Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Komedi Tragis di Toko Roti Tempat Kerja
Jarum jam baru saja melewati angka empat sore ketika Alessa, dengan tubuh yang dibalut kain gorden darurat di balik kemeja biru pudar peninggalan ayahnya, berdiri di depan pintu belakang "Bakery Lezat". Keputusannya untuk keluar rumah bukanlah hal yang mudah. Setelah Rian mengunci pintu depan dengan gembok rantai yang kokoh, Alessa terpaksa menggunakan sisa kekuatan dari sisa energi mi instan kedaluwarsa untuk mencongkel grendel jendela dapur menggunakan pisau mentega tua yang bengkok. Proses meloloskan diri lewat jendela sempit itu terasa seperti siksaan tersendiri; kain gorden yang melilit punggungnya bergesekan keras dengan kusen kayu, memicu gelombang rasa sakit yang membuat Alessa hampir pingsan di atas pohon mangga tetangga.
Namun, dia berhasil. Alessa tahu dia tidak bisa diam saja di rumah menunggu pukul delapan malam. Dia membutuhkan sisa gajinya dari Ko Alung untuk ongkos pelarian yang sesungguhnya nanti malam. Tanpa uang sepeser pun, dia hanya akan menjadi gelandangan yang mudah ditangkap kembali oleh Rian atau preman pelabuhan.
Dengan langkah kaki yang diatur sedemikian rupa agar tidak memicu guncangan berlebih pada punggungnya, Alessa melangkah masuk ke dalam area dapur toko roti. Aroma harum panggangan roti manis dan selai nanas seketika menyergap indra penciumannya, menawarkan kontras yang sangat kejam dengan aroma amis darah dan debu pengap di rumahnya.
"Astaga, Alessa! Kamu ke mana saja sejak kemarin sore?!"
Suara melengking Ko Alung langsung menyambutnya begitu Alessa melangkah melewati tirai pembatas ruang ganti. Pria paruh baya keturunan Tionghoa itu sedang memegang sebuah nampan besi besar berisi adonan roti yang siap dimasukkan ke dalam oven. Kacamata bacanya melorot sampai ke ujung hidung, dan dahinya dipenuhi keringat.
"Kamu tahu tidak? Kemarin si Maya datang ke sini seperti orang gila, teriak-teriak darurat nasional lalu menyeret kamu lewat pintu belakang! Setelah itu kamu hilang tidak ada kabar! Pesanan roti sobek untuk katering pernikahan hari ini menumpuk sampai langit-langit, Alessa! Saya sampai harus menyuruh istri saya yang sedang sakit pinggang buat ikut menguleni adonan!" cerocos Ko Alung tanpa titik koma, wajahnya memerah karena kelelahan dan kekesalan yang menumpuk.
Alessa segera memasang perisai andalannya: topeng senyum palsu yang dikalibrasi seceria mungkin. Dia membungkuk meminta maaf, sebuah gerakan yang langsung dihadiahi oleh sengatan rasa perih yang luar biasa di sepanjang tulang belakangnya. Gigi Alessa bergelatuk menahan erangan, namun matanya tetap dipaksakan menyipit ramah.
"Maafkan saya, Ko Alung yang paling rupawan dan murah hati se-alam semesta," sahut Alessa dengan nada suara yang dibuat renyah, seolah-olah hidupnya sedang sangat baik-baik saja. "Kemarin itu memang ada drama keluarga tingkat internasional, Ko. Biasa, Kak Rian tiba-tiba dapet hidayah buat membersihkan seluruh isi rumah, makanya saya harus pulang darurat buat bantu megangin sapu. Saya janji hari ini bakal tebus kesalahan dengan kerja dua kali lipat lebih cepat!"
Ko Alung mengembuskan napas panjang, menatap Alessa dari atas ke bawah. Meskipun lapisan bedak padat yang dioleskan Alessa tadi siang cukup tebal, lebam keunguan di sekitar rahang bawahnya yang akibat cengkeraman kasar Rian tadi subuh masih menyisakan bayangan gelap yang tidak alami. Ditambah lagi, kemeja biru longgar yang dipakai Alessa terlihat agak aneh karena strukturnya yang mengembung di bagian dada dan punggung—akibat lilitan kain gorden berlapis-lapis di dalamnya.
"Kamu ini... beneran tidak apa-apa?" tanya Ko Alung, nadanya melunak, menyiratkan sedikit rasa curiga sekaligus prihatin yang tulus. "Muka kamu pucat sekali seperti adonan bakpao kukus yang kurang mentega. Kalau sakit, jangan dipaksakan. Nanti kalau kamu pingsan dan masuk ke dalam adonan roti, saya bisa dituntut sama dinas kesehatan karena menjual roti rasa karyawan."
Alessa terkekeh pelan, sebuah tawa sarkas yang ditujukan untuk menertawakan nasibnya sendiri. "Tenang saja, Pak Bos. Jiwa dan raga saya ini sudah setangguh badak purba. Lagipula, kalau saya pingsan di dalam adonan, Ko Alung tinggal kasih label baru saja: Roti Sobek Premium Ekstra Protein Alessa. Pasti langsung laku keras di pasaran."
"Huss! Ngawur kamu kalau bicara!" Ko Alung menggeleng-gelengkan kepalanya, meletakkan nampan besi ke atas meja kerja. "Ya sudah, cepat pakai apron celemekmu. Bantu potong dan bungkus roti tawar di meja depan. Ingat, gerakannya yang rapi, jangan sampai robek!"
"Siap, Kapten!" Alessa memberikan penghormatan konyol.
Namun, tragedi komedi yang sesungguhnya baru saja dimulai ketika Alessa mencoba memakai apron kerja berwarna cokelat milik toko. Apron tersebut memiliki sistem tali pengikat yang harus disilangkan di bagian punggung dan ditarik kencang agar pas di badan. Saat Alessa memasukkan kepalanya ke lubang apron dan mencoba menarik tali belakangnya...
Srettt!
Tali apron itu secara tidak sengaja menjepit ujung kain gorden yang membungkus punggungnya, menarik paksa lapisan kain luar yang menempel langsung pada luka sabetan yang masih basah.
"Mamma mia!" Jeritan spontan dalam bahasa Italia lolos dari bibir Alessa. Rasa sakitnya luar biasa instan dan masif, seolah-olah ada orang yang sengaja menempelkan setrika uap panas tepat di atas kulit punggungnya yang robek. Tubuh Alessa refleks menegang tegak lurus, matanya melotot, dan napasnya tertahan di tenggorokan.
Ko Alung yang sedang berada di dekat mesin pengaduk adonan langsung menoleh dengan wajah panik. "Eh! Alessa! Kamu kenapa?! Kenapa teriak pakai bahasa planet begitu?!"
Alessa yang masih berdiri kaku seperti patung lilin mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Keringat dingin langsung mengucur deras dari dahinya, merusak lapisan foundation di pipinya dalam sekejap. Dia memaksakan sebuah senyuman kaku yang terlihat sangat menderita ke arah bosnya.
"Kagak... kagak apa-apa, Ko," desis Alessa dengan suara yang bergetar hebat, tangannya masih memegangi tali apron di belakang. "Ini... ini cuma jurus pemanasan vokal kuno dari Italia Utara, Ko. Katanya kalau kita teriak sebelum memotong roti, serat-serat rotinya bakal jadi lebih lembut dan tidak gampang berjamur. Ini teori ilmiah mutakhir, Ko, jangan heran."
Ko Alung menatap Alessa dengan pandangan seperti sedang melihat orang yang jiwanya sudah melayang setengah. "Lama-lama kamu ketularan gila seperti si Maya ya. Ya sudah, cepat kerjakan tugasmu!"
Alessa berjalan terhuyung-huyung menuju meja depan tempat tumpukan roti tawar yang baru matang berjejer rapi. Tugasnya adalah memotong roti-roti itu menggunakan mesin pemotong otomatis, lalu memasukkannya ke dalam kemasan plastik dan merekatkannya dengan isolasi. Kedengarannya mudah, namun bagi seseorang yang seluruh otot punggung dan lengannya sedang menjerit kesakitan, setiap gerakan mengangkat roti terasa laksana mengangkat seonggok batu belah.
Setiap kali Alessa mendorong tuas mesin pemotong, otot dadanya ketarik, memicu rasa perih yang membakar di balik balutan kain gordennya. Air matanya mulai merembes keluar lagi, mencampur peluh dan bedak yang luntur di wajahnya, menciptakan coretan-coretan putih-abu yang konyol di pipinya. Dia terlihat seperti badut yang sedang menangis di tengah pertunjukan sirkus yang sepi.
Komedi tragis itu mencapai puncaknya ketika seorang pelanggan, seorang ibu-ibu paruh baya yang terkenal sangat cerewet bernama Bu joko, masuk ke dalam toko dengan membawa sekotak kue sus yang dibelinya kemarin.
"Ko Alung! Alessa! Ini gimana sih?!" seru Bu Joko sambil menggebrak meja etalase kasir dengan dramatis. "Kemarin saya beli kue sus di sini, katanya isinya vla vanila manis! Tapi pas anak saya makan tadi pagi, rasanya kok agak hambar dan ada sensasi asin-asinnya gitu?! Kalian mau meracuni keluarga saya ya?!"
Alessa yang sedang menahan rasa sakit luar biasa di punggungnya terpaksa berjalan mendekati mesin kasir, memasang wajah senyum palsunya yang kini sudah fungsional setengah tiang karena lunturan riasan.
"Aduh, maaf sekali, Bu Joko yang cantik jelita," kata Alessa, mencoba meredakan amarah pelanggan dengan gaya sarkasnya yang khas. "Itu sebenarnya bukan hambar atau rusak, Bu. Itu adalah menu varian terbaru kami: Kue Sus Rasa Air Mata Keputusasaan Karyawan. Sensasi asin-asin gurih itu murni berasal dari ekstrak keringat dan air mata saya yang menetes saat menguleni adonan di bawah tekanan batin. Ini produk edisi terbatas, Bu, harusnya harganya lebih mahal karena mengandung nilai estetika penderitaan hidup yang tinggi."
Bu Joko melongo mendengar penjelasan Alessa yang luar biasa tidak masuk akal itu. Dia menatap wajah Alessa yang coret-moret karena bedak luntur, lalu menatap kemeja longgarnya yang mengembung aneh di bagian belakang.
"Kamu... kamu ini bicara apa sih?! Ko Alung! Ini karyawannya mabuk ragi atau gimana?!" teriak Bu Joko, beralih meminta penjelasan pada pemilik toko.
Ko Alung yang baru keluar dari dapur langsung menepuk jidatnya sendiri. "Maaf, Bu Joko, maaf! Alessa ini memang suka bercanda kalau kurang tidur. Sini, kuenya saya ganti baru saja dengan yang gratis, jangan marah-marah ya, Bu."
Setelah Bu Joko pergi dengan membawa kotak kue baru sambil menggerutu tentang "toko roti berisi orang-orang tidak waras", Ko Alung langsung berbalik menatap Alessa dengan ekspresi yang sangat serius. Amarah bosnya kali ini tidak lagi didasari oleh kekesalan bisnis, melainkan oleh rasa khawatir yang mendalam.
"Alessa, cukup," kata Ko Alung tegas. Dia berjalan mendekati Alessa, lalu dengan lembut menarik tangan gadis itu yang sedang memegangi pisau roti. "Lihat bungkusan di punggungmu itu. Kemejamu di bagian belakang... ada noda merah yang merembes, Alessa. Kamu berdarah."
Mendengar ucapan Ko Alung, runtuhlah sudah seluruh pertahanan topeng senyum palsu yang telah dibangun Alessa dengan susah payah sejak kemarin. Kata-kata bosnya yang sederhana namun penuh perhatian itu seketika menusuk langsung ke dalam palung hatinya yang paling sepi. Alessa terdiam, kepalanya tertunduk, dan bahunya mulai berguncang hebat. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi, menghapus sisa-sisa bedak di wajahnya secara total, memperlihatkan wajah aslinya yang babak belur, pucat, dan sarat akan kesedihan seorang anak yatim piatu yang tidak memiliki tempat bersandar di dunia ini.
"Ko..." bisik Alessa di antara isak tangisnya yang memilukan. "Saya... saya cuma butuh sisa gaji saya hari ini, Ko... Saya harus pergi nanti malam... kalau tidak, Kak Rian bakal menjual saya ke pelabuhan..."
Ko Alung terkejut setengah mati mendengar pengakuan Alessa. Amarahnya berubah menjadi rasa iba dan kemarahan yang mendalam kepada Rian. Tanpa banyak bicara, Ko Alung berjalan menuju mesin kasir, membuka lacinya, lalu mengambil seikat uang tunai yang nilainya jauh lebih besar daripada sisa gaji yang seharusnya diterima Alessa.
Dia kembali ke hadapan Alessa, lalu memasukkan uang itu ke dalam kantong kemeja biru pudar Alessa.
"Ambil ini, Alessa. Pergilah. Jangan kembali ke rumah itu lagi," kata Ko Alung, matanya berkaca-kaca. "Pergilah sejauh mungkin dari si Rian gila itu. Semoga Tuhan melindungimu, ragazza."
Alessa menatap uang di kantongnya, lalu menatap Ko Alung dengan rasa haru yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Di tengah-tengah air mata yang membanjiri wajahnya yang lebam, sebuah senyuman yang kali ini benar-benar tulus muncul di sudut bibirnya yang pecah.
"Terima kasih, Ko... Grazie mille (terima kasih banyak)," bisik Alessa dengan suara parau.
Dia segera melepas apronnya dengan perlahan, mengabaikan perih di punggungnya yang kini kembali merembeskan darah segar. Sambil menggenggam erat ikatan uang di kantongnya, Alessa melangkah keluar dari pintu belakang "Bakery Lezat". Komedi tragis di toko roti itu telah berakhir, namun waktu di jam digital kepalanya terus berjalan mundur menuju pukul delapan malam. Berbekal uang dari Ko Alung dan tubuh yang terluka, Alessa kini harus bersiap menghadapi malam penentuan yang akan membawanya berlari menyusuri jalanan kota di bawah guyuran hujan, menuju titik balik terbesar yang akan mempertemukannya dengan sang penguasa dunia.