"Apa?! Menikah dengan orang gagap itu? Aku tidak mau!"
"Menikah dengan kakak ipar mu, atau pergi dari rumah ini!"
Aline terpaksa menikah dengan kakak iparnya yang gagap karena keponakannya dan juga kondisi keuangan keluarganya yang bergantung pada kakak iparnya. Sedangkan Aline sendiri sebenarnya memiliki kekasih yang sangat dicintainya.
Apakah Aline bisa mempertahankan rumah tangga yang tidak di landasi rasa cinta?
Ataukah perlahan akan mencintai pria gagap yang dari awal tidak disukainya?
Yuk, simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Memata-matai
Malam pertama yang panas dan mendebarkan? Hal itu sama sekali tidak terjadi pada sepasang pengantin baru yang tidak saling mencintai itu.
Pagi harinya Roni bersiap-siap berangkat bekerja seperti biasanya. Sedangkan Aline yang baru selesai membantu ibunya memasak, gadis itu belum mandi.
"Aline, layani suamimu!" titah Nuri saat melihat Aline tidak mengambilkan makanan untuk Roni, tapi mengambil makannya untuk dirinya sendiri.
"Iya," sahut Aline yang terpaksa mengambilkan makanan untuk Roni.
Setelah Vivi kecelakaan satu bulan yang lalu, baru hari ini Roni kembali makan bersama kedua mertuanya. Ingatan tentang Vivi yang melayani dirinya di meja makan dengan senyuman tulus membuat dada Roni terasa sesak. Apalagi saat tempat Vivi digantikan oleh Aline yang terlihat terpaksa melayani dirinya di meja makan
"Ron, apa masakannya tidak enak?" tanya Nuri yang melihat Roni nampak tidak berselera makan.
"E..enak," sahut Roni tersenyum tipis kemudian makan dengan cepat.
Setelah selesai sarapan dan mencium pipi serta kening Giyan, Roni pun berangkat bekerja.
"Aline, ibu sudah mengatakan padamu, jadilah istri yang baik. Setelah memasak, langsung mandi agar tubuhmu tidak bau bawang dan keringat. Kamu malah sarapan dengan keadaan belum mandi. Ingat! kita ini bergantung hidup dan perlindungan dari Roni. Jadi, jadilah istri yang baik untuk Roni," ujar Nuri yang tidak senang dengan perlakuan Aline pada Roni.
"Aline, jika kamu tidak memperlakukan Roni dengan baik, lebih baik kamu tandatangani surat cerai dan pergi dari rumah ini!" sarkas Ruslan yang tidak mau lagi bicara panjang lebar dengan Aline yang keras kepala.
Ruslan dan Nuri beranjak pergi meninggalkan Aline yang tertunduk mengepalkan kedua tangannya. Tidak menjawab sedikit pun perkataan Ruslan dan Nuri.
"Aku diperlakukan seperti musuh oleh keluarga ku sendiri semenjak dia menjadi menantu di keluarga ini. Dia diperlakukan seperti raja, sedangkan aku yang anak kandung di rumah ini selalu diceramahi agar menghormati dan melayani dia dengan baik. Menyebalkan sekali!" gerutu Aline yang semakin benci pada Roni.
Aline merasa tertekan tinggal bersama keluarganya sendiri. Namun sayangnya, Aline juga belum bisa hidup mandiri. Bahkan mencari kerja paruh waktu pun susah.
Aline pergi kuliah seperti biasanya. Setelah selesai kuliah, Aline bertemu dengan Rafan di taman.
"Lin, kamu, kok, terlihat kusut begitu?" tanya Rafan saat melihat Aline yang berjalan menghampirinya.
"Nggak apa-apa, kok. Cuma kebanyakan mengerjakan tugas saja," sahut Aline berusaha tersenyum. Aline menyembunyikan tentang pernikahannya dengan Roni, karena tidak ingin berpisah dengan Rafan.
"Kita jalan, yuk! Biar stres kamu hilang," ujar Rafan menarik tangan Aline dan mengajaknya pergi.
Rafan mengajak Aline jalan-jalan ke pantai. Mereka bersenda gurau bermain air di tepi pantai. Saat bersama Rafan, Aline bisa melupakan semua masalah di rumah yang menekannya.
*
Setelah pulang kerja, Roni memilih pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Vivi. Walaupun hanya bisa melihat Vivi terbaring tanpa bisa bergerak, apalagi berinteraksi dengan dirinya, tapi Roni sudah cukup merasa bahagia.
Roni yang hendak masuk ke ruangan Vivi nampak menghentikan langkahnya saat handphonenya berdering. Pemuda itu menerima panggilan masuk dari anak buahnya. Roni membuang napas kasar setelah menutup sambungan telepon.
"Gadis ini benar-benar harus di disiplinkan," gumam Roni dalam hati.
Roni melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan Vivi. Pemuda itu duduk di kursi di sebelah ranjang Vivi seperti biasanya.
"Vivi, maaf! Aku tidak bisa menemanimu sampai pagi seperti biasanya. Aku hanya bisa mengunjungi mu sebentar. Maaf!" ucap Roni dalam bahasa isyarat. Jemari tangan pemuda itu menggenggam hangat jemari tangan Vivi.
"Tidak apa, kak. Aku mengerti. Sekarang kakak sudah menikah lagi, kakak harus membagi waktu untuk Aline," sahut Vivi dengan wajah sedih yang tidak bisa di dengar dan di lihat oleh Roni.
Roni membaringkan tubuhnya di samping Vivi dan memeluk Vivi. Mulai malam ini dirinya tidak bisa lagi menginap di ruangan Vivi seperti biasanya. Bagaimanapun dirinya sudah menikah dengan Aline. Jadi, Roni harus pulang ke rumah mertuanya.
Setelah pukul delapan malam, Roni baru beranjak dari tempatnya berbaring. Dengan lembut pemuda itu mencium pipi dan kening Vivi, kemudian mengambil kunci mobilnya dari atas nakas bersiap untuk pulang ke rumah mertuanya.
"Ceklek"
Sebelum Roni tiba di depan pintu, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan Fina nampak muncul dari balik pintu.
"Roni, aku ingin bicara dengan mu," ucap Fina seraya duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
Roni hanya mengangguk, lalu menyusul Fina duduk di sofa.
"Roni, kamu sudah punya istri, apa tidak sebaiknya kamu lepas alat bantu penunjang kehidupan Vivi? Biarkan Vivi beristirahat dengan tenang, Ron. Apa kamu tidak kasihan pada Vivi? Jika seperti ini, kamu sama saja dengan memaksa Vivi untuk hidup kembali, Ron. Mungkin roh nya gentayangan karena sudah meninggal tapi jasadnya belum di kuburkan, Ron,"
"Lagi pula, apa kamu tidak memikirkan perasaan istri mu sekarang? Belajarlah untuk menerima kenyataan, Ron! Kamu itu cerdas. Pikirkan semua dengan hati dan logika. Jangan hanya dengan hati saja. Jangan mengedepankan keegoisan kamu sendiri. Rumah tangga mu tidak akan bertahan lama, jika kamu terus begini," ujar Fina beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari Roni, lalu meninggalkan ruangan itu.
Roni hanya bisa tertunduk mendengar kata-kata Fina. Walaupun Roni tahu, Vivi tidak akan pernah hidup lagi, tapi entah kenapa Roni belum rela melepaskan Vivi.
Setelah beberapa saat Fina pergi, Roni pun beranjak bangkit dari duduknya dan berniat pulang ke rumah mertuanya.
*
Setelah hari sudah malam, Aline baru pulang ke rumah. Aline tidak melihat mobil Roni di garasi yang masih terbuka. Yang artinya, suami barunya itu belum pulang.
"Aline, darimana kamu seharian ini? Kamu itu sudah menikah, jangan kelayapan tidak jelas!" ujar Nuri yang menyengat Aline di depan pintu.
"Aku mengerjakan tugas kuliah bersama dengan temanku, Bu," dusta Aline, kemudian melewati Nuri.
"Hei! Ibu belum selesai bicara! Dasar keras kepala!" teriak Nuri merasa kesal karena melihat Aline pergi begitu saja.
"Apa ibu tidak capek menceramahi aku setiap ada kesempatan;" gerutu Aline seraya masuk ke dalam kamarnya dan Roni.
Aline masuk ke dalam kamar dan mengernyitkan keningnya saat melihat deretan skincare yang masih berada di dalam kotak tersusun rapi di atas meja rias.
"Apa si gagap itu membelikan semua ini untuk ku? Dia pikir aku bisa di rayu dengan semua skincare ini? Walaupun aku menginginkan skincare ini, tapi aku tidak akan menukar diriku dengan skincare ini," gumam Aline menatap semua skincare yang sebenarnya sudah lama diinginkannya itu.
Saat Aline hendak berjalan ke lemari pakaiannya, tanpa sengaja Aline melihat deretan tas dan sepatu baru di dalam lemari khusus tas dan sepatu. Dan melihat ukuran sepatu yang ada di dalam lemari itu, Aline yakin sepatu itu untuknya. Karena sepatu itu ukuran nya lebih kecil dari ukuran sepatu Vivi. Dan kaki Aline memang lebih kecil dari kaki Vivi. Tubuh Aline juga lebih pendek di bandingkan dengan tubuh Vivi.
Aline semakin terkejut saat membuka lemari pakaian tempat pakaiannya di simpan. Ada banyak pakaian baru yang ada di lemari itu.
"Apa maksudnya semua ini? Dia ingin menunjukkan kekayaannya padaku?" gumam Aline yang sama sekali tidak merasa senang dengan skincare, pakaian baru dan juga deretan tas serta sepatu baru yang ada di lemari terpisah.
Aline tidak ingin memakai pakaian yang di siapkan Roni untuknya. Tapi, Aline tidak menemukan pakaian yang biasa di pakainya di dalam lemari itu.
"Sial! Kemana semua pakaianku?" gerutu Aline hendak keluar dari kamar itu untuk menanyakan pakaiannya pada ibunya.
"Ceklek"
Saat Aline hendak berjalan menuju pintu, pintu itu lebih dulu di buka dari luar. Roni nampak muncul dari balik pintu itu.
"Kamu pikir aku suka dengan semua pakaian, skincare, tas dan sepatu itu? Kamu pikir kamu bisa mengambil hatiku dengan semua barang-barang itu? Aku bukan gadis matre yang bisa di rayu dengan harta," ketus Aline dengan tatapan tajam pada Roni, saat Roni baru saja menutup pintu kamar itu. Nampak jelas kebencian di mata Aline pada Roni.
"A..a.."
"Bicara dengan bahasa isyarat saja! Telingaku gatal mendengar suaramu yang gagap itu," ketus Aline tidak sabar.
Ya, Aline juga bisa bahasa isyarat, karena dulu belajar dari Vivi. Aline dan Vivi sering menggunakan bahasa isyarat saat mereka bercerita larut malam dan tidak ingin di dimarahi Ruslan dan Nuri karena berisik.
"Aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai seorang suami. Tidak ada yang lain. Lagipula, semua pakaian kamu itu terlalu ketat. Aku tidak suka istriku keluar menggunakan pakaian ketat dan dilihat para pria hidung belang di luar sana,"
"Dan satu lagi. Walaupun kamu membenci aku, kenyataannya aku adalah suamimu. Kamu adalah seorang istri. Seorang istri harus tahu batasan bergaul dengan pria selain suaminya. Jadi, jangan pergi dengan pria lain sembarangan tanpa izin dariku!" ujar Roni dalam bahasa isyarat dengan wajah datar, membuat Aline membulatkan matanya.
"Kamu memata-matai aku?"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
roni dpt vivi itu anugrah, tp roni punya bini c aline sptnya musibah
org macam kmu hrs ditampar keadaan dulu baru sadar diri