Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Menikmati Pagi Dengan Jogging
Bab 20 - Menikmati Pagi Dengan Jogging
Senopati hanya tersenyum tipis, lalu melepas jas itu dan menyerahkannya kembali untuk dibungkus rapi. "Baiklah, terima kasih. Pastikan dibawa ke tempat upacara tepat waktu."
Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil kembali sunyi. Senopati masih membiarkan pikirannya melayang. Ia tahu persis alasan di balik pernikahan ini—bukan karena cinta yang tumbuh perlahan, melainkan sebuah kesepakatan yang menyelamatkan dua pihak sekaligus. Namun semakin dekat hari itu, semakin besar rasa ingin tahunya: apa sebenarnya yang membuat Raisa bersedia menerima pernikahan ini tanpa banyak protes?
"Radit," panggilnya tiba-tiba, memecah keheningan.
"Ya, Tuan?"
"Bagaimana menurutmu pernikahan ini? Apakah saya akan bahagia dengn wanita yang belum sepenuhnya saya cintai?"
Radit terdiam sejenak, memilih kata-kata dengan bijak. "Tuan sebentar lagi Anda, akan menjadi seorang suami. Saya berharap kedepannya berjalan sesuai rencana dan keadaan selalu baik menyertai Tuan."
Senopati menghela napas panjang, matanya menyipit menatap kegelapan malam. "Aku berharap semuanya berjalan dengan lancar?" Gumannya.
Sementara itu, di kediaman Ardi, suasana sudah kembali hening setelah Marla masuk ke kamarnya. Raisa duduk di kursi ruang tengah, memegang erat kedua tangan Indri yang masih setia menemaninya. Ardi duduk di sampingnya, menatap putrinya dengan tatapan penuh rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
"Raisa..." panggil Ardi perlahan. "Jika saat ini kamu ingin membatalkan semuanya, Papa tidak akan memaksamu. Papa tahu beban ini terlalu berat untuk dipikul seorang gadis seumurmu."
Raisa menggeleng perlahan, lalu mengangkat wajahnya dengan senyum yang berusaha terlihat kuat meski matanya masih berkaca. "Tidak usah dipikirkan lagi, Pa. Keputusan sudah bulat. Jika ini satu-satunya cara agar perusahaan tetap berdiri dan nama baik keluarga tidak tercoreng, maka aku rela melakukannya. Lagipula, apa gunanya kebahagiaanku jika semua orang yang aku sayangi harus menderita?"
Indri meremas lengan kakaknya erat, air matanya akhirnya tumpah juga. "Kak, jangan bicara seperti itu... ada cara lain pasti. Kita bisa cari jalan lain tanpa harus mengorbankan masa depanmu."
"Sudah terlambat, Dri. Semua persiapan sudah berjalan, dan perjanjian sudah ditandatangani. Mundur sekarang hanya akan membawa kehancuran bagi kita semua," jawab Raisa lembut namun tegas. "Lebih baik aku melangkah dengan kepala tegak, daripada hidup dalam ketakutan akan apa yang akan terjadi besok."
"Papa, bangga memiliki kalian berdua." Ardi memeluk kedua putrinya penuh kasih sayang dan rasa takut kehilangan.
Malam semakin larut, Raisa dan Indri telah naik ke lantai dua, malam ini Indri memutuskan untuk tidur lagi bersama Raisa dan ini adalah malam terakhir sebelum pernikahan terjadi lusa.
Keesokan paginya pukul jam enam, Ardi mengajak kedua putrinya untuk olahraga pagi, mereka memutuskan untuk jogging keliling komplek sambil cari sarapan kesukaan mereka. Mereka tak henti-hentinya tertawa sling bercanda.
Sedangkan di rumah Marla baru saja terbangun dan mendapati ketiganya tidak ada di rumah, Marla memutuskan bertanya kepada parah pelayan.
"Mereka bertiga pergi jogging nyonya." Jawab pelayan sambil membersihkan meja makan.
"Ketigannya? Lalu tidak ada yang mengajak saya?" Marla kesal lalu berlalu masuk kamarnya sambil...
Brakk...
Para pelayan terkejut mendengar suara gantungan pintu yang lumayan keras. "Ya Tuhan, nyonya semakin hari semakin tidak ada sopan santunnya."
"Benar, nyonya itu tidak pantas menjadi seorang nyonya kaya."
"Tuan Ardi, benar-benar tidak beruntung mendapatkan nyonya."
"Benar, dulu nyonya yang pertama ibunya nona Raisa sangat baik dan penyabar, tapi sayang Tuhan, lebih menyayangi-nya sehingga ia harus meninggal dan meninggalkan putri kecilnya di tangan wanita seperti itu."
Suara bisik-bisik pelayan itu segera terhenti saat salah satu dari mereka menoleh ke arah tangga, khawatir kalau-kalau Marla masih mendengarnya. Namun tidak ada tanda-tanda wanita itu akan turun kembali, hanya keheningan yang terasa tebal menyelimuti ruang makan.
Sementara itu, di luar komplek perumahan yang asri, suasana terasa jauh lebih hangat dan cerah. Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah daun pohon. Raisa, Indri, dan Ardi berjalan santai setelah lelah berlari, wajah mereka bersemu merah karena keringat namun senyum tidak pernah lepas dari bibir masing-masing.
"Ini dia, kedai langganan kita. Masih buka seperti biasa," ucap Ardi sambil menunjuk sebuah warung sederhana yang sudah mengeluarkan asap mengepul dari dapur.
Mereka duduk di bangku kayu yang sudah agak usang, namun kebersihannya terjaga dengan baik. Segera pesanan mereka datang—nasi uduk dengan lauk kesukaan, tempe goreng renyah, dan segelas teh manis hangat yang menghangatkan tenggorokan.
"Rasanya tetap sama seperti sepuluh tahun lalu ya, Pa?" tanya Indri sambil melahap makannya dengan lahap.
Ardi mengangguk sambil tersenyum memandangi kedua putrinya. "Memang tidak ada yang bisa mengalahkan rasa makanan sederhana ini. Di tengah kesibukan dan masalah yang melilit, momen seperti inilah yang membuat Papa sadar apa yang sebenarnya berharga."
Raisa hanya mendengarkan sambil sesekali ikut tertawa, namun di hatinya ia menyimpan perasaan yang campur aduk. Ia tahu, momen sederhana seperti ini mungkin akan semakin jarang ia dapatkan setelah resmi menjadi istri Senopati. Sebuah bagian dari dirinya ingin menikmati setiap detiknya sepenuhnya, sementara bagian lain terus dihantui pertanyaan: apakah ia bisa menemukan tempat yang layak di rumah barunya nanti?
Setelah kenyang dan puas, mereka berjalan pulang perlahan. Sesampainya di depan gerbang rumah, suasana yang hangat tadi seolah langsung berubah menjadi dingin. Begitu melangkah masuk, mereka mendapati Marla sudah berdiri di ruang tengah dengan tangan bersilang di dada, rahangnya mengeras menahan rasa kesal yang belum hilang.
"Kalian pergi berjalan-jalan tanpa memberitahu saya sedikit pun? Rasanya seperti saya bukan bagian dari keluarga ini lagi," ucap Marla dengan nada sinis, matanya menatap tajam ke arah ketiganya.
Ardi menghela napas, berusaha tetap tenang agar suasana tidak memanas lagi. "Kami hanya berolahraga dan mencari sarapan, Marla. Tidak ada maksud untuk mengecualikanmu. Jika kamu sudah bangun lebih pagi, tentu saja kami akan mengajak."
Marla mendengus kesal, lalu mengalihkan pandangannya ke Raisa. "Tentu saja, kamu selalu saja menjadi pusat perhatian. Segala hal dilakukan agar kamu senang, padahal sebentar lagi kamu akan pergi dari rumah ini dan menjadi milik orang lain."
Kalimat itu menusuk hati Raisa, namun ia memilih diam dan tidak membalas. Ia hanya menunduk sedikit, membiarkan kata-kata itu melayang tanpa memberi kesempatan untuk memicu pertengkaran baru. Indri yang berdiri di sampingnya langsung menatap tajam ke arah ibu tirinya, siap membela kakaknya jika perlu.
"Sudah cukup, Marla!" tegur Ardi dengan nada tegas. "Jangan mulai lagi hal yang tidak perlu. Ingat janjimu kemarin. Hari-hari ini adalah hari terakhir Raisa di rumah ini sebelum upacara. Biarkan ia melewatinya dengan tenang."
Mendengar nada bicara Ardi yang menegaskan posisinya, Marla mengatupkan bibirnya rapat. Ia sadar tidak akan menang jika terus melawan, apalagi setelah ancaman perceraian yang terngiang jelas di telinganya. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan menuju ruang tamu samping, meninggalkan suasana yang kembali terasa canggung.
Melihat kepergiannya, Ardi segera menoleh ke arah Raisa dengan tatapan meminta maaf. "Maafkan dia, Nak. Papa janji tidak akan membiarkan dia mengganggu ketenanganmu lagi."
Raisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Pa. Aku sudah terbiasa. Selama aku bisa menahan diri dan tidak membalas, semuanya akan baik-baik saja."
Sementara itu, di kediaman Senopati, suasana berjalan dengan ritme yang sangat berbeda. Pagi itu, Senopati sudah duduk di ruang kerjanya sejak pukul lima pagi, memeriksa berkas-berkas penting sebelum hari pernikahan tiba.
Radit masuk membawa secangkir kopi panas, lalu meletakkannya di sudut meja. "Semua persiapan di tempat upacara sudah dicek ulang, Tuan. Semua berjalan sesuai jadwal."
"Baiklah." Hanya jawaban singkat.