NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 17. Cinta yang Tak Lagi Ada

"Wulan... Aku..."

Toni sungguh didera oleh rasa kalut yang luar biasa. Jika saat ini ia jujur di hadapan Wulan perihal perselingkuhan Awan dan Mega, ia takut akan mengguncang psikis Wulan yang sedang fokus dengan kesembuhan Bagas. Namun jika ia tidak jujur maka nuraninya yang seakan memberontak. Ia tidak ingin terlalu lama menyembunyikan bangkai yang pada akhirnya akan ikut menyeretnya dalam pusaran itu.

"Katakan saja Ton, aku tidak apa-apa," pinta Wulan dengan seutas senyum yang ia paksa untuk terlukis di wajah.

"Lan, kamu serius tidak apa-apa?" Risma mencoba memastikan. Ia tidak ingin hal-hal di luar dugaan akan terjadi seperti tiba-tiba Wulan yang berteriak histeris atau menangis tergugu yang pastinya akan mengganggu kenyamanan pasien lain.

Wulan menganggukkan kepala. Berkali-kali ia menghela napas panjang dan dalam untuk menguasai segala gejolak yang ada di dalam tubuhnya. Ia ingin tetap tenang untuk mendengar semua hal buruk yang akan disampaikan oleh Toni.

"Ceritakan semuanya Ton. Jangan ada satupun yang kamu tutupi."

"Beberapa hari yang lalu, aku melintas di depan ruang direktur. Pintu ruangan terkunci dari dalam di mana di sana ada Awan dan juga Mega. Jujur, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan karena aku tidak memiliki bukti apapun. Tapi dari pintu ruangan yang dikunci dari dalam itu sebagai orang yang sudah dewasa, kita bisa menyimpulkan apa yang mereka lakukan."

Toni sejenak menjeda ucapannya untuk menarik napas. Kemudian ia lanjutkan lagi dengan menceritakan apa yang ia tahu.

"Kemarin sore, aku melihat Awan dan Mega keluar dari kantor bersama-sama. Aku kira Awan akan pulang ke rumah tapi ternyata sampai sekarang ia tidak ada. Jadi dari sana aku bisa menyimpulkan jika saat ini Awan sedang bersama Mega."

Toni melirik ke arah Wulan. Wajah wanita itu nampak sedikit sendu ketika mendengar semua yang ia ceritakan. Sesekali Wulan hanya membuang napas kasar, berusaha menguatkan dirinya sendiri.

"Hanya itu yang bisa aku ceritakan kepadamu Lan. Perselingkuhan Awan memang masih menjadi asumsiku karena aku tidak memiliki bukti-bukti yang kuat."

"Tidak apa-apa Ton. Apa yang kamu ceritakan sudah cukup membuatku mengerti akan langkah apa yang harus aku ambil."

"Langkah? Maksudmu apa Lan?" tanya Risma dengan raut wajah yang sedikit terkejut.

Wulan tersenyum getir. Jika mengingat bagaimana Awan memperlakukannya, ia yakin jika sudah tidak ada lagi cinta yang dimiliki oleh Awan untuknya. Tidak mungkin seorang suami yang mencintai istrinya bisa berbuat semena-mena seperti yang dilakukan oleh Awan kepadanya.

"Aku merasa mas Awan sudah tidak lagi mencintaiku dan sekarang hadir wanita bernama Mega itu pastinya semakin membuatnya lupa kepadaku dan juga anakku kan? Jadi aku pikir untuk apa lagi aku melanjutkan rumah tangga ini?"

"Itu artinya kamu ingin berpisah dari Awan, Lan?" tanya Risma meminta kejelasan.

"Aku akan mencari bukti-buktinya terlebih dahulu. Setelah itu aku akan benar-benar pergi."

"Lan... Kamu serius dengan apa yang kamu katakan?" ulang Risma.

Wulan menganggukkan kepala. "Aku yakin Ris. Aku rasa sejauh ini mas Awan hanya memanfaatkanku untuk mengurus ibunya. Di rumah tangga ini aku sudah tidak lagi diperlakukan layaknya seorang istri tapi pembantu."

"Apakah sesakit itu yang kamu rasakan Lan, sampai membuatmu seperti mati rasa seperti ini?" Air mata Risma tak lagi bisa ia bendung. Melihat semua yang dialami oleh temannya ini sungguh membuat jantungnya ikut berdenyut nyeri.

Wulan tersenyum sumbang. "Terlalu terbiasa diperlakukan buruk oleh mas Awan sampai membuatku tak peduli lagi dengan rasa sakit itu Ris. Perlahan, aku seperti membentangkan perisai di dasar hati, sehingga rasa sakit itu bisa aku hindari."

"Lan.. Yang sabar," Risma memeluk erat tubuh Wulan. Tangisnya semakin pecah di atas pundak wanita ini.

"Itu sudah pasti Ris. Aku harus kuat demi anakku."

"Lalu sekarang apa yang akan menjadi rencanamu Lan?"

"Setelah Bagas diperbolehkan pulang, aku akan mencari bukti-bukti perselingkuhan itu sendiri. Mungkin nantinya aku akan lebih sering merepotkanmu, Ris."

"Tidak Lan, aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Kamu jangan sungkan untuk memberitahuku jika kamu butuh bantuan."

"Terima kasih Ris. Semoga suatu saat nanti aku bisa membalas semua kebaikanmu."

"Lan, kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Yang terpenting saat ini kamu harus semangat untuk melangkah."

***

Hari masih pagi ketika taksi online yang ditumpangi oleh Ambar berhenti di depan kontrakan Awan. Setelah mendapat kabar dari sang kakak, ia tidak langsung mendatangi kontrakan Awan karena hari masih gelap. Akhirnya, di saat matahari sudah menampakkan sedikit wajahnya, ia benar-benar mendatangi kontrakan Awan.

Ambar mengetuk pintu. Tak berselang lama seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun membuka pintu. Ia hanya menatap Yuli yang merupakan tetangga Wulan dengan tatapan yang sukar diartikan.

"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Yuli yang sedikit kebingungan. Pasalnya baru kali ini ia bertemu dengan Ambar.

"Aku adiknya mas Awan, Mbak. Semalam dia yang memintaku untuk datang kemari."

"Oh adiknya pak Awan," ucap Yuli ber-oh ria. "Karena keluarga bu Marta sudah ada yang kemari, saya pamit pulang ya Mbak."

"Iya lah Mbak. Terima kasih sudah membantu untuk menemani ibuku."

"Sama-sama Mbak."

Yuli berpamitan untuk segera pulang ke rumahnya. Sedangkan Ambar langsung masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar sang ibu.

"Ambar, kamu datang?"

Marta yang tengah terbaring di atas kasur menampakkan binar wajah yang bahagia ketika melihat sang anak bungsu menjenguknya. Marta merentangkan tangan, ingin memeluk Ambar, namun tak mendapatkan respon dari sang anak.

"Isshhh, apaan sih Bu? Tidak perlu peluk-peluk segala," ucap Ambar sembari berdesis lirih.

"Tapi Ibu sungguh merindukanmu Mbar. Ibu ingin memelukmu."

"Ckckckck tidak usah kebanyakan drama Bu."

Marta hanya tertegun melihat sikap sang anak yang terlalu dingin. Pupus sudah harapannya memeluk sang anak yang sudah sangat ia rindukan ini.

"Kalau begitu, tolong ganti diapers Ibu, Mbar. Diapers Ibu sudah penuh, Ibu risih sekali."

Sorot mata Ambar yang sebelumnya fokus pada layar ponsel, kini beralih ke arah sang ibu. Ia menatap manik mata Marta dengan tatapan yang sangat sukar untuk diartikan.

"Apa? Mengganti diapers Ibu?" tanya Ambar menegaskan.

"Iya Mbar. Ibu mau mandi juga. Tolong mandikan Ibu."

"Issshhh.. Tidak mau aku Bu. Jijik. Nanti saja Ibu ganti diapers nya, waktu mbak Wulan pulang dari rumah sakit."

Marta terhenyak mendengar jawaban dari sang anak. "N-nunggu Wulan pulang? Itu tidak mungkin, Mbar. Wulan pasti lama di rumah sakit. Ibu sudah risih sekali."

"Isshhh.. Aku benar-benar jijik Bu. Aku tidak mau mengganti diapers Ibu. Nanti saja ketika mas Awan pulang."

Ambar berbalik punggung dan segera melangkah keluar dari kamar sang ibu. Sikap yang ditampakkan oleh Ambar seketika membuat jantung Marta berdenyut nyeri. Ia sungguh tidak menyangka jika sang anak akan memperlakukannya begitu dingin seperti ini.

"Ambar... Mengapa kamu seperti ini? Mengapa tidak ada yang peduli kepadaku selain Wulan?"

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!