Edgardo Rafel Torres siswa tingkat akhir Senior High School, terpaksa menikahi Emilia Anette Putri. Wanita yang berprofesi sebagai guru di sekolahnya. Padahal dia sangat membenci guru tersebut, karena memiliki nama yang mirip dengan mantan kekasihnya.
Semua terjadi atas kesalahpahaman. Dari kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Dituduh menghamili Emilia, bahkan berencana melenyapkan Emilia dan bayinya oleh penduduk setempat.
Hingga suatu hari kehidupan keduanya berubah karena interaksi yang tercipta setiap harinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 Ditinggalkan Dewi Fortuna
Di sekolah
Emilia menghindari suami kecilnya. Kejadian pagi tadi cukup menyakiti perasaan, belum juga kering sayatan akibat pengusiran dari Tuan Torres. Emilia menelan pahitnya kenyataan. Gadis itu –Camilia, tinggal satu atap bersamanya.
Beruntunglah hari ini Emilia tidak mengajar kelas Edgardo, dia menghabiskan waktu di gedung B dan C, ditemani tawa siswa tingkat satu dan dua. Bahkan Emilia sengaja tidak ke ruang guru, sebab harus melewati selasar gedung A sebagai penghubung.
Emilia mengembuskan napas kasar, memegang pensil dan mengetuk-ngetuk ke atas meja. Memijat pelipisnya yang begitu pusing, padahal sudah makan dan minum vitamin, tetapi rasa sakit tak kunjung hilang.
Seakan harinya memang ditakdirkan sial, bahkan Dewi Fortuna melenggang pergi entah ke mana. Emilia mendapat panggilan dari kepala sekolah serta ketua program pendidikan. Segera ia keluar dari gedung B, berjalan cepat ketika kakinya melangkah di lorong gedung A.
“Emilia? Miss Emilia tunggu!” Ed berusaha mengejar, namun istrinya melesat cepat melewati beberapa pilar dan masuk ke pintu besar bertuliskan ‘Kepala Sekolah’.
“Permisi Pak? Ada yang bisa saya bantu?” Emilia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Hal besar di depannya tetapi tidak terlihat jelas.
“Ya tentu saja Emilia, silakan duduk.” Kepala Sekolah bersama Ketua Program Pendidikan serta Ketua Kesiswaan duduk di depan Emilia.
“Bu Emilia surat ini langsung diturunkan oleh Ketua Yayasan atas perintah pemilik sekolah. Ditandatangi Tuan Leonard Torres, artinya keputusan tidak bisa diganggu gugat.” Terang Ketua Kesiswaan sebagai juru bicara.
GLEK
Emilia menegang, menetralkan pikiran buruk yang hinggap di kepalanya. Berusaha mengukir senyum walau begitu berat. “Iya Pak”
Tangan gemetar Emilia membuka selembar surat dalam map tebal berlogo Yayasan Torres Inc. Mata coklatnya membaca kata per kata secara perlahan, hingga pada jajaran kalimat menyesakkan dada.
“Pindah?” tanya Emilia tidak kuasa mengutarakannya.
“Ya, sekolah itu masih berada dalam naungan Torres Inc. Bu Emilia bisa mengajar siswa dan siswi yang memiliki bakat dan minat terhadap kimia, membimbing mereka mengikuti olimpiade. Bu Emilia tidak perlu takut, karena akomodasi telah disediakan oleh Torres Inc.” Kepala bagian Kesiswaan menerangkan secara hati-hati.
“Ka-kapan saya harus ke sekolah itu Pak? Boleh minta waktu untuk berpamitan?”
“Paling lambat satu minggu, karena Tuan Leonard menginginkan Bu Emilia segera mengajar murid-murid berbakat di Kota Barcelona.”
Perasaan Emilia tidak menentu, kesedihan sudah jelas menghantam dirinya tanpa bersedia menunggu sang pemilik raga siap atau tidak.
Langkah kakinya gontai, lorong penghubung antara gedung A dan B terlihat sangat panjang seolah tak berujung. “Jangan sampai bertemu Edgardo. Dia tidak boleh mengetahui hal ini. Aku sudah cukup merusak hubungan antara ayah dan anak.”
“Kamu bilang apa?” suara remaja rupawan mendadak muncul tepat di balik punggung Emilia.
“Hah? Aku … apa yang kamu lakukan di sini, bel sudah bunyi. Kamu mau dihukum, poin kelulusan dikurangi?” tegas Emilia sebagai guru.
“Jangan, memangnya kamu mau suamimu ini tidak dewasa? Soal tadi pagi aku minta maaf mengambil keputusan tanpa diskusi.” Ed merotasi tubuh Emilia, keduanya saling berhadapan.
“Oh itu, bukan masalah. Lagipula penthouse milikmu bukan milikku. Lakukan saja apa yang seharusnya dilakukan.” Tukas Emilia melepas tangan Edgardo yang mendarat di pinggulnya.
“Sebaiknya kamu masuk kelas. Aku tidak mau terlambat mengajar. Permisi.” Telak Emilia mencoba bersikap acuh dan dingin seperti dahulu, tetapi saat ini jauh lebih sulit.
Sedangkan Edgardo menatap bingung, istrinya jauh berbeda enggan disentuh dan menghindari kontak mata. "Dia aneh. Marah karena Camilia? Maaf Emilia seharusnya aku bilang dulu.”
Hingga Fur Elise selesai mengalun, Edgardo setia menunggu istrinya di ujung tangga gedung B. Biasanya Emilia selalu melewati jalan ini. Tetapi sudah 10 menit berlalu, pemilik nama berakhiran ‘Putri’ tak kunjung datang.
Sebal menunggu, Ed terpaksa naik ke lantai dua dan tiga, jeritan histeris para gadis langsung menyambutnya, merusak gendang telinga.
Tidak mudah Ed menerobos barisan siswi junior itu. Setiap Kelas Kimia dibuka tetapi keberadaan Emilia tidak ditemukan.
“Di mana Emilia? Hari ini tidak ada jadwal tour.” Ed membuka jadwal pada website, ya benar seharusnya 10 menit yang lalu istrinya masih di gedung ini sekedar merapikan perlengkapan mengajar.
Edgardo memutuskan pulang ke penthouse, ia memiliki tanggung jawab lain. Menemani Camilia sebagai penebus kesalahan karena meninggalkan kekasihnya secara sepihak.
Sementara dari dalam pantry kecil, Emilia mengintip. Menanti suaminya pergi kemudian keluar dari ruangan. Pelan-pelan turun melalui tangga, waspada jika Edgardo masih di lingkungan sekolah.
Emilia merapikan semua barang-barang di meja guru, sudah diputuskan kurang dari satu minggu dirinya berangkat ke Barcelona.
Dibantu guru fisika dan matematika, mengemas barang dalam box. Terlebih dulu mengirim beberapa kotak barang ke rumah tinggal di sana.
‘Semoga kamu lebih sukses di sana’
‘Suami kamu ikut pindah juga?’
Emilia menggelengkan kepala, tersenyum masam mendengar kata ‘suami’. Baginya lebih baik mengikuti arus daripada melawan arus, malah membuat dirinya terluka lebih cepat.
Tepat sebelum matahari terbenam, Emilia menginjakkan kaki di penthouse, suara canda tawa dari dua orang menyambut kedatangannya.
Dari raut wajah tampak jelas Edgardo bahagia bersama Camilia, tapi sayang wanita itu sama seperti dirinya, harus menjauh dari kehidupan Ed.
Pada akhirnya baik Emilia atau Camilia tidak ada yang berdiri di sisi Edgardo. Perbedaan status menjulang tinggi, tidak bisa dikikis dengan mudah.
“Oh Emilia, kamu sudah pulang? Sudah makan?” tanya Camilia diiringi senyum tanpa dosa karena hadir diantara Emilia dan mantan kekasihnya.
“Oh ya aku sibuk membuat materi untuk besok. Terima kasih Camilia, tapi aku sudah makan. Permisi.” Emilia menolak tatapan dari suaminya.
“Emilia tunggu, Emilia?” Edgardo tidak diam saja, segera menyusul Emilia ke kamar utama.
“Kamu ke mana? Kenapa menghindar? Karena Camilia atau permintaan Daddy?” Ed menggenggam kedua tangan Emilia. Kemudian menggiringnya duduk di tepi ranjang.
“Kamu kan tahu sendiri kalau aku sibuk menjelang ujian kelulusan, banyak pekerjaan selain mengajar.” Terang Emilia, menatap lamat-lamat mata Edgardo. Menyentuh pipi dan hidung mancung yang pasti dirindukannya.
“Kamu aneh. Kenapa?” Ed mengulang pertanyaan, tidak mendapat jawaban memuaskan rasa penasaran.
“Aku lelah, boleh tidur. Sebaiknya kamu temani Camilia. Dia lebih membutuhkan kamu.” Emilia menahan kuat agar air matanya tidak tumpah.
Tok … tok
“Ed, kamu di dalam? Bisa keluar sebentar? Aku mau mengambil saus tapi susah.” Suara Camilia memerlukan pertolongan sekaligus mencari perhatian dari mantan kekasih.
Berat hati Edgardo keluar kamar, meninggalkan Emilia dalam perasaan kalut. Remaja itu tidak menyadari ketika Emilia melangkah memasuki kamar mandi sembari menahan mual. Memuntahkan isi perut tanpa menimbulkan suara, berhenti ketergantungan dari suami kecilnya.
TBC
dasar teloooo donat
tapi kali gak akan bisa em
salam dari aku yg galau
☺️☺️☺️
ta kemarin libut
up lagi
kelamaan nunggu pada tidur
si ed bocah malah merusak hidup
rasakan itu kau