Cinta bisa datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.
Cinta tak kenal paksaan, cinta tak kenal status, cinta tak kenal usia.
Seperti yang terjadi pada Monica Alandra Putri. Rasa sayangnya pada teman baik ibunya, Egi Pramuja, tumbuh menjadi rasa cinta ketika dia sudah dewasa. Namun sayang, Egi sudah memiliki perempuan yang akan menjadi calon istrinya. Beribu-ribu cara Monica lakukan untuk memisahkan mereka, tetapi malah semakin menjauhkan dirinya dari Egi.
Ketika Monica ingin menyerahkan hatinya untuk orang lain, Egi datang membawa cinta untuknya. Kebimbangan datang di hati Monica, yang akhirnya membuat Monica terlibat cinta segitiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal yang tidak terduga
Mohon dukungannya.....
Leo memberhentikan laju mobilnya di depan gerbang rumah Monica. "Sudah sampai."
Monica melepas safety belt nya, "Terimakasih, Kak Leo. Maaf aku selalu merepotkan mu."
"Aku sudah kenyang dengan kata maaf mu, Monica." Monica terbelalak. Namun ia segera menaikan satu alisnya saat melihat Leo tertawa.
"Apa yang Kak leo tertawa kan. Memangnya ada yang lucu?" kesal Monica.
"Wajahmu lucu sekali, Monica."
"Kak Leo!" Monica memasang wajah cemberut.
"Maaf, Maaf. Kamu sudah berapa kali mengucapkan kata maaf padaku. Kamu jangan terlalu sungkan padaku." Leo mengacak-ngacak rambut Monica merasa gemas dengan calon adik iparnya itu.
"Kak Leo mau mampir dulu?" Tanya monica sambil merapikan rambutnya.
"Tidak. Panji bisa maraj-marah nanti jika aku terlalu lama disini. Dia bisa mikir yang macam-macam," ledek Leo.
"Kak Leo bisa saja." Monica membuka pintu mobil dan setelah ia keluar Monica menutupnya kembali. Leo menurunkan kaca mobilnya. "Oh iya, Kak Leo besok enggak usah jemput Monica ya."
Leo mengerutkan keningnya. "Ngambek nih?"
Monica memutar bila matanya. "Enggak KaK. Monica besok mau bawa mobil sendiri. Sayang kan kalau mobil Monica lama-lama di anggurin," jawab Monica.
"Oh, Oke. Aku pulang dulu ya." Lao melambaikan tangannya pada Monica begitu juga Monica melambaikan tangannya pada Leo.
"Kak leo hati-hati di jalan. Salam buat tante Alena dan om Bagas ya." Leo mengangguk dan membunyikan klakson mobil nya sebelum Leo melajukan mobilnya.
Monica terus menatap kepergian mobil Leo dan setelah mobil itu sudah tidak terlihat, Monica masuk ke dalam rumahnya. Monica mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam."
Monica mengedarkan pandangannya dan melihat ayah dan bundanya sedang duduk di ruang tengah. Monica pun melangkah menghampiri kedua orang tuanya itu.
"Ayah sama Bunda sudah pulang?" tanya monica. Monica menyalami dan mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian lalu ikut duduk di sofa panjang itu.
"Sudah, Nak."
"Kok cepet pulang nya?" Monica tahu kalau kedua orang taunya sedang ikut mempersiapkan acara pernikahan Egi dan Talita. Kedua orang tuanya nampak ragu untuk menjawab. Mata monica melihat bundanya terlihat cemas. "Bunda, kenapa?"
Ratna menoleh ke arah Monica, ada sedikit rasa terkejut saat anaknya melontarkan pertanyaan untuk nya. "Bunda enggak kenapa-kenapa. Bunda hanya sedih."
Monica makin bingung, Ia mengerutkan keningnya, kenapa bundanya sedih harusnya bundanya itu merasa bahagia karena dua sahabatnya akan menikah.
"Om Egi dan tante Talita mengundurkan hari pernikahan mereka dan justru sekarang mereka sudah mengakhiri hubungan mereka." Ratna menghela nafas berat.
Monica melebarkan matanya, ia sungguh sangat terkejut. Kenapa bisa om Egi dan tante Talita mengakhiri hubungan mereka, padahal hari pernikahan mereka tinggal satu minggu lagi.
"Bunda sama ayah juga enggak tahu. Mereka tidak ada yabg mau mengatakan alasannya pada kami, kenapa mereka memilih untuk mengakhiri hubungan mereka," jawab Ratna.
Monica hanya manggut-manggut saja. Monica sungguh terkejut kenapa mendadak aku mereka mengakhiri hubungan mereka. Bukan nya mereka saling mencintai dan Monica kira hubungan keduanya selama ini baik-baik saja.
"Mungkin ada orang ketiga Bun?" Monica berucap asal.
"Bunda juga enggak tahu." Ratna benar-benar tidak habis pikir keduanya akan berakhir seperti ini.
"Oh iya, kok Kakak pulangnya malam gini?" Angga melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam.
Monica tertawa kecil. "Monica ketiduran di rumah Panji, Yah, Bun." Angga dan Ratna sama-sama menaikan satu alisnya medengar jawaban dari Monica.
"Bun, kayaknya Monica mulai betah di rumah calon suaminya," ledek Angga diikuti tawa Ratna.
"Issh,,, Ayah." Monica mencubit perut ayah tirinya itu kemudian memasang wajah cemberut.
"Kamu ini ada-ada saja, kok kamu bisa-bisanya ketiduran di rumah Panji?" tanya Ratna pada anak perempuannya.
Monica akhirnya menceritakan keadaan Panji pada kedua orang tuanya ia mengutarakan kekhawatirannya pada kedua orang tuanya.
"Kamu jangan khawatir, Kak. Mungkin benar kata Leo, kalau Panji hanya kecapean karena banyak kegiatan di sekolah," ucap Angga untuk menghilangkan kekhwatiran di hati Monica.
"Iya, Yah. Mungkin benar begitu." Monica menghela nafas untuk menghilangkan kekhawatiran dirinya pada Panji.
"Ya sudah, Kakak mandi terus makan malam, Bunda sudah siapin makanan kesukaan kamu." ucap Ratna di angguki oleh Monica.
"Ya sudah, Monica ke kamar dulu ya," ujar Monica pada kedua orang taunya.
"Iya, Sayang." balas Ratna dan Angga bersamaan.
Monica berjalan menaiki anak tangga rumahnya menuju kamar nya. Perasaannya campur aduk memikirkan Panji dan putusnya hubungan antara om Egi nya dengan Talita. Monica membuka pintu kamar nya, ia memutuskan untuk berendam di kamar mandi untuk menghilangkan rasa lelah di kepalanya.
Monica mulai mengisi bak mandi nya dengan air hangat dan mulai menuangkan sabun mandi. Monica membuka seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandi berbusa. Monica merasakan rasa nyaman saat tubuhnya terendam air hangat di bak mandi. Ia memejamkan matanya, pikirannya melayang memikirkan om Egi nya.
Monica kembali membuka matanya dan menghembuskan nafas panjangnya untuk menghilangkan bayangan Egi di kepalanya dan menggantinya dengan sosok yang kini sudah menjadi kekasihnya, yaitu Panji.
Saru jam sudah Monica berendam di dalam kamar mandi dan ia pun memutuskan untuk menyudahinya. Monica membilas tubuhnya di bawah pancuran air dari Shower. Setelah selesai Monica meraih handuk yang tergantung tidak jauh dari nya dan melilitkannya di tubuhnya.
Monica keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terada segar. Monica melangkah menuju lemari pakaian dan mengambil baju ganti. Monica sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer saat seseorang mengetuk pintunya.
Monica mematikan hair dryer nya dan membuka pintu kamarnya. "Non Monica di panggil sama Ibu buat makan malam," ucap asisten rumah tangga di rumahnya.
"Oh iya, bilang sama Bunda, Monica turun sebentar lagi." Asisteb rumah tangga itu mengangguk sebelum ia kembali turun ke lantai bawah.
Monica menutup pintu kembali lalu ia mendengar dering di ponselnya. Monica mengambil tas nya untuk mengambil ponsel di dalamnya. Monica melihat nama yang tertera di layar ponselnya dan ternyata dari Panji.
Monica langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pilih itu ke telinganya.
📞" Hallo," sapa Monica.
📞"Hallo juga." Monica bisa mendengar suara Panji yang ada di seberang panggilan. "Kamu dari mana saja, kenapa dari tadi kamu enggak angkat panggilan dari ku?"
📞 "Maaf, aku baru daja selesai mandi."
📞 "Hmm pantas saja aku sepertinya mencium bau wangi di sini," goda Panji.
📞"Bisa saja. Kamu baik-baik saja?"
📞"Tentu, jangan khawatir Monica, aku baik-baik saja."
📞"Kamu sudah makan?"
📞"Sudah, kamu sendiri?"
📞 "Aku belum, sebentar lagi."
📞"Baiklah aku tutup teleponnya, kamu makan dulu habis itu istirahat."
📞"Baiklah.."
📞 "Monica..." Panji menjeda kalimatnya. Monica sendiri menunggu apa yang akan di ucapkan oleh Panji selanjutnya.
📞" Apa?"
📞 "I love you"
📞 "I love you too"
Keduanya menutup sama-sama menutup panggilannya dan senyum pun mengembang di bibir masing-masing.
panji juga knp ga jujur aja...