Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 Rumah Baru
Hari Minggu di minggu pertama bulan itu menjadi hari yang ditentukan oleh Lana dan Galih untuk syukuran menempati rumah baru mereka. Kepindahan barang-barang dan perabotan sudah selesai dilakukan beberapa hari belakangan. Sehingga hari itu mereka tinggal bersiap untuk menyambut tamu yang hadir dan ikut mendoakan rumah mereka tersebut.
Mereka mengadakan khataman Al-Qur’an oleh grup pengajian di lingkungan tersebut. Lana sudah menjadi anggota grup tersebut semenjak ia resign dari pekerjaannya, tetapi jarang ikut karena masih belum dapat membawa Risvi untuk aktif lagi di pengajian untuk sementara waktu.
“Banyak sekali ini bingkisannya, Lana? Apa nggak kebanyakan? Itu yang datang aja nggak sebegitu banyaknya, kok,” tegur Bu Tutik yang sedari tadi malah sibuk di belakang untuk menghitung dan mengawasi bingkisan berupa nasi dan kue untuk dibagikan kepada yang datang.
“Memang dilebihin, Bu. Kan buat dibagiin ke tetangga-tetangga juga nanti.” Lana menjawab disertai anggukan dari Bu Asih. Sesungguhnya yang sibuk menyiapkan bingkisan tersebut sedari Subuh adalah Bu Asih dibantu oleh beberapa tetangganya yang memang diminta untuk rewang. Lana sendiri masih sibuk dengan Risvi sehingga ia tak dapat banyak membantu. Setelah semuanya siap, baru dibawa dengan mobil ke rumah baru Lana di sebelah Bu Tutik itu. Lana tak tahu lagi akan bagaimana kiranya kalau Bu Asih tak membantu. Beruntung sekali Bu Asih ini begitu cekatan dan ringan tangan, rela repot demi anaknya. Berbeda sekali dengan tabiat Bu Tutik.
“Nanti yang nggak datang nggak usah dibagi. Enak aja di rumah kok dikasih. Nggak ikut ke sini pun.” Bu Tutik mendadak memberikan ultimatumnya.
Lana dan Bu Asih berpandangan heran. Kok ada orang sejahat itu pikirannya?
“Ya jangan dong, Bu. Ini kan Lana lagi syukuran rumah baru. Cukup kok untuk anggota grup pengajian sama para tetangga semua udah Lana itung dan dilebihin juga biar nggak sampai kurang,” jawab Lana menjelaskan.
“Duh, berapa ini duit dihabiskan buat beseknya ini aja?” komentar Bu Tutik yang bahkan tak ikut sibuk sedikit pun dalam mempersiapkan semua itu.
“Nggak apa, Bu. Diniatkan syukuran, semoga rezekinya semakin berkah dan rumah juga awet ditinggalin, jauh dari mara bahaya.” Bu Asih ikut menjawab akhirnya karena tak tahan dengan kecerewetan sang besan.
Mendengar itu, sepertinya karena tak enak hati, Bu Tutik lantas pergi dari dapur dan kembali ke rumahnya sendiri di sebelah. “Kamu kok di sini? Bukannya bantuin Lana di sana?” Bu Tutik menegur Ely yang berdiam di rumahnya
“Malas, ah, Bu. Semuanya udah siap dari rumah ibunya sendiri, kan? Jadi udah nggak ada kerjaan lagi di sana. Kan segan kalau cuma berpangku tangan,” jawab Ely sambil terus memotongi kuku jarinya di sofa depan TV.
“Ya enak to kita nggak perlu tergopoh lagi kalau kita yang kerjain di sini.” Bu Tutik menjawab sok bijak padahal dalam hatinya sendiri juga merasa sedikit aneh kalau Lana yang akan tinggal di rumah sebelahnya itu malah memilih masak besarnya di rumah ibunya yang jauh.
“Lah, kalau gitu Ibu juga ngapain pulang? Kan mendingan di sana. Yang penting terlihat hadir san rukun,” tegur Ely dengan sikap berani.
“Halah, percuma Ibu di sana. Ibu berpendapat juga selalu dibantahin terus sama Lana. Mentang-mentang udah punya rumah sendiri, jadi berani sekali smaa ibu mertuanya.”
Ely memutar bola matanya jengah. Jelas sekali ia tahu apa masalah yang terjadi di sana. L ana yang dermawan versus Bu Tutik yang super pelit. Ya nggak mungkin bisa cocok lah, pikir Ely membatin meski tak ingin berkomentar.
Beberapa saat kemudian, Gilang yang menyusul mereka berdua karena ia segan saat Galih bertanya di mana Ely dan Bu Tutik kenapa tidak kelihatan di rumah barunya itu.
“Ayo kita ke sana lah, Bu, Dek. Biar tampak rukun aja. Kan kita emang nggak ada masalah. Bentar lagi semua tamu pengajian akan pulang, Ibu dan Ely sebaiknya ikut menyalami tamu yang pamitan nanti, ya.” Gilang berpesan sambil memastikan kedua wanita itu benar bangkit dari duduknya dan bergegas ke rumah Lana di sebelah.
Dan rupanya hal itu juga menimbulkan masalah baru bagi Lana. Ia yang menerima banyak sekali amplop dan juga gula atau minyak dari para tamu yang datang ikut syukuran tersebut harus menelan kecewa saat Bu Tutik mengemasi semua itu untuk disimpankan olehnya di rumah Bu Tutik.
“Ibu aja yang bawa ini. Kan orang-orang yang datang itu semuanya tetangganya Ibu. Mereka itu balas jasa Ibu yang juga selalu datang ke acara mereka dengan membawa bawaan yang serupa. Kalau Ibu dulu nggak rajin datang ke acara-acara itu, maka pasti yang datang ke kamu nggak sebegini banyaknya,” kata Bu Tutik panjang lebar sambil meminta bantuan Ely untuk memboyongnya ke rumah mereka.
Lana tak berani membantah. Ia hanya tak enak karena tak jadi melaksanakan niatnya untuk memberikan sebagian pemberian orang itu untuk ibunya sendiri. Ibunya yang turut serta dalam kerepotan itu pun jadi pulang tanpa membawa apa pun.
Bu Asih tak mempermasalahkannya. Toh ia ikhlas membantu putrinya. Dengan melihat acara itu berlangsung lancar saja ia sudah bahagia. Terlebih sang suami juga pasti akan menolak kalau sampai Lana berkeras memberi mereka sembako seolah mereka tadi meminta imbalan pada putrinya sendiri.
“Ibu kamu keterlaluan deh, Mas. Dia itu udah nggak bantu apa-apa sama sekali, tapi pas ada sembako dari pasra tamu langsung gercep diberesin dan dibawa pergi. Astaga! Kok kayak nggak ada malunya, ya, Mas?” Lana kali itu sanagt terpaksa menyebutnya demikian di hadapan suaminya sendiri’
“Tapi kan Ibu bilang kalau kamu butuh bisa ambil di lemari stok rumah Ibu, Dek? Cuma bantu menyimpankan, kok,” hibur Galih yang mengerti maksud ibunya.
“Ya tapi aku segan lah Mas kalau harus bolak-balik ngambil ke sana. Kesannya nanti kayak aku ngambilin punya mereka. Padahal kan punya aku harusnya itu.Lagian tadi juga awalnya aku akan kasih ke mereka pembagiannya, kok. Nggak akan aku kekepin sendirian,” keluh Lana sambil mengurut dada.
“Ya udah gampang. Nanti kalau kamu butuh bilang ke Mas aja, biar Mas yang ambilin ke sana. Beres kan?” Galih memberikan solusi yang terbaik menurutnya. Pria penyabar itu selalu menginginkan keluarganya damai dan tenteram tanpa perdebatan tak berarti.
Akhirnya Lana mengalah dan mengiyakan saran dari sang suami. Setidaknya ia kini bisa lebih bernapas lega karena sudah tak seatap dengan mertua. Meski bersebelahan, yang penting masih punya privasi.
Ia juga jadi lebih bebas menentukan menu masakan keluarganya. Tak perlu mengikuti pola diet non kolesterol dan non asam urat seperti yang selalu ia lakukan saat masih bersama sang ibu mertua.
Risvi juga tak begitu rewel sekarang. Ia jauh lebih senang mengurusnya seorang diri daripada dibantu Bu Tutik yang notabene bukan malah membantu tapi sukanya mencibir dan menyalahkan semua yang dilakukan oleh Lana.
Kalau kebetulan ia sedang memasak makanan yang non kolesterol maka Lana akan datang ke rumah sebelah untuk menawari sang ibu mertua untuk makan di rumahnya atau ia yang mengantar menunya ke situ.
“Ah, tidak usah! Ibu udah mau masak makanan buatanku, kok,” ketus Ely terkadang ketika ia mendengar ajakan Lana tersebut keoada sang Ibu.
“Ya siapa tahu aja ingin makan lagi gitu, Mbak. Kalau nggak juga nggak apa. Mbak Ely juga boleh banget ya kalau mau makan bareng di rumah aku,” lanjut Lana yang masih saja merasa hutang budi karena Ely dan Gilang mau menggantikan dirinya dan Galih tinggal di rumah tersebut.
Namun, Ely menanggapinya dengan sangat ketus. “Iya lah rumah baru. Hidup sendiri, asyik dong ya sekarang.”
Lana tak tahu harus menjawab apa. Ia lantas pamit sambil menggendong kembali Risvi yang tadinya sudah melantai di bawah kakinya. Bayi itu sudah mulai belajar merangkak sekarang.
“Duh, Mas. Kayaknya Mbak Ely itu terus-terusan sengak deh kalau sama aku. Bolak-balik dia tuh kayak bilang iri sama rumah kita gitu, Mas. Padahal kan ini rumah hasil kerja keras kita sendiri, ya?” Lana mengeluh kepada suaminya ketika mereka tengah berbincang santai sepulang kerja.
“Halah, jangan biarkan perasaan seperti itu ada, Dek. Jangan dipelihara itu namanya buruk sangka.” Galih mulai kembali bernasihat kepada istrinya.
“Enggak, Mas. Emang dari nada suaranya aja itu udah kelihatan gitu loh kalau dia iri dan merasa kalau itu sesungguhnya hak dia bukannya kita.”
Lana berkeras dengan persangkaannya karena ia memang betul merasakan hal itu setiap kali Ely menyindir-nyindirnya soal rumah baru.
“La emang gimana konsepnya itu kok sampai harusnya hak dia?” Galih yang polos tak mengerti bagaimana rumitnya pemikiran para wanita.
Lana menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.
“Ya dia bilang harusnya anak sulung yang punya rumah duluan. Lah, terus masa’ kita mesti nungguin dia punya rumah dulu baru kita boleh punya yang sama? Gimana sih!”
“Ya gampang aja kan kalau mereka mau bangun rumah juga di sebelah lagi. Maih ada tempat, kok. Tapi mereka mau bangun pakai uang apa? Itu yang jadi masalahnya.” Galih menjawab kegelisahan sang istri.
“Lah makanya itu, Mas. Entah apa maksudnya dengan bilang harusnya yang anak sulung yang bangun rumah duluan? Kan ya salah meeka sendiri nggak mau nabung dari dulu,” lanjut Lana lagi.
“Iya makanya mungkin emang takdir mereka harus tinmggal sama Ibu. Biar balajar hidup irit dan nabung dan nanti ke depannya bisa bangun rumah juga kan siapa tahu ada rezekinya,” Tukas Galih berteori. Kedua suami istri itu memutuskan untuk mengabaikan sindiran-sindiran yang dilontarkan oleh Ely.
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻