NovelToon NovelToon
Nusantara Pysco

Nusantara Pysco

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Rei

Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Fragmen yang Jatuh

# Bab 9 — Fragmen yang Jatuh

**POV: KSAN**

---

Tiga hari telah berlalu sejak pertarungan di pesawat. Tiga hari sejak Reiki hampir kehilangan kendali dan menciptakan clone-clone yang membuat Hubble ketakutan. Dan tiga hari sejak desa ini mulai berubah dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Aku duduk di teras balai desa, menatap langit. Anehnya, sejak insiden itu, langit di atas desa tidak pernah benar-benar cerah. Selalu ada awan tipis yang menggantung—bukan awan hujan, tapi sesuatu yang lebih... berat.

"KSAN!" Suara Hime memanggil dari kejauhan. Ia berjalan cepat ke arahku, wajahnya serius. "Kau lihat ini?"

Ia menunjukkan perangkat peraknya. Layarnya menampilkan grafik yang berdenyut tidak teratur.

"Apa itu?"

"Fluktuasi energi. Tersebar di seluruh desa." Ia menunjuk ke beberapa titik di peta digital. "Di sini, di sini, dan di sini. Semuanya muncul setelah pertarungan kemarin."

"Fragmen?"

"Sepertinya begitu. Ketika Reiki melepaskan energi sebesar itu, sebagian dari energinya mungkin terpecah dan tersebar."

Aku mengerutkan dahi. "Apa efeknya pada warga?"

"Itu yang aku khawatirkan."

---

Kami berkeliling desa untuk menyelidiki. Dan apa yang kami temukan lebih aneh dari yang kuduga.

Ibu-ibu yang biasanya menjemur padi di pinggir jalan kini berdiri diam, menatap kosong ke arah sawah. Ketika Hime bertanya ada apa, mereka menjawab dengan suara datar, "Aku melihat sesuatu. Di balik sana. Sesuatu yang biru."

Seorang anak kecil berlari menghampiri ibunya sambil menangis. "Bu, ada orang asing di kamarku! Orang dengan mata bercahaya!"

Tapi ketika ibunya memeriksa kamar, tidak ada siapa pun.

Di pasar, seorang pedagang mengaku bermimpi aneh semalaman—tentang kota dengan menara kristal dan langit berwarna tembaga. Ia bisa mendeskripsikannya dengan detail yang menakutkan.

"Ini efek fragmen," kata Hime. "Energi psikis yang terpecah bisa memengaruhi orang biasa. Memberi mereka kilasan ingatan dari tempat lain."

"Tempat lain?"

"Dimensi lain. Atau waktu lain."

Aku menelan ludah. "Ini berbahaya?"

"Belum. Tapi jika fragmen ini terus menyebar, efeknya bisa lebih parah."

---

Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Aku duduk di kamarku, membuka laptop, dan mencoba mencari informasi tentang fenomena ini.

Tapi yang kutemukan malah lebih aneh.

Di folder dokumen ayahku—folder yang tidak pernah kulihat sebelumnya—ada file-file tua dengan judul yang tidak biasa. *"Penjaga Gerbang: Protokol Darurat."* *"Fragmentasi Energi Psikis: Dampak pada Populasi Non-Psikis."* *"Koordinat Gerbang: Daftar Lokasi."*

Aku membuka file pertama. Isinya adalah catatan tangan yang dipindai—tulisan ayahku, tapi dari bertahun-tahun lalu.

*"Hari ini aku bertemu dengan perwakilan Penjaga Gerbang. Mereka memperingatkan bahwa gerbang di wilayah kita mulai tidak stabil. Jika sampai terbuka\, konsekuensinya bisa fatal. Aku harus bersiap."*

Aku membaca lebih lanjut. Ayahku ternyata sudah tahu tentang psikis sejak lama. Bahkan, ia pernah bekerja sama dengan mereka—sebagai penghubung antara desa dan organisasi psikis.

Tapi kenapa ia tidak pernah memberitahuku?

Aku membuka file kedua. *"Koordinat Gerbang."* Di dalamnya\, ada daftar lokasi di seluruh Indonesia—pulau-pulau terpencil\, gunung-gunung\, dasar laut. Dan salah satunya... ada di dekat desa kami.

*Pulau Karang\, 14.082°N\, 110.332°E.*

Aku mengambil ponselku dan mencari koordinat itu. Tidak ada yang istimewa—hanya sebuah pulau kecil tak berpenghuni di tengah laut.

Tapi kenapa ayahku menyimpan koordinat ini?

---

Keesokan harinya, aku menunjukkan temuan ini pada Hime. Ia menatap layar laptopku dengan mata terbelalak.

"Ini... ini koordinat yang sama dengan yang ada di log mesin waktuku."

"Apa?"

Hime duduk, wajahnya pucat. "Aku tidak pernah memberitahu siapa pun tentang ini. Tapi ketika aku melompat ke masa depan, mesin waktuku selalu mencatat koordinat tertentu—seperti ada titik yang menarikku ke sana."

"Dan titik itu sama dengan yang ada di catatan ayahku?"

Hime mengangguk. "Ini bukan kebetulan."

Aku menatap layar laptopku. Pulau kecil di tengah laut. Koordinat yang sama. Gerbang antar-dimensi.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanyaku.

Hime diam sejenak. Lalu ia berkata, "Kita harus pergi ke sana."

"Ke pulau itu?"

"Ya. Jika di sana ada jawaban, aku harus menemukannya."

"Tapi bagaimana? Kita tidak punya kapal."

Hime tersenyum tipis. "Kita punya pesawat."

---

Kami memutuskan untuk tidak memberi tahu Hubble tentang rencana ini. Setidaknya, belum. Kami tidak tahu bagaimana reaksinya—dan setelah pertarungan kemarin, lebih baik kami bergerak diam-diam.

Aku, Hime, dan Reiki berkumpul di gudang tua untuk membahas rencana.

"Kita akan pergi malam ini," kata Hime. "Saat semua orang tidur."

"Bagaimana dengan pesawat?" tanya Reiki. "Hubble pasti akan curiga."

"Aku sudah menyiapkan alasan. Kubilang aku perlu mengambil peralatan di kota."

Aku mengangguk. "Aku bisa membantu dengan navigasi. Aku punya peta laut di rumah."

"Bagus."

Reiki menatapku. "Kau yakin mau ikut? Ini bisa berbahaya."

Aku tersenyum. "Aku sudah terlanjur masuk, kan? Tidak ada jalan mundur sekarang."

Ia tertawa kecil. "Benar juga."

---

Malam itu, kami bertiga berkumpul di gudang. Tas sudah siap—makanan, air, perangkat, dan peta. Hime memeriksa perangkatnya untuk terakhir kalinya.

"Mesin waktuku menunjukkan sesuatu," katanya. "Di pulau itu, ada konsentrasi energi yang sangat besar. Mungkin itu sumber dari semua ini."

"Atau mungkin itu jebakan," kataku.

"Juga mungkin."

Aku menghela napas. "Kita tidak akan tahu sampai kita sampai di sana."

Hime mengangguk. "Ayo."

Kami berjalan menuju pesawat kecil yang Hime "pinjam" dari Hubble. Mesinnya menyala pelan, tidak menarik perhatian. Satu per satu, kami naik.

Dan untuk pertama kalinya, aku meninggalkan desa ini—bukan untuk bolos sekolah, tapi untuk mencari jawaban atas misteri yang lebih besar dari apa pun yang pernah kubayangkan.

---

Penerbangan memakan waktu sekitar dua jam. Laut di bawah kami gelap, hanya diterangi cahaya bulan. Aku duduk di kursi belakang, menatap ke luar jendela.

Pikiranku melayang pada ayahku. Pada catatan rahasia yang ia simpan. Pada rahasia yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun.

*Kenapa kau tidak pernah memberitahuku\, Yah?*

Mungkin ia ingin melindungiku. Atau mungkin ia takut.

Tapi apa pun alasannya, aku sekarang berada di sini—di atas laut, menuju pulau misterius yang mungkin menyimpan kunci dari semua ini.

"Kita hampir sampai," kata Hime dari kursi depan.

Aku menatap ke depan. Di kejauhan, aku bisa melihat sebuah titik gelap di tengah laut. Pulau itu.

Dan di atasnya, ada cahaya biru samar yang berdenyut pelan.

Seperti jantung yang berdetak.

---

Pesawat itu mendarat dengan gemetar di permukaan pulau yang tidak rata. Aku turun pertama, diikuti Hime dan Reiki. Udara di sini dingin—lebih dingin dari yang kuduga. Dan ada bau aneh di udara, seperti logam terbakar.

 "Apa itu? " tanyaku, menunjuk ke arah cahaya biru.

 "Aku tidak tahu, " jawab Hime.  "Tapi kita akan mencari tahu. "

Kami berjalan mendekati sumber cahaya itu. Semakin dekat, semakin aku bisa merasakan getaran di dadaku—seperti ada sesuatu yang beresonansi dengan tubuhku.

 "Kau merasakannya juga? " tanya Reiki.

Aku mengangguk.  "Seperti ada yang memanggil. "

Hime menatap kami berdua.  "Itu efek dari energi psikis level tinggi. Tubuh kalian merespons karena kalian juga psikis. "

 "Tapi aku bukan psikis, " kataku.

 "Kau mungkin tidak punya kekuatan aktif. Tapi setiap manusia punya potensi psikis. Beberapa lebih sensitif dari yang lain. "

Aku tidak tahu harus merespons apa. Jadi aku hanya diam dan terus berjalan.

---

Struktur di tengah pulau itu lebih besar dari yang kukira. Dari dekat, aku bisa melihat detail ukiran di dinding batunya—simbol-simbol aneh yang tidak bisa kubaca. Tapi Hime menatapnya dengan mata terbelalak.

 "Aku mengenali simbol ini, " bisiknya.

 "Apa artinya? "

 "Ini adalah bahasa psikis kuno. Bahasa yang digunakan oleh Dewa Psikis. "

Aku menelan ludah. Dewa Psikis. Legenda yang selama ini hanya kudengar dari Hime. Dan sekarang, simbolnya ada di depan mataku.

 "Masuk, " kata Hime.

Kami masuk ke dalam struktur itu. Gelap. Hanya cahaya biru dari celah-celah dinding yang menerangi jalan. Aku bisa mendengar suara tetesan air di suatu tempat. Dan di kejauhan, suara seperti dengungan mesin.

 "Di sini, " kata Hime, menunjuk ke sebuah lorong.

Kami mengikutinya. Lorong itu berkelok-kelok, turun ke bawah tanah. Udara semakin dingin. Dan cahaya biru semakin terang.

Kami sampai di sebuah ruangan besar. Di tengahnya, ada kristal raksasa yang berdenyut dengan cahaya biru. Di sekelilingnya, cincin-cincin logam melayang, berputar pelan.

 "Ini... ini luar biasa, " bisikku.

Reiki berjalan mendekati kristal itu. Tangannya terulur.

 "Jangan! " Hime meraih tangannya.  "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. "

Tapi Reiki menatapnya dengan mata yang berbeda—lebih dalam, lebih tua.  "Aku mengenali ini, " katanya.  "Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya. "

 "Kapan? "

 "Aku tidak tahu. Tapi aku yakin. "

---

Saat itulah kami mendengar langkah kaki.

Dari kegelapan lorong, muncul tiga sosok berjubah hitam. Wajah mereka tertutup topeng. Di dada mereka, ada simbol yang sama dengan yang ada di dinding.

 "Kalian tidak diizinkan berada di sini, " kata salah satu dari mereka.

Aku mundur selangkah.  "Siapa kalian? "

 "Penjaga Gerbang. "

Hime melangkah maju.  "Kami hanya mencari jawaban. "

 "Jawaban tidak selalu baik untuk diketahui. "

 "Aku tidak peduli. Aku sudah mencari selama 38 tahun. "

Sosok itu menatap Hime, lalu menatap Reiki.  "Kau. Kau adalah anak yang disebut-sebut. "

Reiki tidak menjawab. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan kosong.

 "Ikut kami, " kata sosok itu.  "Atau kami akan memaksamu. "

Aku merasakan dadaku berdebar. Ini tidak baik. Kami bertiga melawan tiga psikis misterius. Kemungkinan menang? Tipis.

Tapi sebelum aku sempat berpikir, Reiki melangkah maju.

 "Kalian mau aku? " katanya.  "Ambil aku. Tapi biarkan mereka pergi. "

 "Reiki! " Hime meraih lengannya.  "Kau tidak bisa— "

 "Ini satu-satunya cara. "

Aku menatap Reiki. Anak yang selama ini kukira hanya anak SMA biasa ini, kini berdiri tegap, siap mengorbankan dirinya untuk kami.

*Dia bukan anak biasa. Dia tidak pernah biasa.*

 "Baik, " kata sosok itu.  "Kau ikut kami. Mereka boleh pergi. "

Reiki menatapku dan Hime.  "Pergilah. "

 "Tapi— "

 "Pergilah! "

Hime menggigit bibirnya. Lalu ia menarik lenganku.  "Ayo. "

 "Tapi Hime— "

 "Dia sudah memutuskan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa di sini. "

Aku menatap Reiki untuk terakhir kalinya. Ia tersenyum tipis.

 "Sampai jumpa, " katanya.

Dan kami pergi, meninggalkannya di ruangan kristal itu, bersama tiga sosok berjubah hitam.

---

Penerbangan pulang terasa berat. Tidak ada yang bicara. Aku duduk di kursi belakang, menatap ke luar jendela, memikirkan Reiki.

*Ia mengorbankan dirinya untuk kami.*

Aku mengepalkan tinjuku. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku harus melakukan sesuatu.

 "Kita tidak bisa meninggalkannya di sana, " kataku.

 "Aku tahu, " jawab Hime.  "Tapi kita butuh rencana. "

 "Rencana apa? Kita bahkan tidak tahu siapa mereka. "

 "Tapi aku tahu di mana mereka membawanya. "

Aku menatapnya.  "Di mana? "

Hime menatapku melalui kaca spion.  "Ke markas Penjaga Gerbang. Dan aku tahu cara masuknya. "

---

Kami mendarat di desa saat matahari mulai terbit. Aku langsung berlari ke rumah ayahku, tanpa peduli bahwa aku masih memakai pakaian semalam.

Ayahku sedang duduk di meja makan, membaca koran seperti biasa. Ia menatapku dengan heran ketika aku masuk dengan napas tersengal.

 "KSAN? Kenapa kau pulang pagi-pagi? " tanyanya.

 "Yah, aku perlu bicara. "

 "Tentang apa? "

Aku duduk di seberangnya.  "Tentang Penjaga Gerbang. Tentang pulau itu. Tentang semua yang kau sembunyikan dariku. "

Untuk sesaat, ayahku diam. Lalu ia meletakkan korbannya dengan perlahan.

 "Kau sudah pergi ke pulau itu? " tanyanya.

 "Ya. "

Ia menutup matanya.  "Aku tahu ini akan terjadi. "

 "Apa maksudmu? "

Ayahku berdiri dan berjalan ke lemari di sudut ruangan. Ia membuka pintunya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu tua.

 "Ini adalah warisan keluarga kita, " katanya, meletakkan kotak itu di meja.  "Sudah diturunkan selama beberapa generasi. "

Aku membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah buku tua dengan sampul kulit, dan sebuah medali perak dengan simbol yang sama seperti yang kulihat di pulau.

 "Keluarga kita adalah bagian dari Penjaga Gerbang, " kata ayahku.  "Tugas kita adalah menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia psikis. "

Aku menatapnya dengan tidak percaya.  "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku? "

 "Karena aku tidak ingin kau terlibat. Tapi sepertinya takdir berkata lain. "

Aku mengambil medali itu. Di tangannya, medali itu terasa hangat—seperti ada kehidupan di dalamnya.

 "Apa yang harus aku lakukan? " tanyaku.

Ayahku menatapku dengan tatapan serius.  "Selamatkan temanmu. Dan jaga keseimbangan. "

---

Aku kembali ke gudang dengan medali di sakuku. Hime dan Reiki sudah menunggu.

 "Apa itu? " tanya Hime, melihat medali di tanganku.

 "Warisan keluarga. Ternyata keluargaku adalah bagian dari Penjaga Gerbang. "

Hime mengambil medali itu dan menelitinya. Matanya melebar.

 "Ini... ini adalah tanda akses level tinggi. Dengan ini, kau bisa masuk ke markas Penjaga Gerbang. "

 "Berarti kita bisa menyelamatkan Reiki? " tanyaku.

 "Mungkin. Tapi kita butuh rencana. "

Kami duduk dan mulai menyusun strategi. Hime menggambar peta markas Penjaga Gerbang dari ingatannya. Aku menandai titik-titik masuk dan keluar. Reiki—yang masih bersama kami—diam mendengarkan.

 "Ada satu masalah, " kata Hime.  "Markas itu dijaga oleh psikis level tinggi. Kita tidak bisa masuk begitu saja. "

 "Tapi kita punya ini. " Aku menunjukkan medali itu.  "Ini bisa membuka pintu. "

 "Tapi tidak bisa menonaktifkan sistem keamanan. "

Reiki angkat bicara.  "Mungkin aku bisa membantu. "

Kami menatapnya.

 "Jika aku bisa merasakan energi mereka, mungkin aku bisa menetralisirnya. "

Hime menggeleng.  "Itu terlalu berbahaya. Kau bisa kehilangan kendali lagi. "

 "Tapi itu satu-satunya cara. "

Aku menatap mereka berdua. Dua orang yang rela mengorbankan segalanya untuk satu sama lain—tanpa sepenuhnya mengerti kenapa.

 "Kita lakukan besok malam, " kataku.  "Kita siapkan semuanya. "

---

**— Bersambung —**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!