Hawwa Ananda Putri Abizar (Hawwa) Gadis yang baru duduk di Kelas 12 memaksa menikahi Sepupu nya, Juliandra Adam Elvano.(Adam) CEO perusahaan minyak terbesar di negara nya, Meski mendapatkan banyak pertentangan, dengan segala cara akhirnya Adam menyetujui untuk menikahi nya namun hanya sebatas Istri sirri nya saja, karena ada Cinta yang lain di hati Adam.
"Aku selalu berharap bisa menjadi bunga dalam genggaman mu, yang bisa kau petik lalu kau sunting, meski aku sadari ada bunga yang lain dalam dekapanmu, walau aku tahu suatu saat aku akan tercampakkan begitu saja seperti cermin retak yang tak berharga," Hawwa.
"Hadirmu selalu ku hindari, Cintamu tak pernah ingin kumiliki, namun kepergianmu membuatku menyadari Ada ikrar suci yang tak bisa aku ingkari," Adam.
"Ya Allah, jika dia benar-benar untuk ku, dekatkan hatinya dengan hatiku, jika dia bukan milikku damai kan aku dengan ketentuanmu," Hawwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chacha shyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35.Ke pesta
Dengan sendu Hawwa masuk ke dalam mobil tanpa ingin menjawab pertanyaan dari Daniel. Lelaki itu pun hanya bisa diam saat menyadari jika Hawwa, tak ingin di ajak bicara.
30 menit akhirnya mereka pun tiba di depan rumah milik Hawwa, tanpa banyak bicara gadis itu pun segera turun membuat Daniel menatap heran.
"Hawwa kau kenap__?" baru saja Daniel ingin membuka mulut untuk bicara tiba-tiba saja ia di kejutkan oleh suara pintu mobil yang di tutup dengan kencang oleh Hawwa.
"Hawwa tung_,gu!" Daniel menggantungkan kalimatnya.
"Maaf, Anda siapa? Oh... ya! aku baru ingat kau kan lelaki itu?" jeda seorang gadis yang seumuran Hawwa, membuat Daniel seketika terpaku saat gadis di yang kini berdiri tepat di depannya, seraya menatap dengan tatapan yang tak suka, dan membuat kalimatnya kembali tersendat.
"Sebaiknya kau segera pergi dari tempat ini sebelum kakakku itu menghajarmu, karena telah membawa kabur istrinya!" tuding gadis itu membuat Daniel kembali terperangah sembari mengerutkan alisnya dengan bingung, ketika mendengar kata-kata tuduhan yang di lontarkan gadis di depannya tersebut.
"Hei...kau_!" belum juga Daniel selesai berucap gadis itu pun segera beranjak pergi meninggalkan Daniel dengan rasa kesal yang menyelimuti.
Daniel yang masih bingung akhirnya memilih segera masuk kedalam mobil saat punggung Alaya hilang dari pandangan matanya ia pun lekas melajukan kendaraannya dengan kencang.
Sementara itu Hawwa dengan malas masuk kedalam bilik, lalu segera mungkin merebahkan tubuhnya, sungguh hari ini hari yang sangat tidak menyenangkan baginya.
Bagaimana tidak ia sudah memesan baju khusus untuk pesta nanti malam, namun sialnya baju itu sudah di bayar bahkan harga yang di bayarkan orang itu dua kali lipat.
Tok... tok... tok...
"Apakah aku boleh masuk?" cicit seseorang dibalik pintu kamar yang tak lain adalah Alaya.
"Al... kau? sejak kapan kau kemari?" cecar Hawwa segera bangkit dari tidurnya, meski ia masih merasa malas.
"Kak... ayo ikut aku... !" ajaknya menarik Hawwa keluar dari kamar.
"Kau mau membawa ku kemana Al...?" pekik Hawwa sembari mengekor dari belakang meskipun ia merasa terpaksa.
"Al... aku capek Aku mau istirahat, please...!" ucap gadis itu begitu bokongnya mendarat sempurna di dalam mobil.
"Kakak boleh istirahat di rumah, apa kakak lupa jika malam ini ada pesta penyambutan Oma yang sudah mulai membaik." Tutur Alaya.
"Kakak tidak lupa, bahkan kakak sudah menyiapkan semuanya tapi...." Hawwa tak mampu melanjutkan Kata-katanya saat mengingat kembali kejadian di butik tadi.
"Sebaiknya kakak tidak usah banyak berfikir, semuanya sudah siap, sekarang tinggal kakak kerumah dan kita akan bersenang-senang di pesta nanti, soalnya akan banyak makanan enak kak." Kelakar Alaya bersemangat sambil melajukan mobilnya perlahan.
Hawwa sendiri memilih diam seribu bahasa sebab sudah tak ada gunanya juga ia menjelaskan kejadian di butik hari ini pada Alaya.
Hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit akhirnya mereka pun tiba di kediaman utama.
"Assalamu'alaikum Bunda..." cicit keduanya saat melihat sang bunda sibuk mengatur segala persiapan.
"Wa'alaikumussalam... sayang... akhirnya kalian sudah tiba, ayo kalian mandi dulu, Al, kamu urus semua kebutuhan kakakmu!" perintah Yumna yang di angguki Alaya.
Hawwa sendiri tak ada penolakan, meski perasaan nya masih sedikit sedih, toh ia sudah pasrah dan sedikit mengikhlaskan semuanya.
"Ayo kak... kemarilah! kakak akan segera di dandani oleh MUA..." seru Alaya kembali menuntun Hawwa yang kini terlihat binggung karena kenapa ia harus di dandani oleh MUA.
"Al, tunggu...! ap-apa maksud semua ini?" tanya Hawwa pada akhirnya, saat bokongnya kembali mendarat sempurna di kursi rias.
"Kak Hawwa duduk dengan tenang saja, biarkan mereka yang bekerja" ujar Alaya menahan pundak Hawwa yang hendak bangkit untuk berdiri.
Mau tidak mau akhirnya Hawwa hanya bisa menurut tanpa ada penolakan sedikit pun.
"Sudah selesai Nona." Ujar seorang penata rias, yang baru saja selesai dengan tugas-tugasnya.
"Masya Alloh... kakak seperti bidadari, cantik dan anggun." Puji Alaya begitu melihat pantulan wajah cantik Hawwa di depan cermin.
"Iya bidadari yang terabaikan." Sahut Hawwa dengan sedikit kesal.
"Apa tidak terlalu berlebihan kau mendandaniku seperti ini?" lanjutnya memprotes, karena ia tak terbiasa dengan semuanya.
"Ya Allah kak, apanya yang berlebihan, kakak kan memang harus tampil cantik, bahkan paling cantik di antara semua tamu wanita yang akan hadir," jelas Alaya yang memang sangat mengagumi kecantikan Hawwa yang begitu sempurna tanpa cela.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuat keduanya saling menatap lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Maaf Nona Anda berdua diminta untuk segera ketempat acara, karena acara akan segera di mulai!" tutur seorang pelayan yang baru saja tiba.
"Baiklah kami akan segera kesana" timpal Alaya sambil membenahi dandanannya.
"Ayo kakak kita keluar...!" ajak Alaya yang hanya bisa di angguki oleh Hawwa.
"Tunggu...!" Hawwa kembali menahan langkah Alaya hingga membuat gadis itu kembali menoleh ke arah gadis itu.
Hawwa terlihat menarik-narik gaun yang kini tengah ia gunakan bahkan tangannya sesekali meremas nya.
"Kakak, kau kenapa?" selidik Alaya.
"Boleh tidak kakak ganti baju, jangan yang ini,?" pintanya dengan wajah memohon.
"No... Kakak tidak boleh ganti baju, kita sudah telat, apa Kakak tahu gaun ini khusus di pesan oleh Kak_"
"Alaya...! Hawwa...! kenapa kalian masih disini?" seru seseorang membuat keduanya terkejut bahkan Alaya tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Bunda....!" sahut keduanya secara bersamaan.
keduanya pun segera mengikuti langkah Yumna setelah sempat saling melemparkan tatapan.
"Masya Alloh Cucuku, kalian begitu cantik malam ini!" seru sang oma begitu Hawwa dan Alaya mendekat.
"Assalamu'alaikum Oma." cicit keduanya secara bersamaan, sang oma pun membalas sambil memeluk, kedua cucunya secara bergilir.
"Assalamu'alaikum... Oma, Bunda," cicit seseorang yang tak asing lagi, semuanya menoleh ke arah sumber suara lalu bersama menjawab salam.
"Adam lihatlah istrimu nampak begitu cantik dan mempesona, kau bawalah istrimu kesana! perkenalkan dengan kolega bisnismu," perintah sang oma.
"Benar apa yang di katakan Oma," sahut sang Bunda membenarkan, sementara mata Hawwa tertuju pada seorang wanita yang membuatnya begitu geram.
"Tapi Bun... Oma... Adam_"
"Kak Adam boleh kita bicara sebentar?" tanya Hawwa menatap tajam. Adam melirik Hawwa lalu segera menganguk, keduanya pun meminta izin, dengan cepat Hawwa menarik pergelangan tangan lelaki yang kini tengah membuatnya kesal dan dongkol.
"Lihatlah kelakuan kedua anak itu, semoga mereka selalu bahagia," doa Oma menyangka jika kedua cucunya sedang baik-baik saja.
Drt... drt... drt...
"Tunggu! aku mau mengangkat telpon dulu" Adam menjauh dari tempat Hawwa yang kini tengah menatap kepergiannya.
ada setangkai mawar utk mu