Yumna tiba-tiba saja diculik oleh seseorang yang ternyata adalah kakak dari sahabat baiknya sendiri. Yumna lantas dikurung di villa milik Zayn, kakak dari sahabat baik Yumna, Zunia, yang baru saja meninggal karena sebuah kecelakaan mobil. Dan kenyataan bahwa ternyata Zayn sudah resmi menikahi Yumna membuat Yumna sangat syok.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa Zayn ( kakak Zunia ) sampai menculik dan mengurung Yumna, bahkan sampai menikahi Yumna secara paksa? Dan ada rahasia apa sebenarnya dibalik kecelakaan yang sudah menewaskan Zunia itu?
Bahkan rahasia dari identitas Yumna yang sesungguhnya pun akhirnya diungkap secara mengejutkan oleh Zayn. Bagaimana Yumna menjalani takdir hidupnya yang tiba-tiba berubah drastis ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Goyah
Saat ini Zayn sedang berada di dalam ruang kerjanya. Zayn sedang mengamati foto-foto dan juga beberapa video yang dikirimkan oleh Dennis kepada dirinya tentang keseharian Yusuf belakangan ini melalui laptopnya.
Di dalam foto-foto juga beberapa video itu terlihat dengan jelas raut wajah Yusuf yang terlihat kuyu, lelah, frustasi, dan putus asa. Dua hari yang lalu ketika Zayn bertemu dengan Yusuf untuk membahas tentang perkembangan proyek kerja sama antara perusahaan mereka, Zayn juga bisa melihat Yusuf yang sering tidak fokus dan hilang konsentrasi. Terlihat sekali kalau Yusuf sedang banyak pikiran dan sedang kacau.
Senyum smirk terukir di wajah Zayn. Katakanlah Zayn kejam atau juga keterlaluan. Tetapi bagi Zayn semuanya ini masih jauh dari kata cukup untuk membayar apa yang sudah diperbuat oleh Yusuf kepada adik perempuannya, Zunia.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara pintu ruang kerja Zayn yang diketuk dari luar.
"Masuk," ucap Zayn.
Ceklek.
Pintu ruang kerja Zayn itu terbuka dari luar, dan ternyata itu adalah Mbok Sum.
"Den, Mbok bawain teh sama kue buat Den Za," kata Mbok Sum seraya melangkah masuk ke dalam ruang kerja Zayn.
"Iya, Mbok," balas Zayn.
Mbok Sum meletakkan secangkir teh dan sepiring kecil kue itu ke atas meja kerja Zayn.
"Den Za, Mbok boleh bicara sesuatu sama Den Za?" tanya Mbok Sum kemudian.
"Boleh, Mbok. Ada apa?" jawab Zayn sekaligus bertanya balik.
"Den, Den Za tidak ada rencana untuk membawa Non Nana bertemu dengan keluarganya, ya?" tanya Mbok Sum, hati-hati.
Zayn tersentak kecil.
"Kenapa Mbok bertanya tentang masalah itu? Yumna yang meminta Mbok Sum untuk bertanya?" tanya balik Zayn lagi.
"Tentu saja tidak, Den," jawab Mbok Sum cepat. "Non Nana tidak pernah mengeluh apalagi meminta yang macam-macam sama Mbok," lanjut Mbok Sum.
"Lalu?" tanya Zayn, menyelidik.
Mbok Sum membuang nafasnya kasar.
"Hmh. Den, hampir setiap hari Mbok pasti memergoki Non Nana yang sedang menangis karena teringat dengan keluarganya," jawab Mbok Sum.
Zayn diam dulu, hendak mendengarkan perkataan dari Mbok Sum seluruhnya.
"Sebagai sesama wanita, Mbok sangat bisa memahami bagaimana perasaan Non Nana, Den. Sudah hampir tiga minggu Non Nana berpisah dengan keluarganya dan belum pernah bertemu lagi. Non Nana pasti sangat merindukan keluarganya itu, Den. Apalagi, maaf Den, tapi pernikahan Den Za dengan Non Nana juga sangat mendadak dan terburu-buru. Di satu sisi harus beradaptasi dengan pernikahannya yang tiba-tiba, dan di sisi lain juga harus berpisah dengan keluarganya. Tanpa bisa menghubungi, apalagi bertemu. Sangat wajar kalau hampir setiap hari Non Nana pasti menangis karena merindukan keluarganya itu, Den," lanjut Mbok Sum, menjelaskan.
🌿🌿🌿
"Bunda... Ayah... Kak Yusuf... Yuki..."
Tidur lelap Zayn pada malam hari ini terusik karena terus mendengar suara Yumna yang sedang mengigau di sebelahnya. Perlahan-lahan Zayn pun mulai membuka kedua matanya.
"Bunda. Ayah. Maafin Nana."
Zayn langsung memaksa untuk mengumpulkan kesadarannya sendiri begitu kembali mendengar suara Yumna tersebut. Zayn bangun dan menopang tubuhnya menggunakan lengan kanannya kemudian melihat ke arah Yumna yang sedang tertidur di sebelahnya saat ini.
Bisa Zayn lihat Yumna yang terlihat sangat gelisah dalam tidurnya sekarang. Dan Yumna juga masih saja terus mengigau, memanggil-manggil Bunda dan Ayahnya.
"Bunda. Ayah. Hiks."
Yumna bahkan sudah mulai terisak kecil. Zayn segera bangun dan mendudukkan tubuhnya.
"Yumna. Bangun," panggil Zayn seraya menggoncang-goncang lengan Yumna.
"Bunda. Hiks. Ayah. Hiks. Maafin Nana."
"Yumna, bangun!" panggil Zayn lagi dengan lebih keras.
Dan seketika Yumna pun terbangun dari tidurnya dan membuka kedua matanya. Nafas Yumna memburu, tersadar dari semua mimpinya.
Zayn kemudian mengambil gelas berisi air putih dari atas meja nakas di samping tempat tidur.
"Bangun. Minum dulu," kata Zayn.
Yumna kemudian berusaha untuk bangun dari posisi tidurnya. Zayn pun lalu membantu Yumna untuk bangun menggunakan sebelah tangannya yang sedang tidak memegang gelas. Setelah Yumna bangun dan duduk, Zayn pun kemudian mengangsurkan gelas berisi air putih itu kepada Yumna.
"Minum dulu."
"Makasih, Kak," lirih Yumna.
Yumna mengambil gelas berisi air putih itu dari tangan Zayn kemudian meminum setengah dari isi gelas tersebut. Zayn kembali mengambil alih gelas itu dari tangan Yumna kemudian kembali meletakkannya ke atas meja nakas di samping tempat tidur.
"Kamu mimpi buruk?" tanya Zayn.
Yumna menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban. Tidak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Zayn.
"Kamu merindukan keluargamu?" tanya Zayn lagi.
Yumna tersentak kecil seraya menoleh ke arah Zayn. Tetapi sedetik kemudian Yumna justru tersenyum pahit.
"Siapa yang enggak? Hampir tiga minggu kakak ngurung aku di sini. Aku bahkan nggak boleh menghubungi keluargaku sama sekali, apalagi bertemu dengan mereka. Kalau kakak ada di posisi aku, gimana perasaan kakak?" tanya balik Yumna, sendu.
Zayn terdiam. Beberapa saat kemudian,
"Kenapa kamu nggak pernah mencoba untuk kabur dari sini?" tanya Zayn, menyuarakan rasa penasarannya selama ini, karena memang Yumna sama sekali tidak pernah berusaha untuk melarikan diri dan kabur dari villa milik Zayn ini.
Dan sekarang Yumna justru tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Zayn itu.
"Haha, memangnya aku masih bisa untuk kabur dari sini? Dengan banyaknya pengawal dan juga sistem keamanan kakak yang begitu canggih itu? Hmh, aku hanya tidak ingin membuang waktu dan tenagaku dengan sia-sia. Karena aku tau pasti, aku tidak akan pernah bisa untuk lari dari sini, meski seberapa keras pun aku berusaha untuk mencobanya. Belum lagi dengan ancaman dari kakak kemarin. Kalau itu menyangkut keselamatan keluargaku, aku tidak bisa berkompromi, Kak," jawab Yumna.
Terdengar sangat miris memang. Tetapi Zayn diam-diam memuji cara berpikir Yumna yang begitu logis itu. Perhatian Zayn kembali teralihkan ketika mendengar Yumna yang kembali membuang nafasnya dengan kasar.
"Hah, udah lah. Seperti yang kakak bilang juga, biarkan ini menjadi penebus dosa yang bisa aku lakukan karena tidak bisa menjadi sahabat yang baik untuk Zunia. Kalau untuk masalah Kak Yusuf, tanpa aku wakilkan pun, Kak Yusuf juga pasti akan mendapatkan balasannya sendiri untuk semua kesalahan yang sudah dia perbuat sama Nia selama ini," ucap Yumna.
"Udah malem, sebaiknya kita kembali tidur. Besok kakak juga harus berangkat ke kantor kan? Biar nggak kesiangan. Selamat malam, Kak. Maaf udah ganggu tidur kakak malam ini. Dan, terima kasih untuk perhatian kakak tadi," lanjut Yumna kemudian.
Tanpa menunggu jawaban dari Zayn, Yumna lalu kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi miring, membelakangi Zayn saat ini.
Zayn mengesah pelan. Jujur dirinya sedikit merasa tertampar dengan semua yang sudah dikatakan oleh Yumna tadi. Tetapi .....
Tidak ingin terlarut dengan pemikirannya sendiri yang mulai goyah, Zayn pun kemudian ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Yumna.
"Selamat malam. Yumna," ucap Zayn.
Yumna tersentak kecil. Sejak pertama kali Yumna datang ke villa ini, ini adalah pertama kalinya Yumna mendengar Zayn memanggil namanya langsung seperti itu.