"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 // MBKCM
Malam telah lama larut, namun keheningan di dalam kamar presidential suite nomor satu di hotel bintang lima terbaik kota Bandung sama sekali tidak mampu membawa ketenangan bagi Ardan Arkatama. Di atas ranjang yang teramat empuk dan mewah, tubuh tegap sang CEO terus bergerak gelisah. Ardan semalaman tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali dia memejamkan mata, memori siang tadi kembali berputar secara bergantian dengan sangat kejam di benaknya.
Sentuhan hangat di perut buncit Kiana, guncangan dua tendangan kecil yang seolah menyengat urat nadinya, hingga tetesan air mata dari wajah pucat wanita yang telah dia usir dengan begitu hina. Semua itu terus menghantunya, menyiksa batinnya hingga fajar perlahan menyingsing di ufuk timur.
Di pagi buta, saat kabut Bandung masih tebal menyelimuti jalanan, Ardan sudah duduk tegap di sofa ruang santai suite-nya. Kemeja putihnya sudah rapi meski kancing teratasnya dibiarkan terbuka, menampilkan gurat kelelahan yang teramat sangat pekat di wajahnya yang mengeras. Dia sedang menunggu satu hal, laporan dari asisten pribadinya.
Cklek.
Pintu kamar suite terbuka perlahan setelah ketukan tiga kali yang teratur. Bimo melangkah masuk dengan setelan rapi, membawa sebuah tablet pintar dan beberapa lembar dokumen di tangannya. Wajah Bimo tampak serius, mengindikasikan bahwa tim intelijen yang dia gerakkan semalaman telah bekerja dengan sangat cepat.
Ardan langsung menegakkan punggungnya, sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah Bimo tanpa berkedip. "Bagaimana, Bimo? Sudah ketemu?"
Bimo mengangguk hormat, mengambil tempat berdiri yang tepat di hadapan bosnya. "Sudah, Pak Ardan. Tim kita berhasil melacak keberadaan nona Kiana semalaman. Saat ini, nona Kiana tinggal di sebuah ruko sederhana berlantai dua di kawasan pinggiran Bandung. Ruko itu difungsikan sebagai toko bunga bernama Twin's Florist."
"Twin's Florist?" Ardan mengulangi nama itu, suaranya terdengar parau dan rendah. Pikirannya langsung melayang pada kejadian kemarin siang di lobi mall mewah miliknya. "Twin's Florist... nama yang sama dengan karangan bunga papan yang kulihat kemarin siang di lobi. Jadi... Kiana pemilik toko bunga itu?"
"Benar, Pak. Karangan bunga yang Anda lihat kemarin memang dipesan dari toko milik nona Kiana," sahut Bimo mengonfirmasi.
Ardan mengepalkan tangannya di atas lutut, rahangnya mengetat kuat saat sebuah kecurigaan dan rasa cemburu yang tidak beralasan mendadak menyeruak di dadanya. "Lalu... dengan siapa dia tinggal di sana? Siapa pria yang tinggal bersamanya di ruko itu, Bimo?!"
Bimo mengembuskan napas pendek, menatap layar tabletnya sebelum kembali menatap Ardan dengan tatapan yang sarat akan keprihatinan. "Nona Kiana tinggal sendirian di ruko itu, Pak. Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan dan keterangan para tetangga, kesehariannya hanya dihabiskan untuk berjualan bunga dengan bantuan satu karyawan paruh waktu bernama Rio, seorang mahasiswa. Dan yang paling penting... tidak ada status pernikahan atau dokumen pernikahan apa pun yang tercatat atas nama Kiana Mahira di KUA setempat maupun catatan sipil. Bisa dipastikan secara mutlak, selama tiga bulan ini nona Kiana bertahan hidup sendirian di kota ini, Pak."
Ardan seketika terdiam seribu bahasa. Genggaman tangannya di atas lutut perlahan melonggar, digantikan oleh rasa hampa yang mendadak menghantam dadanya. Pikirannya mendadak berputar kacau.
"Sendirian? Dia bertahan sendirian dengan kehamilan yang semakin membesar?" batin Ardan menjerit, ada rasa tidak percaya sekaligus denyut ngilu yang teramat hebat di ulu hatinya.
"Sendirian...?" gumam Ardan lirih, seolah bertanya pada dirinya sendiri. "Lalu di mana pria bajingan yang sudah menghamilinya? Apa laki-laki brengsek itu juga tidak mau bertanggung jawab dan mencampakkannya begitu saja setelah berbuat?"
Ardan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut pening. Anggapan bahwa Kiana pergi ke Bandung untuk hidup bahagia bersama pria kaya lain seketika runtuh total pagi ini. Wanita itu justru hidup merangkak dari bawah di sebuah ruko sederhana.
Namun, di saat Ardan sedang tenggelam dalam pusaran rasa bersalahnya, Bimo justru melangkah maju satu tindakan. Wajah sang asisten kini tampak jauh lebih tegang dari sebelumnya.
"Pak Ardan... ada satu hal lagi yang berhasil didapatkan oleh tim kita semalaman," ujar Bimo, suaranya mendadak merendah dan sarat akan keseriusan yang mencekam. "Dan saya rasa... hal ini adalah hal yang paling mengejutkan, yang mungkin akan mengubah semua cara pandang Anda."
Ardan mendongak, alisnya bertaut dalam. "Apa maksudmu, Bimo? Katakan langsung, jangan bertele-tele!"
"Pak, setelah Ibu Kiana pergi tergesa-gesa kemarin siang di mall, saya sempat meminta tim IT kita untuk mengakses dan meretas rekaman CCTV internal dari dalam lift darurat yang dinaiki oleh nona Kiana dan sahabatnya," jelas Bimo sembari menyodorkan tablet pintarnya ke depan wajah Ardan. "Mungkin... Anda ingin melihat dan mendengarkan sendiri apa yang mereka bicarakan di dalam sana."
Ardan menerima tablet tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar. Layar menampilkan rekaman video berkualitas jernih di dalam sebuah lift besi yang sunyi. Di sana, terlihat sosok Kiana yang tampak sangat kacau, menangis sesenggukan sembari bersandar lemah pada dinding lift dengan kedua tangan mendekap perut buncitnya. Di sebelahnya, Saskia tampak panik dan emosional.
Ardan menekan tombol volume untuk mengeraskan suara. Dan detik berikutnya, sebuah kalimat yang keluar dari bibir Saskia di dalam rekaman itu terdengar bagai petir di siang bolong, menghujam tepat di jantung Ardan hingga pria itu berhenti bernapas selama beberapa detik.
(Kia, ini... ini saatnya kamu mengatakan yang sebenarnya pada pria itu! Ini saatnya kamu bilang kalau kamu sedang mengandung anak-anaknya!)
Deg!
Tablet di tangan Ardan hampir saja terlepas jika dia tidak mencengkeram pinggirannya dengan kuat. Sepasang matanya membelalak lebar, menatap kosong ke arah layar yang kini menampilkan Kiana yang menggelengkan kepalanya sembari menangis histeris menolak ucapan Saskia.
Ardan mendongak dengan napas yang memburu cepat, wajahnya memucat pasi saat menatap Bimo. "Ini... ini apa maksudnya, Bimo?! Mengandung anak-anaknya? Anak-anak siapa yang dimaksud oleh wanita itu?!" suara Ardan meninggi, bergetar hebat antara rasa syok dan ketakutan yang luar biasa.
Bimo menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke arah mata elang bosnya yang kini tampak goyah sepenuhnya.
"Pak Ardan... maafkan kelancangan saya sebelumnya," tutur Bimo dengan nada suara yang sangat mantap dan berani. "Tapi sejak awal kasus ini bergulir di Jakarta, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya sudah sangat yakin bahwa Nona Kiana itu adalah wanita yang baik, bersih, dan jujur. Beliau bukan wanita yang akan menjual harga dirinya demi uang kepada pria lain."
"Lalu bagaimana dengan hasil tesku, Bimo?! Kertas sialan itu menyatakan aku mandul!" bentak Ardan, mencoba mempertahankan benteng egonya yang kini sudah retak seribu.
"Itu dia poin utamanya, Pak," sahut Bimo cepat, tidak gentar dengan bentakan bosnya. "Saya punya pikiran dan kecurigaan yang sangat besar... bagaimana jika selama ini ada kesalahan besar dalam pemeriksaan medis Anda? Atau... bagaimana jika sebenarnya ada sabotase tingkat tinggi dari orang besar yang sengaja memanipulasi dokumen tersebut? Mengingat selama beberapa tahun ini Anda selalu melakukan pemeriksaan kesuburan di rumah sakit besar ternama di berbagai negara yang memiliki akses dokumen yang bisa dibeli oleh pihak-pihak yang menginginkan kehancuran garis keturunan Arkatama."
Ardan tertegun, tubuhnya mendadak terasa lemas bersandar pada sofa. "Jadi... maksudmu... selama bertahun-tahun ini aku... aku dibohongi oleh hasil pemeriksaan medis yang mengatakan aku mandul? Aku ditipu?!"
"Bisa jadi begitu, Pak. Kemungkinannya sangat besar jika kita melihat fakta dari rekaman CCTV tadi. Dua anak kembar di dalam kandungan nona Kiana... bagaimana jika mereka memang adalah darah daging Anda sendiri? Hasil dari malam penuh dosa di atas jembatan lima bulan lalu?" pancing Bimo telak.
Ardan mencengkeram rambut hitamnya dengan kedua tangan, frustrasi yang teramat sangat hebat melingkupi kepalanya. Jika ucapan Bimo benar, maka dia adalah monster paling kejam di dunia ini yang telah mengusir ibu dari anak-anak kandungnya sendiri ke jalanan.
"Lalu... lalu apa yang harus kulakukan sekarang, Bimo?" tanya Ardan, suaranya mendadak terdengar sangat rapuh, kehilangan seluruh wibawa kepemimpinannya.
Bimo menunduk sedikit, lalu memberikan saran taktis terbaiknya. "Saran saya, Pak... bagaimana jika Anda mengulang satu kali lagi tes kesuburan dan analisis sperma Anda? Tapi kali ini, kita tidak akan menggunakan rumah sakit besar atau jaringan laboratorium milik Arkatama. Kita lakukan pemeriksaan ini di klinik biasa yang terpencil, dan lakukan secara rahasia tanpa ada satu pun anggota keluarga besar atau media yang tahu. Hari ini juga, Pak. Biar kita mendapatkan hasil yang murni tanpa ada campur tangan manipulasi dari siapa pun."
Ardan terdiam selama beberapa saat, menatap telapak tangan kanannya yang kemarin merasakan tendangan dari anak kembar Kiana. Rasa rindu, rasa bersalah, dan secercah harapan mendadak membuncah di dadanya.
Ardan bangkit berdiri dengan tatapan mata yang kini dipenuhi oleh kilat tekad yang membara. "Siapkan mobilnya, Bimo. Cari klinik paling aman dan steril dari jaringan kita di kota ini. Aku akan melakukan tes itu sekarang juga. Aku harus tahu kebenarannya!"