Suami Gagap Ku
Roni mengendarai mobilnya menuju rumah majikannya. Roni adalah seorang asisten pribadi seorang pebisnis kaya di negeri ini. Pria lajang yang belum pernah berpacaran itu menghentikan mobilnya saat jembatan yang akan dilewatinya macet total.
Roni turun dari mobilnya saat dari kejauhan melihat orang-orang yang berkerumun memenuhi jembatan dan seorang gadis yang nampak berdiri di pagar jembatan.
"Hei! Turun! Mati tidak akan menyelesaikan masalahmu!"
"Kamu akan menjadi hantu gentayangan jika mati bunuh diri di sini!"
"Orang tuamu pasti akan sedih, jika kamu mati dengan cara seperti ini!"
"Bunuh diri itu dosa!"
"Kamu jangan mendahului kehendak Tuhan!"
Roni mendengar suara orang-orang yang sedang membujuk gadis yang berada di atas pagar jembatan itu. Pemuda itupun ikut mendekat ke arah kerumunan orang itu dan melihat lebih dekat gadis yang hendak bunuh diri itu.
"Gadis itu cantik. Kenapa malah ingin bunuh diri?" gumam Roni dalam hati.
"Akkkhh!" pekik gadis itu dengan nekat menjatuhkan diri ke aliran sungai yang deras.
Orang-orang yang melihatnya pun berteriak panik melihat aksi nekat gadis itu.
"Tidak!" pekik Roni dalam hati yang sangat terkejut melihat aksi nekat gadis itu.
"Byurr"
Tanpa berpikir panjang, Roni ikut menjatuhkan diri ke sungai itu dan membuat semua orang yang melihatnya semakin panik.
"Astagaa.. Kenapa aku reflek masuk ke dalam sungai ini untuk menolong gadis itu?" gumam Roni dalam hati yang sudah berada di dalam sungai. Roni benar-benar tidak mengerti, kenapa dirinya reflek ingin menolong gadis itu. Padahal, kenal pun tidak.
Roni berusaha mencari gadis yang nekat bunuh diri itu di malam yang hanya disinari cahaya rembulan. Cukup lama Roni mencari gadis itu dengan bantuan sinar rembulan. Setelah lumayan lama mencari, pemuda itu akhirnya bisa melihat tubuh gadis yang nekat bunuh diri itu. Roni berusaha untuk membawa gadis yang sudah tidak sadarkan diri itu ke pinggir sungai. Aliran sungai yang mengalir deras dan di penuhi ranting serta segala macam sampah membuat Roni kesulitan membawa gadis itu ke tepian.
Dengan susah payah, akhirnya Roni berhasil membawa gadis itu ke tepi sungai. Roni berusaha menyadarkan gadis itu.
"Arghh.! Kenapa aku spontan menolong gadis ini? Sekarang, aku terpaksa harus melakukan RJP ( Resusitasi Jantung Paru-paru) pada gadis ini. Huff.. Padahal, seumur hidupku, aku belum pernah berciuman dengan seorang gadis pun. ,Aku hanya ingin memberikan ciuman pertama ku untuk istri ku. Tapi, sekarang mau tak mau aku harus mengorbankan ciuman pertama ku demi menolong gadis ini," gumam Roni dalam hati.
Roni melakukan kompresi pada bagian tengah dada gadis itu sebanyak 30 kali. Setelah itu memberikan dua kali bantuan napas buatan mulut ke mulut. Roni melakukan pola tersebut secara berulang sampai gadis itu akhirnya terbatuk-batuk dan kembali bernapas. Gadis itu membuka sedikit matanya dan terlihat lemah.
"Ka..Ka...kamu .. Ba.. Baik sa.. saja?" tanya Roni yang dari kecil gagap.
Walaupun gagap, namun Roni sangat beruntung karena ada orang yang mau mempekerjakan dirinya. Hal itu karena otak Roni cerdas dan setia pada majikannya.
Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, bukan? Begitu pula dengan Roni.
Gadis itu tidak menjawab. Matanya yang sedikit terbuka itu kembali tertutup dan tidak sadarkan diri lagi.
"Sial! Dia pingsan lagi," gumam Roni dalam hati.
Mau tidak mau, Roni menggendong tubuh gadis itu dengan gaya bridal style. Roni akhirnya membawa gadis itu ke rumah sakit sahabatnya.
Tidak lama kemudian, Roni sudah tiba di rumah sakit. Pemuda itu menunggu di depan ruangan UGD dengan cemas. Padahal dirinya tidak kenal dengan gadis itu.
"Tuan, sebaiknya anda berganti pakaian. Ini pakaian anda. Selama Tuan berganti pakaian, biar saya yang berjaga di sini," ucap seorang pria yang merupakan anak buah Roni itu seraya mengulurkan paper bag pada Roni.
Roni mengangguk dan mengambil paper bag itu dari tangan anak buahnya, kemudian pergi ke toilet untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Tak lama kemudian, Roni sudah kembali dengan tubuh yang sudah segar dan bersih. Seorang pria nampak datang menghadap Roni.
"Tuan, saya sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu. Namanya Vivi, masih singel. Dia bekerja sebagai salah satu staf di perusahaan kelas menengah. Dia memiliki adik yang masih kuliah, ayahnya bekerja sebagai supir taksi dan tukang ojek. Ibunya bekerja di sebuah toko kue,"
"Namun... Tiga jam yang lalu ayahnya masuk UGD karena mengalami kecelakaan. Sekarang ayahnya di rawat di rumah sakit yang lokasinya tidak jauh dari tempat terjadinya kecelakaan. Dan satu lagi, Tuan. Seminggu lagi, rencananya nona Vivi akan menikah. Tapi, hari ini calon suaminya malah menikah dengan wanita lain," lapor anak buah Roni itu, lalu mengirimkan sebuah foto pada Roni melalui WhatsApp.
Roni menghela napas panjang mendengar laporan anak buahnya itu. Apalagi setelah melihat foto yang dikirimkan oleh anak buahnya. Ternyata gadis itu sedang tertimpa masalah yang bertubi-tubi.
"Ternyata, dia ingin bunuh diri karena ditinggal menikah oleh calon suaminya," gumam Roni dalam hati.
Roni menggerakkan tangannya dan bertanya dengan menggunakan bahasa isyarat pada anak buahnya itu. Karena, bagi Roni yang gagap, berbicara dengan bahasa isyarat akan lebih cepat dan mudah.
"Bagaimana keadaan ayahnya?" tanya Roni menggunakan bahasa isyarat.
"Dokter mengatakan, kemungkinan ayah gadis itu akan mengalami kelumpuhan," sahut anak buah Roni.
Roni menghela napas panjang mendengar laporan dari anak buahnya itu.
"Jangan kabari dulu tentang keadaan Vivi ini pada orang tuanya!"ucap Roni dalam bahasa isyarat.
"Baik, Tuan," sahut anak buah Roni.
Dalam hati Roni berkata,"Aku akan mengajak bicara gadis itu baik-baik. Kasihan, ibunya dan adiknya saat ini pasti sedang bersedih karena ayahnya yang baru saja mengalami kecelakaan dan menjadi lumpuh."
Atensi Roni teralihkan saat pintu ruangan UGD itu terbuka.
"Do.. Dok.."
"Plak"
"Dokter Fina bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Roni cepat setelah di tepuk pundaknya oleh dokter yang bernama Fina itu. Dokter yang merupakan sahabat Roni sejak SMP.
"Dia sudah lebih baik. Sebentar lagi akan di pindahkan ke ruangan rawat. Bayi dalam kandungannya juga baik-baik saja," jelas Fina.
"Ba.. Bayi?" tanya Roni nampak terkejut. Pasalnya, tadi anak buahnya mengatakan, jika gadis yang di tolong nya tadi masih singel dan berencana menikah satu minggu lagi.
"Iya, bayi. Dia sedang mengandung. Usia kandungan nya baru satu bulan. Kenapa kamu terlihat terkejut seperti itu? Siapa gadis itu? Apa dia pacar kamu? Aku melihat kamu basah kuyup membawa gadis itu ke sini," tanya Fina menatap Roni penuh rasa ingin tahu sekaligus curiga..
"Di..di.."
"Plak"
"Dia bunuh diri dari jembatan dan saya menolong dia,"jawab Roni cepat setelah Fina kembali menepuk pundaknya.
"Jangan bilang dia gadis yang kamu hamili dan kamu tidak mau bertanggung jawab. Karena itu dia nekat bunuh diri," tuduh Fina asal, sekedar bercanda dengan Roni.
"Ma.. Ma.. "
"Plak"
"Mana mungkin saya menghamili seorang gadis saya masih perjaka ting-ting," bantah Roni cepat tanpa titik dan koma setelah Fina menepuk lengannya.
"Yakin masih perjaka ting-ting? Di antara kita berlima, tinggal kamu seorang yang belum menikah. Jangan-jangan, kamu nekat menghamili gadis itu agar bisa cepat-cepat menikah," tuduh Fina terlihat serius. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu bahkan maju mendekati Roni dengan tatapan tajam pada Roni.
"Ma.. Ma.."
"Plak"
"Mana ada yang seperti itu kenal saja tidak," bantah Roni yang lagi-lagi harus di tepuk lengannya baru bisa bicara dengan lancar.
"Benarkah? Siapa nama gadis itu?" tanya Fina yang kali ini terlihat santai.
"Vi.. Vi.. Vivi," sahut Roni.
"Katanya tidak kenal. Tapi tahu namanya," cibir Fina.
"Sa.. Sa.."
"Sudahlah! Tidak usah di jawab! Dia cantik. Jika anak dalam kandungan dia memang anak kamu, lebih baik kamu menikahi dia," ujar Fina mengulum senyum, lalu melenggang pergi.
Setelah Fina pergi, Roni nampak mengernyitkan keningnya,"Sepertinya dia ingin bunuh diri karena hamil di luar nikah. Jika orang tuanya tahu putri mereka hendak bunuh diri, mereka pasti akan semakin bersedih,"gumam Roni dalam hati.
Roni kembali menggerakkan tangannya untuk berbicara dengan anak buahnya.
"Selidiki siapa calon suami Vivi!" pinta Roni menggunakan bahasa isyarat.
"Baik, Tuan,"sahut anak buah Roni, kemudian bergegas pergi.
Beberapa menit kemudian, Roni sudah berada di ruang rawat Vivi. Vivi mulai menggerakkan jemari tangannya dan kelopak mata gadis itu juga mulai terbuka.
"Ka.. Ka.. Kamu.. Su.. Su.. Sudah.. Sa.. Sa.. Sadar?" tanya Roni dengan bicaranya yang gagap.
...🌟"Hidup tidak akan pernah lepas dari masalah. Berjuanglah, jangan sampai kalah!"🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Memyr 67
𝗮𝗾 𝗺𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝗱𝗶 𝘀𝗶𝗻𝗶
2024-10-04
1
anna
thor aku jadi ikut gagap bacanya ,kesannya kok aku ya yang ngomong ama si vivi,semangat 💪💪💪,tetap berkarya
2024-06-27
2
Carsih Bt
ka nana pert aku skit,bru kelar crta bee andi skrng ayank roni/Facepalm//Facepalm/
2024-01-26
3