NovelToon NovelToon
Legenda Pendekar Garuda

Legenda Pendekar Garuda

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Time Travel / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:10M
Nilai: 4.9
Nama Author: AL Divo Febriansyah

Silahkan promo asal jangan SPAM
Sesama Author saling membantu ya Kak

Langit telah memilihku untuk mengemban tugas menghentikan turunnya utusan iblis dan menghabisi mereka semuanya, namun aku gagal.

Di saat semua sudah terasa sirna dan hancur, rupanya langit masih memberi kesempatan kedua untuknya.

Aku kembali saat berusia 10 tahun berkat pola prasasti aneh yang mengurung diriku saat jatuh dan hancur...

Di kehidupan keduaku kali ini, akan tuntaskan kehendak langit - Widura.


Terinsipirasi dari Novel Talles Of Demon, Pedang Naga Api (Karya Ricky Wicaksono), Pendekar Dewa Matahari (A. Lubis).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL Divo Febriansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 35. Macam-macam Tendangan

"Sekarang fokuskan konsentrasimu, aku akan menguji kesigapanmu," ucap Widura.

"emm," Sukma Ayu mengangguk mengerti, ia mulai memfokuskan perhatiannya kedepan, ia seakan-akan saat ini sedang dalam pertarungan hidup dan mati.

Di depan sana, Widura sudah bersiap dengan beberapa ranting di hadapannya, "Apa kau sudah siap Sukma Ayu?" tanya Widura.

Setelah Sukma Ayu mengangguk beberapa ranting melesat cepat ke arahnya. Sukma Ayu dengan percaya diri bergerak maju dan ketika ranting yang melesat ke arahnya sudah cukup dekat ia mulai melakukan gerakan kuda-kuda serong dan melenting ke arah kanan yang membuatnya terhindar dari ranting yang lesatkan oleh Widura dengan mengunakan tenaga dalamnya.

Sukma Ayu terus melakukan gerakan yang sama untuk mengindari setiap ranting yang melesat ke arah dirinya. Tidak jarang ia sedikit terlambat untuk menghindar yang berakhir dengan lebam di bagian tubuhnya yang terkena tusukan ranting.

Beberapa saat kemudian, Widura menyudahi serangannya dan berjalan mendekati Sukma Ayu yang masih sibuk mengatur napasnya yang masih memburu dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Kau sungguh berkembang dengan cepat Sukma," puji Widura.

Sukma Ayu hanya terdiam beberapa saat, ia masih berusaha mengatur napasnya senormal mungkin.

Beberapa saat kemudian barulah ia dapat merasakan detak jantungnya mulai kembali normal. Ia Mukai mengatur napasnya yang sudah mulai tampak normal kembali.

"Kau sungguh bebakat Sukma, sekarang aku akan mengajarimu tendangan..." Widura mulai menjelaskan macam-macam tendangan. Tendangan yang umum di gunakan oleh seorang pendekar pemula adalah tendangan sabit. Diantara tendangan lainnya, mungkin tendangan sabitlah yang paling mudah untuk di pelajari. Tendangan sabit sendiri lebih mengandalkan kecepatan dan kelicahan. Meskipun begitu jika di sertai dengan tenaga dalam tendangan sabit dapat membuat lawan kehilangan keseimbangannya saat bertarung.

Macam-macam tendangan:

1.Tendangan Sabit

Tendangan Depan

Tendangan Samping

Tendangan Cangkul

Tendangan curi/belakang

Sukma Ayu mengangguk mengerti dengan semua penjelasan yang di paparkan oleh Widura. Widura menjelaskan dengan baik dan detail serta mudah untuk di mengerti.

Sukma Ayu mulai mengikuti semua gerakan yang di peragakan oleh Widura. Sukma Ayu cukup cepat menghafal macam-macam tendangan, meskipun belum terlalu lancar, namun Sukma Ayu sudah dapat melakukannya dengan baik.

"Hhmm ku lihat kau sudah begitu lelah, mari kita istirahat," ajak Widura yang langsung menarik pergelangan tangan Sukma Ayu.

Sukma Ayu yang di tarik oleh Widura hanya menurut saja. Ia merasa begitu nyaman saat berada di samping Widura. Ia dulu cukup teringat saat dirinya menentang keras perjodohan dengan Widura. Saat itu ia jelas berkata jika Widura bukanlah pemuda yang cocok untuk dirinya. Bahkan ia berkata jika Widura bukanlah pemuda yang cukup baik untuk dirinya.

Sukma Ayu yang mengingat hal itu hanya bisa tertunduk malu. Ia sangat berharap Widura tidak mengetahui hal itu, jika tidak dia tidak tahu harus menyembunyikan di mana wajahnya nanti.

Di sana Widura melihat Pramesti tidak lagi sendirian, tapi ada Abbas dan juga Lintang yang terus memperhatikan dirinya dari jauh sejak pertama kali tiba di sana.

"Kau sungguh mengerikan Widura," ucap Abbas, "Aku benar-benar tidak menduga jika kau dapat melatih dengan begitu baik, bahkan aku sendiri merasa tidak akan sebaik dirimu saat melatih," lanjut Abbas.

"Paman terlalu tinggi memuji diriku," seru Widura yang merendah.

"Haha keponakan Widura benar-benar rendah diri, aku beruntung menjadi pamanmu," Abbas menepuk pundak Widura.

"Kau benar-benar tidak salah menjadi keponakanku Widura," lanjut Abbas.

Widura hanya membalas senyum ucapan dari Abbas. Ia tidak ingin berkomentar lebih jauh. Saat ini dia hanya ingin melihat orang-orang terdekatnya tersenyum dan merasa bahagia.

Pletak...

Sebuah gagang kipas mendarat di kepala Abbas, "Dasar laki-laki bodoh, Widura seharusnya malu memiliki paman pengecut seperti dirimu,"

"Dasar wanita aneh, selalu marah-marah tidak jelas," umpat Abbas sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit akibat pukulan gagang kipas milik Pramesti.

Abbas sebenarnya ingin membalas pukulan dari Pramesti, tapi dia mengurangkan niatnya karena keberadaan Widura, Sukma Ayu dan Lintang di sampingnya.

Pramesti tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Abbas memerah menahan amarah. Menurut Pramesti ini sesuatu yang langkah dan harus di nikmati.

"Kak, aku ingin berlatih tanding denganmu, aku ingin melihat sudah sejauh mana kemajuanku dalan seni pedang," ucap Lintang kepada Widura.

"Baiklah jika itu mau, ayo, tapi ingat jangan buat aku kecewa dengan permainan pedangmu yang tidak berkembang," seru Widura yang langsung meloncat ke tengah tanah lapang.

Lintang yang melihat hal itu langsung bergegas cepat ke arah tanah kosong yang akan menjadi tempat mereka berlatih tanding.

"Tunjukan kepadaku sudah sejauh mana kemampuanmu Lintang," Widura sudah siap dengan memasang kuda-kuda tarungnya.

"Keluarkanlah seluruh kekuatan dan keahlian yang kau miliki kak, jika tidak ingin kalah dengan mudah," Lintang langsung melesat cepat menyerang Widura dengan jurus tarian pedang angsa mabuk.

Widura dengan cukup sigap menghindar dari pedang milik Lintang. Tidak jarang ia harus bekelok ke arah kiri dan kanan untuk menghindari setiap serangan yang di lesatkan oleh Lintang. Bahkan beberapa kali Widura bersalto ke belakang untuk menghindari serangan dari Lintang.

Widura tersenyum tipis saat menyadari permainan pedang dari Lintang semakin berkembang dengan pesat setiap harinya, namun semua itu belum cukup untuk dapat menggores tubuh Widura.

"Kau harus lebih cepat jika ingin menang dariku Lintang," ucap Widura sambil terus menghindari serangan dari Lintang, tidak jarang terkadang Widura menangis serangan dari Lintang menggunakan tangannya yang sudah di pusatkan energi kehidupan di dalamnya.

Lintang semakin mengganas menyerang Widura. Sementara itu Widura hanya terus menghindari serangan dari Lintang dengan terus berkelok ke kiri dan berkelok kenal kanan. Tidak jarang pula Widura menundukan kepalanya saat pedang milik Lintang secara tidak sadar mengingat batang lehernya.

"Keluarkan semua potensi kekuatan yang kau miliki Lintang, aku sudah siap untuk menguji sudah sehebat apa kemampuanmu," tantang Widura kepada adik bungsunya itu.

"Pedang pemusnah jiwa level I: Angin peremuk jiwa"

Lintang bergerak cepat menyerang Widura, kali ini pedang milik Widura tampak beberapa pusaran angin yang terus berputar dengan sangat cepat sampai sulit untuk di tangkap oleh mata pendekar di bawah pendekar raja.

Widura dengan cukup sigap menghindari dan menangkis serangan yang di lesatkan oleh Lintang, tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Kecepatan permainan pedang Lintang memang sudah berkembang pesat, tapi belum mampu untuk menggempur Widura.

"Kau sudah berkembang dengan pesat Lintang, aku yakin kau akan menjadi pendekar hebat di masa depan," ucap Widura dalam hatinya.

Widura memilih terus dalam posisi bertahan tanpa melakukan serangan balik. Widura memang sengaja terus dalam posisi bertahan karena ingin melihat sudah sebatas mana perkembangan Lintang sejauh ini.

Lintang tampak begitu mendominasi serangan, seakan-akan tidak ingin meninggalkan satupun celah yang akan di manfaatkan oleh Widura untuk melepaskan serangan balik.

1
Taufan Sule Muskita
Jiaaahhhh katro gitu 😂😂
Yanto Ibon
sudah mau tamat episodenya, sepertinya susah kebaca alur ceritanya
Yanto Ibon
ada ke ANEHAN lagi ni thor. ..
kamu di bab sebelumnya mengatakan bahwa ki joko budoyo MAHA TAHU atas segala yang terjadi.

gantinama aja thor. .. jadi JOKOBODO wkwkwk
Yanto Ibon
next author harus lebih baik lagi dlm merangkai kata dan cerita
Yanto Ibon
author lagi lagi bikin cerita jd aneh /Facepalm/
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
nheriiiiiiiiiiiiiiiii perangnya benar benar ngeriiiiiiiiiiiiiiii
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
ah kasihan sukma ayu, perjuangannya seakan sia sia
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
ingat pesan sesepuh jangan jadi iblis widura
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
sehat sukses selalu tho
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
terlalu banyak ilmu dan musuh
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
mana ciung wanaranya
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
hi ngeri jurusnya goyangan malam pertama
𝕲𝖔𝖊𝖘 𝕼𝖚𝖒𝖎𝖊𝖟
hore panjul hebat
Sih Winarti
you
HeriSupriyatno 99
Luar biasa
zayick
pendekar ko sedikit sediki kaget sedikit sedikit kaget knpa gk mati saja
zayick
pendekar lemah jk bertarung trnyata banyak omongnya. menyedihkan
zayick
lemah sangat lemah. pendekar langit lawan pendekar bumi tenaga dalam langsung habis. tidak layak disebut pendekar. pulang aja nyusu lagi sama emak

sungguh menyedihkan
Windy Veriyanti
RIP Argadana
Windy Veriyanti
kalah terus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!