Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Persiapan Pernikahan
Meizia tak punya siapapun dalam hidupnya sehingga tak ada yang menemani saat ia harus membicarakan pernikahannya dengan Ameer.
"Tidak perlu tegang begitu," kekeh Kakek yang melihat Meizia memang sangat tegang sejak kedatangannya.
"Maafkan aku," ucap Meizia sambil tertunduk.
"Jadi katakan pada kami, pernikahan seperti apa yang kalian inginkan?" tanya Abi Zaid untuk mencairkan suasana.
"Aku ingin pernikahan yang sederhana saja, Bi, dan hanya mengundang keluarga dekat kita saja," tukas Ameer. "Bagaiamana denganmu, Zia?" tanyanya.
"Aku ikut apa katamu saja, Ameer," jawab Meizia dengan suara rendah.
"Ameer adalah putra kami satu-satunya, jadi kami ingin mengadakan pesta, tidak besar, hanya pesta sederhana," tukas Ummi Nayla. "Kami ingin pernikahan Ameer juga menjadi sejarah untuk kami," imbuhnya.
"Tapi aku rasa akan lebih baik jika mereka di akad lebih dahulu, baru setelah itu pikirkan pesta," saran Kakek. "Itu jauh lebih baik, untuk menghindari fitnah dan jalan maksiat lainnya."
"Aku setuju," ucap Ameer dengan semangat. "Aku ingin Meizia selalu ada di sisiku, agar aku bisa menjaganya," tukas Ameer yang membuat Meizia langsung terenyuh.
Ia menatap pria itu dengan dalam, penuh kekaguman bahkan hingga tak berkedip hingga tiba-tiba Kakek menjetikan jarinya di depan wajahnya yang membuat Meizia terlonjak kaget.
"Inilah salah satu alasan aku ingin kalian cepat menikah," kekeh Kakek. "Karena memandang wanita atau pria yang bukan hak kalian, bukan pasangan halal kalian termasuk dalam zina mata." Lanjutnya yang membuat Meizia langsung menunduk malu.
Sementara Ameer hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. "Jadi, secepatnya urus akad nikah kalian. Karena saat sepasang suami istri saling penuh cinta, maka pahala mengalir di dalamnya. Semakin cepat kalian menikah itu semakin baik."
Kedua orang tua Ameer hanya bisa mengangguk pasrah, keputusan sudah dibuat, rencana sudah disusun dan mereka sudah bertekad akan menerima Meizia sebagai menantu mereka.
Tak ada yang mereka harapkan dalam hal ini kecuali kebahagiaan dan kebaikan bagi Ameer.
Setelah makan malam, Meizia diantar pulang oleh Ameer sekaligus ia mengantar sang Kakek ke rumahnya.
Jenny tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat pada Meizia atas rencana pernikahan temannya itu. Sementara di sisi lain, Ameer juga tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas anugerah cinta yang ia miliki.
Mungkin, orang akan berpikir bagaimana bisa Ameer memilih seorang wanita yang pernah terendam dalam lumpur dosa. Sedangkan ada wanita lain yang sering dipuji atas kebaikan dan keanggunannya.
Namun, orang lain tak pernah tahu bahwa apa yang Ameer lakukan adalah bukti dari cintanya yang begitu tulus. Saat tahu Meizia dalam keadaan yang salah, bukannya ingin pergi, Ameer justru ingin mendekap wanita itu dan memberi tahu bahwa dia salah kemudian membawanya pada jalan yang benar.
...🦋...
Tanpa membuang waktu, Ameer dan keluarganya segera mengurus pernikahannya dengan Meizia. Kabar bahagia itu sudah sampai di telinga Hana.
Sedih? Munafik sekali jika Hana mengelak dari rasa sedih itu, tetapi Hana tahu ia harus ikhlas. Terkadang, takdir memang tak bisa diajak kompromi. Yang bisa manusia lakukan hanya ikhlas dan pasrah.
Sementara di sisi lain, Meizia justru pergi ke penjara tempat sang Ibu di tahan.
Sejak Mami Lala dijatuhi hukuman atas perbuatannya, Meizia memang tidak pernah mengunjungi wanita itu. Meizia bahkan ingin melupakan bahwa dia punya ibu. Namun, hari ini ia menjenguknya, berharap sang Ibu sudah berubah.
Meizia meremas jari jemarinya dengan gugup saat menunggu sang Ibu.
"Mama?" gumam Meizia saat melihat Ibunya itu sudah datang.
Bukannya terharu karena di jenguk oleh putrinya, Mami Lala justru tertawa melihat penampilan Meizia yang berubah total. Dengan pakaian syari dan jilbab besar.
"Kenapa kamu berpakaian begini, Mei?" ejek Mami Lala.
"Aku belajar hijrah, Ma," kata Meizia. "Menjalani hidup yang lebih baik, aku harap Mama juga melakukan hal yang sama." Meizia menyerahkan sebuah paper bag pada sang Ibu, di mana ada pakaian syari, termasuk mukena dan sejadah. "Aku yakin kita bisa memperbaiki semuanya," kata Meizia dengan sangat lembut.
Namun, Mami Lala justru melempar senyum mencibirnya pada Meizia.
"Kamu mau menutupi tubuh kamu seperti apapun, tidak akan bisa menutupi fakta bahwa sudah banyak lelaki_"
"MAMA!" bentak Meizia secara spontan bahkan air mata wanita itu kembali tumpah. "Aku mencoba melupakan masa lalu aku, dan aku mau Mama juga melakukan hal yang sama," desisnya tajam. "Tapi sepertinya aku salah besar!" Meizia menyambar paper bag Itu.
"Mama tidak akan pernah berubah, Mama akan selalu sama seperti ini. Tidak punya hati!"
"Dan aku adalah ibumu," sahut Mami Lala dengan santai. "Kita berdua sama saja, Mei, kamu lahir dari wanita yang tidak punya hati ini."
Meizia menyeka air matanya, ia menatap sang ibu sambil geleng-geleng kepala. "Aku memang lahir dari rahim Mama, tapi aku bukan Mama. Aku tidak akan pernah memilih jalan hidup seperti yang Mama pilih, itulah perbedaan kita, Ma." Meizia beranjak dari tempat duduknya.
"Apa yang aku pakai sekarang memang tidak bisa menghapus masa lalu aku, tapi dengan ini aku memperbaiki masa depanku."
Meizia bergegas pergi dari hadapan Ibu yang bahkan mungkin tak punya kasih sayang sebagai Ibu itu, ia pergi dengan membawa kekecewaan. Sementara Mami Lala kini memasang wajah sendunya, kedua mata wanita itu memerah dan berkaca-kaca.
Ia menunduk dalam, menarik napas panjang dan mengulum senyum samar. "Kalau begitu pergilah, Meizia, jangan pernah kembali lagi dan lupakan Mama."
...🦋...