Dafi Bayu Irawan, merupakan pria berkeluarga. Namun, sebuah kesalahan satu malam membuat pria itu terpaksa menikahi pembantunya sendiri yang kini tengah mengandung darah dagingnya.
Indira, gadis yang kini menyandang status sebagai istri kedua Dafi yang dirahasiakan dari semua orang terutama dari istri pertama Dafi.
Lalu, bagaimana bila status Indira sampai ketahuan keluarga besar Dafi termasuk istri pertama Dafi?
√ Jangan lupa tekan subscribe untuk mendapatkan notifikasi update-an terbaru cerita ini💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windanor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRSM: Permohonan Arum
Indira memelankan langkahnya ketika melihat di depan rumahnya tampak seorang wanita berdiri membelakangi.
"Maaf, cari siapa, ya?" Ucapan Indira membuat wanita paruh baya itu menoleh. Raut wajah Indira tampak sangat terkejut melihat wajah wanita itu.
"Indira..." Wanita paruh baya itu tersenyum ramah lalu mendekat pada Indira. Kini, tatapannya beralih pada bocah laki-laki di samping Indira. Matanya tampak haru melihat Faza.
"Untuk apa anda ke sini?" ucap Indira tampak tak suka.
"Mama ke sini ingin bertemu kamu, Indira. Mama ingin melihat keadaan kamu dan cucu Mama."
"Apapun alasan anda saya tetap tidak suka anda datang kemari. Saya sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan anak anda!"
Arum menghela napas berat."Mama tahu kamu bersikap seperti ini karna Dafi, tapi tolong jangan larang Mama untuk dekat dengan cucu Mama. Dafi memang salah, karna tidak tegas."
Indira membuang muka. Sebenarnya ia enggan kembali berhubungan dengan orang-orang terdekat mantan majikannya.Tapi seolah dunia ini begitu sempit hingga membuat ia dan putranya mudah ditemukan.
"Kamu tenang saja, Indira. Mama tidak akan memberitahu keberadaan mu pada siapa pun termasuk Dafi."
Indira yang awalnya enggan bersemuka dengan Arum kini menatap wanita tersebut. Tatapan lembut terpancar dari sorot mata Arum. Apakah orang tua Dafi dapat di percaya?
"Nama kamu siapa, Nak?" Arum bersimpuh di hadapan cucu nya. Ia menatap lekat wajah Faza. Dari sisi mana pun bocah laki-laki itu dilihat dari wajahnya sangat mirip dengan putranya, Dafi.
Faza terdiam sejenak dan setelahnya menjawab."Nama aku Aza."
Bocah itu lebih suka memanggil namanya sendiri dengan Aza.
Tanpa sadar mata Arum berkaca-kaca. Sudah dari lama ia mencari keberadaan Indira setelah mengetahui Dafi lepas tangan mencari Indira. Ia benar-benar kecewa saat itu pada putranya. Andai ia tahu sudah pasti Indira akan ia ajak tinggal bersamanya.
"Sebaiknya anda pergi dari sini. Dan jangan pernah datang lagi ke sini!" Dengan terang-terangan Indira mengusir Arum. Rasa benci yang tertanam di dalam hati Indira sudah tertanam kuat. Apapun yang berhubungan dengan Dafi ia sangat benci.
Faza mendongak menatap kemarahan yang terbingkai di wajah sang bunda. Ia takut melihat kemarahan bundanya yang selalu bersikap lembut padanya.
"Mama mohon, Indira. Biarkan Mama untuk terus bertemu dengan cucu Mama."
Indira menggeleng tegas. Ia memilih membawa masuk putranya ke dalam rumah meskipun begitu Arum tak patah semangat membujuk Indira.
"Indira!" Arum mengetuk-ngetuk pintu yang kini ditutup rapat oleh Indira."Buka pintunya, Indira..."
"Kenapa nenek itu Bunda marahin?" celetuk Faza yang sebelumnya diam beberapa saat setelah melihat interaksi antara Indira dan Arum. Bocah laki-laki itu berpikir keras dengan apa yang terjadi.
Indira mengusap wajahnya kasar serta menghela napas panjang mengurasi gejolak dalam dada yang memanas.
Ia bersimpuh di hadapan sang putra yang menatap polos padanya. Kedua tangan Indira terulur menangkup wajah Faza.
"Di-dia orang asing, Sayang. Dan tidak seharusnya kita bicara dengan orang yang tidak kita kenal karna bisa saja itu orang jahat." Kali ini Indira harus mengatakan alasan bohong seperti itu pada putranya.
Sampai kapanpun ia tak ingin berhubungan orang-orang terdekat Dafi. Empat tahun hidup tanpa suami dan membesarkan anaknya seorang diri bukan hal yang mudah. Dan yang membuat ia takut kembali bertemu dengan Arum maupun Dafi, takut mereka merebut putranya.
"Bunda kenapa?" Faza menatap heran pada sang bunda yang melamun beberapa saat.
Wanita itu tersenyum seraya mengusap lembut pipi chubby putranya."Tidak apa-apa, Sayang. Ayo mandi dulu setelah itu baru makan ayam goreng!" ucap Indira yang kini menggiring putranya ke kamar mandi.
Suara panggilan dan ketukan pintu sudah tak terdengar lagi dari luar.
Arum menatap nanar pintu yang tak kunjung terbuka. Ia tahu, tidak mudah bagi Indira untuk memaafkan segala kesalahan yang putranya lakukan.
•
•
Arum mendengus ketika sudah menginjakkan kakinya di rumah ketika melihat Dafi tampak duduk santai di ruang tamu. Aroma asap tembakau begitu menyiksa indra penciumannya. Wanita paruh baya itu melangkah lebar lalu dengan kasar merebut batang rokok yang Dafi isap lalu membuangnya ke lantai.
"Ma..." Dafi tampak tak terima dengan apa yang orang tuanya lakukan.
"Apa?" Arum menatap tajam pada Dafi."Mama berusaha mendidik kamu jadi pria yang baik dan terdidik tapi malah jadi pria brengsek dan tidak bertanggungjawab!"
Dafi tampak heran melihat sang mama yang tiba-tiba datang dengan amarah yang meledak-ledak.
"Kamu terlalu bodoh Dafi sampai melepaskan Indira hanya untuk mengikuti keinginan Airin yang egois itu! Bahkan dia sudah membohongi kita semua selama 6 tahun!" Arum mengucapkan itu dengan napas menggebu-gebu.
Dafi terdiam. Rasa sesak dan pedih merambat dalam benaknya mengingat Indira. Ia memang membiarkan Indira pergi namun hatinya begitu mendamba istrinya tersebut untuk kembali. Namun, mengingat sikapnya tak tegas terhadap situasi yang ia alami empat tahun lalu selalu menciptakan penyesalan.