Abian Dirgantara, pria yang diselingkuhi sang istri karena alasan dirinya yang miskin.
Abian hancur dan terpuruk saat wanita yang dicintainya lebih memilih pria lain dan pergi meninggalkan luka yang teramat dalam.
Setelah beberapa tahun kemudian, Abian kembali dengan membawa seluruh luka dan dendam pada mantan istrinya. Ia menemukan celah untuk membalaskan dendamnya melalui putri mantan istrinya yang masih belia.
Lantas, apakah Abian akan berhasil membalaskan dendamnya kepada sang mantan istri? Atau ia justru akan terjebak dengan permainannya sendiri dan malah terjerumus dalam pesona anak mantan istrinya?
******
Ini Novel kolaborasi dari penulis Virzha dan Author Ayuza ya guys ...
Jangan lupa like, komen, vote dan subscribe ya guys !!!!
Semoga suka!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan Lagi.
Tiga menit Abian menunggu apakah wanita yang sedang mengandung darah dagingnya saat ini akan bangun dengan sendirinya atau malah sebaliknya memerlukan bantuan medis.
Hingga sampai menit kelima, Ghea tidak kunjung membuka mata, dan detak jantung wanita itu juga mulai melemah. Membuat Abian merasa kesal karena laki-laki itu tidak jadi melanjutkan misi penyiksaan yang selanjutnya pada Ghea. Padahal Abian sudah menyiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari.
"Shitttt! Kau membuatku harus mengeluarkan uang lagi untuk memanggil seorang dokter. Dalam keadaan begini saja kau sudah membuatku susah. Benar-benar wanita yang sangat menyebalkan," gerutu Abian sambil terlihat menghubungi Nathan.
Memanggil ....
Lalu terlihat tulisannya berubah menjadi.
Berdering ....
"Halo, apa ada yang bisa saya bantu Tuan Abian Dirgantara?" tanya Nathan ketika dokter itu baru saja mengangkat panggilan Abian.
"Basa basi macam apa ini, Nathan?" Abian yang mendengar Nathan memanggilnya seperti itu merasa tidak suka. Karena secara Nathan adalah teman baiknya, meskipun usia dokter itu terpaut lebih muda daripada duda karatan itu. Membuat Abian tidak suka jika teman baiknya malah memanggilnya tuan seperti itu. Karena sejujurnya Abian lebih suka dipanggil namanya langsung oleh Nathan, tanpa ada embel-embel tuan di depannya.
"Hahaha, sorry Bi, jangan malah langsung marah-marah," ucap dokter itu tertawa renyah dari seberang telepon.
"Sudahlah, kau lebih baik cepat datang ke sini, aku sangat butuh bantuanmu untuk saat ini." Abian mengatakan itu sambil membuka baju Ghea, karena laki-laki itu saat itu ingin mengganti pakaian wanita yang malang itu. Sebab baju Ghea sudah benar-benar basah gara-gara perbuatan si pemilik black mamba itu sendiri.
"Bantuan apa, Bi?" tanya Nathan yang penasaran karena tidak seperti biasanya Abian malah memintanya untuk datang.
Selama ini jika laki-laki itu sakit maka Abian sendiri yang akan datang langsung ke rumah Nathan ataupun ke rumah sakit tempat dokter itu menghabiskan hari-harinya. Sebab bagi Nathan tidak ada hari yang indah selain bekerja mencari cuan, demi masa depan yang terang benderang bukan malah gelap gulita seperti warna si black mamba.
"Kau datang saja, jangan banyak tanya Nathan!" geram Abian yang tidak suka Nathan bertanya-tanya kepada dirinya dalam situasi seperti saat ini. "Apa kau mendengar ku, Nathan?"
"Iya, Bi, aku mendengarmu. Kalau begitu aku akan segera berangkat ke rumah utama, kau tunggu saja aku disana." Nathan rupanya malah mengira kalau Abian menyuruhnya untuk datang ke rumah utama. Sebab yang dokter itu tahu hanya rumah utama lah tempat tinggal Abian saat ini.
"Aku akan berangkat, Bi, dan kau boleh memutuskan sambungan telepon ini," kata Nathan, seorang dokter yang malah suka memanggil nama Abian dengan sebutan Bi. Karena bagi dokter itu kalau nama Bi adalah nama akrabnya saat memanggil Abian. Sebab Nathan sudah menganggap Abian sebagai teman sekaligus kakak laki-lakinya. Saking akrab dan dekatnya Nathan dengan seorang Abian.
"Aku sudah kirim alamat rumahku yang baru, dan kau jangan sampai ke rumah utama karena aku tidak ada di sana."
Nathan di seberang sana langsung saja diam, karena alamat yang dikirimkan oleh Abian sama persis dengan alamat yang kemarin dikirim oleh Boy.
"Kenapa alamat ini sama persis dengan rumah punyanya Bo–" Kalimat Nathan menggantung karena Abian sudah memutuskan panggilan itu terlebih dahulu secara sepihak.
Dan tidak berselang lama Abian malah langsung saja mengirim pesan singkat pada Nathan, setelah tadi laki-laki itu tadi menekan tombol merah tanpa permisi.
Bi : "Datanglah, jangan sampai terlambat. Aku tunggu, jangan lupa bawa alat medis-mu, Nathan."
Isi pesan singkat itu berhasil membuat kening Nathan berkerut. Sambil berkata, "Dia memang sangat suka membuat orang penasaran." Nathan lalu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebelum dokter itu terlihat berkemas dan akan berangkat ke rumah Abian atau lebih tepatnya bekas rumah Sukma dan Regan.
*****
Butuh waktu 25 menit sampai akhirnya Nathan sampai juga di rumah itu, karena kebetulan rumah sakit tempatnya bekerja tidak terlalu jauh dari rumah Abian sehingga membuat dokter itu cepat sampai di kediaman laki-laki iblis berwujud manusia itu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Abian saat melihat Nathan baru saja datang.
"Rumah sakit ada di blok A persimpangan jalan menuju jalan janji-janji manis sang mantan, bukan ada di sebelah rumah ini. Sehingga tidak akan ada alasan yang membuatku terlambat," jawab Nathan sambil menatap temannya itu dengan mata yang menyipit.
"Sekarang, sini duduk biar aku periksa, aku pikir kau sakit parah Bi, sehingga menyuruhku cepat datang tapi rupanya kau masih segar bugar saja," kata Nathan yang malah mengira kalau Abian yang sakit.
"Periksa di dalam kamar itu Nathan, bukan aku," ucap Abian yang menunjuk kamar tempat Ghea masih berbaring dengan detak jantung yang semakin melemah.
"Jadi, yang sakit bukan kau, Bi?"
"Bukan, kau masuk saja dan periksa wanita itu apakah masih hidup atau sudah modar," jawab Abian santai tanpa ada rasa bersalah ataupun beban di dalam otak laki-laki jelmaan duda karatan yang seenak jidat menyiksa wanita yang sedang hamil muda itu.
Sehingga membuat Ghea sudah dua kali ini pingsan di dalam rumah itu dalam waktu yang dekat ini.
"Wanita? Apa kau sudah menikah, Bi?" Nathan yang tahu Abian selama belasan tahun ini menutup mata dan hatinya untuk wanita lain hanya gara-gara Sukma. Membuat dokter itu bertanya karena baru kali ini Abian malah menyebut sosok kaum hawa itu lagi.
"Jangan bertanya dulu, lebih baik kau periksa saja wanita itu untukku." Abian terlihat melangkahkan kaki menuju ke kamar Ghea dan di ikuti oleh Nathan yang saat ini masih mempunyai banyak sekali pertanyaan untuk Abian.
******
Kaget? Tentu saja, itulah yang saat ini di rasakan oleh Nathan, seorang dokter muda yang sangat tampan nan rupawan itu. Di saat melihat Ghea, wanita yang dia periksa tepat satu hari yang lalu dan kini lagi-lagi wanita itu malah terlihat terbaring lemah tidak berdaya lagi di atas ranjang.
"Cepat periksa dia, Nathan jangan malah diam saja," perintah Abian yang menyuruh Nathan untuk memeriksa Ghea yang wajahnya terlihat pucat dengan bibir yang sudah mulai membiru.
"Dia ini siapa? Apakah kau dan Boy memiliki hubungan yang spesial dengannya?"
Mendengar itu tangan Abian tiba-tiba saja terkepal di bawah sana, karena ia sekarang menjadi paham kalau Boy rupanya memanggil Nathan juga pada waktu itu, ketika dirinya tidak bisa menemukan Ghea sesaat setelah ia sudah menggauli wanita itu dengan sangat kasar dan sampai pingsan.
"Gadis ini sedang hamil, Bi, apa kau tahu itu?"
"Periksa Nathan, dan aku tidak perlu tahu kalau dia hamil atau tidak, karena dia ini adalah seorang ja la ng." Abian tidak akan mungkin mengatakan kalau dirinya adalah laki-laki me sum yang sudah membuat Ghea memiliki kecebong di rahim wanita yang saat ini terlihat sangat memprihatinkan itu. Oleh sebab itu, Abian memilih mencari aman saja.
Tanpa bertanya lagi, Nathan kini terlihat mulai memeriksa Ghea. Dan tanpa Abian tahu, dokter muda itu rupanya tidak percaya kalau Ghea adalah wanita pemuja serta pemuas laki-laki berhidung belang.
Dapat dilihat dari mimik Nathan kalau dia saat ini sedang mengamati wajah wanita itu untuk yang kedua kali. Setelah satu hari yang lalu Nathan juga melihat wajah Ghea.
"Sepertinya aku harus membawanya ke rumah sakit Bi, karena dia membutuhkan penanganan yang intensif," kata Nathan setelah usai memeriksa Ghea.
"Aku tidak setuju," timpal Abian tiba-tiba.
"Gadis ini membutuhkan pertolongan yang cepat Bi, karena jika tidak nyawanya bisa saja tidak tertolong lagi. Di tambah kasihan bayi yang tidak berdosa di dalam perutnya saat ini."
"Dia akan baik-baik saja Nat, karena aku sempat berhasil mengeluarkan air yang dia telan, sebelum kau datang tadi. Berikan saja dia infus, tidak perlu ke rumah sakit," ucap Abian yang mulai berwaspada karena laki-laki itu tahu kalau Ghea pasti akan berniat kabur darinya. Setelah apa yang dia lakukan pada wanita yang tidak tahu apa-apa itu.
Karena wanita hamil itu juga pasti sudah tahu karakter serta sifat Abian seperti monster yang perpaduan iblis, sehingga membuat Abian memutuskan kalau Ghea mulai detik dan hari ini tidak boleh keluar dari rumah itu walaupun cuma selangkah saja.
"Tapi, Bi …."
"Lakukan saja tugasmu, Nathan jangan banyak protes," kata Abian sambil mengambil posisi duduk di pinggir ranjang tepat di bawah kaki Ghea.
"Baiklah, kalau begitu aku mau pergi mengambil infus dan selangnya juga, karena kebetulan tadi aku membawanya tapi aku taruh di dalam mobil." Nathan yang tidak mungkin menentang kehendak Abian, pada akhirnya hanya memilih untuk mengalah saja.
"Aku mau mengambilnya sebentar dulu, dan sementara itu, tolong kau kompres dulu gadis ini Bi, karena badannya juga sudah mulai terasa panas dan jangan sampai membuatnya malah akan menjadi kejang-kejang. Karena itu bisa berakibat sangat fatal."
"Sialan, dia benar-benar sangat merepotkan sekali. Awas saja jika kau bangun, maka nanti akan aku buat kau membayar semua ini," gerutu Abian membatin.
Happy Reading.
Tbc.