Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 DESI
Princes dan Guntur keluar dari kamar mereka bersamaan, Princes mendelikan matanya ke arah Guntur namun Guntur terlihat cuek saja tidak memperdulikan Princes.
"Pagi, Kek!"
Princes mencium pipi Kakeknya dan duduk di samping Kakeknya.
"Pagi, sayang."
"Selamat pagi, Kakek."
"Pagi Guntur, ayo ikut sarapan bersama Kakek dan Princes."
"Iya, Kek."
"Mba Mimi, mana susu aku!" teriak Princes.
"Sebentar, Non."
"Mimi, biarkan Princes buat sendiri susunya!" tegas Kakek Rahul.
"Kakek, Princes gak bisa buat susu," rengek Princes.
"Belajar sana sama Mimi, jangan manja biar kamu bisa!" tegas Kakek Rahul.
Guntur tampak menahan tawanya dan itu membuat Princes semakin kesal.
"Apa kamu, senyum-senyum?" ketus Princes.
"Sudah gede juga masih minum susu, gak sekalian pakai dot," ledek Guntur.
"Hai, aku bukan minum susu untuk bayi ya, tapi aku minum susu buat kesehatan tubuh aku. Enak saja kalau ngomong!" sentak Princes.
"Sudah sana bikin sendiri," seru Guntur dengan menahan senyumannya.
"Kakek, lihat bodyguard sialan ini sangat menyebalkan," rengek Princes dengan kesalnya.
"Princes, gak boleh begitu," seru Kakek Rahul.
Akhirnya dengan menghentak-hentakan kakinya, Princes terpaksa membuat susu sendiri.
"Astaga, ini bagaimana cara buatnya? Berapa takarannya?" gumam Princes.
Princes tampak bingung, dia sama sekali tidak bisa membuat susu padahal bagi sebagian besar manusia, itu merupakan hal yang sangat mudah sekali dilakukan tapi berbeda dengan Princes yang sejak kecil dimanja, itu merupakan hal yang sangat menyusahkan.
Mimi terlihat tidak enak, tapi dia juga takut kepada Kakek Rahul.
"Mimi, sudah kamu lebih baik mengerjakan yang lain saja biarkan Princes melakukannya sendiri," seru Kakek Rahul.
"Baik, Tuan."
Mimi pun segera pergi untuk melakukan pekerjaan yang lainnya. Sementara itu, Princes masih tampak kebingungan apa yang harus dia lakukan.
Guntur yang melihat itu, akhirnya menghampiri Princes.
"Ambil dulu gelasnya, jangan bilang kamu tidak tahu mana yang namanya gelas," ledek Guntur.
"Apaan sih, aku juga tidak bodoh-bodoh amat," ketus Princes.
Princes lalu mengambil sebuah gelas dan menyimpannya dengan sangat kencang.
"Astagfirullah, jangan kencang-kencang nanti pecah!" sentak Guntur.
"Jangan bentak-bentak aku!" teriak Princes.
"Makanya kalau gak mau dibentak, lakukan yang benar!" suara Guntur semakin meninggi membuat Princes ketakutan.
Sementara itu Kakek Rahul hanya bisa melihat keduanya dengan senyum-senyum sendiri sembari terus menyantap sarapannya.
"Ayo tuangkan susunya ke dalam gelas!" tegas Guntur.
Princes menurut, dia menuangkan susunya tapi Guntur melihat ada yang menetes ke atas punggung tangannya dan ternyata Princes menangis. Guntur menghela napasnya, sungguh sangat menyusahkan mengajari Princes.
Guntur mengambil gelas itu. "Sini, aku buatkan susu untukmu tapi kamu harus perhatikan apa yang aku lakukan jadi nanti kamu bisa buat sendiri," seru Guntur dingin.
Guntur mulai membuatkan susu untuk Princes, Princes memperhatikan Guntur dengan wajah yang cemberut dan menyeka airmatanya.
"Nih, cepat minum jangan nangis lagi karena aku gak suka lihat gadis cengeng!" tegas Guntur.
Dengan cepat Princes meminum susunya, dan Guntur hanya bisa memperhatikan Princes. Setelah itu, mereka berdua kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapannya.
Setelah selesai sarapan, mereka langsung berangkat ke kampus. Selama dalam perjalanan, Princes sama sekali tidak bicara karena dia masih marah kepada Guntur.
"Kenapa diam? Sariawan?" tanya Guntur.
Lagi-lagi Princes hanya mendelikan matanya ke arah Guntur, dia malas menjawab pertanyaan Guntur. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di kampus.
Guntur dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Princes, dan hendak mengambil buku dan tas Princes tapi Princes dengan cepat mengambilnya dan pergi berjalan meninggalkan Guntur.
"Yaelah, dia ngambek ceritanya," batin Guntur.
Guntur mengikuti Princes dari belakang...
"Hai cantik!"
"Jangan halangi jalan aku, hari ini aku sedang tidak mood bicara dengan siapa pun," ketus Princes.
"Jangan judes-judes cantik, nanti kamu malah balik suka lagi sama aku," goda Hero dengan mencolek dagu Princes.
Guntur segera menghampiri Princes dan Hero. "Jangan sentuh dia sembarangan, dia bukan pajangan yang bisa kamu pegang dan colek seenaknya," seru Guntur dingin.
"Astaga, memangnya kenapa kalau aku pegang dia? Adakah sanksi untukku?" tanya Hero dengan senyumannya.
"Berani sekali lagi kamu sentuh dia, aku akan patahkan tanganmu."
Guntur segera menarik tangan Princes untuk pergi dari sana.
Princes menghempaskan tangan Guntur. "Kamu juga tidak boleh menyentuhku, aku tidak suka disentuh oleh siapa pun."
Princes dengan cepat masuk ke dalam kelas dan Guntur dengan setia menunggu Princes di belakang meja Princes.
Guntur memperhatikan Princes dengan seksama, dalam hatinya Guntur memuji Princes tapi dia berusaha untuk menyangkalnya.
Mau dilihat dari arah mana pun, tetap saja Princes terlihat sempurna. Bagi yang tidak mengenal Princes pasti mereka akan bilang sempurna padahal pada kenyataannya, hanya fisik saja yang sempurna dan Princes sama sekali bukan gadis yang diinginkan oleh Guntur.
Jam perkuliahan sudah selesai, satu persatu mahasiswa mulai keluar.
"Hai T-Rex duduk di sini," seru Princes.
"Apalagi? Kamu seenaknya saja panggil aku dengan nama yang aneh-aneh," kesal Guntur.
"Sudah duduk sini, kamu memang seperti T-Rex kerjaannya marah-marah Mulu."
Guntur mendengus kesal, dia pun akhirnya duduk di samping Princes. Princes memutar kursinya dan tanpa aba-aba menaikan kedua kakinya di atas paha Guntur membuat Guntur membelalakkan matanya.
"Apa-apaan ini?" sentak Guntur.
"Ini gara-gara kamu tadi pagi memaksaku untuk berolahraga dan sekarang kakiku semuanya pegal, jadi aku tidak mau tahu kamu harus memijat kedua kakiku," ketus Princes.
"Enak saja, memangnya kamu pikir aku ini tukang pijat apa?"
Guntur menurunkan kedua kaki Princes dan berdiri, Guntur sama sekali tidak mau disuruh memijat kaki gadis itu. Baru saja dua langkah, Hero menghampiri Princes.
"Apa kaki kamu pegal? Aku bisa kok memijat kaki kamu, pijitan aku enak loh," seru Hero.
Princes yang memang sudah merasa pegal-pegal, tidak perduli lagi dengan Hero yang penting kakinya bisa dipijit.
"Baiklah, aku minta kamu pijat kaki aku," seru Princes.
Guntur menghentikan langkahnya, dia kembali membalikan tubuhnya. Guntur tampak melotot saat Princes hendak menaikan kakinya ke paha Hero, dengan cepat Guntur menghampiri Princes dan menarik tangan Princes membuat Princes terkejut.
"Ayo pulang, nanti aku pijitin kamu di rumah," seru Guntur.
Tanpa menunggu lagi, Guntur menyeret tangan Princes membuat Princes semakin kesal.
"Lepaskan T-Rex, kamu kasar banget jadi orang!" bentak Princes.
Guntur menghentikan langkahnya, dia menatap tajam ke arah Princes.
"Kamu itu katanya tidak mau di sentuh sembarangan orang, tapi barusan malah minta dipijitin."
"Aku terpaksa karena kaki aku pegal," sahut Princes.
"Ya sudah, nanti aku pijitin kamu di rumah," kesal Guntur.
"Sana berbalik," seru Princes.
Guntur pun membalikan tubuhnya, tanpa diduga Princes melompat ke punggung Guntur membuat Guntur terkejut.
"Apaan sih? Turun!"
"Gak mau, dari sini ke parkiran lumayan jauh dan kaki aku sudah tidak kuat berjalan jadi kamu harus gendong aku sampai parkiran," seru Princes.
"Kamu tidak malu dilihatin semua orang?" kesal Guntur.
"Tidak, buruan jalan."
Akhirnya mau tidak mau Guntur pun menggendong Princes sampai parkiran. Selama berjalan, entah kenapa Guntur dan Princes malah diam lagi-lagi jantung keduanya mengalami masalah.
"Lagi-lagi jantungku tidak aman, kenapa ini?" batin Princes.