NovelToon NovelToon
Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Perperangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:250.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Alma Fatara, gadis sakti yang muda belia, kini menjelma menjadi Ratu Siluman, pendekar cantik jelita yang memimpin satu pasukan pendekar sakti dan besar.

Berbekal senjata pusaka yang bernama Bola Hitam, Alma Fatara langlang buana demi mencari kejelasan siapa sebenarnya kedua orangtuanya.

Sejumlah kedudukan istimewa sudah dia raih di usia belia itu, menjadikannya sebagai pendekar muda yang fenomenal, disegani sesama pendekar aliran putih dan membuat pendekar jahat ketar-ketir, ditaksir banyak pemuda dan dihormati oleh pendekar tua.

Kali ini, Alma Fatara akan menghadapi dua kerajaan besar dan melawan orang yang tidak terkaalahkan. Petunjuk yang mengarahkan mendekati orangtuanya semakin terbuka satu demi satu.

Sampai di manakah kemampuan Alma Fatara dalam perjalanannya kali ini? Temukan jawabannya hanya di novel “Alma3 Ratu Siluman”.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akarmani 35: Menghancurkan Gerbang Benteng

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*

 

Pertarungan berkecamuk antara Pasukan Khusu Kerajaan Jintamani melawan Pasukan Pembebas Jintamani pimpinan Adipati Lalang Lengir dan Adipaksa dari Perguruan Pisau Merah.

Meski jumlahnya lebih sedikit, tetapi Pasukan Khusus adalah pasukan yang berisi prajurit-prajurit pilihan. Terlihat jelas ketika mereka beradu fisik dan serang dengan prajurit kadipaten, mereka tidak begitu kesulitan membunuh atau melukai prajurit kadipaten yang standar kemiliterannya memang di bawah prajurit kerajaan.

Namun, pasukan kadipaten menang jumlah dan diperkuat oleh pasukan perguruan yang notabene dari unsur pendekar. Jika prajurit Pasukan Khusus bertemu murid Perguruan Pisau Merah, mereka harus berjuang keras untuk menang, tetapi lebih banyak kalah karena murid perguruan bisa menyerang jarak jauh dengan pisau dan kesaktian Pisau Penghancur.

Adipati Lalang Lengir bertarung laksana serigala wanita. Dia begitu tangguh bagi para prajurit Pasukan Khusus. Terlebih di dalam bertempur, wanita cantik itu didampingi dua pendekar pengawal setianya, yaitu Remuk Pusaka dan Remuk Hasrat.

Murid utama Perguruan Pisau Merah yang pernah menjadi tokoh antagonis karena memusuhi Alma Fatara, juga mengamuk hebat menghabisi para prajurit Pasukan Khusus yang datang sendiri kepadanya. Sebagai seorang pendekar yang bertahun-tahun berlatih di perguruan, tentu sangat senang jika ada orang-orang yang menjadi tempat pelampiasan kesaktian hingga mati, sehingga latihannya selama ini ada hasil.

Di saat terjadi pertempuran di satu titik, Komandan Sikut Karam yang awalnya ingin mundur segera membelokkan pasukannya untuk membantu pasukan infaterinya yang kalah jumlah.

Namun, dari dalam satu area yang gelap, muncul ratusan prajurit tombak yang berlari kencang hendak memotong laju pasukan berkuda dari samping. Pasukan bertombak di bawah perintah Panglima Pulung Seket itu bermaksud mencegah pasukan berkuda sampai ke titik pertempuran.

“Lempar tombaaak!” teriak Pajrit Gandul Kulon yang memimpin serangan pasukan bertombak, ketika posisi mereka sudah bisa menjangkau pasukan berkuda musuh.

Set set set ...!

Ceb ceb ceb ...!

“Akh! Akh! Akk ...!”

Lima puluh pasukan pimpinan Pajrit Gandul Kulon melemparkan tombaknya beramai-ramai kepada pasukan berkuda yang lewat melintas.

Komandan Sikut Karam dan pasukan dibuat terkejut dengan kemunculan dan serangan puluhan tombak terbang itu.

Tombak tidak seperti anak panah, jadi mayoritas para prajurit Pasukan Khusus masih bisa menghindari tombakan yang datang, meski ada dua tiga empat prajurit yang tubuhnya tertombak langsung. Namun, jika para penunggang bisa berkelit menghindari hujan tombak, tapi sulit bagi binatang tunggangannya untuk menghindar.

Lebih banyak tombak itu menusuk keras tubuh kuda-kuda, membuatnya tersungkur yang melemparkan para penunggangnya.

“Seraaang!” teriak pajrit rekan Pajrit Gandul Kulon yang tadi bukan pelempar tombak.

Dia dan pasukannya yang masih memegang tombak, berlari kencang menyerbu para prajurit berkuda yang jatuh karena kudanya tertombak.

Sementara Komandan Sikut Karam terus berlari bersama sisa pasukannya meninggalkan pasukan tombak. Dia lebih memprioritaskan sampai ke titik pertempuran untuk membantu pasukan infaterinya.

Wut wut wut! Bdak! Krak!

Sebuah benda panjang muncul melesat berputar-berputar dari dalam kegelapan. Benda yang adalah sebatang tongkat besi itu melesat berputar-putar dan tepat menghantam kaki depan kuda milik Komandan Sikut Karam. Terdengar jelas suara tulang kaki kuda yang patah.

Brukr!

“Hugkh!” keluh Komandan Sikut Karam saat kuda dan dirinya tersungkur mencium tanah keras. Obor yang dibawanya pun terlempar jauh.

“Biar aku yang menjadi lawanmu, Prajurit!” teriak Genggam Sekam yang sudah dibuat bergairah oleh Sumirah tadi di dalam kegelapan.

Baru saja Komandan Sikut Karam bangun dari jatuhnya, sosok Genggam Sekam sudah datang menerjangnya.

Bak!

“Hukh!” keluh Komandan Sikut Karam lagi dengan tubuh yang terjengkang keras di tanah.

“Kau salah memilih lawan, Kisanak!” teriak Komandan Sikut Karam yang dengan cepat kembali bangkit. Dia menatap tajam kepada Genggam Sekam yang sudah memegang kembali tongkat besinya.

Bsess!

Tiba-tiba, di kedua tangan Komandan Sikut Karam sudah tergenggam dua pedang dari sinar hijau. Pertarungan dua pria pun siap tergelar.

Rintangan bagi pasukan berkuda ternyata belum berakhir untuk sampai ke titik pertempuran.

“Hiaaat!” kelit satu suara wanita seiring munculnya kelebatan tubuh berwarna merah muda.

Tubuh wanita itu melintas cepat di tengah-tengah pasukan berkuda sambil menebaskan dua pedang buayanya yang sangat tajam.

Sekali lewat melintas, dua prajurit berkuda tumbang tewas dipenggal. Setelah mendarat, Sumirah lalu berlari kencang mengejar pasukan berkuda, kemudian berlari di udara. Sumirah bisa berlari sekencang kuda tanpa kuda.

Cras cras!

“Akk! Akh!”

Jangan heran jika dia bisa memakan dua korban lagi dengan pedangnya.

Akhirnya, pasukan berkuda Pasukan Khusus tersisa belasan orang lagi. Mereka tetap menuju pertempuran dan akhirnya masuk kemudian langsung mencari korban. Sejumlah prajurit kadipaten yang mereka dapati langsung mereka tebas dengan pedang.

Belasan prajurit berkuda itu langsung mengamuk, memberi bantuan signifikan bagi prajurit infanteri Pasukan Khusus yang terdesak karena kalah jumlah.

Karena tidak ada lawan lain, mau tidak mau Sumirah terus mengejar pasukan berkuda hingga masuk ke pertempuran.

“Seraaang!” teriak seratus pasukan tombak yang berlari menuju titik pertempuran.

Setelah menghabisi prajurit berkuda yang berjatuhan, pasukan bertombak segera beralih menuju ke titik pertempuran. Teriakan mereka membuat para prajurit Pasukan Khusus kian jatuh mentalnya.

“Minta bantuaaan!” teriak salah satu prajurit Pasukan Khusus yang masih bertahan.

Satu prajurit berkuda lalu keluar dari pertempuran berlari ke arah benteng. Prajurit itu mengangkat tangan kirinya yang memegang obor lalu mengibas-ngibaskannya ke kanan dan kiri.

“Gusti Panglima, Pasukan Khusus minta bantuan!” teriak seorang pajrit di atas tembok benteng.

“Komandan Jati Rayap, pimpin lima ratus prajurit untuk membantu Pasukan Khusus di depan!” teriak Panglima Belut Ireng kepada wakilnya yang berdiri di atas benteng sisi depan.

“Baik, Gusti!” sahut perwira yang bernama Komandan Jati Rayap. Dia segera pergi turun untuk mengatur pasukan yang dipesankan.

“Gusti Panglima, ada yang datang!” teriak seorang pajrit lagi ketika melihat pergerakan satu sosok hitam di dalam kegelapan. Dia melihat sosok Alma Fatara yang mendekati benteng dengan menggendong Ning Ana di punggungnya.

Jauhnya pencahayaan membuat sosok Alma Fatara tidak begitu jelas terlihat.

“Ning Ana, teriaki para prajurit di benteng itu!” perintah Alma Fatara yang sudah seperti atlet lari karena sejak tadi berlari tanpa henti.

“Woiiii! Prajurit-prajurit kesepian! Buka pintu gerbangnya, atau aku runtuhkan bentengnya!” teriak Ning Anak dengan suara terkencangnya.

“Hahaha!” tawa Alma Fatara, tapi mengandung tenaga dalam, sehingga tawanya menjadi teror bagi perasaan para prajurit yang disebut “kesepian” oleh Ning Ana.

“Panah perempuan setan itu!” perintah Panglima Belut Ireng.

Dua prajurit operator mesin panah belalang segera mengeker posisi Alma Fatara yang masuk dalam jangkauan panah.

Set set!

Dua set panah belalang melesat menargetkan Alma Fatara.

Teb teb teb ...!

“Jiaaak!” jerit Ning Ana kencang karena saking terkejutnya, saat melihat tahu-tahu ada sejumlah anak panah menancap di tanah dekat kaki Alma Fatara yang berlari. “Alma, kita diseraang!”

“Iya, aku tahu. Tidak usah berisik!” hardik Alma Fatara.

“Tapi aku tidak mau matiii!” teriak Ning Ana kencang di dekat telinga Alma.

“Bohong kalau kau takut mati. Hahaha!” tukas Alma Fatara lalu tertawa.

Alma Fatara yang lolos dari serangan panah pertama, terus melesat mendekati pintu gerbang benteng.

“Panah!” perintah Panglima Belut Ireng lagi.

Set set!

Kembali delapan anak panah belalang ditembakkan dari dua mesin.

Target yang bergerak cepat membuat rombongan panah itu sulit mengenai sasaran. Tujuh anak panah lewat melintas di sekitar tubuh Alma Fatara. Namun, ada satu anak panah yang tepat sasaran.

“Aaak!” pekik Ning Ana kencang dan panjang, saat satu mata anak panah sampai ke dekat lehernya.

Anehnya, anak panah itu berhenti melesat dan diam di dekat leher Ning Ana. Anak panah itu malah ikut terbawa berlari.

“Almaaa, aku kenaa panaaah!” teriak Ning Ana kencang ketakutan.

“Panahnya aku tahan dengan Benang Darah Dewa,” kata Alma Fatara yang menyadarkan Ning Ana dari ketakutan.

Memang anak panah itu tepat sasaran, tetapi Benang Darah Dewa lebih cepat dan kuat menjerat anak panah itu, sehingga lesatannya tertahan dan hanya sebatas beberapa jari dari leher Ning Ana.

“Jika aku tahu seperti ini, lebih baik aku bertempur bersama Kakang Garam,” kata Ning Ana.

“Kakang Garammu sedang bertempur bersama gadis Pisau Merah. Lupakan saja kekasih besarmu itu. Hahaha!” kata Alma Fatara yang kian dekat kepada pintu gerbang.

Panglima Belut Ireng sampai melompat berkelebat turun ke atas dinding benteng depan karena melihat Alma Fatara bisa lolos dari panahan. Ia mendelik ketika Alma Fatara menerbitkan seberkas cahaya sinar emas menyilaukan mata di tangan kanannya.

Swess!

Alma Fatara telah mengeluarkan ilmu Pukulan Bandar Emas di tangan kanannya. Area sekitar Alma Fatara menjadi sangat terang, bahkan menerangi sampai ke atas benteng.

“Aaa!” jerit Ning Ana karena merasakan panas dan dia hanya bisa memeluk kuat leher Alma sambil memejamkan mata kencang-kencang.

Jgreg!

Terdengar jelas suara pintu besar dibuka, tapi Alma Fatara melihat pintu gerbang Istana belum dibuka.

Suara pintu yang Alma Fatara dengar adalah suara pintu dalam yang dibuka karena lima ratus Pasukan Benteng akan keluar. Sementara pintu gerbang yang dilihat Alma Fatara masih tertutup adalah pintu lapis depan.

Swess! Bluaarr!

Seiring ratusan prajurit bergerak mendekati pintu gerbang depan, Alma Fatara melesatkan Pukulan Bandar Emas.

Sinar emas menyilaukan itu melesat cepat menghantam daun pintu besar yang masih tertutup, tepat di saat ada ratusan prajurit di balik pintu itu yang baru hendak dibuka.

Tak ayal lagi, pintu gerbang hancur berkeping-keping seiring terciptanya ledakan dahsyat. Komandan Jati Rayap dan ratusan prajuritnya terpental tidak karuan karena sangat dekat dengan pusat ledakan energi yang dahsyat.

Perlu diketahui bahwa kekuatan tenaga sakti Alma Fatara kian meningkat sejak dia sering mengobati dirinya dengan pusaka Bola Hitam. (RH)

1
asta guna
hahaha Q bisa bayangkan
asta guna
gaya tulisan om Rudi benar2 diluar Nurul hahah
Om Rudi: jiahahaha
total 1 replies
🇬 🇨 🇦 🇸 ¹
aku udh serius baca wkwk malah akhir kalimat bikin ktawa🤣🤣🤣 ga ada yg ngajak kopi bersama🤣
🇬 🇨 🇦 🇸 ¹
awokaowk keliatan klo ompong🤣🤣🤣 berjendela giginyanitu🤣🏃‍♀️
🇬 🇨 🇦 🇸 ¹
lah kirain sunat beneran 🤣🤣🤣 ternyata surat wwkk
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂𝘾𝙝𝙖𝙣♕⃟ᶜᶻⱽѕ⍣⃝✰
hebat ya debur sama ayu Wicaksana membela ratu mekar Arum
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂𝘾𝙝𝙖𝙣♕⃟ᶜᶻⱽѕ⍣⃝✰
namanya debur ku kira🤧ayang ayu Wicaksana
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂𝘾𝙝𝙖𝙣♕⃟ᶜᶻⱽѕ⍣⃝✰
mampir di karya thor
🗣 𝐉𝐨𝐞 𝐀𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 🦅
Hihihi... Gusti Senopati melongo gak jelas, pengen marah ya harus marah 😅
🗣 𝐉𝐨𝐞 𝐀𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 🦅
itu pukulan kasih sayang paman, biar paman mau manggilku perempuan cantik.. Ha ha ha
🗣 𝐉𝐨𝐞 𝐀𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 🦅
Sabar Ning Ana, kak Alma emang seperti itu, lempar kaki sembunyi tangan 😅
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
kocar kacir dah semua pasukan karena seorang Alma gadis cerdik dan pintar... ih si Ana bahagianya
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
masih kecil lo si Ana nekat banget sih dia apalagi jatuh cinta sama om" 😁
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
aku suka dengan tingkah konyol Ayu... pacarnya Debur dipanggil bubur 🤣
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wah ternyata alma fatara sangat hebat dalam mengalahkan musu. dgn seorang diri dia berani menyerang walau wanita
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wah, jangan maju kalau gitu, prajurit berkuda saja semua kalah, kalau kamu berani berdual alamat bisa mati ditangan wanita itu
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
iya, nih mana ada sih musuh ngecoh memakai daun. mungkin dia hanya ingin bermain saja
R. Yani aja
yang ini kunci slotnya karatan nggak?
R. Yani aja
rak kayunya, isinya apa om?
R. Yani aja
otak gue ngeleg. baca "personel pembawa obor" jadi ponsel pembawa obor... lah maksudnya gimana??? 🤣🤣🤣✌✌✌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!