WARNING!!!!!
[Karya ini akan menguras emosi. Tidak suka #KDRT atau #PELAKOR skip jangan baca. Kecuali ingin tahu akhir kisah para pelaku.]
Kevin terpaksa menikahi Aura karena permintaan papanya sebelum meninggal. Setelah pernikahan itu terjadi Kevin kerap melakukan KDRT kepada Aura. Istrinya hanya sebatas untuk pelampiasan napsu birahinya saja. Selain itu Kevin juga menikahi sang kekasih—Mariska—dan menambah penderitaan bagi Aura.
Kehidupan Aura mengalami pasang surut dalam hubungannya dengan Kevin. Aira, putri satu-satunya dianggap sebagai anak pembawa sial oleh Kevin.
Akankah Aura bisa terlepas dari jerat kehidupan rumah tangga seperti ini dan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Persidangan
Bab 35
Sidang Mariska atas kasus pembunuhan berencana masih digelar. Karena dia seorang publik figur, banyak wartawan yang meliput setiap persidangannya.
Pengacara Mariska tidak bisa membantah kesaksian yang dilakukan oleh Dani alias Cobra. Orang yang dibayar oleh Mariska dan Aldo untuk merusak rem mobil milik Bu Martini.
Awalnya Mariska menyebut nama Dani, orang bayaran yang dikenalkan oleh Aldo kepadanya, agar kesalahan dilimpahkan kepada dia. Namun, naas sekali nasibnya itu. Ternyata Dani selalu merekam pembicaraan dengan kliennya dan menyimpan chat mereka. Sebagai orang yang suka memberikan jasa kepada orang-orang yang memerlukan tenaganya dalam mengeksekusi seseorang, dia harus teliti dan cerdik. Sebab, sewaktu-waktu dia bisa terseret kasus di mana dirinya terlibat.
"Seperti yang Mulia dengarkan percakapan antara aku dengan Mariska dan Aldo. Mereka adalah otak dari semua kejadian ini dan aku hanya orang bayaran untuk mengeksekusi," ucap Dani.
Hakim, jaksa, dan beberapa orang yang hadir di dalam persidangan itu bisa mendengar dengan jelas suara Mariska. Apalagi Aldo beberapa kali memanggil namanya.
"Aku ingin mereka mati! Lakukan saja bagaimana caranya agar Bu Martini secepatnya mati." (Mariska)
"Harus dipancing dulu orang itu." (Dani)
"Bagaimana cara memancingnya? Tiap hari dia selalu ada di rumah tidak mau jauh dari cucunya." (Mariska)
"Makanya pikirkan Mariska! Punya otak itu gunakan dengan benar." (Aldo)
"Iya, aku tahu! Tapi cara memancing dia agar pergi dari rumah itu bagaimana?" (Mariska)
"Bukannya wanita itu aslinya tinggal di desa?" (Dani)
"Iya." (Aldo)
"Kalau begitu buat dia pulang kampung. Nanti saat di perjalanan kamu akan eksekusi dia." (Mariska)
"Oke. Tidak masalah. Ngomong-ngomong yang harus dieksekusi itu cuma satu orang?" (Dani)
"Terserah. Tapi, ada satu orang yang selalu ikut ke mana pun dia pergi. Jika pun dia ikut mati, tidak apa-apa. Dia tidak ada gunanya sama sekali." (Mariska)
"Mariska, apa tidak masalah membiarkan wanita tua itu ikut celaka? (Aldo)
"Justru bagus kalau wanita itu juga ikut mati. Dengan begitu tidak akan ada lagi orang yang membela si babu. (Mariska)
Dani melirik ke arah Mariska sambil tersenyum culas. Dia kesal dan marah kepada orang yang sudah menyeret dirinya ke dalam penjara, sehingga semua kejahatan dirinya yang sebagai seorang pembunuh bayaran terbongkar. Laki-laki itu tahu nasib kedepannya akan seperti apa. Dia tidak mau mati sendirian, jadi sekalian saja bawa orang-orang yang sudah memerintahkan dirinya untuk melakukan kejahatan itu.
***
Kevin mendengar hasil sidang Mariska dari pengacaranya. Dia merasa puas karena Banyak bukti yang akan memberatkan wanita itu.
"Satu lagi kabar yang akan membuat kamu senang," ucap Pak Hadi.
Mata Kevin berbinar, dia senang si pengkhianat itu bisa tertangkap juga. Semua rasa amarah, kecewa, dan muak langsung melebur berganti dengan rasa puas.
"Di mana dia bersembunyi selama ini, Pak?" tanya Kevin dengan penasaran.
"Di negeri Jiran. Dia tidak sengaja tertangkap kamera seseorang yang sedang melakukan streaming. Ternyata banyak yang sadar kalau itu adalah Aldo yang sedang menjadi buronan. Tentu saja netizen langsung menyerbu dan meng-upload gambar dia sehingga polisi langsung tahu di mana di bersembunyi. Dengan bantuan polisi setempat, Aldo bisa ditangkap. Siang tadi dia baru sampai di bandara," jawab Pak Hadi.
Lalu pengacara itu mengeluarkan handphone-nya dan memperlihatkan acara breaking news. Terlihat Aldo yang sedang digiring oleh banyak polisi saat turun dari mobil.
***
Aura masih shock setelah pulang dari pengadilan. Lazuardi sampai cemas melihat keadaannya. Wanita itu merasa menyesal karena tidak mencegah mertua dan neneknya pergi hari itu. Seandainya saja dia tahu akan ada orang yang mencelakakan mereka tentunya dengan sekuat tenaga akan melarang pulang. Biarkan saja gudang pabrik terbakar habis dan tidak diusut kenapa bisa terjadi kebakaran.
"Manusia tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Saat itu kamu juga tidak tahu akan terjadi hal yang tidak kamu inginkan itu," ucap Lazuardi sambil memegang tangan Aura.
"Saat mendengar kabar kebakaran itu, Mama sangat shock karena itu adalah harta peninggalan keluarga suaminya. Keadaan Mama waktu itu sudah dalam keadaan tidak baik, tapi aku tidak mencegahnya. Malah meminta Simbok untuk menemani Mama. Aku ... aku–"
"Tidak, Aura. Itu bukan salah kamu. Tapi, salah mereka!" ucap Lazuardi memotong ucapan wanita yang tidak berhenti mengeluarkan air matanya.
"Ternyata mereka sudah jauh-jauh hari merencanakan itu semua. Mereka kejam ... sangat kejam! Tidak punya hatikah mereka itu?" racau Aura tergugu.
Melihat wanita yang dicintainya membuat Lazuardi ikut sedih. Dia sudah melakukan segala cara agar para pelaku bisa diadili dengan hukum yang seberat-beratnya.
"Mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Jaksa sudah meminta hukuman mati untuk para pelaku. Ditambah banyak bukti dan saksi, pastinya tidak akan bisa lepas dari jerat vonis itu," balas Lazuardi sambil menghapus air mata Aura.
***
Kevin menghadiri sidang keputusan hakim atas kasus kekerasan dalam rumah tangga terhadap Aura. Pengacara menginginkan hukuman 10 tahun penjara sedangkan jaksa malah meminta hukuman sebanyak 7 tahun penjara.
"Setelah memeriksa barang bukti dan mendengarkan kesaksian para saksi. Tersangka dijatuhi hukuman selama empat tahun penjara dan denda 50 juta rupiah, dikarenakan tersangka menyesali perbuatannya dan selalu berbuat baik selama dalam persidangan dan di dalam penjara," ucap hakim lalu mengetuk palu.
Rasa kecewa terlihat dari raut muka Lazuardi. Dia menginginkan laki-laki itu di penjara lebih lama.
Meski tidak sesuai harapan, Aura mencoba menerima keputusan hakim. Baginya yang terpenting adalah sudah lepas dari ikatan yang membelenggu dirinya dengan Kevin.
"Semoga setelah ini kamu bisa menjadi orang yang jauh lebih baik lagi. Jangan kamu ulangi perbuatan buruk kamu di masa lalu," ucap Lazuardi begitu berhadapan dengan Kevin.
Kevin hanya tersenyum sambil mengangguk. Dia sendiri tidak tahu apakah umurnya akan panjang atau tinggal menghitung hari.
Kevin menatap haru dan nanar kepada Aura. Wanita yang masih menempati di sudut hatinya. Dia senang melihat wanita itu bersama dengan orang-orang yang mencintai dan menyayangi dirinya. Setidaknya tidak akan ada yang menyakiti dirinya seperti yang dia pernah lakukan.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Kevin kepada Aura.
Wanita itu bergeming menatap sang mantan. Hanya bola mata beningnya yang bergerak ke arah Lazuardi.
"Secepatnya," jawab Lazuardi.
"Nanti beri tahu aku, ya? Setidaknya aku ingin mengucapkan selamat dan memberi hadiah untukmu," ujar Kevin kepada Aura.
Wanita itu hanya mengangguk. Dia sudah memaafkan kesalahan yang diperbuat mantan suaminya ini. Dendam hanya akan mengotori hati, itu yang dikatakan oleh Mama Lembayung, tempo hari.
'Semoga aku masih diberi napas saat hari bahagia kamu, Aura,' batin Kevin sambil membalikkan badan. Air mata laki-laki itu jatuh tepat saat kakinya melangkah menjauh.
***
aku udh curiga sm aldo sejak dia nanya dari mana mama kevin tau hubungan kevin sm mariska trus dia bilang mgkin aura yg ngasih tau krn cemburu