Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Mencariku
Sementara itu.
Jakarta. 08.15 pagi. Aethera Corporation..
Raka masuk ke ruang kerja Ardian dengan wajah yang tidak biasa. Pucat. Tegang. Terlihat ada rasa bersalah di wajahnya. Dan itu langsung membuat Ardian mengangkat kepala.
"Ada apa?"
Raka meletakkan tablet di atas meja.
"Tuan..."
"Apa?"
"Joyce tidak menghadiri wawancara Singapura."
Ardian langsung mengernyit. Dia melihat ke wajah Raka langsung.
"Apa maksudmu?"
"Kami sudah konfirmasi dengan collega kita."
"Dia tidak datang."
Sunyi.
"Mustahil."
Ardian berdiri. Cepat. Terlalu cepat. Nafasnya berhembus kasar. Karena selama ini ia yakin Joyce akan ke Singapura. Semua data menunjukkan ke sana. Semua persiapan menunjukkan ke sana. Dan Joyce juga terdaftar menjadi penumpang Scott Airlines Jakarta – Singapura.
"Lalu dia di mana?"
Raka menelan ludah. Dia tidak bisa memberikan jawaban.
"Itulah masalahnya."
"Apa?"
"Kami tidak tahu."
Untuk pertama kalinya sejak memimpin Aethera, Ardian merasakan sesuatu yang sangat jarang. Panik. Bukan karena kehilangan klien. Bukan karena kehilangan proyek. Tetapi karena kehilangan seseorang. Dia langsung meraih ponsel, kemudian..
"Bandara."
Perintahnya singkat. Raka langsung mengerti.
*****************
Dua jam kemudian.
Mereka sudah berada di ruang VIP Bandara Soekarno-Hatta. Beberapa koneksi Ardian membantu menelusuri data keberangkatan. Namun hasil yang muncul membuat suasana semakin tegang. Karena nama Joyce memang tercatat meninggalkan Indonesia pagi tadi. Tetapi bukan ke Singapura.
"Hanoi?"
Raka membacanya pelan. Ardian langsung menatap layar. Tidak percaya. Vietnam. Hanoi. Bukan Singapura. Bukan Malaysia. Bukan negara-negara yang mereka duga. Hanoi.
Lelaki itu memejamkan mata. Aura kemarahan melingkupi wajahnya. Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kehilangan kendali.
Brak!
Tangannya menghantam meja. Membuat beberapa staf bandara terkejut. Raka bahkan membeku. Dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan amarah bos nya. Karena selama bertahun-tahun bekerja bersama Ardian, ia hampir tidak pernah melihat lelaki itu marah seperti ini.
"Dia berbohong padaku Raka."
Suara Ardian terdengar rendah. Berbahaya. Bukan marah pada Joyce. Melainkan marah karena ia tidak menyadari semuanya lebih awal. Marah karena tidak mampu menghentikannya. Marah karena sekarang ia bahkan tidak tahu bagaimana keadaan perempuan itu.
Raka berusaha tetap tenang.
"Tuan..."
„Kita cari solusi lain”
Namun Ardian seakan tidak mengindahkan perkataannya.
"Aku bilang aku akan ada."
Ardian menatap ke luar jendela bandara. Tatapannya kosong.
"Dan dia tetap pergi."
Beberapa detik kemudian ponselnya bergetar. Sebuah email masuk.
Pengirim:
Joyce Alvaretha
Jantung Ardian langsung berdegup keras. Tangannya membuka email itu dengan cepat. Lalu membaca setiap kata. Sampai selesai. Dan semakin ia membaca... semakin sesak dadanya.
Terima kasih karena pernah menjadi tempat paling aman saat hidupku sedang berantakan.
Jangan mencariku.
Hanya itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada alamat. Tidak ada janji akan kembali. Tidak ada apa pun. Laki-laki gagah itu menangis sesenggukan. Semua terdiam, dan hanya menatap prihatin. Namun mereka tidak berani untuk mendekat.
Untuk pertama kalinya sejak Arya meninggal bertahun-tahun lalu..., Ardian kembali merasakan kehilangan yang sama. Perasaan ketika seseorang pergi sebelum ia sempat mengatakan semua yang ingin ia katakan.
“Aku akan menunggumu sampai kapanpun Joyce..”
“Bahkan aku akan mencarimu..”
Dalam hati, Ardian mengucap janji pada dirinya sendiri.
***************
Dan jauh di atas awan, pesawat yang membawa Joyce menuju Hanoi terus melaju menjauh dari Indonesia. Menjauh dari keluarganya. Menjauh dari masa lalunya. Dan menjauh dari lelaki yang diam-diam telah menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan.
Selamat datang pada dunia yang baru Joyce.., waktu akan mendidikmu.
*************
Hujan turun sejak pagi di Jakarta.
Langit kelabu menggantung rendah seolah ikut merasakan kesedihan yang perlahan menyelimuti beberapa orang di kota itu. Namun tidak ada yang lebih terpukul daripada dua perempuan yang selama puluhan tahun hidup dengan penyesalan.
Maya. Dan Ratih.
Rumah sederhana di Bogor terasa sunyi. Maya duduk di ruang tamu sambil memandangi ponselnya yang tidak pernah lepas dari tangannya selama beberapa hari terakhir.
Ia masih menunggu. Menunggu Joyce membalas pesan. Menunggu Joyce bersedia bertemu. Menunggu kesempatan yang sudah terlambat tiga puluh tahun. Namun yang datang justru sebuah telepon. Dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Apakah benar Ibu Maya Prameswari?"
"Iya."
"Kami dari Panti Asuhan Kasih Bunda."
Jantung Maya langsung berdegup. Dia ingat panti itu. Panti dimana dia menitipkan buah kasihnya.
"Bagaimana Joyce?"
Namun jawaban yang ia terima membuat wajahnya perlahan pucat.
"Joyce pergi ke luar negeri."
Sunyi. Sangat sunyi. Sampai suara di seberang kembali terdengar.
"Kami juga baru mengetahui tadi pagi."
“Joyce meninggalkan cek untuk anak-anak panti.”
„Juga menitipkan pesan tentang kepergiannya untuk disampaikan kepada anda Bu Maya Prameswari.”
Ponsel perlahan terlepas dari tangan Maya. Jatuh ke lantai. Air matanya langsung mengalir. Tidak terkendali.
"Pergi..." bisiknya.
"Dia pergi..."
Selama puluhan tahun ia mencari. Selama puluhan tahun ia berharap. Dan ketika akhirnya menemukan anaknya... Joyce justru pergi sebelum ia sempat memeluknya. Sebelum ia sempat meminta maaf secara langsung. Sebelum ia sempat menjelaskan semuanya.
Kakaknya segera menghampiri.
"Maya?"
Namun perempuan itu sudah menangis terisak. Tubuhnya gemetar.
"Aku terlambat..."
Tangisnya pecah.
"Aku terlambat lagi..."
Tiga puluh tahun lalu ia kehilangan Joyce. Hari ini.... ia merasa kehilangan anak itu untuk kedua kalinya. Dan rasa sakitnya tidak jauh berbeda.
*****************
Di sisi lain kota.
Ratih Mahendra duduk di ruang kerjanya. Wajahnya terlihat lebih tua dibanding beberapa minggu lalu. Kotak kayu berisi foto-foto Arya masih terbuka di atas meja. Sejak mengetahui kebenaran tentang Joyce, tidur menjadi kemewahan yang sulit ia dapatkan.
Penyesalan terus datang. Tanpa henti.
“Joyce.. aku ingin memelukmu saat ini.”
„Untuk menyampaikan permintaan maafku.”
Tok. Tok. Tok.
Asisten masuk dengan wajah serius.
"Nyonya."
Ratih mengangkat kepala, dan menatap wajah asisten itu.
"Ada kabar tentang Joyce?"
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat. Dan asisten langsung tahu. Wanita tua itu juga menunggu.
"Nona Joyce sudah meninggalkan Indonesia nyonya."
Kalimat itu membuat Ratih membeku.
"Apa?"
"Hari kemarin."
Ratih langsung berdiri. Tangannya mencengkeram meja.
"Ke mana?"
"Hanoi."
Sunyi. Lalu perlahan wanita tua itu kembali duduk. Seolah tubuhnya kehilangan tenaga. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Ratih tidak terlihat seperti pemimpin keluarga Mahendra. Tidak terlihat seperti perempuan kuat yang selama puluhan tahun mengendalikan kerajaan bisnis. Ia hanya terlihat seperti seorang ibu tua yang sedang menanggung penyesalan.
"Arya pasti membenciku." bisiknya.
Asisten terdiam, tidak bereaksi apa-apa. Karena ia tahu. Kalimat itu tidak ditujukan kepada siapa pun selain dirinya sendiri.
Ratih memandang foto Arya yang berada di atas meja. Foto putranya saat masih muda. Masih hidup. Masih tertawa. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun... air mata jatuh tanpa bisa dihentikan.
"Aku mengambil terlalu banyak darimu..."
Suaranya bergetar.
"Aku mengambil perempuan yang kau cintai."
"Aku mengambil kesempatanmu menjadi ayah."
"Dan kini... aku kehilangan cucuku juga."
Tangisnya pecah. Membuat asisten yang berdiri di dekat pintu hanya bisa menunduk. Karena tidak ada kata-kata yang mampu menghibur penyesalan selama tiga puluh tahun.