Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Tak Disangka
Pagi itu Sulis menerima pesanan katering dalam jumlah cukup besar dari seorang pelanggan baru. Alamat pengiriman berada di sebuah apartemen di pusat kota. Biasanya pesanan seperti itu dikirim melalui kurir, tetapi kali ini pelanggan meminta beberapa detail khusus terkait menu yang dipesan. Karena ingin memastikan semuanya sesuai permintaan, Sulis memutuskan untuk mengantarkannya sendiri. Lagi pula, sejak usaha kateringnya berkembang, ia mulai terbiasa bertemu langsung dengan para pelanggan.
Menjelang siang, Sulis tiba di lobi apartemen dengan beberapa kotak makanan yang tersusun rapi di atas troli kecil. Setelah mendapat izin dari petugas keamanan, ia naik ke lantai yang tertera pada alamat pesanan. Sesampainya di depan unit tujuan, Sulis menarik napas sejenak lalu menekan bel.
Tak lama kemudian pintu terbuka.
Sulis langsung tertegun.
"Mas Arman?"
Pria di hadapannya tampak sama terkejutnya.
"Sulis?"
Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Tak satu pun menyangka akan bertemu di tempat seperti itu.
Arman lebih dulu tertawa kecil. "Jadi katering yang saya pesan ternyata punya Bu Sulis?"
Sulis ikut tersenyum. "Dan saya juga nggak nyangka pelanggan ini ternyata Mas Arman."
Suasana yang awalnya canggung perlahan mencair. Arman membantu membawa beberapa kotak makanan masuk ke dalam apartemennya.
"Masuk dulu. Capek kan habis angkat barang sebanyak ini?"
Awalnya Sulis ingin menolak. Namun setelah memastikan semua pesanan sudah diterima dengan baik, ia akhirnya masuk sebentar.
Apartemen Arman tidak terlalu besar, tetapi terlihat bersih dan rapi. Beberapa tanaman kecil menghiasi balkon. Sebuah rak buku memenuhi salah satu sudut ruangan, sementara aroma kopi hangat masih tercium dari dapur. Sulis memperhatikan sekeliling sambil tersenyum kecil. Tempat itu terasa sederhana, tetapi nyaman dan hangat.
Arman membuka salah satu kotak makanan yang baru datang. Aroma ayam bakar langsung memenuhi ruangan.
"Aroma ayam bakarnya enak banget."
"Itu menu paling laris," jawab Sulis.
"Nggak heran."
Arman langsung mencicipinya. Setelah beberapa suap, ia mengangguk puas.
"Wah, pantes pelanggan Mbak Sulis banyak."
Sulis tertawa kecil. "Jangan dilebih-lebihkan."
"Saya serius. Kalau makanan rumah sakit seenak ini, pasien pasti betah."
Kalimat itu membuat Sulis tertawa untuk pertama kalinya hari itu. Tawa yang tulus, tanpa beban dan tanpa kepura-puraan.
Waktu berlalu tanpa terasa. Mereka mengobrol tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, usaha katering Sulis, hingga kehidupan sehari-hari. Anehnya, percakapan mereka mengalir begitu mudah. Tidak ada kesan dipaksakan dan tidak ada kecanggungan berlebihan. Seolah mereka sudah saling mengenal jauh lebih lama daripada kenyataannya.
Di sela percakapan, Arman sesekali memperhatikan Sulis. Wajah perempuan itu memang terlihat lebih segar dibanding saat pertama kali mereka bertemu di rumah sakit. Namun di balik senyumnya, masih ada kesedihan yang tersisa. Kesedihan yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang, tetapi entah mengapa mudah terbaca olehnya.
Menjelang sore, Sulis berniat pulang. Namun ketika ia melihat ke luar jendela, hujan turun sangat deras. Langit berubah gelap dan jalanan mulai dipenuhi genangan air.
"Sepertinya hujannya nggak akan reda cepat," kata Arman sambil berdiri di dekat jendela.
Sulis mengangguk pelan. "Aku tunggu sebentar aja."
Namun satu jam berlalu, lalu dua jam. Hujan justru semakin deras. Berita di televisi mulai memberitakan beberapa titik banjir di sekitar kota. Jalan menuju rumah Sulis termasuk salah satu wilayah yang terdampak.
"Aku coba pesan ojek."
Beberapa kali Sulis mencoba membuka aplikasi, tetapi hasilnya sama. Tidak ada kendaraan yang tersedia.
Arman mulai khawatir. "Buat malam ini jalanan kayaknya nggak aman."
Sulis juga mulai bingung. Ia tidak memiliki kerabat dekat yang tinggal di sekitar sana. Memaksakan diri pulang dalam kondisi seperti itu justru berisiko.
Arman terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya berkata, "Kalau nggak keberatan, menginap saja dulu di sini sampai besok pagi."
Sulis langsung terdiam.
Arman buru-buru melanjutkan, "Di kamar tamu ada tempat tidur. Saya bisa tidur di sofa."
Nada suaranya tenang. Tidak ada maksud lain selain kekhawatiran kepada seseorang yang sedang kesulitan.
Sulis memandang hujan deras di luar jendela. Setelah beberapa saat berpikir, ia akhirnya mengangguk pelan.
"Kalau memang nggak merepotkan."
"Tentu nggak," jawab Arman sambil tersenyum lega.
Malam mulai turun. Hujan masih mengguyur kota tanpa ampun. Di dalam apartemen, suasana terasa hangat dan tenang. Mereka makan malam sederhana dari sisa makanan katering yang belum habis. Sambil menikmati teh hangat, mereka mengobrol santai ditemani suara hujan yang terdengar dari luar.
Sudah lama Sulis tidak merasakan ketenangan seperti itu. Tidak ada bentakan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada rasa takut. Hanya suasana damai yang membuat dadanya terasa lebih ringan.
Setelah makan malam selesai, Arman membereskan meja. Sulis beberapa kali menawarkan bantuan, tetapi Arman menolaknya sambil tersenyum.
"Biar saya saja."
"Nggak enak."
"Nggak apa-apa. Lagian tamu nggak boleh kerja."
Sulis terkekeh pelan. Sudah lama ia tidak berbicara santai seperti itu dengan seseorang. Tanpa rasa tegang dan tanpa harus berhati-hati memilih kata.
Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Televisi menyala pelan sebagai pengisi suasana, tetapi perhatian mereka lebih banyak tertuju pada percakapan yang terus mengalir.
Arman bercerita tentang pekerjaannya di rumah sakit, tentang pasien-pasien yang pernah ia temui, dan tentang jadwal jaga malam yang sering membuatnya kelelahan. Sulis pun bercerita mengenai usaha kateringnya yang mulai berkembang, resep-resep yang ia pelajari sendiri, hingga pelanggan-pelanggan yang terkadang memberikan kritik lucu.
"Jadi semua masakan itu Mbak Sulis yang buat sendiri?" tanya Arman.
"Sebagian besar iya."
"Wah."
Arman mengangguk kagum.
"Nggak heran rasanya beda."
Sulis tersenyum malu. Pujian sederhana itu terasa menyenangkan. Mungkin karena sudah lama tidak ada yang menghargai hasil kerjanya dengan tulus.
Percakapan mereka kemudian menjadi sedikit lebih pribadi. Tidak terlalu dalam, tetapi cukup untuk membuat keduanya saling mengenal lebih jauh.
Arman bercerita tentang keluarganya yang tinggal di kota lain, tentang ibunya yang sering menanyakan kapan ia akan menikah, dan tentang kesibukan yang membuatnya jarang pulang. Sulis mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil.
Sebaliknya, ketika Arman bertanya tentang hidupnya, Sulis menjawab seperlunya. Tentang anak-anak yang sedang tinggal di kampung, tentang pekerjaannya, dan tentang kesibukan sehari-hari. Ada banyak hal yang sengaja ia simpan sendiri. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena beberapa luka masih terlalu sakit untuk dibicarakan.
Arman tidak memaksa. Ia cukup peka untuk mengetahui kapan harus bertanya dan kapan harus diam. Justru sikap itulah yang membuat Sulis merasa nyaman. Selama ini terlalu banyak orang yang ingin tahu tanpa benar-benar peduli. Sementara Arman berbeda. Ia mendengarkan. Benar-benar mendengarkan.
Menjelang pukul sebelas malam, Arman berdiri.
"Saya siapkan kamar tamu dulu."
Sulis ikut berdiri.
"Terima kasih banyak ya."
"Nggak usah sungkan."
Beberapa menit kemudian kamar tamu sudah siap digunakan. Sederhana, tetapi bersih dan nyaman. Arman bahkan menyiapkan handuk baru serta perlengkapan mandi. Hal-hal kecil yang membuat Sulis merasa dihargai.
Saat akhirnya berada sendirian di dalam kamar, Sulis duduk di tepi ranjang. Suasana terasa begitu hening. Tidak ada suara bentakan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada rasa takut.
Hanya suara hujan yang masih terdengar dari luar jendela.
Ia memejamkan mata perlahan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Di ruang tamu, Arman juga belum tidur. Ia duduk di sofa sambil memandangi hujan yang terus turun. Pikirannya kembali kepada perempuan yang kini berada di kamar tamu. Pada luka-luka yang pernah ia lihat, kesedihan yang tersembunyi di balik senyumnya, dan ketabahan yang entah mengapa membuatnya kagum.
Arman mengembuskan napas panjang.
Ia tahu Sulis sedang menghadapi banyak masalah. Ia juga tahu dirinya tidak boleh terburu-buru menafsirkan apa pun.
Namun ada satu hal yang tidak bisa ia pungkiri.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang terus memenuhi pikirannya bahkan setelah percakapan mereka berakhir.
Sementara hujan terus turun di luar sana, keduanya perlahan terlelap dengan pikiran yang berbeda. Sulis menemukan ketenangan yang sudah lama hilang. Sedangkan Arman mulai menyadari bahwa perasaannya kepada perempuan itu mungkin tidak lagi sekadar rasa iba semata.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .