Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Apa ya?
Emma kembali terjebak dalam ruangan membosankan itu lagi. Pagi yang cerah tak mampu mencegah kebosanan yang mencekam ini. Ruangan yang dipenuhi dengan buku di setiap mejanya dan beberapa laptop yang masih terbuka karena ditinggal oleh pemiliknya begitu saja. Hanya suara printer yang terdengar di tengah kesunyian itu.
Di ruang guru hanya ada Emma dan dua guru lain, salah satunya Pak Martin. Iya, dia adalah orang yang mencegah Emma untuk menghancurkan pintu gudang karena kehadirannya.
Pak Martin di mejanya hanya melakukan hal yang sangat membosankan seperti yang Emma lakukan yaitu mengetik beberapa materi pelajaran. Yang membedakan dari keduanya hanyalah Emma yang berpura-pura mengetik sesuatu. Dia benar-benar tidak tahu yang harus dia lakukan.
Tentu saja, Emma sudah menyusun rencana dari semalam untuk membuka pintu gudang sialan itu. Dia bahkan telah membawa perkakas yang ia sembunyikan di tas selempang berwarna merah mudanya yang berukuran sedang itu. Kini yang tersisa adalah alasan yang tepat agar dia bisa berkilah kalau sewaktu-waktu ada orang yang datang seperti siang kemarin.
"Ehem," Emma berdeham sebelum dirinya berdiri membawa tas selempangnya keluar ruang guru. Ia berjalan perlahan agar kedua rekan gurunya tidak menyadari kepergiannya.
"Bu Emina ada jam kah?" Tanya Martin mendadak sampai berhasil menghentikan langkah setengah mengendap dari Emma.
"A...hahaha... Iya," Emma tertawa canggung, berusaha menyembunyikan groginya.
"Oh oke, selamat bekerja ya Bu," ucap Martin berbasa-basi. Namun Emma bisa melihat kilatan tatapan tajam seperti tengah mengendus sesuatu yang janggal.
"Hehhe iya," jawabnya singkat lanjut berjalan cepat keluar dari ruang guru.
Tak tak tak!
Sepatu pantofel setinggi lima senti itu menciptakan suara menggema di tengah lorong kelas yang sepi. Rok sempit selutut berwarna coklat miliknya, ikut menghambat jalan cepat yang sedang diusahakannya. Sedangkan, Emma juga harus membawa tas yang penuh perkakas.
"Fyuh," Emma menghela nafasnya sebentar untuk menyeimbangkan jalannya. Jujur saja, pakaian feminim ini sangatlah tidak cocok untuknya. Ia berulang kali mengumpat pada dirinya sendiri karena tidak memakai celana kain hitamnya yang sudah ia siapkan di lemari gantung.
"Demi apa coba aku pakai rok ini? Haishhh..." Umpatnya sembari membenarkan roknya yang berulang kali tergulung keatas.
"Ehem!"
Tiba-tiba Emma mendengar seseorang berdeham di belakangnya. Sontak ia terkejut dan menoleh ke belakang.
"Levi?" Ucapnya.
Namun kakinya yang memakai sepatu pantofel tinggi tidak mampu menopang badannya ketika menoleh. Seketika Emma terjungkal kebelakang.
Akan tetapi, Levi yang sigap mampu menangkap pinggang Emma.
Bagai adegan di drama-drama, di mata Emma seolah ada filter tersendiri. Bunga mawar bermekaran dan kilatan cahaya bintang membentuk seperti lingkaran denga Levi berada di tengahnya.
"Ka...mu...nggak...apa...apa..." Suara Levi seolah melambat membuat Emma malah terpaku menatap dua buah mata coklat yang indah milik Levi.
"Mi... Mi!!!!" Levi kembali memanggil nama Emina dengan sedikit menggoyangkan badan Emma.
"Oh!"
Bunga-bunga yang bermekaran itu seketika meletup seperti gelembung yang pecah.
"Ma..maaf!" Emma akhirnya melepaskan topangan tangan Levi di pinggangnya dan berdiri tegak seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kamu mau kemana kok buru-buru amat?" Tanya Levi.
'Aku harus jawab apa coba? Mana mungkin aku jawab kalau aku mau membuka pintu gudang yang terpaku kan,' batin Emma merongrong, membuatnya menciut. Entah kenapa, kalau sudah menyangkut Levi, otak Emma langsung mengosongkan diri.
"Sebenarnya aku...mmm...penasaran dengan gudang perlengkapan kemarin. Hehe... Maklum nggak ada kerjaan," jawab Emma sudah malas untuk berbohong.
"Sambil bawa tas?" Tanya Levi. "Kamu beneran mau ke gudang, atau mau bolos kerja nih?" Lanjutnya menggoda.
"Eyy... Mana mungkin," senyum lebar Emma langsung meringsut karena salah tingkahnya.
"Ya udah, aku temenin deh. Kebetulan aku juga nggak punya kerjaan," bisiknya.
"Aa... Hahahaha... Oke oke," lagi-lagi Emma tertawa canggung.
'Mati aku!' batinnya sembari memimpin jalan.
"Oy... Jangan cepat-cepat jalannya! Nanti jatuh lagi lho..." Entah mengapa cara jalan Emma yang tidak nyaman itu membuat Levi terkekeh.
.
.
.
Sesampainya di gudang terpencil itu, Emma hanya berdiri menatap bangunan itu sembari memikirkan langkah selanjutnya agar Levi tidak mencurigainya.
"Mau apa?"
"Eh kucing kucing!" Emma terkejut.
"Hihhh.... Ngagetin aja deh!"
"Hehe, ya habisnya kamu melamun aja dari tadi," Levi tertawa lepas sampai menutupi mulut lebarnya dengan tangan kanannya.
"Ck, ayo masuk!" Ajak Emma sudah kehilangan akal untuk berkilah.
Lalu levi mengekor di belakang Emma memasuki gudang yang hanya diterangi oleh cahaya yang masuk lewat jendela kaca kecil tepat di bawah atap.
"Kita mau ngapain sih?" Protes Levi.
"Ssst.... Kalau kamu nggak mau ikut, mending pergi aja deh!" Usir Emma.
Karena memang dari awal Levi memang berniat berduaan dengan Emma, maka ia menghentikan protesnya dan pasrah mengikuti Emma.
Kemudian, sampailah keduanya di depan pintu kecil usang yang tertutup karena tancapan paku itu.
Dengan sigap, Emma melepaskan tas selempang warna pinknya ke lantai berdebu. Lalu ia mengambil tang kakaktua yang ia bawa dari rumah.
"Bisa minta tolong cabut paku-paku itu nggak? Pliss..."
Emma memohon dengan mata berbinarnya dan wajah memelas yang dibuat-buat.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Levi mengambil tang yang Emma sodorkan kepadanya. Lalu mencabut satu per satu paku itu.
Setelah mungkin kurang dari sepuluh menit, semua paku itu sudah berhasil tercabut dari pintu itu.
"Lalu sekarang apa?" Tanya Levi sambil mengelap keringatnya yang membanjiri keningnya karena udara pengap gudang.
"Sekarang kita masuk..."
Emma mendorong pintu tua itu untuk melihat kedalam.
Debu-debu tebal yang menandakan sekian lamanya pintu itu tidak terbuka berhamburan keluar, menusuk hidung Emma dan Levi hingga keduanya terbatuk-batuk.
"Berapa lama pintu ini tertutup?" Celetuk Emma tanpa menginginkan jawaban.
"Mungkin berbulan-bulan?" Jawab Levi.
'Berbulan-bulan? Hmmmm....apa aku salah lagi?' batin Emma.
Perlahan Emma berjalan memasukki ruangan kecil yang tersembunyi di gudang itu. Ia melihat sekeliling mencari barang atau jejak penyekapan.
Dia menyalakan senter HPnya agar bisa melihat lebih jelas dengan kamera aktif yang siap memotret.
"Levi?" Panggil Emma.
"Iya mi?" Jawab Levi pelan.
"Memangnya benar ruangan ini tidak pernah terbuka sebelumnya?"
"Mungkin, aku sebenarnya juga baru tahu ada ruangan kecil disini," jawabnya.
Lalu keduanya terdiam lagi, masih dengan langkah kecil lambatnya.
"Stop!" Teriak Emma tiba-tiba.
"Ha? Ada apa?" Badan Levi menjadi tegang tanpa alasan. "Apakah ada hantu?" Lanjutnya.
"Kamu diam disini aja!" Perintah Emma dan Levi menurutinya.
Kemudian, Emma mengambil shoe cover yang sebelumnya ia ambil dari tas selempangnya lalu ia simpan disakunya.
Ia memakainya dan melanjutkan memindai semua jejak yang ada.
Ada beberapa jejak sepatu yang bisa ia temukan, mungkin berasal dari dua jenis sepatu yang berbeda. Lalu di sisi kirinya, ia melihat ada bekas debu yang terseret seperti ada sesuatu yang menimpa tumpukan debu itu.
Dan yang paling penting dari semua jejak itu adalah, ia menemukan talinya. Tali usang berwarna putih dengan bekas kecoklatan di tengahnya.
Tali itu dibiarkan tergeletak begitu saja seperti pelaku memang sengaja melemparnya kesana.
Dengan memakai sarung tangan latex yang selalu ia bawa, Emma mengamankan tali itu dengan memasukkannya ke dalam plastik berzip-lock miliknya.
Emma sangat fokus saat itu. Saking fokusnya ia sampai tidak menyadari bahwa Levi tengah mengamatinya dari belakang.
"Apa....apa yang sedang kamu lakukan?" Ucap Levi ketika Emma selesai dengan semua penyidikannya dan menoleh kearahnya.
"Se-sebenarnya kamu ini apa?" Mata Levi membulat, melotot ke arah emma karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
.
.
.