NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Cairan di dalam botol infus Darren akhirnya benar-benar habis.

Seorang perawat masuk ke dalam ruangan dengan membawa peralatan medis, lalu dengan cekatan melepaskan selang infus yang menempel di punggung tangan Darren dan menutup bekas lukanya dengan plester.

Setelah perawat selesai melakukan tugasnya, Jihan berdiri dari kursinya sambil membenarkan letak tasnya yang sudah kosong melompong.

"Tuan, karena Anda sudah sembuh dan diperbolehkan pulang, aku pulang dulu ya," pamit Jihan dengan senyum canggung.

Ia merasa tugas kemanusiaannya malam ini sudah selesai.

Namun, baru saja Jihan membalikkan badan, pergelangan tangannya langsung ditahan oleh cekalan tangan Darren yang hangat dan kokoh.

"Jihan, tunggu!" seru Darren tegas.

Ia menurunkan kedua kakinya dari ranjang rumah sakit, lalu berdiri tegak di hadapan Jihan.

"Aku ikut pulang ke rumahmu. Besok pagi, kita langsung menikah di rumahmu."

Jihan membelalakkan matanya sempurna, nyaris melompat dari rongganya.

"A-apa? Menikah? Secepat itu?!"

"Lebih cepat lebih baik, Jihan. Aku sudah tidak mau lagi kembali ke rumah dingin itu dan hidup kesepian," jawab Darren tanpa ragu sedikit pun.

Tatapannya begitu intens saat menatap wajah Jihan.

"Dan satu lagi, berhenti memanggilku 'Tuan'. Panggil aku Darren."

Perawat yang kebetulan masih berada di dalam ruangan merapikan sisa peralatan medis tidak bisa menahan diri lagi.

Ia tertawa kecil melihat tingkah Darren yang begitu agresif mengejar gadis di hadapannya.

"Wah, Bapak, sepertinya Anda sedang mengalami masa puber kedua, ya? Agresif sekali," goda perawat itu sambil tersenyum geli sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar rawat.

Wajah Jihan merona merah karena malu, sementara Darren hanya terkekeh pelan tanpa berniat membantah ucapan perawat tadi.

Dengan gerakan alami, Darren langsung menggenggam jemari tangan Jihan yang terasa pas di tangannya, lalu menuntun gadis itu keluar dari ruang perawatan untuk mencari taksi di depan lobby rumah sakit.

Saat mereka berdua berdiri di pinggir jalan menunggu taksi yang lewat, Jihan mendadak didera rasa panik.

Ia menatap tangannya yang digenggam Darren, lalu menatap wajah pria paruh baya itu dengan raut cemas.

"Tuan—maksudku, Darren, jujur saja, uangku sudah benar-benar habis total untuk membayar biaya rumah sakitmu tadi. Sekarang dompetku kosong. Kita mau bayar pakai apa kalau naik taksi ini nanti?" bisik Jihan setengah meratap, takut jika mereka berdua malah diturunkan di tengah jalan oleh sopir taksi karena tidak bisa membayar.

Darren menoleh, lalu sebuah senyuman asimetris yang penuh pesona terbit di bibirnya.

Ia mengusap punggung tangan Jihan dengan lembut.

"Jangan pikirkan soal uang, Jihan. Calon suamimu ini adalah seorang CEO," ucap Darren dengan nada santai namun penuh percaya diri.

Jihan menghentikan langkahnya, menatap Darren dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan sangsi.

Pria di hadapannya ini memakai kemeja yang sudah agak kusut dan baru saja pingsan karena kelelahan di taman, bagaimana bisa mengaku sebagai bos besar?

Jihan menghela napas panjang, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Darren dengan polos.

"CEO? Darren, apakah efek obat dari dokter tadi ternyata masih ada di dalam tubuhmu? Jangan-jangan kamu masih berhalusinasi, ya?"

Darren tertawa renyah mendengar ketidakpercayaan Jihan.

Jihan memang sama sekali belum tahu bahwa pria paruh baya yang melamarnya dengan modal nekat ini adalah Darren Bramantyo, pemilik salah satu perusahaan konglomerat terbesar di kota ini yang kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan.

Sebuah taksi akhirnya berhenti di depan mereka. Darren membuka pintunya dan menatap Jihan dengan binar jenaka di matanya.

"Ayo naik, calon istriku yang cerewet. Nanti kamu akan tahu sendiri apakah aku berbohong atau tidak."

Suasana di dalam taksi awalnya terasa tenang, sampai akhirnya sang sopir taksi melirik ke arah kaca spion tengah.

Ia menatap bergantian ke arah Jihan yang bertubuh subur dan Darren yang tampak jauh lebih matang dengan kemeja yang sedikit kusut.

"Baru selesai mengantarkan ayahnya kontrol, ya, Mbak?" tanya sopir taksi itu dengan nada ramah, merasa yakin dengan tebakannya.

Bahu Jihan langsung berguncang. Ia mati-matian menahan tawanya agar tidak meledak di dalam mobil, sementara wajah Darren seketika berubah masam.

Harga diri sang CEO paruh baya itu rasanya langsung merosot tajam.

Darren berdeham pelan, lalu memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak dan berwibawa.

"Aku calon suaminya," ucap Darren dengan suara berat dan penuh penekanan.

Sopir taksi itu tersentak kaget, ia kembali melirik lewat spion dengan mata membelalak.

"Lho, Mbak enggak salah pilih? Bapaknya kan sudah tua dan—"

"Diam, atau tidak aku bayar taksi kamu!" potong Darren cepat dengan nada mengancam yang dingin.

Aura tegas sebagai pemimpin perusahaan besar mendadak keluar begitu saja.

Sopir taksi itu langsung menelan salivanya sambil menganggukkan kepalanya cepat-cepat sambil membuat gerakan seolah sedang mengunci rapat mulutnya dengan ritsleting.

Suasana taksi mendadak hening seketika, menyisakan Jihan yang masih tersenyum geli di sudut kursi.

Dua puluh menit kemudian, mobil taksi itu akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang asri milik Jihan.

Darren merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang bernilai besar yang tersisa di dompet kulitnya, lalu menyerahkannya kepada sang sopir tanpa meminta kembalian.

Namun, begitu Jihan dan Darren melangkah turun dari mobil, sopir taksi itu nekat menurunkan kaca jendelanya dan berteriak parau.

"Cari yang berondong saja, Mbak! Jangan yang itu!"

Supir taksi itu tertawa terbahak-bahak puas, lalu langsung menginjak gas dalam-dalam dan melajukan mobilnya pergi sebelum Darren sempat melemparinya dengan sepatu.

Jihan tidak bisa menahan tawa kecilnya lagi melihat wajah Darren yang semakin ditekuk masam.

"Sudahlah, Darren. Jangan didengarkan. Ayo masuk," ajak Jihan lembut, mencoba menghibur calon suaminya itu.

Jihan membuka pintu depan dan mempersilakan Darren masuk.

Begitu melangkah ke dalam, Darren terpaku sesaat.

Rumah itu memang tidak besar, sangat jauh berbeda dengan istana megahnya yang dingin.

Namun, rumah Jihan sangat rapi, bersih, dan memancarkan atmosfer yang sangat nyaman.

Di beberapa sudut ruangan, tampak toples-toples yang penuh dengan berbagai macam makanan ringan dan camilan, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang gemar mengunyah.

Mata Darren menjelajahi ruangan itu dengan binar kagum.

Rumah ini terasa begitu 'hidup'—sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan di rumahnya sendiri.

Krucuk... Krucuk....

Perut Jihan kembali berbunyi, memecah keheningan di antara mereka.

Jihan langsung meringis malu sambil memegangi perutnya.

"Aku ke dapur dulu, ya. Perutku sudah benar-benar lapar," ucap Jihan meminta izin.

Jihan segera melangkah cepat menuju dapur.

Ia membuka lemari pendingin, mengambil sepotong daging segar berukuran cukup besar yang memang sengaja ia simpan.

Dengan cekatan dan terampil, Jihan mulai mengolah daging tersebut, membumbuinya, lalu memanggangnya di atas teflon hingga aroma gurih steak yang menggugah selera langsung menguar memenuhi seisi rumah.

Darren berjalan perlahan menyusul ke area dapur. Ia bersandar di pintu, terpesona melihat bagaimana fokus dan tulusnya gadis bertubuh subur itu saat memasak, seolah semua beban hidupnya malam ini menguap begitu saja demi sepiring makanan hangat.

Aroma gurih dari daging yang berdesis di atas teflon perlahan mulai mereda saat Jihan mematikan kompor.

Darren yang sedari tadi bersandar di ambang pintu dapur, menatap punggung Jihan dengan pandangan yang sulit diartikan.

Suasana rumah ini begitu tenang, sangat kontras dengan hiruk-pikuk kediamannya yang selalu penuh dengan tuntutan.

"Kamu tinggal sendiri di rumah ini?" tanya Darren memecah keheningan, suaranya terdengar lembut namun penuh rasa ingin tahu.

Jihan menghentikan gerakannya sejenak sebelum menganggukkan kepalanya perlahan.

Ia memindahkan steak yang sudah matang sempurna itu ke atas piring saji dengan rapi.

"Iya," jawab Jihan, mencoba tersenyum meskipun kilat kesedihan sempat melintas di matanya.

"Orang tua dan adikku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan. Sejak saat itu, aku tinggal sendiri di sini."

Darren tertegun. Jantungnya berdenyut nyeri mendengar kenyataan bahwa gadis berhati malaikat di hadapannya ini ternyata menyimpan luka yang begitu dalam, namun tetap mampu mengulas senyum sehangat itu.

Kemudian Jihan membawa piring tersebut dan menghidangkan steak hangat yang menggiurkan itu tepat di depan Darren yang kini sudah duduk di meja makan kecilnya.

"Ayo dimakan dulu, Darren. Setelah itu jangan lupa minum obat dari dokter tadi," ucap Jihan mengingatkan dengan nada perhatian yang tulus.

"Terima kasih, Jihan," balas Darren tulus.

Darren memotong bagian kecil dari daging tersebut menggunakan pisau dan garpu, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Begitu bumbu steak itu menyentuh lidahnya, mata Darren langsung berbinar kagum.

Dagingnya begitu empuk, dengan perpaduan rasa gurih dan manis yang sangat pas.

"Masakan mu sangat enak sekali, Jihan. Kamu memang benar-benar luar biasa, Jihan," puji Darren jujur.

Ini bukan sekadar pujian basa-basi; rasa masakan Jihan bahkan jauh lebih mewah daripada makanan di restoran bintang lima yang biasa ia kunjungi.

Jihan yang mendengar pujian itu hanya tersenyum tipis.

Ia ikut duduk di hadapan Darren, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap pria paruh baya itu dengan tatapan serius.

Ada satu hal yang sejak tadi terus mengusik pikirannya.

"Darren, kamu yakin mau menikah denganku?" tanya Jihan, memastikan sekali lagi.

"Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu. Kamu bahkan tidak tahu latar belakangku, dan ukuran tubuhku juga seperti ini..."

"Aku yakin seratus persen, Jihan," potong Darren cepat tanpa ragu sedikit pun.

Ia meletakkan garpu nya sejenak, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Jihan dengan sorot mata yang penuh keyakinan seorang pria dewasa.

"Ketulusanmu malam ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku menjatuhkan pilihan."

Jihan mengembuskan napas panjang, lalu kembali bertanya, "Lalu bagaimana dengan anak-anakmu? Apakah mereka akan setuju? Tadi di rumah sakit kamu bilang mereka hanya peduli pada harta dan warisanmu. Kehadiranku pasti akan membuat mereka marah."

Mendengar sebutan tentang ketiga anaknya, rahang Darren seketika mengeras. Namun, tatapannya melembut saat kembali menatap Jihan.

"Mereka harus setuju, Jihan. Suka atau tidak suka, mereka harus menerima keputusan ini," tegas Darren dengan suara beratnya.

Ia lalu meraih jemari tangan Jihan di atas meja, menggenggamnya dengan erat.

"Dan, aku harap, kamu bisa membantu mendidik mereka setelah kita menikah nanti. Ajarkan mereka apa artinya ketulusan dan cara menghargai seorang ayah, hal yang tidak pernah mereka miliki selama ini."

Jihan terdiam, merasakan tanggung jawab besar yang mendadak diletakkan di pundaknya. Namun, melihat binar penuh harap dan kerapuhan di balik mata tegas pria paruh baya itu, Jihan perlahan membalas genggaman tangan Darren dan mengangguk pelan.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!