Alana Dhira Lesham telah berpacaran selama 2 tahun dengan Devano Arlots, calon ceo muda di perusahaan papanya.
hingga mereka memutuskan ke jenjang pernikahan.
namun sehari sebelum pernikahan. Devan membatalkan pernikahan dengan alasan Dia telah menghamili wanita lain, yang tak lain adalah Karina. rivalnya saat sma serta kuliah.
saat itu pula alana mengetahui jika dirinya tengah mengandung anak dari devan.
dengan perasaan kecewa Alana pergi keluar negeri tanpa memberitahu kebenarannya pada devan. Dan membesarkan anaknya sendiri.
bagaimana kelanjutannya?
novel by IZANANTEROS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DnieY_ls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
terungkap
Devan tak berniat untuk pulang ke rumah nya. Dia memilih pulang ke rumah kedua orang tuanya. Devan akan berpamitan terlebih dahulu.
Devan hanya membawa satu koper sedang. Dia membawa bajunya asal tanpa memilih. Lalu menggereknya kebawah.
'' kamu ini kenapa sih Dev? Tadi pagi mama tanya malah pergi. Sekarang udah mau pergi lagi. Bawa koper segala lagi. Mau kemana Dev?''. Tanya Diana yang baru masuk sambil menggambit lengan sang suami.
'' devan buru buru ma. Devan mau ke Kanada. Devan titip perusahaan sama papa dulu. Devan harus ke bandara''. Devan menyalami tangan kedua orang tuanya.
'' Kanada? Ngapain kamu jauh jauh kesana?'' Diana membulatkan matanya.
'' nanti devan jelaskan jika sudah kembali. Devan harus pergi sekarang. Bye ma pa''.
Devan masuk ke dalam mobilnya. Kopernya sudah dia masukan ke bagasi.
Diana dan Jerry saling tukar pandang. ,Eraasa bingung satu sama lain.
'' devan kenapa sih pah? Kok aneh''. Tanya Diana.
Jerry mengerdikan bahu nya. '' udah lah dia juga udah dewasa. Mending kita main yuk''. Ajak Jerry sambil mengedipkan matanya sebelah dengan genit.
Diana yang mengerti pun tersipu malu. '' udah tua juga. Udah punya cucu masih aja suka mesum''. Diana mencubit perut Jerry.
Jerry terkekeh lalu menggendong Diana dan membawanya ke kamar. Untuk melakukan aktivitas menggerahkan.
Perjalanan Indonesia Kanada memerlukan waktu tempuh 13 jam. Di tambah ke kota keberadaan Alana dua jam.
Devan sampai disana pukul dua pagi dini hari jika di Indonesia. Namun di Kanada kini pukul dua siang.
Karena jarak waktu yang sangat jauh dan devan tak tidur. Dia memutuskan untuk tidur sejenak di hotel tempatnya menginap. Untuk memulihkan energinya yang terkuras akibat tak tidur.
...
Pukul empat sore devan terbangun. Buru buru dia bersiap untuk ke rumah Alana yang ada disini.
Devan membeli mobil terlebih dahulu. Dia tidak mungkin menggunakan kendaraan umum karena keberadaan nya disini tak menentu.
Setelah membeli salah satu mobil devan langsung melajukannya menuju alamat yang di berikan Edgar.
Sampai di alamat yang dituju hatinya tiba tiba was was. Jantung nya berdetak cepat. Entah kenapa dia tak tahu. Tapi yang pasti dia gugup.
Namun demi memastikan dugaannya devan meyakinkan dirinya.
Satu langkah sebelum masuk halaman devan dibuat terkejut oleh seseorang yang baru saja keluar dari rumah itu.
Langkahnya terhenti. Tubuhnya mematung, tatapannya tak lepas dari bocah laki laki yang menarik Alana keluar.
Mulutnya tak bisa berkata kata saat melihat wajah anak itu. Sungguh, ini tidak mungkin kan?
Wajahnya, kenapa wajah bocah itu begitu mirip dengannya. Bahkan tanpa perlu di telisik pun devan sudah sangat mengenalnya. Dia seperti bercermin pada dirinya sendiri.
Tiba tiba berbagai prasangka mendarat di otaknya.
Apakah mungkin anak itu anaknya?
Apakah karena kejadian satu malam itu menghasilkan seorang anak?
Dia telah menjadi seorang ayah tanpa dia ketahui?
Pikiran itu bersarang dan berperang dalam otaknya. Menyambungkan serangkai peristiwa yang dia alamai.
Hingga tak lama dia dapat menyimpulkannya sekarang. Matanya tiba tiba berkaca kaca.
Dia telah menjadi seorang ayah? Ha. Devan merasa lucu dengan takdir dunia ini.
'' mommy ayok kita pergi ke rumah aunty tania''
Suara itu mengembalikan kesadaran nya. Devan menatap kembali ke rumah dimana di sana Sean tengah berlari sambil menarik tangan alana.
'' iya sayang. Pelan pelan ini juga sedang jalan'' sahut Alana.
Namun sebelum keluar dari halaman itu Alana di hampiri seorang pria yang tak di kenal oleh devan.
'' Hi Al. Kenapa gak ngabarin aku kalau kamu udah kembali kesini?'' sahut Brian. Dia hendak memeluk alana namun urung saat Sean buru buru memeluk kaki Alana.
'' ngapain paman disini?'' tanya Sean judes.
'' Sean jangan seperti itu pada paman brian''. Peringat Alana.
'' maaf ya bri. Aku kesini mendadak kemarin malam jadi tidak sempat mengabari''. Ujar Alana.
'' tidak papa aku maklum''. Sahut Brian. Matanya beralih menatap Sean yang tengah memeluk kaki alana.
'' hey boy. Kau tak merindukan paman?'' tanya Brian dengan senyum.
Sean menggeleng pelan. '' tidak. Aku tidak merindukan paman sama sekali''. Jawabnya ketus.
Alana mengusap bahu Sean untuk memperingatinya.
'' maaf ya bri. Sean mungkin sedang kesal'' ujar Alan tak enak hati.
Di tengah percakapan mereka tiba tiba sebuah suara menghentikannya.
'' hai alana dan juga.... Sean''.
Deg
Alana mematung saat mendengar suara oeang yang sangat dia kenali.
dev kan bisa minta cctv di hotel tempat kejadian