Hati Kanaya hancur saat mengetahui bahwa suaminya berselingkuh bahkan sudah menikah siri selama lima tahun dan lebih menyakitkan lagi keluarga suaminya mengetahui dan mendukung pernihakan Riko dan Sinta. Selama ini Kanaya selalu bertahan dan menerima semua perlakuan keluarga suaminya itu. keluarga Riko tidak pernah mengaggap Kanaya sebagai bagian dari keluarga mereka hanya menganggap Kanaya sebagai pembantu di rumah itu.
Kanaya lebih sakit hati lagi pada saat mendengar pengakuan anaknya bahwa keluarga suaminya itu menyakiti anaknya bahkan Riko sendiri tidak perduli sama sekali terhadap anaknya.
Apakah Kanaya akan tetap mempertahankan pernikahannya atau memilih berpisah setelah mengetahui pengkhianatan suaminya itu serta perlakuan keluarganya terhadap putrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
“Loh mbak Anisa, Rehan ada apa ya?” ucap Ria kaget melihat kedatangan Rehan dan juga Anisa ke rumahnya.
“Kita mau kasih ini” ucap Rehan kepada Ria.
“Apa mas Riko belum pulang?” Tanya Rehan lagi.
“Sepertinya belum ada yang pulang” ucap Ria karena di baru saja membuka pintu yang terkunci mengunakan kunci yang ia bawa.
Rehan pun memberitahukan tujuannya datang kepada Ria.
“Semoga masalah mbak Kanaya cepat selesai, maafin keluarga aku ya” ucap Ria tulus.
“Ya” jawab Anisa singkat. Malas terlalu menanggapi ucapan Ria.
Anisa masih terlalu terngiang-ngiang akan ucapan keluarga Riko waktu itu.
“Semoga setelah ini kak Kanaya bahagia tidak seperti dulu saat bersama keluarga ini, semoga Ana juga bahagia” ucap Ria tulus dari hatinya.
“Saya tau kamu yang bersikap baik sama Ana dan sayang sama Ana, kamu bisa ketemu dengan Ana kapan pun kamu mau tapi ingat Hany kamu saja” ucap Anisa kepada Ria.
Anisa tau bahwa dia yang merupakan satu-satunya orang di keluarga Riko yang menganggap Ana keluarganya.
Ria senang dia bisa bertemu dengan keponakannya itu.
Semenjak Kanaya pergi dari rumah Ria tidak pernah lagi bertemu dengan keponakannya itu. Ingin menemuinya pun tidak berani takut di tolak oleh keluarga Kanaya.
“Terima kasih” ucap Ria dengan senyuman tulus.
Akhirnya ria bisa bertemu dengan keponakannya lagi.
Mereka berpamitan untuk pergi karena hari sudah sore. Meskipun mereka tidak bisa bertemu dengan keluarga Riko yang lainnya.
Tapi itu bukan masalah bagi mereka justru malah bagus jadi tidak akan ada keributan yang terjadi.
. . .
Hari ini, hari sidang pertama antara Kanaya dan Riko akan di selenggarakan. Kanaya yang sudah siap untuk berangkat sembari menunggu mama, kakak dan adiknya. Kanaya menunggu mereka sambil menonton TV.
Sedangkan Renata sudah berangkat kerja tapi dia berjanji akan datang di persidangan tantenya itu dan Ana tidak sekolah hari ini, dia izin tidak masuk sekolah hari ini. Ana ingin menemani mamanya di persidangan. Namun Ana memilih untuk duduk di teras.
“Huh aku yakin ini bakal sulit” gumam Kanaya dengan sendirinya.
“Hari ini kamu akan bertemu dengan papa kamu Ana, tetapi dengan kondisi yang berbeda. Jika kemarin Kamu ketemu dengan papa kamu karena kita satu rumah tapi kali ini kamu bertemu dengan papa kamu untuk salam perpisahan dengan papa kamu Ana” gumam Kanaya lagi yang sedih memikirkan masalahny saat ini dia juga memikirkan anaknya Ana.
“Kak” panggil Rehan yang baru saja turun dari lantai dua
Kanaya yang di panggil pun menoleh ke arah Rehan. Rehan tersenyum menguatkan hati sang kakak. Kanaya membalas senyuman itu dengan tulus.
“Kakak tenang saja, kita pasti yang akan menjadi pemenangnya” ucap Rehan sembari tersenyum menyemangati kakaknya itu padahal dalam hatinya dia merasakan apa yang di rasakan oleh kakaknya.
Kanaya hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Rehan. Kanaya hanya ingin cepat masalah dengan Riko itu selesai.
Sedangkan di luar Ana sedih dengan apa yang terjadi saat ini.
“Hari ini sidang mama dan papa” ucap Ana sendu.
Ana memilih duduk di teras agar mamanya tidak tau kesedihannya saat ini. Ana sedih memikirkan kedua orang tuanya yang berpisah.
“Apa aku siap ya?” ucap Ana bahkan air matanya menetes membasahi pipinya.
Ana sebenarnya tidak mau kedua orang tuanya berpisah tapi dia juga tidak tega dengan mamanya.
“Huh, aku harus kuat aku tidak boleh sedih. Jangan sampai mama lihat aku sedih” ucap Ana membuang nafasnya kasar dan menghapus air matanya.
Ana sudah memutuskan untuk mendukung apa pun keputusan mamanya itu. Ana tidak mau di saat mamanya melihat dirinya menangis membuat mamanya menjadi kepikiran. Dia tidak boleh menunjukkan apa yang ia rasakan saat ini.
Bagi Ana cukup dirinya saja yang tau apa yang sedang ia rasakan. Ana juga ingin melihat mamanya bahagia.
. . .
“Kamu nanti berusahalah untuk menolak perceraiannya terlebih dahulu, hingga di tempat mediasi, lalu kamu gertak Kanaya” ucap Jihan memberitahukan rencana yang harus anaknya itu lakukan.
Riko hanya mengagukkan kepalanya pertanda paham.
“Apa keputusan ini sudah tepat ya, kalau benar Sinta selingkuh bagaimana?” ucap Riko yang saat ini bimbang.
“Tapi aku rasa bakalan gagal deh ma, mama tahu sendiri kan sekarang apa yang akan di pertahankan oleh mbak Kanaya?” ucap Ria dengan santainya.
“Ria kamu jangan ngomong seperti itu” ucap Jesika.
Sedangkan Jihan diam Jihan merasa apa yang di ucapkan Ria benar tapi dengan segera dia menepis hal itu.
“Lagian ya ma, Kanaya itu kan sudah bangkrut” ucap Jesika yang membuat Riko, Sinta dan Ria heran.
“Mbak tau dari mana kalau mbak Kanaya bangkrut?” tanya ria mewakili yang lainnya.
“Emmm beberapa hari yang lalu sih. Waktu aku ajak mama, Vino dan Sisi jalan-jalan. Eh tidak sengaja bertemu dengan Kanaya. Dan paling mengejutkan lagi kita bertemu dua kali. Pertama sewaktu di mall dan Ana membawa banyak belanjaan dan aku lihat mereka belanja di tempat yang harga barang-barangnya itu mahal. Terus yang ke dua kita bertemu di caffe ternama. Tetapi kita tahunnya kalau Kanaya itu pelayanan di caffe itu” terang Jesika sembari melihat ke arah mamanya.
“Benar banget yang di ucapkan oleh Jesika. mmm mama rasa mereka itu berfoya-foya dan akhirnya uang mereka habis sudah itu restorannya bangkrut” ucap Jihan menimpali ucapan anaknya itu.
Mereka yang mendengarnya terdiam kala mendengar cerita dari Jesika dan Jihan.
“Aku rasa tidak mbak, bisa saja ini rencana mereka untuk mengelabui kita agar kita tidak ambil uang warisan itu” ucap Sinta yang membuat mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Ada yang setuju dengan ucapan Sinta ada juga yang tidak.
“Aku yakin mbak Kanaya tidak bangkrut bisa saja cafe itu miliknya, aku tahu betul mbak Kanaya bukan orang yang boros, tapi apa pun itu biar lah mereka berpikir seperti itu” ucap Ria dalam hati.
“Ya apa yang di bilang Sinta benar, sudah pokoknya kita lewat dulu sebentar di depan restoran milik Arumi itu kita pastikan apakah mereka bangkrut atau tidak” putus Jihan.
“Sudah, ayo kita berangkat. Ingat pesan mama tadi Riko” ucap Jihan dan mengajak anak dan menantunya pergi sekarang.
“Kenapa ya dengan sikap mas Riko, kenapa sikapnya mulai berubah sekarang, apa dia tahu aku selingkuh, ah tapi tidak mungkin buktinya mas Riko masih tetap bercerai dengan Kanaya” ucap Sinta yang melihat sikap Riko yang tidak sama seperti sebelumnya namun Jihan segera menepis pikirannya itu.