"Matilah aku!" Bora segera menggetuk kepalanya dan berusaha ingin kabur karena tendangan mautnya baru saja berhasil bersarang pada kaca belakang mobil mewah yang baru saja melewati dirinya.
Penasaran dengan kisah cinta Bora si tomboi dan Auriga CEO Judes yang unyu-unyu sekaligus nyeselin?!
Buruan pantengin kisahnya di sini manteman...
With luv
Othsha ❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Othsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KCJ - 35
Terjadi kecanggungan di antara Auriga dan Bora yang tertangkap mata oleh Agnia. Agnia mencium ada sesuatu yang terjadi di antara Auriga dan Bora, dan ia merasa sangat penasaran akan hal itu.
"Syut, kalian berdua kenapa?" bisik Agnia saat ia sedang berdua dengan Bora di dapur. Bora hanya mengangkat bahu yang membuat Agnia berdecak kesal.
Auriga masuk ke dalam kamar lebih dahulu dibanding kedua gadis itu. Melihat hal itu, Agnia tidak membuang kesempatan untuk membujuk Bora agar menceritakan apa yang terjadi di antara dirinya dan tunangan kontraknya itu.
Akhirnya Bora pun mengalah, dan menceritakan semuanya kepada Agnia yang membuat Agnia histeris.
"Omooo..., omoooo, pipi lu diperawanin sama si Auriga dan lu nyosor pipinya dia. Astaganaga.... Ottoke! Beh, menang banyak lu, neng! Mau dong disosor juga!" ujar Agnia dengan bahasa campur-campur yang keluar dari mulut gadis itu dengan seenaknya.
"Noh, minta sor-sor sama tembok!" ujar Bora sembari menyibukkan dirinya dengan masakan yang sudah dijanjikannya untuk dibawa oleh Auriga ke Bali.
"Gimana pipinya si doi? Manis engga?" tanya Agnia yang terus memberondong Bora dengan banyak pertanyaan.
"Lu kira pipinya permen, manis! Sekate-kate lu!" balas Bora yang mengingatkan mereka pada sahabat baik mereka si Mamed, hingga membuat keduanya tertawa.
****
Keesokan harinya, Bora terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul tiga pagi.
Bora sengaja memasang alarm untuk membangunkan dirinya. Ia ingin menyiapkan makanan yang akan dibawa oleh Auriga di meja makan sehingga bisa terlihat oleh Auriga sebelum ia berangkat ke bandara.
Bora melangkah keluar kamar, menuju ke dapur. Ia menyibukkan diri untuk menyiapkan semua hasil masakan yang khusus ia buat untuk cinta sepihaknya itu.
"Itu untukku?" tanya seseorang yang membuat Bora terkejut.
"Pak, bisa engga kalo jalan agak berisik biar aku dengar. Tiap kali bapak terlalu tenang, jantung aku yang engga tenang, Pak!" gerutu Bora. Auriga sama sekali tak menggubris keluhan dari Bora, ia memilih mendekati Bora hanya untuk melihat makanan yang disiapkan oleh gadis itu.
"Bisa nyiapin aku sarapan, sebelum aku berangkat? Aku lagi pengen masakan rumahan!" jelas Auriga yang membuat Bora langsung mengiyakan permintaan dari lelaki itu.
Bora menemani Auriga sarapan. Ia hanya duduk manis sambil melihat wajah tenang lelaki itu saat sedang menyantap makanannya.
"Kamu kenyang cuma ngeliatin aku makan?" tanya Auriga tiba-tiba yang membuat Bora terkejut.
"Ohhh, saya engga biasa sarapan jam segini, Pak. Ehmm, bapak mau tambah? Masih ada tadi saya sisain!" tawar Bora yang ditolak oleh Auriga.
Tak lama Auriga kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Bora memilih menunggu Auriga di ruang tamu, ia ingin mengantar keberangkatan Auriga walau hanya sebatas pintu apartemen mereka.
"Kamu masih di sini? Kenapa engga tidur lagi?" tanya Auriga saat melihat Bora masih duduk manis di sofa.
"Gapapa, saya nunggu bapak berangkat. Lagian udah jam nanggung buat tidur. Bentar lagi juga siapan buat ke kantor," balas Bora sambil tersenyum.
"Hati-hati di jalan ya, Pak. Jangan sakit lagi, jaga kesehatan di sana. Jangan telat makan! Saya engga ada loh buat ngerawat bapak!" ujar Bora sembari bergurau yang membuat Auriga menatap Bora dengan pandangan aneh.
"Kalo saya sakit, apa kamu mau datang?" tanya Auriga secara tiba-tiba, yang membuat Bora terkejut. Ia ingin meminta Auriga mengulangi perkataannya untuk memastikan bahwa telinganya tak salah mendengar, tetapi Bora takut Auriga akan kembali menggunakan kata-kata pamungkasnya untuk membungkam mulut Bora.
Auriga seolah tak ingin menunggu jawaban dari Bora, karena ia segera bergegas membawa semua barang bawaannya dan berjalan menuju pintu. Bora mengikutinya untuk membukakan pintu.
"Aku pergi!" ujar Auriga yang membuat Bora mengangguk pelan. Ia tak sanggup menjawab perkataan Auriga karena saat itu, ia merasa sangat berat melepas kepergian tunangan kontraknya itu. Namun ia tahu, ia tak punya hak apapun untuk menahan kepergian Auriga.
"Ehmmm, bisakah memberi kabar kalo bapak udah sampai?" Bora memberanikan diri untuk bertanya karena ia takut Auriga akan mengulangi hal sama seperti sebelumnya.
Auriga mengangguk, yang membuat Bora tersenyum senang. Bora melambaikan tangannya saat Auriga memunggungi dirinya dam bergerak menuju ke lift.
Jaga dia untukku, Tuhan! Walau tak akan pernah ku miliki, tapi dia berharga bagiku! Bora berdoa dalam hatinya untuk keselamatan lelaki yang dicintainya itu.
Bora berbalik dan menutup pintunya. Ia menekan dadanya yang terasa nyeri. Ia tak menyangka mengantar kepergian Auriga malah membuat dirinya semakin sedih dan tak rela berpisah dengan lelaki itu.
Bora pun menyadari dia sudah jatuh cinta terlalu dalam kepada lelaki dingin itu. Tiba-tiba bel apartemen berbunyi yang membuat Bora terkejut. Ia bergegas ke arah pintu dan mengecek siapa yang datang.
"Pak, kenapa bapak balik lagi? Apa ada yang tinggal?" tanya Bora yang terlihat bingung dengan kehadiran Auriga.
Tanpa aba-aba Auriga mencium bibir Bora, yang membuat gadis itu terkejut dan mematung.
"Tunggu aku! Aku pasti ngasih kabar ke kamu, setiap hari!" ujar Auriga yang mengecup pelan dahi Bora. Lelaki itu menutup pintu dan berlalu dari hadapan Bora yang masih terguncang karena mendapat serangan manis dari Auriga.
Ia meraba bibir dan dahinya yang disentuh mesra oleh Auriga tadi.
"Tadi itu apa?" gumam Bora yang jatuh terduduk karena kakinya tiba-tiba terasa lemas. Ia tak menyangka Auriga mengambil ciuman pertamanya dan ia masih meraba maksud perlakuan dari Auriga tadi.
****
Bora sama sekali tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja karena ingatan tentang tindakan Auriga tadi memenuhi benak dan kepalanya. Tubuhnya tak bisa diajak bekerja sama hari itu, dan hal itu membuatnya kesal.
Tiap kali ia menyentuh bibir, dahi dan pipinya, ia kembali mengingat bagaimana Auriga mencuri ciuman darinya. Ia menggerutu pada dirinya sendiri karena kelakuan Auriga itu bisa membuat ia kehilangan kendali dirinya.
Ponsel Bora berbunyi, sebuah pesan singkat masuk.
Aku udah nyampe di vila dan bentar lagi berangkat ke proyek!
Pesan singkat dari Auriga itu membuat Bora tersenyum. Ia tak bisa menyembunyikan gurat kebahagiaan pada wajahnya karena Auriga menepati janjinya.
Jangan lupa makan siang, Pak. Hati-hati di jalan! Kalo bapak sakit, saya pasti datang!
Hati Bora berbunga-bunga karena hari ini ia seperti hidup dalam mimpi indah. Sejak kemarin Auriga bersikap sangat manis kepadanya, hingga harapannya terasa melambung.
Ia berdoa pada Tuhan agar tidak harus terbangun dari mimpi indah itu. Ia ingin menikmati waktu-waktu manis bersama Auriga tanpa batas ruang dan waktu.
Saat sedang menikmati lamunannya, tiba-tiba ponsel Bora berdering dan nama Agnia muncul di layar.
"Kenapa say?" ujar Bora dengan nada senang.
"Hadehh, gawat calon mertuamu udah berdiri di depan pintu apartemen ini!"
Deg!
****
mampir juga yaa di karyaku.....
terima kasih /Smile/
Othsha berterima kasih banget buat dukungannya. Semoga dimana pun kakak berada tetap sehat, bahagia dan sukses ya.
Mohon dukungannya untuk karya Othsha lainnya bila berkenan ya....
Sekali lagi mamaci banyak. Maaf juga engga bisa balas komennya satu per satu ya..🥰🥰🥰🥰
Apakah itu Auri,yng manggil Bora???
Pantas saja Auriga tidak menyukai Harjun,,,,,bnyk hal yng membuat bertanya2 ttng sepak terjang Harjun yng bisa bermusuhan dngn Auriga
Andai iya,,,untung cpt diajak pergi sblm semuanya bubrahh!!