Berawal dari menyelamatkan pria tampan yang tidak sadarkan diri di depan rumahnya, Adifa malah terjerat dalam hubungan pernikahan dengan pria nakal karena sebuah kesalahpahaman warga kampung terhadapnya.
Ia dan pria asing itu terikat dalam ikatan suci. Namun, Adifa tidak menyangka jika pria yang menjadi suaminya adalah seorang pria nakal yang suka bermain wanita.
"Dasar pria nakal!" ~Adifa Rahma
"Aku menyukai setiap lekuk tubuh wanita yang indah!" ~Raja Shaga
Bagaimana kisah selanjutnya? Mampukah Adifa menjalani pernikahannya dengan seorang pria nakal yang suka main wanita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan sang Mantan
Di tempat lain, Adifa tengah asyik berbenah, dengan cekatan perempuan betubuh ramping itu merapikan kamarnya.
"Sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh, sakitnya tuh di sini kau menduakan aku. Sakit, sakit ... sakitnya tuh di sini." Adifa menjadikan sapu yang dipegangnya sebagai mikrofon, ia bergerak layaknya penyanyi citacitata.
Berberes sambil bernyanyi membuat pekerjaan terasa jadi lebih menyenangkan. Terlihat dari wajah Adifa yang memancarkan kebahagiaan pagi hari ini. Dirinya terlihat asyik meliuk-liukkan badan sembari memegangi gagang sapu.
Adifa berkacak pinggang seraya menganggukkan kepala perlahan. "Kamar sudah beres—"
Drt! Drt!
Tiba-tiba musik yang menyala di smartphone-nya berganti dengan deringan, Adifa mengernyit heran. Ia menggapai smartphone-nya yang berada di atas nakas.
"Mas Ganteng?" ucap Adifa membaca contact person yang tertera di layar pipih smartphone-nya.
Adifa menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia tidak pernah menyimpan nomor seseorang dengan nama 'mas ganteng', tapi kenapa di ponselnya ada nama tersebut? Pikir gadis itu.
"Astaga! Ini sih mas Raja! Siapa lagi coba yang narsis selain dia, ck-ck-ck." Adifa berdecak.
Ia membuka pesan yang dikirimkan oleh Raja, mata Adifa membaca deretan pesan dari suaminya dengan mata yang sesekali menyipit.
'Dek, hari ini Mas pulang larut malam. Kalau ada apa-apa hubungi, Mas ya.'
'Oh iya, Dek. Jangan rindu sama Mas loh, rindu itu berat ... biar Mas aja,'
Rasa penasaran Adifa muncul begitu saja, jarinya ingin sekali mengetikkan pesan dengan pertanyaan kemana pria itu pergi sehingga harus pulang larut malam. Tapi rasa gengsi Adifa begitu besar untuk bertanya pada suaminya. Jadilah ia hanya membalas dengan jawaban yang singkat.
'Oke, Mas.'
Adifa meletakkan kembali smartphone-nya ke atas nakas. Pikiran Adifa masih berputar pada rasa penasaran.
"Mas Raja kan lagi kerja, mungkin bengkelnya buka lebih lama dari pada sebelumnya," ucap Adifa bermonolog, ia berusaha menepis rasa ingin tahunya.
***
Di ruangan yang sepi, Raja tengah duduk termenung di kursi kebesarannya dengan memijit kening yang terasa berdenyut nyeri. Bukan karena migren atau sakit kepala. Melainkan kedatangan Maylisa yang membuatnya pusing.
Ingatan Raja berputar sesaat sebelum mantan kekasihnya itu pulang. Maylisa meminta agar dirinya kembali menjalin kasih seperti dulu. Sadar akan statusnya yang sudah menjadi suami Adifa, membuat Raja menolak permohonan itu dengan tegas.
Raja berusaha memberi pengertian kepada mantan kekasihnya yang menyodorkan diri. Bahkan, Maylisa tanpa pikir panjang mengatakan rela menjadi yang kedua demi untuk bisa kembali menjalin kasih dengan Raja.
"Hah! Kenapa mommy tega melakukan itu!" geram Raja.
Mommy nya selalu saja mencampuri urusan asmaranya, bahkan mommy Utami tidak menerima Adifa sebagai menantu keluarga Salim.
Raja tidak habis pikir dengan sang mommy yang selalu memandang seseorang dari status sosialnya.
Cting!
Pria yang sedang pusing itu mengalihkan pandangannya pada benda pipih berteknologi canggih yang berada di hadapannya, lebih tepatnya berada di atas meja.
"Lisa? S h i t! Wanita ini benar-benar keras kepala dari dulu," kata Raja mengumpat.
'Aku akan terus mengejarmu, Ja. I love yo so much.'
"Hargh!!!" teriak Raja prustasi. Ia mengacak rambut hitam legamnya begitu selesai membaca pesan dari sang mantan kekasih.
Raja memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada istrinya tentang kepulangannya yang sedikit terlambat. Dirinya benar-benar butuh ketenangan untuk berpikir.
Waktu terus berputar, tak terasa malam pun tiba. Adifa yang berada di kamarnya bergerak gelisah merasakan perut yang terasa nyeri.
"Aduh, ini kenapa sih perut? Perasaan tadi baik-baik aja. Huh! Apa karena kebanyakan makan es krim ya?" Adifa meringkuk di atas ranjang sembari memegangi perutnya yang terasa nyeri.
Adifa menyesali keputusannya saat membeli banyak es krim di super market yang berada tak jauh dari apartemen. Ia begitu kalap saat menyantap es krim dengan ditemani film kartun kesukaannya yaitu si larva kuning dan merah. Kini, gadis itu merasakan akibat dari keberingasannya dalam menyantap es krim tadi siang.
Sementara di tempat lain, Raja tengah menyibukkan diri dengan mengerjakan kendaraan kostumer secara langsung. Para pekerjanya sudah pulang, hanya ada dirinya dan juga kedua sahabatnya. Haris dan Rian.
"Ja, apa istrimu gak nyariin? Udah jam 10 malam nih," tanya Haris seraya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Raja yang tengah mengecek mesin pada kendaraan roda dua yang memiliki harga cukup mahal itu tidak menyadari jika Haris bertanya padanya.
Haris mendengus saat Raja tidak menjawab pertanyaannya. "Hadeh, woi! Gak dicariin binik di rumah apa?" tanya Haris dengan berteriak.
"Santai aja tanyanya, jangan ngegas," balas Raja sengit.
"Lagian udah jam segini masih aja nangkring di sini. Biasanya kau paling malas berkerja sampai lembur. Ya ... kecuali lembur bermain wanita," kata Haris menyindir.
"S i a l a n kau! Aku ini sudah bertobat," ucap Raja.
Raja menyudahi pekerjaannya, pria itu beralih fokus pada Haris yang memancing kekesalannya.
"Tobat? Waw! Luar biasa, aku tidak percaya." Haris memasang wajah mengejek.
Bugh!
"Rasakan!" balas Raja dengan menyikut perut sahabatnya.
Haris meringis kesakitan, hal ini sering terjadi di antara mereka. Entah itu Haris atau pun Rian.
***
Rasa penat membuat Raja tidak begitu semangat ketika berjalan menuju unit-nya. Saat tiba di depan pintu apartemen, pria itu segera menempelkan kartus akses, lalu melenggang masuk untuk berjumpa dengan istrinya.
"Dek," panggil Raja tidak menemukan Adifa.
"Mungkin sudah tidur di kamar," ucap pria itu, mengingat kini jarum jam sudah menunjukkan angka 11.
Raja melangkahkan kakinya menuju kamar, dengan perlahan pria itu membuka pintu kamarnya lalu terlihatlah Adifa yang tertidur meringkuk seperti udang.
Jari telunjuk Raja menyingkirkan rambut panjang Adifa yang menutupi wajah cantik gadis itu.
"Aku tetap akan memilihmu." Raja berjongkok di tepi ranjang sembari memperhatikan wajah damai Adifa yang tengah tertidur.
Raja merasakan getaran pada ponsel yang ia letakkan di saku jaketnya. Mata Raja memejam kuat saat lagi-lagi Maylisa mengirimkan pesan.
Dengan malas pria itu membuka pesan yang dikirimkan oleh sang mantan kekasih, mata Raja mendelik saat melihat foto yang dikirim oleh Maylisa.
Raja langsung menghapus foto yang baru saja dikirim oleh Maylisa. Wanita yang sedang gelap mata itu terus menggoda Raja dengan banyak cara.
Seperti saat ini, Maylisa mengirimkan foto s e x y nya dengan gaya yang nakal. Baju tanpa lengan yang diturunkan hingga memamerkan belahan dada besar wanita itu yang membuat mata pria jadi bersinar. Untung saja Raja sudah bertekad untuk berubah demi istrinya.
Di toko minuman Jack, Maylisa tengah menggenggam ponselnya dengan erat, wanita berambut pirang itu melampiaskan amarahnya karena Raja hanya me-read foto yang ia kirim tanpa membalas pesan darinya.
"Apa dia tidak tergoda dengan d a d a ku yang padat berisi?"
`
`
`
Bersambung ....
Jangan lupa angkat jempolnya ya zeyeng 😍😍😍😘