Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang berharap rumah tangganya hancur. Semua wanita akan mengharapkan rumah tangga yang berjalan mulus dan tetap utuh.
Begitu pula dengan Renata, wanita itu mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya dengan sekuat tenaga. Menahan sakit caci maki dari mertua, dan juga sakit akibat perlakuan suaminya.
“Apa dengan bersetubuh dan menikah secara diam-diam dengan wanita lain. Baru itu tindakan yang benar? Apa seperti itu, huh, Baji*ngan?!”
Akan tetapi, dia menyerah, saat hadir sosok orang ketiga yang tiba-tiba sudah menjadi madunya. Hatinya sakit, hancur, dan dia pun memberontak, menjadi berani demi mendapat keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my_el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Tragis
Begitu tidak ada satu pun orang yang berada di dalam ruangan itu. Dengan cepat Hardi menerjang tubuh Bagas dengan kuat.
Bagas yang tidak siap dengan apa yang akan dilakukan mantan mertuanya itu pun limbung, dengan tangan yang masih di borgol.
“KEPA*RAT KAMU, BAJI*NGAN!"
Tak henti sampai di situ. Hardi menghajar mantan menantunya itu dengan tenang, namun penuh dengan tekanan. Seolah membiarkan Bagas merasakan sakit itu secara perlahan, sampai pria paruh baya itu menginjak perut mantan menantunya itu sampai Bagas terbatuk.
“Enyah kamu, Sialan! Jangan harap kamu bisa menikmati dunia luar mulai detik ini! Saya pastikan itu, dan ... jangan pernah kamu berharap untuk bertemu dengan anak dan juga cucuku! Saya tidak akan pernah membiarkan itu semua terjadi!” Hardi kembali menendang tubuh Bagas untuk terakhir kalinya, yang sudah babak belur tak berdaya.
...****************...
Renata menenangkan Dian yang tak hentinya menangis dan memeluknya sejak dibeberkannya semua yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga putrinya. Wanita itu terisak pilu, karena tidak bisa lebih peduli ke putrinya, dan berakhir seperti sekarang.
Namun, tak seberapa lama. Bima dan Citra datang menghampiri ibu dan anak itu dengan wajah menunduk malu.
“Renata,” panggil Bima, yang membuat Renata dan Dian mengurai pelukannya.
“Eh ... iya, Mas, Mbak.” Renata tersenyum tipis menatap mantan kakak iparnya itu.
“Selaku keluarga Bagas, Mas sangat malu untuk berhadapan dengan kamu dan juga keluarga kamu, Ren. Sungguh, Mas minta maaf atas perbuatan Bagas. Mas tidak meminta untuk kamu maafin Bagas begitu saja. Tetapi, Mas minta maaf karena tidak tahu menahu dan seolah menutup mata dengan perlakuan Bagas kepada kamu. Mas juga tidak akan berupaya apa pun dengan hukuman yang di dapat Bagas. Biar dia introspeksi diri dengan kesalahannya. Biar dia menyadari dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia perbuat. Sekali lagi, Mas minta maaf, Ren. Dan juga terima kasih atas kebaikan dan kelembutan hati kamu selama ini terhadap keluarga kami.” Bima membungkuk begitu lama, begitu selesai dengan permintaan maafnya.
“Mas Bima, jangan seperti ini. Dengan keputusan Hakim yang sudah sangat adil memberi keputusan, itu sudah membuat aku bersyukur. Jadi, Mas, jangan sampai membungkuk seperti ini.” Renata merasa tidak nyaman, karena bukan pria itu yang salah, melainkan Bagas.
Bima pun mendongak. “Untuk biaya Ghea, biar Mas yang memenuhinya,” tambah pria itu, membuat Renata tersentak.
“Puas kamu melihat anak saya hancur, Renata! Dan kamu masih memikirkan tentang uang!” Santi menangis dan meraung ingin menerjang Renata. Namun, segera diamankan oleh Burhan dan juga Bima.
Renata menghela nafas panjang. Kemudian menghampiri mantan mertuanya itu yang sampai ini tidak pernah menyukainya, entah karena apa.
Bima dan Burhan sudah menyuruh Renata untuk pergi, sebelum Santi semakin hilang kendali. Namun, seolah tuli, wanita itu melangkah dengan pasti ke arah Santi yang meronta. Yang sudah di pegang erat oleh Burhan dan juga Bima.
Renata tersenyum tipis. “Tenanglah. Sekarang aku bukan lagi menantu, Anda. Dan saya pastikan, cucu Anda tidak akan kekurangan hal apa pun, tanpa uang sepeser pun dari keluarga, Anda. Lagi pula, menantu dan calon cucu baru, Anda, yang sepertinya lebih butuh dari pada anak saya!”
Sontak hal itu membuat Santi bungkam, menatap tajam ke arah Renata. Namun, wanita itu tidak peduli. Justru, Renata menatap Bima dan Burhan bergantian. “Bolehkah saya meminta sedikit hadiah?” tanyanya dengan tenang, yang sama sekali tidak dimengerti oleh kedua pria yang berbeda usia itu. Yang hanya diangguki kaku oleh Bima.
Renata pun tersenyum miring, ketika mendapat persetujuan dari Bima, maupun Burhan. Segera saja, wanita itu mengayunkan telapak tangannya, dengan begitu cepat dan keras. Hingga bunyi sentuhan telapak tangan dan pipi yang bertemu, membuat orang di sekitarnya terkesiap. Karena tidak ada yang menduga, Renata akan menampar Santi dengan bengis.
“Terima kasih, permisi.” Wanita itu pun melangkahkan kakinya, menghampiri Dian dan Hardi yang tersenyum ke arahnya.
“Apa urusan kamu sudah selesai, Nak?” Hardi menepuk puncak kepala putrinya itu dengan sayang.
Renata pun mengangguk, merasakan hangat di hatinya, karena mendapat perlakuan lembut dari cinta pertamanya. “Sudah, Pa.”
“Jika belum puas, kamu bisa lanjutkan kembali, mungkin ... dengan mantan suamimu?” Hardi sedikit menaikkan alisnya.
“Sepertinya, Papa sudah membereskan mantan menantunya.” Renata tersenyum lebar menatap kedua orang tuanya.
“Kamu memang sangat paham dengan Papa!” Hardi terkekeh. “Kalau begitu, apa kamu tidak apa-apa pulang sendiri?” Pria paruh baya itu, sedikit khawatir dengan putrinya.
“Tentu saja, Pa. Renata ini seorang Ibu tunggal yang kuat, kalau Papa lupa. Jadi pergilah, dan hati-hati.” Renata memeluk kedua orang tuanya bergantian. Lalu, mengotak-atik ponselnya untuk memesan taksi online.
Sembari menunggu taksi itu, Renata dikejutkan dengan kedatangan mantan madunya–Weny. Wanita itu tertunduk menghampiri Renata yang sedang berdiri menunggu kedatangan taksi yang dipesannya.
“Mbak Renata, ya?” Weny menyapa gugup Renata, yang tampak datar menatapnya.
Renata memindai penampilan selingkuhan Bagas dengan wajah datarnya. Tidak ada yang spesial, jauh dari bayangannya. Yang sampai bisa membuat Bagas berpaling darinya. Penampilannya sangat glamour dan dandanannya cukup tebal, mencolok. Perut wanita itu juga sudah cukup terlihat membuncit.
“Ada apa?” Akhirnya, Renata membuka suaranya.
Weny sedikit tersentak. Namun, tak lama dia kembali memberanikan dirinya untuk membuka suara lagi. “Saya minta maaf, karena sudah menghancurkan rumah tangga, Mbak dan Mas Bagas,” akunya lirih.
“Lalu?” Renata tak terlalu menanggapinya. Karena dia juga cukup jengah melihat wanita di depannya ini.
“Maaf, Mbak. Saya tahu, saya salah. Tapi, anak yang dikandung saya, tidak tahu menahu perihal masalah ini. Dan dia butuh sosok seorang ayah, Mbak. Makanya, saya dan Mas Bagas memutuskan untuk menikah,” ungkap wanita itu lagi. Seolah tidak bersalah.
“Itu sudah konsekuensi dari hubungan bejat kalian berdua. Tidak ada hubungannya dengan saya.” Renata hendak pergi, namun segera dicekal oleh Weny. Membuat Renata menatap tajam ke arah wanita itu.
“Mbak, anak saya tidak bersalah, dan tidak bisa memilih untuk dilahirkan menjadi anak dari istri kedua. Mbak ... saya mohon, maafin saya. Namun, tak bisakah, Mbak memberi sedikit harta Mas Bagas untuk anak yang di kandung saya. Saya juga berhak Mbak untuk harta Mas Bagas.”
Penuturan Weny yang tidak tahu malu dan tidak tahu diri itu membuat Renata semakin kesal dan muak. Segera dia menyentak tangannya yang sedari tadi dicekal oleh Weny dengan kasar.
“Kamu kira, Bagas itu pewaris tunggal perusahaan ternama, hingga saya mendapat harta dari suami kamu itu?! Jika kamu ingin minta harta, tidak usah dalih minta maaf segala. Silakan, kamu pergi ke kediaman orang tua Bagas, dan mintalah pertanggung jawaban di sana. Bukan ke saya, yang tidak ada hubungan apa pun dengan kamu dan anak kamu itu, Sialan!” Renata pun segera pergi menjauh dari Weny.
Namun, Renata masih sesekali melirik ke wanita itu, yang saat ini tidak berani menatap kepadanya. Kemudian, berjalan gontai menghampiri Santi yang masih menangis, dan sedang dibujuk oleh Burhan, dan Citra di seberang jalan.
Karena harapan satu-satunya bagi Weny, adalah keluarga besar Bagas–yang sudah menjadi suaminya, akan masa depan anak yang dikandungnya itu.
Akan tetapi, siapa yang menyangka. Saat hendak menyeberang untuk menghampiri keluarga Bagas, tanpa peduli dengan kanan kirinya, wanita itu mengelus perutnya dan melangkah begitu cerobohnya ke jalanan.
Sampai hal tidak terduga terjadi, dengan begitu cepatnya, yang entah dari mana asalnya, ada mobil yang melaju begitu cepatnya dan menghantam keras tubuh Weny yang akan menyeberang. Sampai tubuh itu terseret mobil, dan tubuh wanita hamil itu terpental jatuh dengan suara yang cukup keras.
“Weny!”
*
*
*
Hai hai
Ini kan yang kalian semua mau 🤣🤣🤣 author sudah mengabulkannya, tenang saja 🤭
jangan bosan-bosan baca kelanjutan cerita ini ya teman-teman, dan tinggalkan jejak kalian 😉
See you next chp 😘
aku harus nyetok kesabaran juga nih bacanya 🥲