Emin Erdana gadis cantik nan rupawan, usia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan Tuan muda Abelano putra tunggal Tuan Basten dan Nyonya Agatha. Untuk menyelamatkan reputasi Keluarga Besar Basten. Setelah pernikahan Putranya Abelano gagal karna sang kekasih lebih memilih pria lain.
Akankah Emin Erdana menerima pernikahannya dengan Abelano?
"Apakah Abelano dapat menerima pernikahan itu? simak ceritanya di "Contrac wedding 30 day's with CEO "
by Morata
FB Nolan s
Ig Sihalohoherlita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Morata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. MERASA TERGANGGU
Karena harta hanyalah sementara dan itu hanya titipan Allah. Aku baru menyadari itu semua. Untuk itu mas benar-benar minta maaf kepada kamu, karena sudah bersikap kasar kepadamu.
jika masih terbuka pintu maaf kepadaku, Tolong maafkan aku istriku. Aku sangat mencintaimu dan menyayangimu. Maafkan Aku baru menyadari hal itu semua. Maafkan aku karena telah mengatai Mu wanita sampah. Yang sepatutnya sampah itu adalah aku. Aku tidak pernah mengucap syukur akan apa yang aku dapatkan.
Terima kasih atas pembelajaran yang kau berikan kepadaku. Jika kau tidak melakukan itu, mungkin aku belum menyadarinya semuanya." ucap Abelano yang merasa bersalah akan sikap dan tingkah lakunya kepada Emin selama ini.
"Emin hanya diam mendengar dan menatap suaminya. Ia berusaha mencari kebohongan disorot bola mata Abelano. Tetapi ia tidak menemukan kebohongan di sana. Emin mengembangkan senyumnya menatap Abelano dengan Tatapan yang sulit diartikan.
Emin meminta kepada Abelano untuk duduk kembali agar mereka segera menikmati makan malam. Apalagi Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.
"Mas ini sudah pukul 21.00, nanti saja ngomongnya. lebih baik kita makan aku sudah sangat lapar." ucap Emin sambil mengembangkan senyumnya.
Dengan telaten Emin menata makanan itu dan memberikannya kepada suaminya. "Makanlah supaya ada tenagamu berbicara kepadaku. Dari tadi kamu banyak bicara." perintah Emin sambil mengembangkan senyumnya menatap Abelano.
Senyuman itu mampu memporak-porandakan hati Abelano
Abelano duduk kembali tepat di hadapan Erwin agar dirinya dapat menatap istrinya itu.
"Makanlah jangan terlalu banyak mengoceh Kau pasti sudah sangat lapar.
Abelano menganggukkan kepalanya. selalu perlahan Abelano memasukkan menu makanan yang sudah dihidangkan ke dalam mulutnya.
Begitu juga dengan Emin. Entah karena terasa sangat lapar Abelano dan Emin menghabiskan menu makanan yang ada di atas meja.
Drama makan malam telah usai, lalu mereka kembali duduk di sofa untuk menikmati siaran televisi yang tayang di salah satu televisi swasta. "Apa kau sudah ngantuk?
"Tidak, Lagian kalau baru selesai makan itu, tidak bagus untuk berbaring.
Emin berlalu keluar dari apartemen menuju balkon. Di balkon terdapat dua kursi dan meja kecil yang dapat memandang pemandangan indah ibu kota. Apalagi jika di malam hari, ia dapat memandang hamparan kota yang luas dilengkapi dengan lampu-lampu yang begitu indah memanjakan mata.
Melihat Emin keluar dari apartemen miliknya menuju balkon, Abelano menyusul Emin.
"Kau di sini?
"Hemmmm
"Menikmati pemandangan indah di malam hari udaranya sangat sejuk masuk ke pori-pori tubuhku." ucap Emin berterus terang kepada Abelano.
"Apa kau menyukai tinggal di sini?
Emin tidak menjawab.
"Kenapa kamu diam?
Jika waktu bisa diputar kembali Mungkin aku akan memutar waktu. Agar aku memperbaiki diriku dan memperbaiki segala sikap dan tingkah lakuku kepadamu istriku sayang." ucap Abelano sambil memeluk Emin dari belakang.
Hingga hembusan nafas Abelano terasa jelas di daun telinga Emin. Hingga bulu kuduk Emin merasa merinding.
Emin memutari tubuhnya, agar dapat melihat suaminya dengan jarak dekat. "Apa kau tidak merasa jijik memelukku?
"Kenapa aku merasa jijik?
"Aku wanita sampah sudah tidak sepatutnya kamu peluk."
"Sayang maafkan aku, aku menyadari kesalahanku yang berbicara kasar kepadamu. Apakah tidak ada pintu maaf Di hatimu kepadaku? tanya Abelano memohon. Emin menatap suaminya dengan Tatapan yang sulit diartikan. Tiba-tiba,
Cup......
Emin memberikan kecupan hangat di wajah tampan Abelano.
Membuat Abelano merasa sangat bahagian mendapatkan kecupan hangat dari Emin yang selama ini tidak didapatkan Abelano dari Emin. Abelano benar benar sangat bahagia mendapat kecupan hangat dari Emin.Emin yang merasa malu memberikan kecupan hangat kepada suaminya, langsung berlari masuk ke dalam apartemen.
Sementara Abelano masih terpaku memegang bekas kecupan dari Emin. lalu ia tersadar, kemudian mengejar Emin masuk ke dalam apartemen. Abelano menatap istrinya sudah berbaring di atas tempat tidur yang berukuran King size yang selama ini menemani tidur Abelano. Dikamar yang selama ini ditempati oleh Abelano
"Kenapa langsung lari sayang?
Emin tidak menjawab. Tubuh Emin membelakangi Abelano. Ia merasa sedikit malu karena sudah berani memberikan kecupan hangat di wajah tampan suaminya.
"Lebih baik kamu langsung tidur, kalau kau tidak merasa nyaman tidur di sampingku, aku bisa tidur di sofa." ucap sambil mulai bangkit dari pembaringannya. "Tidak, justru Ini yang aku inginkan. Tiba-tiba mati lampu membuat Emin merasa ketakutan dan sontak memeluk Abelano.
"Kenapa lampunya mati!" teriak Emin merasa ketakutan dan memeluk Abelano dengan erat. "Jangan khawatir, kamu sudah lihat bukan? di luar hujan turun deras. itu biasa terjadi kalau ada gangguan listrik." ucap Abelano sambil mengelus pundak Emin dan berusaha mencari lampu emergency yang ada di kamarnya. lalu menghidupkannya.
Abelano merasa getaran yang cukup hebat di tubuhnya, ketika Emin memeluk dirinya dengan erat. Ia merasa bahagia telah membawa Emin ke apartemen pribadinya. walaupun kedua orang tua Emin belum mengetahui kalau Emin saat ini berada di apartemen milik suaminya.
Karena masih dilanda ketakutan, Emin tetap memeluk tubuh suaminya. Hingga abelano memberanikan dirinya untuk memberikan kecupan hangat di bibir manis istrinya. Bukan malah menolak, melainkan Emin membalas kecupan itu. Membuat Abelano semakin merasakan sensasi yang sangat luar biasa.
Perlahan kecupan itu semakin mendalam. hingga lidah mereka saling bersahutan di sana. Emin menikmati gerakan lidah yang dilakukan Abelano Begitu juga dengan Abelano menikmati segala gerakan demi gerakan yang dilakukan Emin terhadapnya.
Kini keduanya benar-benar diselimuti Api Asmara. hal yang seharusnya mereka lakukan ketika mereka berada di malam pertama hampir saja mereka lakukan saat itu. Semua itu terganggu karena suara Deringan ponsel Abelano yang sedari tadi menjerit-jerit
Emin dan Abelano menghentikan aksi mereka Emin meminta Abelano untuk mengangkat telepon selulernya. Ia melihat panggilan seluler dari tuan Basten. "Abelano langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada tuan Bansten.
"Hallo Assalamualaikum Pi, sapa Abelano dalam sambungan telepon selulernya.
"Kau di mana sekarang? cepat katakan teriak Tuan Basten dari ujung telepon.
"Ada di apartemen bersama Emin. Ada apa Pi?
"Ya sudah tidak apa-apa, kalau kau di sana bersama Emin." ucap Tuan Basten langsung mematikan sambungan telepon selulernya.
"Buset dah, ada apa sih Papi ini menghubungi tengah malam seperti ini? membuat ku terganggu." gerutu Abelano sambil meletakkan ponselnya begitu saja karena dirinya kesal melihat Tuan Basten karena tuan Basten mengganggu dirinya di saat ingin memadu Asmara dengan istrinya.
"Kenapa cemberut begitu?
"Papi yang menghubungiku. Eh ditanya untuk apa menghubungi malah langsung mematikan setelah aku memberitahu kalau kamu ada bersamaku di sini." ucapnya merasa kesal.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya emak
Dan semoga Emin selalu sukses di luar sana,Jgn mau di pujuk pulang oleh pria tua itu lagi iya Emin..👍🏻