Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 36: SERAGAM 'GURU NGAJI'
Kalimat Bima yang berbisik rendah di bawah siraman cahaya bulan Bali malam itu sukses membuat Anaya tidak bisa memejamkan mata sampai fajar menyingsing. Setiap kali dia mencoba menarik selimut di atas sofa, bayangan wajah Bima yang berjarak hanya beberapa senti dari pipinya langsung berputar seperti kaset rusak.
Beruntung, sisa malam itu tidak berakhir se-ekstrem kalimat godaan Bima. Sang CEO narsis tampaknya tahu betul kapan harus menarik ulur umpan. Setelah membuat jantung sekretarisnya hampir melompat keluar dari dada, Bima hanya terkekeh, menepuk pucuk kepala Anaya sekilas, lalu berjalan masuk untuk tidur di kasur King Size-nya sendirian, meninggalkan Anaya yang sibuk mengontrol pasokan oksigen di balkon.
Hari Rabu berlalu dengan ritme kilat. Mereka kembali ke Jakarta sore harinya, dan sepanjang perjalanan di pesawat, Anaya lebih banyak diam. Otak logisnya mulai mengambil alih kendali.
"Ingat, Anaya," batinnya mengingatkan diri sendiri saat menatap pantulan wajahnya di cermin kamar kosan pada Rabu malam. "Dia itu Bima Bimantara. Kaya, berkuasa, narsisnya minta ampun, dan punya sejuta pesona yang bisa bikin cewek mana saja mleyot dalam hitungan detik. Jangan sampai kamu cuma jadi mainan pengisi waktu luang atau pelampiasan nafsu sesaat si bos kaya."
Ketakutan itu nyata. Anaya tahu betul posisinya. Hubungan profesional antara bos dan sekretaris adalah zona yang sangat berbahaya jika dicampuradukkan dengan perasaan. Begitu kamu jatuh hati, kamu kalah.
Maka, demi menyelamatkan kesehatan mental dan masa depan kariernya di Bimantara Group, Anaya memutuskan untuk menarik rem tangan sedalam-dalamnya. Mode kaku dan benteng pertahanan absolut harus segera diaktifkan kembali.
*
Hari Kamis pagi di kantor pusat. Atmosfer lantai tiga puluh lima mendadak terasa berbeda begitu Anaya melangkah keluar dari lift. Beberapa staf yang berpapasan dengannya di koridor langsung mengerutkan kening, menatap sang sekretaris utama dengan tatapan heran bin takjub.
Anaya mengabaikan semua pandangan itu. Dia berjalan dengan dagu tegak menuju meja kerjanya, meskipun penampilannya hari ini benar-benar mengalami penurunan drastis dalam skala estetika korporat.
Demi menjaga jarak aman dan mematikan segala bentuk percikan asmara yang sempat menyala di Bali, Anaya sengaja membongkar bagian paling bawah lemarinya tadi pagi. Dia memilih pakaian yang dijamin seratus persen akan menghancurkan gairah pria mana pun yang melihatnya.
Hari ini, Anaya memakai rok instan bermotif batik sogan yang potongannya sangat lurus dan panjang hingga menyapu mata kaki. Untuk atasannya, dia memadukannya dengan sejenis tunik longgar berwarna hijau lumut tua, dengan kancing yang tertutup rapat sampai ke pangkal leher. Rambut panjangnya yang biasa digerai indah atau dikuncir kuda yang dinamis, kini digelung bulat sempurna di belakang kepala menggunakan jepit hitam besar tanpa sisa helai sedikit pun.
Ditambah dengan kacamata berbingkai bulat tebal yang jarang dia pakai, penampilan Anaya hari ini tidak ada bedanya dengan seorang guru mengaji paruh waktu atau dosen senior sosiologi yang siap membagikan kertas ujian remedial.
"Pagi, Mbak Anaya... Mau ada acara pengajian di lantai bawah ya, Mbak?" sapa Tika dari divisi admin umum saat lewat di depan meja Anaya dengan nada ragu-ragu.
Anaya tersenyum sangat ramah, senyuman formal yang biasa dia pakai untuk menyambut tamu kementerian. "Pagi, Tika. Enggak kok. Saya cuma merasa cuaca Jakarta belakangan ini agak dingin, jadi saya butuh pakaian yang lebih... menutup aurat dan longgar agar sirkulasi udara tubuh saya terjaga dengan baik."
Tika hanya mengangguk canggung sambil membatin, Perasaan Jakarta lagi panas-panasnya sampai tiga puluh lima derajat.
Tepat pukul sembilan pagi, pintu ruangan CEO terbuka. Bima melangkah keluar dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang necis, berniat memberikan beberapa dokumen revisi anggaran dari divisi finansial kepada Anaya.
"Anaya, tolong jadwalkan pertemuan dengan—" Kalimat Bima mendadak terhenti di udara.
Pria itu mematung di samping meja kerja Anaya. Matanya yang tajam melebar beberapa milimeter saat memandang sosok wanita yang duduk di hadapannya. Bima berkedip dua kali, seolah memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang mengalami gangguan akibat kurang minum kopi.
Anaya mendongak, memasang ekspresi selempeng papan gilasan. Dia membetulkan posisi kacamatanya dengan jari telunjuk. "Iya, Pak Bima? Jadwal pertemuan dengan siapa ya, Pak?"
Bima tidak langsung menjawab. Dia meletakkan map dokumen di atas meja, lalu berjalan memutari meja Anaya secara perlahan, menginspeksi penampilan sekretarisnya dari atas sampai bawah.
"Anaya," panggil Bima, suaranya terdengar agak tertahan. "Kamu... habis salah ambil koper pas pulang dari Bali kemarin? Atau kamu baru saja bergabung dengan sekte pemuja pakaian kuno?"
"Maksud Bapak apa ya?" tanya Anaya, pura-pura tidak mengerti. "Pakaian saya hari ini sangat memenuhi standar kesopanan perusahaan, Pak. Longgar, rapi, dan tidak memicu gosip jalur hitam seperti yang terjadi di pantry hari Senin lalu."
Bima memijat pangkal hidungnya yang mancung, mendadak merasa kepalanya berdenyut. Perubahan drastis ini benar-benar di luar prediksinya. Mana ada sekretaris CEO muda dan dinamis yang berpenampilan seperti ini? Gaya berpakaian Anaya hari ini bahkan jauh lebih tertutup dan kolot daripada gaya berpakaian neneknya di rumah utama.
"Saya tahu kamu mau menghindari gosip, Anaya. Tapi gak begini juga konsepnya," gerutu Bima, frustrasi. "Tunik hijau lumut ini... dan rok batik ini... kamu sengaja ya? Kamu sengaja mau bikin tingkat ketampanan saya jomplang sendirian di lantai ini?"
"Saya tidak ada maksud begitu, Pak. Saya hanya ingin fokus bekerja secara profesional tanpa ada gangguan... visual atau verbal," jawab Anaya dengan penekanan halus pada kata terakhir, menatap Bima dengan pandangan mata yang kaku.
Bima mendengus pelan. Dia mendekatkan tubuhnya ke meja, menopang tangan di atas tumpukan dokumen, lalu menatap Anaya dengan pandangan menyelidik. "Kamu lagi pasang benteng pertahanan ya karena kejadian di balkon malam itu? Kamu takut beneran jatuh cinta sama saya, hmm?"
Jantung Anaya sempat mencelos mendengar tebakan jitu Bima, namun dia berhasil mempertahankan wajah datarnya. "Bapak terlalu percaya diri. Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai karyawan yang tahu batasan. Ini dokumen revisinya, Pak? Ada lagi yang perlu saya kerjakan?"
Melihat respons Anaya yang kembali dingin seperti es balok di kutub utara, Bima menghela napas panjang. Jiwa narsisnya yang biasa bergejolak mendadak merasa tertantang, sekaligus stres menghadapi mode "guru mengaji" yang dipasang oleh sekretarisnya ini.
"Terserah kamu saja, Anaya," ujar Bima akhirnya dengan nada mengalah yang jarang dia perlihatkan. Dia mengambil kembali mapnya dengan sedikit sentakan kesal. "Tapi tolong, jangan pakai kacamata bulat itu lagi besok. Saya merasa seperti lagi bicara sama kepala sekolah saya zaman SMA. Bikin stres."
Bima berbalik dan melangkah kembali ke ruangannya dengan hentakan kaki yang sedikit lebih berat dari biasanya, sementara Anaya yang ditinggal sendirian di mejanya diam-diam mengembuskan napas lega yang sangat panjang.
Rem tangan telah sukses ditarik, dan untuk sementara waktu, jarak aman di antara mereka berhasil terjaga kembali. Meskipun dalam hatinya yang terdalam, Anaya tahu kalau menghadapi pria sekelas Bima Bimantara, benteng sekuat apa pun pasti akan selalu menemukan celah untuk retak.
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...