Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.
Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.33
Arsyila berniat pergi dari sana. Namun, Adam mengejarnya dan berhasil mencekal tangannya. Sedangkan wanita tadi yang tak lain adalah sekretaris Adam tampak menyeringai. Wanita itu memang sudah lama menaruh hati kepada Adam. Hanya saja Adam yang tak tahu karena tak terlalu memperhatikannya.
“Sayang, dengarkan penjelasan Mas dulu. Apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Rena tidak ada hubungan apa pun. Dia hanya sekretarisku dan tadi aku hanya menolongnya saat dia hendak terjatuh,” jelas Adam. Namun, penjelasannya tak sepenuhnya membuat istrinya langsung percaya. Apalagi Arsyila pernah gagal dalam percintaan yang membuat trauma di hatinya.
Arsyila menaruh kotak makan yang ia bawa ke atas meja sekretaris. “Ini makan siang untuk Mas Adam. Sepertinya aku langsung pulang saja. Jangan lupa nanti kotak makannya dibawa pulang lagi.” Setelah mengatakan itu Arsyila melepaskan tangan suaminya yang memegangnya lalu ia berlari menuju ke lift.
Adam tampak terpaku di tempatnya. Namun, detik kemudian ia langsung mengejar istrinya. Adam terus memanggil-manggil istrinya tetapi istrinya tak mengindahkannya dan terus saja berlari.
“Sayang, berhenti! Biar Mas yang antar kamu,” teriak Adam saat melihat istrinya hendak keluar dari area kantor.
Arsyila tak mendengarkan suaminya. Ia terus berlari hingga ke jalan raya. Ia tak melihat kanan kirinya sehingga tak tahu jika ada mobil yang melintas cepat.
Brak
Tubuh Arsyila terpental karena tertabrak. Sedangkan Adam yang menyaksikan kecelakaan itu seketika lemas tak bertenaga. Ia merutuki dirinya sendiri karena kurang cepat mengejar istrinya. Jika saja ia bisa membujuk istrinya untuk pulang bersamanya mungkin kejadian ini tidak mungkin terjadi.
Adam langsung mendekap tubuh istrinya yang berlumur darah. Ia sudah memerintahkan sopirnya untuk mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Sedangkan lelaki yang tadi menabrak Arsyila mencoba berbicara dengan Adam agar bisa menempuh jalur damai. Biar bagaimana pun Arsyila juga salah karena menyeberang tiba-tiba.
“Pak, cepat buka pintunya!” ucap Adam kepada sang sopir yang kini sudah menghentikan mobil di dekatnya.
Adam masuk ke dalam mobil. Ia duduk di jok belakang bersama istrinya. Sepanjang jalan ia terus mendekapnya.
“Pak, Cepat! Kita harus segera sampai di rumah sakit,” ucap Adam kepada sang sopir.
“Baik, Den,” jawabnya lalu mempercepat laju kendaraan.
Sesampainya di rumah sakit Adam memanggil-manggil dokter dengan tidak sabaran. Beruntung orang tuanya salah satu pemegang saham di rumah sakit itu sehingga kegaduhan yang di buatnya tidak membuatnya di tegur oleh keamanan.
“Maaf Tuan Adam, biar kami bantu,” ucap seorang perawat.
Adam membaringkan istrinya ke atas brankar pasien lalu mengikuti kemana perawat membawa istrinya. Istrinya langsung dibawa ke ruang tindakan. Terlihat seorang dokter memasuki ruangan itu untuk memeriksa keadaan Arsyila.
Cklek
Hanya dalam hitungan menit saja ruangan itu kembali terbuka. Dokter yang tadi mengecek keadaan Arsyila langsung menghampiri Adam.
“Maaf, Tuan. Istrinya akan langsung di pindahkan ke ruang operasi mengingat cedera yang di alami cukup serius,’’ ujar dokter.
“Tapi istri saya masih bisa di selamatkan, Dok?”
“Tuan tenang saja. Kami pihak rumah sakit akan melakukan sebaik mungkin agar pasien bisa kembali sehat seperti semula,” jawabnya.
“Kalau begitu cepat tangani istri saya, Dok!”
Dokter pun pamit undur diri dan memerintahkan perawat untuk menyiapkan ruang operasi. Sedangkan Adam langsung menghubungi orang tuanya. Ia juga menghubungi orang tua istrinya.
...
Adam terlihat mondar mandir di depan ruang operasi. Sudah tiga puluh menit istrinya masuk ruangan itu dan sampai sekarang dokter yang menangani belum juga keluar. Adam begitu mengkhawatirkan istrinya.
“Adam, bagaimana keadaan Cila?” tanya Bu Ratih yang baru datang.
“Mah, ini semua gara-gara Adam, Mah. Jika saja Cila tidak salah paham mungkin semuanya tidak akan terjadi,” ucap Adam.
“Nak, yang sabar ya. Semua ini sudah kehendak yang di atas. Memangnya apa yang kamu lakukan sehingga istrimu bisa salah paham?” tanya Bu Ratih.
Adam menjelaskan apa yang terjadi di kantornya. Tentu penjelasan Adam itu membuat Pak Haris yang mendengar pun ikut marah.
“Adam, kamu itu lelaki yang sudah beristri. Harusnya kamu batasi interaksi dengan karyawan perempuan di kantormu. Jangan sampai ada kontak fisik yang membuat kesalahpahaman,” tegur Pak Haris kepada anaknya.
“Adam janji ke depannya Adam akan lebih berhati-hati lagi. Bila perlu nanti bikin peraturan agar semua karyawan perempuan wajib berhijab,” ucap Adam.
Tanpa mereka sadari, Pak Wira mendengar pembicaraan mereka. Pak Wira menghela napas panjangnya lalu ia keluar dari persembunyiannya dan menghampiri keluarga besannya.
Setelah satu jam lamanya menunggu, akhirnya Adam melihat dokter keluar dari ruang operasi.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Adam.
“Operasinya berhasil dan pendarahan di kepalanya sudah berhenti. Pasien akan langsung di pindahkan ke ruang perawatan,” jelas dokter.
“Alhamdulillah,” ucap Adam. Dan yang lain pun ikut senang mendengar operasinya berhasil.
Setelah Arsyila di pindahkan ke ruang perawatan, pihak keluarga tak bisa sembarang masuk untuk menjenguk. Dokter menyarankan agar bergantian satu persatu.
Adam hendak masuk ke ruangan Arsyila tetapi Pak Wira menahannya. “Biar Papah dulu.”
Adam hanya mengangguk, lalu ia memberi jalan Pak Wira untuk masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Bu Ratih sejak tadi memperhatikan cara bicara Pak Wira yang tak biasa. Tidak biasanya Pak Wira bersikap dingin kepada anaknya.
“Nak, kok mertua kamu kayak yang lagi nggak respek ke kamu?” Bu Ratih memberanikan diri bertanya kepada anaknya. Takutnya jika anak dan mertuanya memang ada masalah.
“Adam juga nggak tahu, Mah. Mungkin saja kecewa sama Adam karena nggak bisa menjaga Cila,” jawabnya.
Bu Ratih menepuk pelan pundak anaknya. “Kamu yang sabar ya. Nanti juga pasti Pak Wira kembali bersikap seperti biasanya. Wajar sih orang tua bersikap seperti itu karena anaknya celaka. Makannya kamu ke depannya harus jaga baik-baik istrimu. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi.”
“Iya, Mah. Adam berjanji akan menjaga Cila sepenuh hati.”
Setelah Pak Wira keluar, kini giliran Adam yang masuk ke dalam ruangan itu. Adam duduk di samping istrinya sambil memegang jemari istrinya. Sesekali ia mencium punggung tangan istrinya.
“Sayang, cepatlah bangun! Mas minta maaf karena masih membuatmu kecewa. Tapi kamu jangan khawatir, selamanya hati ini hanya untukmu. Apa yang kamu lihat itu kesalahpahaman. Mas tidak mungkin berpaling darimu.” Adam menatap sendu istrinya yang masih memejamkan mata.
Cukup lama Adam berbicara sendiri di depan istrinya hingga ia mengantuk. Adam tertidur dengan kepalanya menyender di pinggir ranjang.
Bu Ratih yang merasa anaknya sangat lama, memutuskan untuk membuka pintu. Ia melihat Adam tertidur sambil duduk. Bu Ratih memilih untuk menutup kembali pintu itu.
“Mah, apa yang Adam lakukan di dalam? Kenapa dia lama sekali?” tanya Pak Haris.
“Adam sedang tidur, Pah. Lebih baik kita cari makan dulu saja yuk! Kita ke restoran depan saja!” ajak Bu Ratih.
“Iya, Mah.” Lalu Pak Haris beralih menatap Pak Wira. “Mari, Pak! Kita makan siang bersama,” ajaknya.
“Duluan saja, saya sedang menunggu istri saya,” ucap Pak Wira.
hahaha 🤣🤣🤣
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.