Namaku Almira.
Akh, tidak!
Namaku Rosella.
Yah sebenarnya semuanya adakah namaku, hehehe.
Ini adalah kisah perjalanan hidupku sebagai seorang istri yang menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya dari suami dan keluarganya.
Ya, inilah kisahku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Libra Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
"Mita, aku memperingatkanmu sekali lagi. Sebaiknya mulai sekarang kamu menghilangkan semua keinginan atau pikiran buruk yang kamu rencanakan kepadaku, ingatlah kalau sekarang kamu adalah bawahanku dan kamu harus mendekati apa saja yang aku perintahkan ... Atau kamu akan menerima akibatnya apabila kamu berniat untuk memberontak," ucap Mira ketika mereka berada di dalam perjalanan untuk pulang ke rumah Arnold.
Mita sendiri tidak bisa menahan rasa penasaran yang ada di dalam dirinya ketika dia berada di dalam sebuah mobil mewah yang sedang mengantarkan dirinya dan Mira kembali, walaupun sesekali wanita itu juga mengepalkan kedua tangannya ketika dia mendengar perkataan Mira yang terdengar begitu menyebalkan di telinganya.
"Mbak, sebenarnya apa yang Mbak maksud itu. aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Mbak katakan."
Mira tertawa pelan saat mendengar perkataan Mita, kepalanya lalu menoleh menetap wanita yang berada di belakangnya seperti ini.
"Mita, aku tahu kamu bukan wanita bodoh yang tidak mengerti dengan maksud ucapanku. Bahkan tanpa aku jelaskan pun seharusnya kamu sudah mengerti, mulai sekarang hentikan semua impianmu untuk membalas apa yang aku lakukan untuk terhadapmu ... Kamu hanya harus mengingat kalau aku tidak akan melakukan semua ini jika kamu tidak mengganggu ketenanganku terlebih dahulu," ujar Mira dengan salah satu sudut bibir yang terangkat dan membentuk senyaman sinis.
'Apa maksud Mbak Mira mengatakan semua ini, dia tidak mungkin mengetahui niat dan rencana tersembunyi yang aku susun diam-diam, kan? Mbak Mira tidak mungkin mengetahui rencanaku yang ingin meminta bantuan mas Arnold akan aku bisa lepas dari situasi ini, kan?' batinnya dengan cemas.
Entah kenapa, saat ini Mita merasa dia tidak bisa menganggap remeh seorang Mira. Wanita itu bisa merasakan adanya sebuah ancaman yang terus dikeluarkan dalam setiap ucapan Mira kepadanya, hanya saja ancaman tersebut tidak terlalu kentara.
Mira benar-benar berhasil menyembunyikannya dengan sangat baik sehingga membuat orang-orang yang melihatnya akan berpikir kalau dia dan Mita sedang terlibat pembicaraan biasa.
"Mita, meskipun aku membawamu ke rumah kami. Tapi aku tidak sebodoh itu untuk melepaskan kamu begitu saja, aku akan terus mengawasimu dan aku pastikan kamu tidak akan bisa berbuat sesuatu tanpa aku ketahui ... Jadi sebaiknya mulai sekarang kamu bersikaplah patuh dan berhenti memikirkan cara untuk melawanku, atau sekedar untuk mencoba meminta perlindungan dari Arnold."
"Asal kamu tahu, laki-laki itu bukan tandinganku! Jika aku mau, bahkan aku bisa melenyapkannya saat ini juga." sambung Mira, sesaat setelahnya perempuan itu kembali tersenyum menyeringai.
Senyuman yang dalam sekejap membuat Mita menegang, seluruh tubuhnya entah kenapa mendadak terasa begitu kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali.
Dia tahu kalau apa yang dikatakan oleh Mira itu bukan hanya sekedar ancaman belaka, mau sekeras apapun dia berusaha untuk memberontak dan melawan perempuan itu. Tetap saja pada akhirnya Mita akan selalu kalah ketika berhadapan dengannya, Mira yang ada di hadapannya saat ini seakan adalah sosok Mira yang berbeda dengan Mira yang selalu diceritakan oleh Arnold kepadanya.
Mira yang begitu membosankan, tidak bisa mengerjakan apapun dengan benar, dan masih banyak lagi yang dikeluhkan oleh Arnold kepadanya tentang sosok istrinya itu. Tidak disangka kalau ternyata perempuan itu sungguh sangat jauh berbeda dari apa yang sering diucapkan oleh Arnold terhadap dirinya.
'Mungkinkah Mas Arnold menipuku hanya agar demi bisa membuat aku bersama dengannya seperti yang selalu dia inginkan? Tapi, rasanya sangat tidak mungkin kalau Mas Arnold sampai melakukan semua itu.'
Mita tampak diam dan merenung, memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi kepadanya. Ingatannya kembali tertuju pada saat Nicho memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya dengan cara menyayat sedikit lehernya, bahkan wanita itu masih bisa merasakan rasa nyeri yang diakibatkan bekas sayatan itu di lehernya yang kini tertutup plester.
Ya, Nicho dan Mira memang sengaja menggunakan chip dengan ukuran yang cukup kecil agar luka yang ada di badan Mita juga tidak terlalu besar dan hanya cukup dibalut dengan menggunakan plester saja.
Semua dilakukan juga agar Arnold tidak curiga ketika melihat luka di leher Mita, karena itulah mereka sudah membuat chip paling canggih yang bisa dimasukkan ke dalam tubuh tanpa harus melalui metode yang lama.
'Apa benda ini benar-benar tidak membahayakan tubuhku?' gumam Mita sambil menyentuh plester penutup luka di lehernya.
Namun, rupanya perbuatan itu dilihat dan diketahui oleh Mira hingga membuat perempuan itu berkata,
"Tenang saja, aku bisa memastikan benda itu tidak akan melukaimu selama kamu mampu setia kepadaku dan menuruti apa saja yang aku katakan ... Selama kamu mendengar perintahku dan tidak membantahnya, selama itu pula aku bisa memastikan kamu aman!"
"Tapi, kalau kamu berniat sedikit saja untuk mengkhianatiku dan malah berbalik untuk menyerangku secara diam-diam, maka aku akan pastikan kamu merasakan siksaan yang sangat besar saat itu juga ... Bahkan, sebelum kamu bisa melakukan sesuatu untuk meminta tolong, aku bisa membuatmu terbunuh pada saat itu juga, Mita! Jadi, jangan bermain-main denganku."
Degh!
Detak jantung Mita berdebar dengan begitu kencang, seperti baru saja menjalani lari maraton berkilo-kilo meter, mendadak Mita merasa nafasnya terasa begitu sesak hingga membuatnya tidak bisa leluasa menghela nafas dengan lega.
Ucapan yang keluar dari mulut Mira benar-benar seperti sebuah ancaman yang nyata yang tidak bisa dia patahkan, dan kini, Mita benar-benar mengerti kalau dia sudah salah memilih seseorang untuk dia usik hidupnya dan dia rusak rumah tangganya.
Mita tidak pernah membayangkan kalau dia akan berada di dalam posisi seperti itu, terjebak diantara sebuah hubungan pernikahan seorang pria dan wanita, yang dimana si wanita ini adalah sosok yang sangat misterius, bahkan menyimpan sebuah rahasia besar tanpa di ketahui siapapun.
Dan sialnya, rahasia itu adalah sebuah rahasia yang sangat mengejutkan dan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Mbak Mira, sebenarnya apa yang Mbak inginkan dengan membawaku kembali kepada Mas Arnold? Bukankah aku sudah memutuskan untuk pergi dan menyerahkan Mas Arnold sepenuhnya kepada Mbak lagi, seharusnya Mbak merasa senang karena Mas Arnold sudah tidak memiliki hubungan denganku lagi ... Ya, walaupun hubungan kami yang akan tercipta setelah ini hanyalah sebatas majikan dan pembantu. Tapi, setelah kami terus bersama. Bukan tidak mungkin kalau Mas Arnold justru akan kembali tertarik kepadaku," tanya Mita dengan begitu hati-hati, khawatir ucapannya menyinggung Mira untuk yang kesekian kalinya.
"Lalu, apa kau pikir aku sudi untuk memaafkan dan kembali bersama dengan laki-laki brengsek yang sudah mengkhianatiku? Apa kau pikir aku sudi menghabiskan waktuku untuk merawat anak haram kalian berdua itu?"
"Asal kau tahu, bahkan keluarganya saja tidak pernah menganggap aku ini sebagai menantu, mereka selalu menganggap aku sebagai pembantu dan melakukan segalanya sesuka hati mereka ... Aku bertahan kerena berharap Arnold akan berubah, aku berharap dia akan benar-benar menyayangiku dan mencintaiku suatu saat nanti, aku berharap suatu hari nanti dia akan membelaku di depan ibu dan adik sialannya itu! Tapi, apa yang aku dapatkan?"
"Aku hanya mendapatkan pengkhianatan yang menyedihkan seperti ini, Mita! Aku sengaja membawamu sebagai pembantu rumah tangga karena kamu adalah wanita yang sudah membuat Arnold mengkhianatiku hingga melahirkan seorang anak untuknya, dan aku yakin kalau dia juga sangat mencintaimu. Aku ingin menggunakan kamu sebagai alat untuk menghancurkan Arnold, aku ingin dia hancur sehancur-hancurnya sebelum aku benar-benar membuangnya!"
"Aku ingin dia merasakan rasa sakit yang sama, bahkan lebih sakit daripada apa yang aku rasakan. Dan, kau! Kau adalah senjata yang paling tajam untuk menghancurkannya, wanita yang dicintainya, bukankah rasa sakit itu akan semakin terasa menyakitkan jika orang yang memberinya adalah orang yang paling dicintai?"
lanjut ...ya thor
masa gak ada greget nya Mira..,cuman ngomong trus ..
semangat lah up nya Thor 🥰
lelaki mokondo Arnold buang aja ke laut Thor 😅😅
lanjut thor ...lg seru2nya
nggak tau apa penyebab nya