Kakek Abraham mempunyai cara licik untuk menjodohkan cucu ketiganya sekaligus cucu perempuan satu-satunya, Zemira Pieters.
Ia pura-pura mengajak Zemira taruhan. Taruhannya adalah jika Zemi bisa hidup tanpa fasilitas dari Kakek Abraham selama setahun, maka Kakek Abraham tidak akan lagi memaksa Zemi untuk menikah. Tapi jika Zemi tidak bisa, maka Zemi harus menikah dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Padahal tujuan sebenarnya Kakek Abraham membuat taruhan adalah untuk mendekatkan Zemi dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Tapi ternyata laki-laki yang ingin Kakek Abraham adalah laki-laki yang pernah menolak Zemi waktu SMA.
Akankah rencana Kakek Abraham berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zander Gercep
Kediaman Pieters
"Bagaimana menurut kalian, Kakek tidak salah pilih calon suami untuk Zemi kan?" tanya Tuan Abraham pada Zander dan Zayden.
"Cih, biasa saja. Wajahnya masih lebih tampan aku." jawab Zayden.
"Wajah mu tampan karena ketolong good rekening dan nama belakang Pieters! Coba kalau saldo rekening mu sama seperti karyawan biasa dan tidak memakai nama belakang Pieters, pasti tidak ada satupun wanita yang mau kau ajak menikah termasuk istrimu!" balas Tuan Abraham.
"Sedangkan Ravin, dia berhasil merintis karirnya dari nol dan tidak menggunakan nama orangtuanya. Itulah pria tampan yang sesungguhnya." kata Tuan Abraham lagi membela Ravin.
"Kalau kau Zander, bagaimana pendapat mu tentang Ravin?" tanya Tuan Abraham pada Zander yang sejak tadi hanya menyimak perdebatan Zayden dan Tuan Abraham.
"Aku menyukainya." jawab Zander singkat, jelas, padat.
"Tuh kau dengan Zay, Kakak mu saja suka!" ucap Tuan Abraham pada Zayden.
"Kalau begitu kenapa tadi Kakek tidak langsung menentukan tanggal pernikahan Zemi dan Ravin?" tanya Zayden.
"Jangan terlalu mencolok lah! Kita biarkan saja dulu mereka berpacaran dua atau tiga bulan lagi. Kalau Kakek langsung menentukan tanggal pernikahan, sudah pasti Zemi akan curiga pada Kakek." jawab Tuan Abraham.
"Biar saja, sekalipun ketahuan pun Zemi pasti tidak akan marah pada Kakek karena Zemi memang menyukai Ravin." balas Zayden.
"Justru karena Ravin adalah laki-laki yang Zemi sukai makanya Kakek membiarkan mereka menentukan sendiri kapan mereka mau menikah. Kalau lewat tiga bulan mereka tak kunjung menentukan pernikahan mereka, baru nanti Kakek paksa mereka." jawab Tuan Abraham.
"Kelamaan! Besok aku akan menemui Tuan Ryan dan membicarakan pernikahan Zemi dan Ravin." tiba-tiba saja Zander angkat bicara.
Tuan Abraham dan Zayden sontak terbengong-bengong mendengar kata-kata Zander. Tumben-tumbenan si kulkas sepuluh pintu begiti menggebu-gebu.
"Kak Zan gak lagi mabuk kan?" tanya Zander.
"Apa kamu melihat aku seperti orang mabuk?" tanya Zander balik.
Zayden menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau semangat sekali ingin menikahkan Zemi dan Ravin?" tanya Tuan Abraham.
"Bukannya Kakek bilang sangat ingin melihat Zemi menikah sebelum Nenek menjemput Kakek? Apa Kakek bisa pastikan Kakek masih ada bersama kami sebelum tiga bulan itu?" tanya Zander balik.
Mata Tuan Abraham membulat. Mau memarahi Zander tapi Tuan Abraham agak segan pada si kulkas sepuluh pintu itu.
Zander berdiri dari duduknya.
"Pokoknya sekarang Kakek tinggal terima beres, biar aku dan Zayden yang mengurusnya. Kakek tidak usah lagi memutar otak untuk mengerjai Ravin, lebih baik Kakek fokus mengisi TTS saja." ucap Zander.
"Aku pulang." pamit Zander.
"Kau mau ikut pulang atau tinggal disini?" tanya Zander pada Zayden.
"Aku ikut pulang." jawab Zayden lalu berdiri dari duduknya.
"Kalian berdua tidak mau menginap disini?" tanya Tuan Abraham.
"Lain kali saja Kek, nanti kami akan membawa istri dan anak kami." jawab Zander lalu berjalan menuju pintu ruang baca.
Tuan Abraham ikut berdiri dari duduknya.
"Hey menginaplah disini malam ini. Kakek janji tidak akan memaksa kalian berdua menemani Kakek menonton sinetron." Rengek Tuan Abraham sambil mengekori Zander dan Zayden.
"Maaf Kek, kami sudah tidak percaya lagi dengan janji Kakek yang satu itu." ucap Zayden.
Zayden dan Zander terus berjalan dengan langkah panjang mereka sampai Tuan Abraham tertinggal jauh.
Karena sudah tertinggal jauh, Tuan Abraham tak lagi mengejar Zander dan Zayden.
"Aku harus terima kenyataan kalau sekarang mereka sudah dewasa dan punya keluarga sendiri yang tak bisa mereka tinggalkan begitu saja. Seandainya waktu bisa di ulang, aku ingin mengulang ke masa-masa kecil mereka. Aku akan meluangkan waktu lebih banyak untuk kalian." lirih Tuan Abraham sambil menghela nafasnya kasar.
"Zulai, kamu sangat beruntung bisa menemani mereka sampai mereka tumbuh dewasa. Sedangkan aku, waktu ku lebih banyak untuk bekerja." lirih Tuan Abraham lagi.
💋💋💋
Bersambung...
😂😅
lucu bangat thoor
menarik sekali karya mu ini
aku sangat suka