NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Anak Yatim Piatu / Kaya Raya / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Renko

✏ Season 1: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Ainsley)

Ainsley terpaksa menjalani pernikahan wasiat, menikah dengan suami kakaknya sendiri. Dia yang tidak tau penyebab kematian kakaknya harus bekerja sama dengan sang suami untuk mengusut kematian. Bisakah mereka menemukan pelaku di balik rencana pembunuhan? Lalu, bagaimana akhir dari kisah pernikahan wasiat?


✏ Season 2: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Gavin)

Kisah cinta pertama Gavin harus kandas ketika dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Beberapa tahun setelah itu mereka bertemu lagi dan membuat harapan muncul untuk kembali bersama. Sayangnya pengganggu kecil muncul di tengah itu semua, wanita dengan segudang kecerobohan. Pada siapa hati Gavin akan berlabuh?

___

Semoga novel ini satu selera denganmu 😊

Cek istagram @justrenko untuk informasi novel lainnya~


Terima kasih atas support readers dan NovelToon/MangaToon terhadap novel ini 💛

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengulur Waktu

Sudah menemui saksi mata pun jawaban siapa yang membunuh Emily masih belum ditemukan. Pertemuan mereka hanya dipenuhi kesedihan, penyesalan, dan ketegangan. Mungkin sekali lagi bersama pikiran yang jernih Ainsley harus menemukan jawabannya.

"Lewis, bagaimana kalau kita menemui suster itu lagi besok?"

"Jawabannya tidak kalau kau tidak bisa mengontrol emosimu."

"A-aku akan mengontrolnya. Aku berjanji tidak akan melakukan hal seperti tadi."

"Buatkan aku makanan." mengerti kebingungan yang diciptakan sendiri olehnya, lalu memberi penjelasan lebih, "Besok adalah hari liburku dan aku ingin kita menghabiskan waktu bersama. Kita bisa berkencan dengan piknik bersama, mungkin?"

"Ke-kencan?"

"Kau tidak mau?"

"Bukan begitu. Ini tiba-tiba sekali."

"Aku akan menjemputmu besok. Sebelum berkencan kita akan menemui suster itu lebih dulu." membukakan pintu untuk Ainsley sebelum melajukan mobil kembali.

Ainsley menelan ludah. Tatapannya kosong sejak turun dari mobil. Baru pertama kali diajak berkencan, tidak tau harus melakukan apa. Ainsley tidak tau apa yang dilakukan orang-orang ketika sedang berkencan dan bagaimana besok dirinya harus bersikap di depan Lewis yang berstatus sebagai kekasihnya kini. Biar bagaimana pun ini sangat baru bagi dirinya.

"Sungguh mengejutkan seorang Ainsley tidak terlambat pulang." nada mengejek.

Kesadarannya kembali pulih ketika mendengar suara menjengkelkan mengusik lamunan. Tentu saja Ainsley tidak memedulikan suara itu dan memilih untuk segera pergi dari hadapan pria yang masih menyisakan luka di hatinya.

"Bagaimana harimu dengan pria itu?" menghampiri Ainsley yang sudah berdiri di depan pintu dan menyelidik raut wajah itu, "Tampaknya kau sangat senang." tatapannya seolah mengejek.

Kemarin harga dirinya sudah diinjak dan sekarang Ainsley tidak ingin lagi diperlakukan seperti itu, "Memangnya apa urusanmu jika aku senang atau tidaknya bersama pria lain? Apa kau cemburu karena istrimu ini lebih memilih pergi menghabiskan waktu bersama pria lain dibandingkan duduk di rumah?"

"Cemburu? Kau masih berharap padaku?" terbahak.

Pertanyaan itu sudah menampar keras dirinya. Menjawab pun rasanya percuma karena pertengkaran mereka tidak akan ada habisnya. Ainsley hanya akan tersudutkan karena dirinya lah pihak yang paling lemah di antara mereka. Lemah akan perasaan yang masih belum bisa dikontrolnya.

"Hatiku bukan urusanmu! Urus saja Stella mu itu!" mengayunkan gagang pintu.

Sayangnya gagang itu ditahan agar tidak bisa dibuka. Tatapan mereka saling menantang tidak suka. Zack lah yang mengambil langkah lebih dulu. Mencengkeram lembut rahang yang tidak bisa berhenti membuatnya jengkel.

"Aku sudah katakan padamu untuk tidak menyebut Stella sebagai wanitaku."

Sudah berusaha melepaskan cengkeraman dari rahangnya, tetapi masih tidak bergeser sedikit pun. Keningnya mengerut dalam memasang tampang dendam mendalam dan tangannya dilipat ke dada. Membiarkan rahangnya dicengkeram Ainsley menyipitkan mata sambil mengatakan, "Kau pria yang kejam. Sudah menciumnya dan bermesraan dengannya, tetapi kau tidak mengakuinya."

"Aku tidak menciumnya dan bermesraan dengannya. Berhentilah membuatku marah." Melepaskan cengkeraman dan memilih menghindari percakapan, apalagi membahas tentang wanita bernama Stella yang sangat menjengkelkan. Memikirkannya saja sudah membuat suasana hatinya rusak.

"Kasihan sekali Stella." menggeleng-gelengkan kepala.

Tadinya Zack sudah membalikkan badan, tetapi mendengar kalimat yang seolah mengatakan dirinya adalah pria yang jahat semakin menyulut kemarahannya. Sekali lagi Zack menghalangi jalan bagi Ainsley untuk masuk ke dalam kamar.

Getar ponsel menghentikan tatapan mereka. Ainsley segera mengambil ponselnya dan di sana ada satu buah pesan dari Lewis. Sambil menutupi ponsel agar tidak terjamah oleh pandangan orang lain, Ainsley membuka pesan itu. Seulas senyuman mengembang di wajahnya ketika membaca kata selamat tidur dari Lewis.

Ternyata pemandangan itu disaksikan oleh Zack. Entah apa yang membuat senyuman itu mengembang, tetapi Zack semakin tidak suka. Rasanya ingin merampas ponsel itu dan melihat siapa orang yang membuat Ainsley sangat senang.

"Apa masih ada hal yang ingin kau katakan? Aku ingin masuk ke dalam kamarku." pintanya angkuh.

"Pria yang mengirimimu pesan apakah pria yang menjemputmu tadi?" mencoba menebak.

"Kenapa kau sangat tertarik dengan kehidupan pribadiku? Tidakkah kau cukup sibuk dengan pekerjaanmu saat ini?"

Tubuh Ainsley menempel pada pintu, semakin menempel hingga terpaksa gagang diayunkan. Langkah mereka semakin mundur hingga Ainsley merosot jatuh bersandar di bawah ranjang. Matanya tidak lepas dari sorotan mata yang mengintimidasinya.

"A-apa yang kau inginkan?"

Di hadapannya Zack berdiri menjulang. Tatapan mata mereka tidak dibiarkan lepas begitu saja. Perlahan tubuhnya turun menyejajarkan pandangan mereka. Tidak ada ketenangan dalam pikirannya yang kacau saat ini. Jika memang pria yang dekat dengan Ainsley adalah Lewis tentu hal yang tidak bisa dibiarkan olehnya.

Posisinya terancam oleh tatapan yang seakan mendorongnya jauh ke dasar jurang. Sangat menakutkan tetap bertahan di kala dirinya berada di bawah sana, "A-aku hanya menjelaskan bagaimana posisi kita yang sebenarnya. Kenapa kau kelihatan sangat marah?"

"Aku hanya ingin tau siapa pria yang dekat denganmu sekarang. Bisa jadi pria itu sangat jahat dan akan mencelakaimu ke depannya. Bukankah untuk itu aku harus tau agar aku bisa melindungimu?"

Sekarang jiwa yang ketakutan bisa bernapas lega. Ainsley bangkit dan kini dirinya lah yang menjulang, "Lewis Cooper. Pria itu adalah kekasihku sekarang." ucapnya angkuh.

Kemarahan yang tidak diperlihatkan itu menciptakan senyuman yang memaksa. Zack ingin memerintah agar Ainsley menjauhi Lewis. Namun, hal itu jelas tidak bisa dilakukannya karena dirinya sudah menolak Ainsley dan bertekad memenuhi janjinya pada Aaron.

Di samping itu ada kemarahan lain yang bergemuruh di hatinya. Lewis sudah merangkak mendapatkan wanita pujaannya. Zack tidak ingin merelakan lagi apa yang menjadi miliknya, tetapi keadaannya saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk bertahan. Mendengar Ainsley begitu lantang dan bangga menyebut Lewis sebagai kekasih juga menyakiti hatinya.

Sebelah tangan menangkup pipi Ainsley dan mengusap ibu jarinya kasar sambil berkata, "Kau membuatku gila."

Saking bingungnya kalimat aneh itu tidak bisa dicerna oleh otaknya. Bahkan sampai Zack tidak lagi terlihat hanya mulutnya saja yang menganga. Ditambah dadanya yang kembang kempis kesulitan bernapas lantaran jantungnya yang berpacu kencang.

***

Keesokan paginya Ainsley bangun lebih awal untuk membuat makanan. Ada dua kotak bekal yang dipersiapkannya, satu kotak bekal untuk sang suster atas permintaan maafnya telah menyudutkan sang suster dan satunya lagi kotak bekal untuk pikniknya bersama Lewis.

Untuk memastikan rasanya sudah baik, berulang kali masakannya dipastikan rasanya. Ainsley sangat gugup lantaran masakannya akan dicicipi oleh seorang koki yang pastinya masakan sang koki lebih baik dari masakannya. Setelah dirasa enak, baru lah makanan itu disusun ke dalam kotak bekal.

"Suasana hatimu sedang baik?" Zack baru saja turun dari kamar, karena penasaran ada apa di dapur yang begitu ribut pagi-pagi.

Ainsley menganggukkan kepala tidak menghentikan senandungnya yang masih berjalan. Hatinya terlalu senang untuk melepaskan tatapan dari isi bekalnya.

"Apa yang kau buat?"

Bergegas Ainsley mengeluarkan jurusnya untuk mempercepat gerakan tangannya. Memindahkan semua makanan ke dalam kotak bekal dan menutupnya rapi sebelum ada tangan usil yang ikut andil dalam rencana pikniknya, "Ini untuk Lewis."

Ainsley meletakkannya di sudut teraman, lalu beranjak ke kamar untuk selanjutnya bersiap-siap. Ainsley sempat ragu pakaian yang bagaimana harus dikenakannya untuk kencan pertamanya. Hingga pada akhirnya pilihannya jatuh pada gaun berwarna hijau lunak bermotif bunga. Warna hijau akan sangat segar jika dipandang.

Tanpa memedulikan suara televisi menggema, yang mana sudah pasti Zack juga ada di sana Ainsley langsung beranjak ke sisi dapur setelah keluar dari kamarnya. Berniat mengambil kotak bekal untuk dibawa bersama, hanya satu kotak bekal saja tersisa di sana. Ainsley mencarinya kemana-mana, sampai-sampai berpikir bahwa dirinya salah meletakkan padahal itu tidak mungkin terjadi.

Dandanan Ainsley yang memang sengaja berpenampilan cantik hari itu semakin membuat hati bergemuruh. Zack semakin tidak suka, apalagi penampilan itu disuguhkan untuk Lewis. Beruntung langkahnya cepat mengambil kotak bekal yang dibuat, berharap Ainsley tidak jadi pergi.

"Apa yang kau cari?" mengunyah makanan dan bersikap santai walau sudah mencuri makanan orang lain.

Mengentakkan kaki Ainsley menghampiri Zack dan merampas kotak bekalnya dengan cepat. "Kenapa kau memakannya?! Ini bekal untuk Lewis!" kekesalan langsung memuncak.

Tidak menyerah kotak bekal direbut kembali dan dengan sengaja menyuapi makanan itu lagi masuk ke dalam mulut, "Aku sangat lapar sampai-sampai tidak bisa memasak untuk diriku sendiri. Aku terpaksa harus memakan masakanmu." menghela napas di akhir kalimat, menunjukkan keterpaksaannya.

"Kalau lapar kau bisa memesan makanan dengan uangmu yang banyak itu!"

"Bekal ini tidak enak. Lebih baik kau memesan makanan di luar. Aku yakin kencanmu tidak akan berjalan lancar karena bekal ini." nada mengejeknya masih tidak hilang.

"Apa maksudmu tidak enak?! Kau hampir memakan semuanya seorang diri!"

"Jika pacarmu memakannya akan ada banyak makanan yang tersisa. Aku hanya berniat untuk membantumu agar tidak membuang-buang makanan."

Ainsley melirik jam tangannya, sebentar lagi Lewis akan datang menjemput. Tidak ada waktu untuk berdebat panjang dengan Zack. Untuk itu Ainsley memutuskan untuk menjadikan kotak bekal yang satunya lagi untuk Lewis, sedangkan untuk sang suster mungkin akan digantikannya dengan makanan yang dibeli di luar saja.

Ponselnya bergetar dan Lewis lah yang menelepon. Lantas kotak bekal diraih dan panggilan diangkat sambil berjalan ke arah pintu apartemen, "Kau sudah sampai? Aku akan.."

"Hey, anak kecil! Kau belum mematikan kompornya."

Bergegas Ainsley yang tadinya akan memasang sepatu langsung berlari menuju dapur. Memeriksa dengan cepat agar tidak ada kebakaran atau kepanikan apa pun yang bisa terjadi. Tidak ada nyala api atau apa pun yang hidup seperti yang Zack katakan, "Apa maksudmu?! Aku sudah mematikannya!"

"Aku pikir kau belum mematikannya." ujarnya polos.

Ainsley menyimpan ponsel di kantong dan berjalan cepat ke arah pintu. Memasang sepatunya dengan gegas, takut jikalau Lewis akan menunggu terlalu lama nantinya.

Tampaknya Zack tidak kehilangan akal untuk menggagalkan rencana kencan itu. Bekal yang sedaritadi mendiami tangannya diletakkan. Zack bergegas menaiki tangga dan berdiri di atas sana seperti baru saja keluar dari kamar, "Apa kau tau di mana letak dasiku? Aku tidak menemukannya."

Selesai memasang sepatunya, Ainsley bangkit dan memutar kepalanya ke arah Zack kini. Menghela napas yang tidak stabil setelah dipacu oleh kekhawatiran, "Bukankah hari ini kau libur? Aku akan mencarinya nanti." membalikkan badan.

"Aku memerlukannya sekarang."

Entah cobaan apalagi yang menghentikan langkahnya, Ainsley hanya bisa mengelus dada. Di rumah itu kebutuhan Zack hanya Ainsley lah yang menyiapkannya, mulai dari pakaian hingga kebutuhan lainnya. Di rumah itu Ainsley bagaikan pengasuh anak yang harus taat dan itu sudah dilakukannya selama satu tahun semenjak Zack tinggal di apartemen.

Sepatu yang sudah dipasang tadi terpaksa dilepaskan. Memaksa senyumnya Ainsley pun menyusul Zack di sana. Menaiki tangga dan memasuki kamar. Mengambil dasi yang bisa dijangkaunya dan menyodorkannya.

"Bukan yang ini. Dasi polos berwarna merah hati."

Sebenarnya kemarahannya sudah memuncak dan sekarang sudah berlalu sepuluh menit sejak Lewis mengatakan sudah sampai di depan Casa Felise. Tetapi Ainsley adalah orang yang sangat sabar dan tidak ingin memicu pertikaian yang akan merusak dandanannya hari ini.

Seperti yang diinginkan dasi polos berwarna merah hati pun disodorkan. Berusaha tetap tenang dan mengulas senyuman yang lebar tetapi memaksa, Ainsley pun keluar dari kamar dan menuruni tangga.

Zack masih tidak mau menyerah. Langkahnya menyusul Ainsley dan saat punggung sudah terlihat kembali meminta, "Warna apa yang cocok untuk kemejanya?"

Kali ini Ainsley benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya. Sikapnya yang tenang dan senyumannya yang lebar berubah seketika. Lalu memutar badannya dan sebuah tatapan tajam ditujukan pada Zack, "Aku akan mencarinya nanti. Apa kau mengerti?"

Sepertinya Zack tidak bisa lagi mengulur waktu atau menghentikan kencan itu, apalagi ketika melihat aura kemarahan berkobar di mata Ainsley yang seharusnya lembut, "B-baiklah. Aku mengerti."

Tidak bisa mengulur waktu lagi, Lewis sudah menunggu terlalu lama. Bergegas Ainsley keluar dari Casa Felise dan menghampiri mobil yang sudah sering dilihatnya. Mobil itu adalah kendaraan yang dibawa Lewis setiap kali pergi bersamanya.

Sambil mengap-mengap pintu mobil dibuka dan pemandangan yang terlihat adalah Lewis masih menempelkan ponsel di telinga. Di saat itu Ainsley langsung sadar bahwa panggilan belum dimatikan. Pastinya Lewis sudah mendengar percakapan memalukan tadi dan lebih malunya lagi sikapnya yang membentak akibat tersulut kemarahan.

"Aku minta maaf karena kau telah mendengarkan hal yang tidak-tidak." merasa sangat bersalah sampai tidak berani menatap Lewis langsung.

Tanggapan Lewis tidak seperti yang dipikirkan. Mungkin jika ada nominasi pasangan yang paling pengertian di dunia, Lewis lah yang akan menempatinya, "Tidak apa-apa. Aku hanya iri saja karena kau memilihkan dasi untuknya." terbahak.

"Kau ingin aku memilihkan dasi juga untukmu?" tanpa sadar menawarkannya secara spontan.

Wanita di sampingnya sekarang adalah kekasihnya. Lewis sempat melupakan hal itu dan rasa takutnya kehilangan Ainsley sudah mengundang kecemburuan, "Aku sangat senang jika kau melakukannya."

Dia bukanlah pria yang pencemburu sepanjang dekat dengan wanita namun untuk hari ini dia merasakannya.

Menyingkirkan pembicaraan yang menjurus pada Zack, mereka pun kembali pada tujuan. Menemui saksi mata seperti janji mereka kemarin. Setelah itu melakukan piknik yang dibaliknya adalah tujuan Lewis agar raut wajah cemas di wajah Ainsley berkurang karena guncangan kenyataan yang baru saja terlihat jelas di mata mereka.

1
Kheira Luna
Renkoo aku balik lagi kangen pria tua😍
Justrenko🐣: Wah, senang sekali melihatmu kembali~
total 1 replies
Fransiska Siba
makanya jgn bodoh bergerak sendiri. makan kebodohan mu. sdh diingatkan Zack tp keras kepala
Fransiska Siba
kecewa aku thor, setidak nya ceweknya tahan dlu lahh ini sudah namanya selingkuh
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa asalkan tau kapan waktunya untuk minta maaf dan pasanganmu yg baik pasti akan selalu memaafkan. kalo tidak berarti dia bukan org yg baik.
bagaimana menurutmu tentang ini kk?
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa, asalkan kita tau kapan waktunya untuk minta maaf. Dan wanita yg baik akan selalu memaafkan, kalo tidak memaafkan berarti dia bukan org yg baik.
Pemburu Cinta Sejati: mohon maaf, aku cmn mau bilang cerita kesempatan kedua adalah kebanyakan cerita di novel. itu tidak berbeda
total 17 replies
iis_lintang95
tetiba kangen ainsly sm zack, alhasil baca ulang lage.🤩
Metta R'za
dendam lidya yg bodoh.....
Ijah Sopiah
Apakah tidak ada satupun cowok yang suka sama Anseley
Seelmy Saleem
nyimak dulu thor baru mampir
SRI SETYA
aq bingung banget ini
Dimas Wahyu
kiraain Setelah sekian lama end....ada part tambahan ..😊😊..oklah otw
💞Aam Mulyani💞: makanya sering kontrol...
total 1 replies
Deta Hebalina
o
First Time
apalah dayaku yg bacanya loncat2 tiba2 dah sampe sini mumet😂
Faradilla
kenapa si Ainsley dibuat kayak perempuan bucin gak nyadar diri sih Thor... gak adil banget... Kebagusan amat si Zack jadinya
Faradilla
pasti Ainsley
Dede
8
Si mamahx anak anak
hhhaaahhhhaaa,,akhirx kau merasakn derita hati ainsley zack...
bunda ime
ff
Julia Lia
miris hidup dua bersaudara 😔
Elfi Susanti
bukankah gambar yang ditemukan Emily dilaci meja Zack adalah Ainsley ibunya Gavin... wah makin rumit... saya pamit baca cerita yg lain dulu.... mumet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!