Apa jadinya jika dua orang yang tidak saling mencintai justru harus hidup dan tinggal dibawah satu atap yang sama sebagai suami istri?!
Celine tak pernah menyangka jika hidupnya akan berakhir dengan sangat menyedihkan. Menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak dia cintai, hidup satu atap sebagai pasangan suami-istri.
Setiap hari Celine selalu makan hati karena suaminya selalu membawa pulang wanita lain ke rumah mereka. Apakah Celine cemburu? Apakah Celine sakit hati? Maka jawabannya adalah tidak, bahkan dia tak peduli sama sekali.
Lalu langkah apa yang akan Celine ambil pada akhirnya? Tetap mempertahankan pernikahannya, atau justru mengakhirinya?! Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Marcus
"Aiden, tunggu!!"
Gerakan tangan Aiden untuk melepaskan tembakannya terhenti oleh seruan seseorang yang berasal dari arah belakang. Keduanya lantas menoleh dan mendapati seorang wanita setengah baya menghampiri mereka berdua.
wanita itu merentangkan kedua tangannya di depan Marcus yang terus mengerang kesakitan sambil memegangi pahanya yang ditembak oleh Aiden. Wanita itu dengan pandangan marah.
"Kau benar-benar iblis, Aiden. Bagaimana bisa kok ingin membunuh pamanmu sendiri, dia adalah kakak dari ayahmu!!" teriak wanita itu penuh emosi.
"Memangnya kenapa aku tidak bisa? Lagipula aku tidak memiliki Paman sepertinya, yang hanya mementingkan harta dibandingkan keluarga!! Dan sekarang aku tanya padamu. Selama kau menjadi istrinya, apa sekali saja Dia pernah memikirkan kau dan anak-anakmu?!"
Seketika wanita itu pun terdiam setelah mendengar apa yang Aiden pertanyakan. Benar apa yang Aiden katakan, sekalipun Marcus tak pernah memikirkan tentang keluarganya sama sekali.
Selama ini dia selalu sibuk dengan dunianya sendiri, dia selalu memburu kesenangan di luaran sana tanpa peduli dengan perasaan istri dan anak-anaknya. Bahkan kedua anaknya sangat membenci Marcus dan selalu menganggapnya sebagai ayah yang tidak bertanggungjawab.
"Kenapa kau diam saja? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Ingat dengan sikap arogansinya, tak selalu ingin menang sendiri dan tak mau mengalah untukmu juga anak-anakmu!!"
"Cukup, Aiden!! berhenti meracuni pikiran istriku!!" bentak Marcus emosi . Lalu pandangannya bergulir pada sang istri, paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Sonia, jangan dengarkan ucapannya. Dia hanya ingin mengadu domba kita, apa kau lupa dengan apa yang telah aku berikan padamu selama ini?! Jadi pikirkan semua itu baik-baik!!"
Wanita itu 'Sonia' menatap Marcus dengan pandangan tajam. "Aku yang terlalu bodoh karena selalu menutup mata selama ini, dan hari ini Aiden telah menyadarkan ku serta membuka mata hatiku. Suami serta ayah sepertimu memang tidak pantas mendapatkan cinta dan kasih sayang!! Marcus, aku ingin bercerai!!"
Marcus menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sonia. Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku tau aku salah, selama ini aku khilaf. Untuk itu maafkan Aku, karena aku bersalah padamu." Mohon Marcus.
"Tidak ada maaf untuk orang sepertimu. Aiden, terimakasih telah menyadarkan ku akan kebodohanku selama ini. Dia memang bukan suami dan ayah yang baik, andaikan saja mata hatiku terbuka sejak awal. Mungkin aku dan dia sudah tidak bersama lagi. Marcus, aku akan segera mengirim surat perceraian kita padamu. Aiden, Bibi pergi dulu." ucap Sonia dan dibalas anggukan oleh Aiden.
Lalu pandangan Aiden kembali pada Marcus. Seringai tampak di sudut bibirnya. "Nah. Bagaimana rasanya, Paman? Setelah ditinggalkan oleh istrimu sendiri? Sakit bukan? Dan itu adalah buah yang harus kau petik dari apa yang telah kau tanam selama ini. Untuk kali ini aku akan mengampuni mu, dan kau bisa menghabiskan masa tuamu di balik jeruji besi. Seret dia dan bawah ke kantor polisi!!"
"Baik, Tuan."
"Yakk!! Lepaskan aku. Aiden, kau benar-benar iblis. Aku tidak akan pernah memaafkan mu!! Aiden, Aiden, Aiden!!"
Aiden menghela napas. Kemudian dia melenggang pergi meninggalkan ruang keluarga dan menuju kamar putrinya yang ada di lantai dua. Aiden tak bisa melakukannya dengan bebas jika Hanna tetap bersamanya tadi, karena Aiden tak ingin jika putri kecilnya sampai melihat kekejamannya.
.
.
"Ma, siapa sih sebenarnya kakek itu tadi? Kenapa dia begitu mengerikan? Dan sepertinya dia adalah orang jahat."
Di kamarnya. Hanna terus bertanya pada Celine, siapa pria paruh baya itu dan kenapa dia begitu jahat. Celine yang memang tidak tau menahu soal Marcus jadi tidak bisa memberikan jawaban apa-apa. Sampai akhirnya Aiden datang dan memberikan penjelasan pada Hanna.
"Dia bernama, Kakek Marcus. Kakak Marcus adalah kakak dari mendiang, Kakekmu. Sepuluh tahun yang lalu dia diusir keluar dari kediaman Xiao karena suatu masalah, dan dia kembali untuk menguasai rumah ini beserta isinya." Jelas Aiden menuturkan.
Hanna menatap sang ayah dengan pandangan yang sangat serius. "Berarti kakek itu berbahaya?" ucap Hanna dan dibalas anggukan oleh Aiden.
"Ya, dia sangat berbahaya." Jawabnya membenarkan. "Tapi Hanna tenang saja. Dia tidak akan berani macam-macam lagi, karena Papa sudah mengirimnya ke kantor polisi. Kakek Marcus, dia tidak mungkin bisa menganggu keluarga kita lagi."
Hanna menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Hanna, sangat takut jika dia akan menyakiti kita bertiga nantinya."
Aiden meraih tangan Hanna lalu menggenggamnya. "Hanna, ketakutanmu tidak akan menjadi kenyataan, Nek. Semua akan baik-baik saja. Percayalah pada, Papa." Aiden tersenyum.
Celine tersenyum lebar. Dia benar-benar terharu melihat bagaimana sikap Aiden dalam memperlakukan Putri kecil mereka. Kasih sayang yang Aiden berikan pada Hanna begitu besar, dan itulah yang membuat Celine terharu. Celine mendekati Hanna dan memintanya untuk istirahat. Dan Hanna mengiyakannya.
Setelah memastikan Hanna benar-benar sudah tidur. Aiden dan Celine pergi ke kamar mereka. Bukan hanya Hanna saja yang lelah, tetapi mereka juga. Celine dan Aiden juga ingin istirahat.
Dan disini mereka sekarang. Celine dan Aiden berada di kamar mereka sendiri. "Sepertinya rambutmu sudah semakin panjang. Aku rasa, aku perlu ke salon untuk memangkas bagian ujungnya." ucap Celine sambil memperhatikan rambutnya yang panjangnya sudah mencapai pinggul.
Aiden menggeleng tidak setuju. "Jangan pernah memotongnya meskipun hanya satu senti saja. Aku tidak setuju!!"
Sontak Celine menoleh dan menatap Aiden penuh tanya. "Kenapa?" dia menatap sang suami dengan penasaran.
"Karena kau cantik dengan rambut sepanjang ini," ucapnya sambil memainkan rambut panjang Celine yang tergerai.
Mata mereka saling bertemu dan menatap selama beberapa saat. Sudut bibir Aiden tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. Membuat rona merah seketika muncul di kedua pipi Celine. Ditatap sedalam itu oleh Aiden membuat Celine gugup setengah mati.
Buru-buru wanita itu mengalihkan pandangannya dari Aiden. Celine tak ingin jika suaminya melihatnya yang merona. "A..Aku ke toilet dulu. Kalau lelah, sebaiknya tidur duluan saja." Ucap Celine seraya beranjak dari hadapan Aiden. Namun langkahnya terhenti ketika Aiden menahan pergelangan tangannya.
"Kenapa ingin kabur, Nyonya? Kau pikir bisa kabur begitu saja dariku?!" Aiden menyeringai. Jari-jarinya memainkan anak rambut Celine lalu menyelipkan ke belakang telinganya. "Sudah berapa hari kita tidak melakukannya? Bagaimana jika malam ini kita berolahraga sebentar?" ucap Aiden dengan seringai tipis disudut bibirnya.
Tak ada jawaban dari Celine. Wanita itu terlihat menggigit ujung bibirnya. Bagaimana dia harus memberitahu Aiden jika mereka tidak bisa melakukannya, setidaknya untuk hari ini dan beberapa hari ke depan karena Celine sedang kedatangan tamu bulanan.
"Maaf, Aiden. Tapi kita tidak bisa melakukannya, kamu bulananku datang semalam dan kita harus menundanya." Ucap Celine merasa tidak enak. Dia benar-benar tidak enak jika harus menolak ajakan Aiden.
Aiden tersenyum. "Tidak masalah, kita masih bisa melakukannya lain kali. Ini sudah larut malam, pasti kau sangat lelah. Sebaiknya segera tidur, aku juga mau tidur." ucap Aiden sambil mengusap sisi wajah Celine.
Sungguh, Celine benar-benar merasa tidak enak pada Aiden. Karena bukan hanya air dan saja yang menginginkannya, tetapi dirinya juga. Tapi sayangnya keadaan yang tak memungkinkan untuk mereka melakukannya. Dan untungnya Aiden bisa mengerti dan tidak mempermasalahkannya.
Satu kecupan mendarat mulus di kening Celine. Membuat mata itu terpejam seketika, ada rasa hangat merayap dan menyeruak di dalam perasaan Celine dengan perlakuan hangat Aiden.
Sungguh betapa beruntung Celine memilik suami seperti Aiden, meskipun awalnya dia merasa kesal karena menikahi patung es berjalan. Namun sekarang kebahagiaan yang dia rasakan dari pernikahan tanpa cinta tersebut .
.
.
"Ma, Pa. Kalian berdua sedang apa?"
Celine dan Aiden terlonjak kaget oleh kemunculan Hanna yang tiba-tiba. Mereka berdua buru-buru menjauh satu sama lain. Aiden membuang muka ke arah lain, sementara Celine menghampiri putri kecilnya.
Saat Hanna masuk, Celine dan Aiden sedang bercumbu. Bibir mereka bergulat panas. Mereka berdua sama-sama memutuskan untuk menunda tidurnya, dan melakukan sesuatu yang romantis. Tapi saat mereka berdua sedang panas-panasnya, tiba-tiba Hanna masuk dan mengejutkan keduanya.
Celine merasa bodoh karena lupa Mengunci pintu kamarnya, dia tidak berpikir jika Hanna akan terbangun lalu datang mencarinya. "Ma, sebenarnya apa yang tadi kau lakukan bersama, Papa?" Hanna menatapnya penasaran.
"Ahh, itu tadi, ya. Papamu, tiba-tiba tidak bisa bernafas dan Mama membantunya melegakan nafasnya." Jelas Celine.
Pupil mata Hanna membulat sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Ibunya. "Apakah Papa sakit?" lalu pandangannya bergulir pada Aiden. Aiden menggeleng. "Lalu bagaimana Papa bisa kekurangan napas? Sampai-sampai Mama harus membantumu memberikan nafas buatan." Ucap Hanna sambil menatap ayahnya dengan cemas.
"Papa, hanya sedikit merasa kurang enak badan. Tapi setelan Mamamu memberikan nafas buatan untuk, Papa. Makanya sekarang Papa merasa jauh lebih baik." Jelas Aiden sambil tersenyum tipis.
Hanna mengusap dadanya dengan lega."Huft, syukurlah kalau Papa tidak apa-apa. Aku sangat cemas, takut jika Papa sakit." Ucapnya.
Aiden tersenyum. Dia mengusap kepala Hanna dengan penuh sayang. Aiden benar-benar beruntung memiliki seorang putri yang begitu peduli pada dirinya, dan Hanna adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padanya selain Celine.
"Ma, Pa. Apa boleh malam ini Hanna tidur bersama kalian?" Hanna menatap Celine dan Aiden bergantian. Dan keduanya mengangguk dengan kompak.
Hanna tersenyum lebar, gadis kecil itu pun naik keatas tempat tidur orang tuanya lalu berbaring di tengah. Diantara Celine dan Aiden. "Ma, Pa. Ayo tidur." Hanna menarik Aiden dan Celine, mengajak mereka berdua untuk berbaring bersamanya.
.
.
Carlos, Ren dan Neo menjatuhkan tubuhnya di samping Celine. Ketiganya sama-sama tidur terlentang dengan wajah menghadap langit. Wajah mereka terlindungi oleh pohon rindang yang menjadi tempat perteduhan.
Bangkit dari berbaringnya, Neo mengambil camera yang memang telah Ia siapkan sebelum pergi ke bukit ini. Saat ini Aiden bersama keluarga kecilnya termasuk ketiga pemuda itu sedang berlibur di bukit angin.
Terlihat Neo berlari menghampiri seorang pengunjung lain dan meminta tolong untuk mengambil gambar. Setelah memberi salam hormat, Neo pun berlari menghampiri yang lain dan meminta mereka untuk berjajar dan bersiap untuk berfoto.
"Ayo semua berkumpul, kita foto bersama!" serunya lantang.
Hanna adalah orang paling semangat ketika mendengar teriakan Neo. Segera Ia menarik ayah dan Ibunya untuk berdiri, Aiden mengangkat tubuh mungil putrinya dan mendudukkan di atas punggung Neo yang merunduk.
Gadis kecil itu di tempatkan di antara Celine dan Aiden.
Mereka banyak mengabadikan momen itu dan menyimpannya dalam album memory.
Semua berakhir dengan indah, begitu pula dengan keluarga kecil Celine. Wanita itu menyeka air mata yang mengalir dari sudut matanya, sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah.
Bukan air mata kesedihan lagi yang Ia teteskan hari ini, melain air mata kebahagiaan. Wanita itu menyeka air matanya ketika melihat putri kecilnya melambai padanya.
Segera Ia bergabung bersama putri, suami dan adik serta adik iparnya. Bermain bersama mereka, sebelum pergi. Celine meletakkan buku hariannya di atas bangku yang semula Ia duduki, ada setangkai mawar merah di atasnya.
Semua kisahnya tertulis rapi dalam buku harian itu, kisah awal yang akhirnya menghantarkan Celine pada kebahagiaan abadi.
Dalam hatinya Ia tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Tuhan karena memberikan ending yang indah pada hidupnya. Kisah penuh liku-liku dan deraian air mata. Kita memang tidak pernah tau dengan semua rencana Tuhan, karna tidak selamanya hidup yang kita jalani memiliki ending yang menyakitkan.
Selama kita percaya miracle itu ada, maka kebahagiaan lah yang akan kita raih dalam hidup ini.
.
.
THE END SEASON 1.
*mereka melaknat aiden yang bersandiwara membawa wanita lain tapi mereka membela dan membenarkan celine yang selingkuh, bermesraaan, bercumbu dengan lelaki lain
fakta
novel menunjukkan karakter authornya dan koment menunjukan karakter readernya
dia selingkuh dan beemesraan dengan lelaki lain baru dia heran bingung kenapa suaminya mengdarinya
beginilah kelakuan wanita egois, munafik dan tidak punya perasaan sama sekali
dia melakukan hal paling menjijikan, selingkuh dan bermesaan dengan lelaki lain tapi tidak sadar dia melakukan kesalahan
jujur pemikiran celine sangat menjijikan
othornya ini plin plan amat...MENJENGKELKAN
Hanna sama yg lainnya
lanjut💪