersakiti sampai trauma!” tambah kata Nyonya Stela lagi,
“Oh okey, aku akan berakting dengan baik!” imbuh Harper.
Nyonya Stela pun tersenyum sembari berkata, “Aktingmu beberapa hari ini sudah sangat baik, maksudku kau benar-benar terlihat kacau seperti orang gila sungguhan. Pertahankan aktingmu ok!”
Harper menelan salivanya, ingin berkata jika pada saat kemarin dia tidak melakukan akting sama sekali, tapi itu memang keadaan dia yang sebenarnya. Khawatir disangka gila, maka dia lebih memilih untuk diam saja.
“Eum… bagaimana dengan Mary?” tanya Harper.
“Kita akan singkirkan dia lain waktu!” imbuh Nyonya Stela lagi, yang berpikir jika Mary masih hidup, karena tidak ada kehebohan berita buruk di Mansion Edwards.
Pada saat ini di mansion Edwards, tiba-tiba saja Tuan Lynch merasa kesepian. Semua orang tengah pergi dengan urusannya masing-masing. Dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Mary.
“Apa pernikahannya sudah selesai!” tanya Tuan Lynch.
Medengar pertanyaan Tuannya itu, Mary sedikit merasa gemetaran ketika ingin menjawab. “Iya sudah selesai. Semuanya berjalan dengan normal dan lancar.”
“Jika begitu sudah bisa pulang!” imbuh Tuan Lynch seraya berkata lagi, “Bukankah minggu depan Avery sudah mulai berkuliah?”
Ketika Avery datang ke penginapannya, Mary langsung memberitahu tuan Lynch jika Avery ada bersamanya. Sekarang Mary jadi serba salah, karena saat ini Nona Muda Edwards sedang tidak ada bersamanya.
Tidak ingin menimbulkan kecurigaan, Mary pun langsung menjawab, “Baik, kami akan segera kembali!”
Begitu sambungan di ponselnya tertutup, dia langsung menghubungi Avery. Melihat nama Ibu Peri tertera di ponselnya, Avery segera menjawab panggilan itu. “Kita harus segera pulang ke rumah!”
“Sekarang?” tanya Avery sambil memandang Lucas.
“Setidaknya esok, Tuan Lynch tadi menelponku dan memintaku segera kembali ke rumah!” Jelas Mary.
“Oh ok,” imbuhnya sembari menatap kepada suami setengah harinya itu.
“Ada apa?” tanya Lucas ketika melihat raut wajah tidak enak menjejaki wajah cantik Avery.
“Mary bilang aku harus kembali ke rumah esok!” imbuhnya sedikit meragu.
Lucas pun tertawa sambil bersandar ke kursi dan bersedekap tangan. “Wah, sepertinya akhir-akhir ini Tuan Lynch kurang kerjaan, sehingga ada waktu untuk memikirkan putrinya!”
“Tidak marah kan?” tanya Avery.
Lucas tersenyum sembari menggelengkan kepalanya lalu dia pun berkata, “Nanti aku akan mengantarmu pulang, sekarang tidak usah pikirkan yang lain. Habiskan makananmu!”
****
Jangan Lupa ya :
Vote
Like
Komen
Subscribe [tekan tanda love, untuk berlangganan buku]
Nilai Bintang 5
Tonton iklannya
Beri poin