Aku masih perawan, itu yang di katakan Maudy ketika akhirnya Ia tau kalau suaminya selama ini mencoba menghindarinya karena kepercayaan turun temurun dari keluarga suaminya itu.
Pada saat resepsi pernikahan mereka entah karena apa, ada beberapa kembang mayang yang tiba-tiba mengering, dan itu membuatnya mendapat hinaan karena di percaya sudah tidak segel lagi.
Maudy yang mengira kalau suaminya menghindarinya karena memang tidak ada cinta, karena memang pernikahan mereka terjadi karena perjodohan.
Hingga akhirnya Ia tau alasan suaminya itu diam padanya selama berbulan-bulan. Yuk mampir di karya author remangan, jangan lupa bagi like komennya ya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Kamu Istri ku
Gibran akhirnya menerima panggilan dari Bunda Ayu, Ia menghela nafas sebelum menerima panggilan tersebut.
" Iya hallo Bunda. "
" Ah iya Bunda, dia ada bersama ku. Kami baik- baik saja, maaf tadi tidak pamit karena ada keperluan mendadak. Tolong sampaikan maaf kami pada Tante Sarah dan juga..... Emm..... bawakan tas milik Maudy, tadi kelupaan soalnya. "
Gibran menatap sekilas pada Maudy yang nampak memejamkan mata.
" Iya Bun, tidak perlu khawatir. " Ucap Gibran lagi sebelum akhirnya panggilan terputus.
Gibran melirik Maudy yang duduk di sebelahnya, sebelum akhirnya kembali ke jalur yang benar. Beberapa kali Ia melirik istrinya, kini Maudy sudah membuka mata namun pandangannya di alihkan ke luar kaca.
Sepanjang jalan hanya keheningan yang ada hingga sampai di tempat tujuan, Maudy keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Gibran menghela nafas, Ia mengusap wajahnya gusar. Ia tau apa yang di lakukannya saat ini sudah benar-benar keterlaluan namun Ia pun tidak tau mengapa Ia bisa semarah itu.
Maudy masuk ke kamarnya sedangkan Gibran memilih masuk ke ruang kerjanya, Ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
Maudy memilih membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya, disana Ia meluapkan semua perasaannya pada sang empunya kehidupan.
Di tempat lain, Bunda Ayu berpamitan pada sahabatnya. Ia meminta maaf atas nama Gibran dan juga Maudy karena kembali lebih dulu.
Begitu hal nya dengan Bayu dan Mawar, mereka kembali dengan mengendarai mobil yang sama.
" Mas, sepertinya hubungan Mas Gibran dan Maudy sedang tidak baik, aku sangat yakin itu Mas. Soalnya mereka pulang tanpa berpamitan, bahkan Maudy meninggalkan barang bawaannya disana. "
Bayu merasa jengah dengan kebiasaan sang istri yang suka mencampuri urusan orang lain.
" Sudahlah Mawar, jangan berpikiran yang aneh-aneh begitu. Do'a kan saja mereka baik- baik saja, mungkin benar Mas Gibran punya hal yang lebih penting daripada apapun dan dalam hal ini dia membutuhkan dukungan dari Mbak Maudy sebagai Istrinya. "
Bayu memang pribadi yang tidak pernah ingin mencampuri urusan orang lain ataupun berpikiran buruk pada orang.
Mawar mendengus kesal karena lagi- lagi Bayu tidak menanggapi baik ucapannya.
" Nanti juga kamu akan tau siapa kakak mu sebenarnya dan bagaimana hubungan saudara mu itu. " Batin Maudy.
Maudy kembali ke kamarnya setelah membantu pekerjaan para pelayan. Pintu terbuka perlahan dan nampak Gibran berdiri di depan pintu.
Gibran menatap Maudy dengan sedikit rasa bersalah, sementara Maudy melihat suaminya nampak lesu dan masih dengan pakaian yang Ia pakai sebelumnya.
" Mas, apa Mas mau mandi. Biar aku siapkan air hangatnya dulu. "
Gibran mengangguk, melihat itu Maudy bergegas ke kamar mandi untuk menyiapkan keperluan suaminya. Tidak beberapa lama Ia keluar dan meminta Gibran untuk segera membersihkan diri.
Pada saat Gibran sedang di kamar mandi, Maudy di kejutkan dengan pintu yang terbuka tiba-tiba.
" Bunda. "
" Nak, boleh Bunda masuk. "
" Boleh Bunda masuklah. "
Bunda Ayu menghampiri Maudy, menatapnya intens.
" Kamu tidak apa-apa kan Nak, Gibran mana. " Tanya Bunda Ayu.
" Maudy baik- baik saja Bunda, maaf kalau sudah bikin Bunda khawatir. Kalau Mas Gibran dia ada di kamar mandi Bunda, baru sempat membersihkan diri karena tadi langsung ada pekerjaan yang harus Ia selesaikan. "
Bunda Ayu memindai seisi kamar, Ia juga bisa mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
" Ah syukurlah kalau kalian baik- baik saja, oh ya ini tas mu yang tadi tertinggal. "
Maudy menerima tas miliknya dan tak lupa mengucapkan terima kasih, Bund Ayu pun pamit karena Ia pun harus membersihkan diri yang berada lengket.
Gibran keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang di lilitkan di pinggang saja, Maudy spontan menundukkan wajahnya . Jantungnya berdegub kencang, Ia merutuki dirinya sendiri. Bisa- bisanya Ia gugup melihat tubuh suaminya itu.
" Kenapa menunduk. "
Maudy terkejut mendengar pertanyaan konyol suaminya, sudah jelas Ia menunduk. Meskipun status mereka adalah suami istri dan sah dimata agama dan hukum, namun mereka tidak bisa merasakan hal yang di rasakan pasangan pada umumnya karena benteng yang di buat suaminya itu.
" Ah maaf Mas, aku ke bawah dulu. Mau bantu Bibi untuk siapkan makan malam. "
Ketika mendekati pintu, Maudy terkejut karena Gibran sudah menahan tubuhnya bahkan mendorong tubuhnya ke dinding.
Mendapatkan perlakuan tiba-tiba seperti itu tentu membuat Maudy terkejut, apalagi Gibran yang semakin mendekatkan wajahnya di wajah Maudy. Maudy ketakutan, tubuhnya bergetar hebat ketika Gibran hanya menyisakan sedikit jarak saja bahkan nafasnya mengenai kulit wajahnya.
" A-apa yang Mas lakukan. "
Gibran seperti lupa diri, Ia juga lupa pada surat yang Ia buat. Matanya menatap bibir merah muda di depannya, mata Maudy melotot ketika tiba-tiba Gibran mengecup bibirnya.
Maudy mencoba mendorong tubuh suaminya namun Gibran justru semakin brutal, Ia marah karena Maudy menolak nya. Bayangan Pria yang tersenyum manis pada Istrinya mulai berkecamuk di benaknya dan itu membuat kemarahannya semakin memuncak.
Ia lupa diri, yang awalnya hanya kecupan biasa saja kini menjadi ciuman yang penuh birahi. Maudy berusaha berontak namun tangannya di kunci oleh suaminya, akhirnya Maudy hanya bisa pasrah, air matanya menetes membasahi pipinya. Bukan Ia tidak ingin melakukan nya tapi keadaan yang mengharuskan seperti itu.
Gibran melepas ciuman nya namun masih tidak melepas pegangan tangannya.
" Siapa Pria itu, kenapa kamu begitu dekat dengannya. "
Maudy mencoba mengingat siapa yang di maksud Gibran.
" Katakan padaku siapa dia, apa dia kekasih mu. " Gibran mendesak Maudy untuk memberi jawaban
Maudy menepis tangan Gibran dan mundur beberapa langkah.
" Untuk apa Mas menanyakan siapa dia, bukankah Mas sendiri yang membuat peraturan agar tidak boleh mencampuri urusan masing-masing. "
Gibran geram, Ia mengepalkan tangannya dan menonjok tembok yang ada di depannya. Maudy terkejut melihat reaksi suaminya.
" Kamu itu adalah istri ku, aku tidak akan pernah mengijinkan mu dekat dengan pria mana pun. " Bentak Gibran dengan suara keras.
Maudy terkesiap Ia terkekeh pelan, Ia tidak percaya mendengar kata itu keluar dari mulut suaminya.
" Istri ! apa tidak salah. Benar juga, aku adalah istri mu Mas, sah dimata agama dan bahkan hukum tapi aku juga istri yang tidak di inginkan. "
Gibran terdiam mendengar penuturan Maudy, Ia baru sadar apa yang sudah Ia lakukan.
" Aku tidak peduli dengan apapun yang kamu pikirkan, tanpa ijin ku kamu tidak boleh melakukan apapun di luar batas dan mulai saat ini aku tidak mengijinkan kamu mendekati Pria mana pun. "
Maudy menatap jengah pada suaminya, Gibran mengalihkan pandangan nya kearah lain.
" Apa kamu sudah tidak sabar menunggu enam bulan sampai kamu mendekati Pria lain, sebegitu inginnya kamu pisah dengan ku. "
Maudy makin di buat bingung dengan apa yang baru saja di katakan Gibran, Ia mendengus kesal dan tertawa kecil menertawakan apa yang Ia alami selama ini
...****************...