Seorang anak merupakan anugerah bagi sebuah keluarga, namun bagaimana jika anak itu terlahir dari sebuah hubungan yang salah?
Claresta, gadis dengan sikap yang dingin karena hasil perlindungan dirinya dari kerasnya kehidupan yang harus ia hadapi,
Luka itu bukan dari orang lain melainkan dari orang tuanya sendiri, orang tua yang seharusnya bisa disebut Rumah, Resta justru tak mendapati hal itu dari kedua orang tuanya ...,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JackRow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman Erdogan
Claresta yang hanya tertunduk diam dan tak bergeming membuat Erdogan nampak menyipitkan matanya,
"Apa kau baik-baik saja?" pria itu menarik topi hitam milik Claresta sehingga tampaklah mata indah gadis dihadapannya.
Sembab,
Bahkan cairan bening itu masih saja terlihat melintas turun dan terjatuh di pipinya.
"Apa Tuan mendapatkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tua? pasti kehidupan Tuan dokter sangat bahagia," gadis itu mengusap kasar air matanya dan kembali merebut topi hitam nya dari tangan Erdogan.
Erdogan terdiam, seorang dokter muda ternama High Spirits Hospital itu nampak tertegun melihat wajah sendu yang tertampil dari wajah gadis yang sempat ia goda di rumah sakit sebelumnya.
"Maaf, jika perkataan ku tadi pagi sempat menyinggung perasaan mu. Aku sungguh tak bermaksud untuk melakukan hal itu, seharusnya aku tak melontarkan candaan semacam itu."
"Jangan pikirkan hal itu Tuan! tak apa! entah kenapa saya sedikit sensitif akhir-akhir ini, apa Tuan sedang mencari sesuatu disini?" Claresta kembali tersenyum lembut dan memperhatikan Erdogan yang telah berpenampilan santai dengan mengenakan hoodie berwarna denim.
"Ayah ku memintaku untuk mencari alat penggaruk punggung untuk nya! aku tak bisa berada disampingnya setiap saat untuk menggaruk punggungnya yang gatal, jadi mau tak mau aku harus berkunjung kemari."
"Bagaimana denganmu? apa kau kemari seorang diri?"
Claresta mengarahkan telunjuk jarinya pada lantai bawah, gadis itu juga menarik penutup kepala dari hoodie Erdogan sehingga pria itu tertunduk seketika.
"Apa Tuan lihat mereka? aku sungguh iri pada mereka Tuan! kenapa dia tak bisa berlaku adil padaku?" buliran air mata kembali jatuh seketika di pipi Claresta.
Apa? siapa yang dia maksud? apa itu mantan kekasihnya? apa dia benar-benar setulus ini? mata sembab nya, hidungnya yang merah karena terlalu banyak menangis, apa dia belum juga move on dari kekasihnya? lalu bagaimana dengan Tristan? apa Tristan juga mencampakkan dirinya?
Erdogan yang nampak kebingungan hanya mengangguk perlahan untuk menanggapi setiap ocehan dengan nada sumbang yang keluar dari bibir Claresta.
"Kau jangan menangis lagi, aku bisa membantu mu Lucia,"
"Namaku Claresta!"
Kalimat Resta yang nampak tersendat karena isak tangisnya membuat Erdogan semakin gemas dan menarik tubuh gadis itu untuk mengikuti langkahnya,
"A-apa maksud-mu Tuan?" suara gadis itu masih saja tersendat karena sesenggukan.
"Kau diam lah! ikuti saja permainan ku, lihat saja aku akan membantumu memberi pelajaran pada pria itu!"
Tuan dokter? apa dia benar-benar peduli padaku?
Gadis itu hanya melangkah mengikuti Erdogan sembari memperhatikan wajah serius sang dokter yang tetap menarik tangan juga tubuhnya.
Buuuugggh,
Seorang pria berkacamata nampak tersungkur ke lantai karena Erdogan melayangkan sebuah pukulan kasar,
"Pria sialan! berani kau mencampakkan nya seperti ini? apa ibumu bukan seorang wanita? Lucia, maksud ku Claresta! dia telah mendapatkan pria yang lebih baik darimu! dan kau pasti akan menyesal karena telah mencampakkan nya!"
Bukan hanya Claresta, seorang wanita yang semula bergandengan tangan dengan pria berkacamata tersebut juga nampak terkejut dan mengalihkan pandangannya pada Erdogan juga Claresta.
Apalagi ini Claresta, kenapa pria ini menghajar pria itu? apa masalahnya?
Claresta kembali diam tak bergeming menghadapi keributan dihadapan nya,
"Apa maksudmu Tuan? siapa gadis ini? apa salah suami saya sehingga Anda menghajarnya?" seorang wanita yang terlihat tengah berbadan dua nampak panik dan menangis karena melihat suaminya tersungkur dengan sedikit bercak darah dibibir.
Gadis bermata indah dengan rambut hitam lurus itu kembali menahan lengan Erdogan,
"Tuan tolong hentikan! kenapa Tuan menghajar suaminya? apa salahnya Tuan?" Claresta turut panik karena beberapa orang di pusat perbelanjaan nampak memperhatikan mereka.
"A-apa? apa maksudmu Lucia? bukankah kau menangis tersedu-sedu karena pria ini?" raut wajah Erdogan tak kalah panik dari Claresta.
Claresta menutup wajahnya seketika dengan kedua tangannya,
"Maaf Nyonya, saya sungguh minta maaf atas kesalahpahaman yang telah dilakukan oleh kakak saya! saya yang akan ganti rugi, ini kartu nama saya, Nyonya bisa menghubungi saya kapan saja! untuk masalah biaya pengobatan atau apapun itu silahkan hubungi saya, saya sungguh minta maaf,"
Claresta terlihat menyatukan kedua tangannya, menyampaikan permohonan maafnya secara tulus dan memberikan kartu namanya pada wanita itu, sebelum akhirnya berlalu dengan menarik tangan Erdogan.
"Maafkan aku, kupikir pria itu yang mencampakkan dirimu! lagipula ini semua salah mu Claresta kenapa kau begitu menangis tersedu-sedu seperti itu? kau membuatku panik dan turut iba saat melihat mu!" Erdogan berdecak kesal karena kecerobohan yang telah ia lakukan.
"Jangan meminta maaf Tuan, ini semua memang salahku! tidak seharusnya aku menceritakan hal yang bukan-bukan terhadap Tuan dokter!" gadis itu kembali menghela nafas dalam sembari tertunduk,
"Apa kau sudah makan malam? aku lapar sekarang," Erdogan kembali memalingkan wajahnya dan menatap wajah Claresta yang tertunduk di sampingnya.
Claresta hanya menggeleng perlahan dan kembali mengalihkan pandangannya pada Erdogan, tatapan keduanya saling bertemu sehingga membuat mereka sama-sama tersenyum.
"Ikut lah dengan ku, aku mungkin bisa mentraktir dirimu! sebagai balasan kebaikan mu karena telah membereskan masalah kesalahpahaman tadi, jika kau tidak segera membuka suara mungkin security akan menyeret ku keluar dari gedung ini,"
"Aku ingin roti isi!" wajah Claresta kembali berubah seketika saat mendengar tentang makanan.
Dia, terkadang keras kepala, jutek dan menjengkelkan tapi dalam waktu yang bersamaan dia juga bisa bersikap lembut, lucu dan juga menggemaskan,
Gadis ini, kenapa dia begitu berbeda?