Ariana, gadis 18 tahun yang jatuh cinta kepada Guru paling dingin di sekolahnya.
Ternyata, semesta memberikan kesempatan padanya untuk bisa merebut hati sang guru, Arandra lewat perjodohan.
Tapi sayangnya, hati Arandra tetap tak bisa Ariana dapatkan. Meski mereka adalah suami istri. Arandra selingkuh dengan mantan kekasihnya yang sangat ia cintai.
Hati istri mana yang tidak hancur melihatnya. Ariana pun mengajukan gugatan perceraian kepada suaminya.
Saat keadaannya tengah terpuruk, kenyataan yang lain pun terkuak. Ariana hamil.
Tidak ingin ada siapa pun yang tahu, Ariana meminta bantuan Radit yang notabene adalah Om dari Arandra.
Radit selalu setia menemani Ariana dalam menghadapi masa-masa sulit di kehamilannya.
Dapatkah Ariana mendapatkan cinta yang tulus dari seseorang?
Di saat ia trauma dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ivan witami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 SAMPAI KAPANPUN
"Mas keterlaluan, Bisa-bisanya bikin malu disekolah. Lalu untuk apa Mas meluk mantan istri didepan murid-murid!” istri Arandra begitu marah mengingat Arandra memeluk Ariana disekolah, apalagi didepan umum. Ia malu dengan sikap suaminya yang tanpa sadar memeluk mantan istrinya.
"Bisa tidak, kamu itu diam. Setiap hari ngoceh! Sakit telingaku!”
"Apa? Bukannya kamu suka kalau aku cerewet, hah! Kenapa sekarang jadi masalah?”
"Diam Siska!!” teriak Arandra, telinganya sudah begitu panas mendengar celotehan istrinya yang tanpa jeda setiap hari.
Arandra memang tidak menyukai jika melihat perempuan yang terlalu cerewet, bahkan kecerewetan Siska melebihi Ariana.
"Dengar, aku masih berhak untuk tahu kabar mantan istriku, karena ia ibu dari anakku.”
"Kau Ayah yang tidak pernah dianggap!” balas Sıska tidak mau kalah. Siska mengetahui semua cerita tentang Arandra dari Bu Rena.
Mereka berdua terus berdebat sampai-sampai Bibi mengusap dadanya mendengar Suami-istri tersebut tiada hari tanpa berdebat apalagi masalah Ariana dan anaknya. Bibi tahu betul bagaimana rasa bersalahnya seorang Arandra terhadap mantan istrinya. Arandra menikahi Sıska hanya sebagai pelampiasan sebab selalu dijodoh-jodohkan rekan guru lainnya.
Arandra akhirnya pergi dari rumah dan menenangkan diri entah kemana.
Disisi lain Ariana sedang berada di sebuah kafe bersama dua sahabatnya tanpa membawa sang Anak, Bu Maya menyuruh Ariana untuk bersenang-senang bersama dua sahabatnya tersebut dan mengingatkan tempat dimana mereka biasa berkumpul.
"Dulu kita sering di sini, Ri. Tempat ini favorit kita.” Rasty memberitahu Ariana tempat duduk favorit mereka.
Ariana tersenyum tipis dan melihat-lihat sekeliling kafe, matanya tertuju di salah satu meja dan kursi yang juga sering Arandra kunjungi.
"Rasty, Daniar, kita sahabatan cukup lumayan lama. Tolong jangan tutupi apa yang tidak aku ingat tentang suamiku dulu dan tentang Om Radit juga.”
Rasty dan Daniar saling pandang. Mereka juga serba salah, mereka sudah berjanji dan sepakat dengan orang tua Ariana tidak akan menceritakan tentang Arandra pada Ariana.
"Sebelum aku mencari tahu sendiri!” sambung Ariana lagi.
"Baiklah kami akan menceritakan semuanya, sebatas yang kami tahu, karena saat kamu menikah dulu, kamu menutupi pernikahanmu dengan pak Aran.” Rasty mulai menceritakan semuanya tanpa mengurangi atau melebihkan.
Sedikit demi sedikit ingatan Ariana mulai pulih, sungguh ia ingat betapa ia mencintai Arandra, walau masih samar ia ingat semuanya. Ia meneteskan air mata saat ingat ia di usir oleh Arandra, pria yang begitu ia cintai.
"Kalau aku jadi kamu, aku akan memilih Om Radit yang jelas-jelas sayang dan setia menunggu kamu!” ucap Daniar sambil mengusap pundak Ariana.
"Aku gak tau, Nar. Aku ada rasa sama Om Radit atau gak. Selama ini aku hanya perasaan nyaman sama Om Radit. Tapi untuk membalas cintanya, aku masih mikir. Aku takut untuk melangkah lagi. Berulang kali Om Radit mengatakan cinta dan aku hanya mengiyakan dan membalas ucapan itu tanpa sadar.”
"Jalani saja , Ri. Om Radit orangnya tulus, dia rela nunggu kamu sampai kamu selesai kuliah. Jarang ada laki-laki yang merelakan waktu dan usianya hanya untuk menunggu orang yang sangat ia cintai.
Dua sahabatnya hanya tersenyum pasrah, karena memang hati tidak bisa dipaksakan, biarlah Ariana sendiri yang memutuskan untuk siapa cintanya. Akhirnya mereka hanta bercerita tentang kegiatan mereka masing-masing sampai tanpa sadar ada seseorang menghampiri mereka.
"Ri“ sapa orang tersebut, ketiganya melihat ke arah sumber suara dan terkejut melihatnya yang ternyata orang tersebut adalah Arandra.
"Pak Aran!” desis Rasty melihat Ariana dan Daniar .
"Ri, bisa ikut denganku sebentar?” ajak Arandra.
Ariana melihat kedua sahabatnya dan kedua sahabatnya mengisyaratkan jangan dengan menggelengkan kepalanya.
“Maaf, pak saya tidak bisa ikut Bapak!” jawab Ariana.
"Hanya sebentar, Ri, aku tidak akan menyakitimu! Masalah kita belum selesai!” paksa Arandra sambil menarik pelan tangan Ariana.
Ariana bangkit lalu tersenyum tipis sambil melepaskan tangan Arandra dari tangannya.“ Kita sudah selesai Pak, kita sudah selesai! Semenjak Bapak mendiamkan saya satu bulan lebih dan tidak memberi saya kesempatan lagi dan justru Bapak lebih memilih perempuan itu, saya anggap kita sudah selesai. Saya mungkin kurang gigih untuk mendapatkan hati Bapak, tapi saya lelah memperjuangkan orang yang tidak mau saya perjuangkan. Maaf, lebih baik saya mundur dan ....” Ariana tersenyum melihat kedatangan Radit, Arandra menoleh mengikuti arah mata Ariana.
"Saya pilih Om Radit.” Ariana menarik tangan Radit saat Radit sampai di mejanya.
"Ri, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Demi anak kita.” Arandra masih memaksa agar Ariana memilihnya.
“Bukankah Bapak meragukan anak itu. Maaf, saya tidak bisa!” Ariana kemudian meninggalkan Arandra dan dua sahabatnya keluar dari kafe sambil menggenggam erat tangan Radit. Radit hanya bisa memandangi wajah Ariana yang menahan tangis, ia tahu jika hatinya masih ada rasa untuk Arandra.
Arandra terduduk, terdiam di kursi depan dua sahabat mantan istrinya. Rasty dan Daniar bangkit, mereka takut jika Arandra bertanya atau di minta bantuan untuk membujuk Ariana.
"Pak, kami permisi.” keduanya berlari kecil meninggalkan Arandra.
Sementara itu Ariana menangis didalam mobil Radit, rasanya sakit ingatan itu kembali. jika boleh meminta Ariana tidak ingin mengingat kenangan pahit itu. Apalagi ia masih mencintai Ayah dari putrinya.
Radit menyadarkan punggungnya di kursi mobil dan membiarkan Ariana menangis. Radit tahu betul bagaimana sulitnya Ariana melupakan mantan suaminya dan sulitnya melewati kehamilannya tanpa orang yang ia cintai, dan rasa sakit itu muncul kembali saat ingatannya kembali.
"Kamu masih cinta sama dia?” tanya Radit.
Ariana diam dan melihat ke arah Radit, menatap dalam-dalam sorot mata orang yang menunggu bertahun-tahun. Tak lama Ariana memeluk Radit.
"Om, kenapa aku harus ingat momen bersama dia, kenapa aku harus ketemu lagi sama dia, apa dunia ini terlalu sempit Om. Bawa aku untuk jauh darinya, Om.”
"Aku tidak akan pernah bisa membawamu, Ri. Kalau kamu masih terjebak dengan masa lalumu. Keluar dan ikhlaskan semua yang sudah terjadi. Jika ada sesuatu yang belum terselesaikan, selesaikan baik-baik. Agar kedepannya hidupmu bahagia. Om yakin masih ada yang belum selesai antara kalian berdua. Setelah itu terserah dirimu menata masa depanmu, aku hanya bisa mendukung apa yang kamu inginkan dan cita-citakan. Berulang kali aku bilang padamu, tidak perlu membalas cintaku, jika kamu tidak ada rasa untukku. Hati tidak bisa dibohongi.”
"Iya Om, aku mengerti.” Ariana melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya sendiri. melihat Radit yang tersenyum padanya.
“Om masih mau menungguku sampai selesai kuliah?”
"Sampai kapanpun, Riana!”
Ariana memeluk Radit, ia begitu terharu dengan cinta dan rasa sayang yang diberikan pria yang beda 9 tahun darinya. Ariana memeluk erat Radit saat melihat Arandra keluar dari kafe menuju mobilnya, Arandra pun melihatnya dari kejauhan.
***
cerita y' bagus autor 👍🏻😘😘😘😘🥰