Dia Aisyah, seorang santriwati di pesantren tempatku mengajar. Gadis anggun nan jelita, yang mampu membuatku terpana pada saat jumpa pertama. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuatku kagum, tapi ketaatan pada-Nya lah yang mampu membuatku ingin selalu dekat dengannya.
Cerita ini hanya fiksi ya, hanya merupakan pemikiran dari author. Jangan lupa like, comment, and vote ya. Author akan sangat berterima kasih untuk hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisna Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Akad Nikah 1
"Maafkan ayah, Nak. Selama ini selalu memaksamu untuk menuruti segala kemauan ayah." Menunduk, sambil tangannya menggenggam tanganku.
Trenyuh aku mendengarnya. Kupandangi wajah tegasnya yang mulai mengeriput, menyisakan bukti tanggungjawabnya yang nyata.
"Tidak apa-apa, Yah. Yusuf tahu, semua yang Ayah lakukan, semata-mata hanya demi kebahagiaan kami, 'kan?" Mengelus punggung tangan Ayah, merasakan kelembutan yang jarang sekali kurasakan.
"Ayah tahu, kau pasti sangat kesal 'kan, saat berulangkali ayah menyuruhmu untuk menikah?" Aku terdiam.
Ya, waktu itu aku memang cukup kesal. Setiap pulang mondok, selalu saja disuguhi berbagai tipe wanita. Yang setiap hari beliau datangkan secara bergantian.
Siapa yang tidak kesal dengan semua perlakuan itu? Apalagi saat itu hatiku hanya tinggal separuh. Karena separuhnya telah ia bawa, dan meninggalkan luka yang menganga.
Aku menunduk, tak ingin mengeluarkan kata-kata. Toh beliau juga sudah tahu semuanya.
"Apa kau tahu, alasan ayah menyuruhmu untuk segera menikah?"
Aku masih diam. Tapi batin ini tak bisa kucegah untuk tidak menjawab. Pasti ayah malu 'kan, sama teman-teman ayah. Karena putranya tak kunjung menikah, padahal umurnya sudah sematang ini.
Ayah menerawang. Wajahnya berubah sendu, sebelum akhirnya mengatakan ....
"Ayah takut, Nak. Ayah takut seperti ibumu. Pergi terlebih dahulu sebelum melihat kalian memiliki pendamping. Ayah hanya takut hal itu terjadi, Nak."
Lalu, segelincir bulir bening terlihat melintasi pipi. Ayah ... menangis.
"Maafkan Yusuf, Yah. Selama ini, Yusuf selalu membantah semua perintah Ayah. Yusuf terlalu egois, tidak memikirkan hati Ayah dan juga Ibu. Sekali lagi, Yusuf minta maaf." Menunduk, menyembunyikan wajahku.
Kemudian, kugenggam tangan Ayah kembali, mengingat segala kesalahan yang pernah kuperbuat.
Membangkang, membantah dan bahkan membentak Ayah, hanya karena ingin menggapai cita-citaku. Sampai akhirnya, aku mendapat karma. Terluka karenanya.
"Sudahlah, lupakan saja masalah yang telah lalu. Kita saling memaafkan, ya?" Aku mengangguk, menjawab pertakataannya.
"Tapi, ayah minta satu hal sama kamu."
"Apa itu, Yah?"
"Seminggu setelah menikah, pulanglah ke rumah. Bawa istrimu, dan tinggalah bersama ayah dan juga adikmu," pinta beliau.
Aku terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Insya Allah, Yah."
Aku yakin, Aisyah pasti akan mengikuti ke manapun aku pergi. Seperti yang Rasulullah ajarkan. Ya, semoga seperti itu.
"Dan satu lagi. Kelola perusahaan ayah. Rasanya, ayah sudah lelah. Mungkin sudah terlalu tua untuk mengurusi hal itu. Ayah mohon, kamu mau ya?" Dengan penuh harap, ayah menatapku.
Baiklah, kali ini aku menyerah. Demi Ayah dan juga mendiang ibu.
Aku mengangguk lagi, "Insya Allah, Yah. Yusuf akan berusaha semaksimal mungkin."
"Ayah yakin, kamu pasti bisa." Tersenyum, sambil menepuk pundakku dengan hangatnya.
.
Perjalanan yang cukup melelahkan, karena macet yang tak kunjung usai. Jarak yang seharusnya hanya tiga jam waktu tempuh, kini harus bertambah setengah jam lagi. Melelahkan.
Kami sampai di rumah Aisyah, sekitar pukul sepuluh lebih seperempat. Sampai di sana, sudah banyak sekali yang berkumpul. Memang seharusnya, di waktu ini adalah saatnya mengucap ijab qobul. Tapi nyatanya, kami malah baru sampai.
Setelah memberikan beberapa sambutan dari pihakku maupun pihak Aisyah, melakukan acara serah terima, dan menyerahkan seserahan yang kami bawa, aku pun segera digiring menuju masjid yang tak jauh dari rumahnya.
Di sana, ada seorang penghulu yang sudah menunggu. Ayah Aisyah pun kini sudah duduk rapi, bersama dua orang saksi di belakangnya. Aku pun segera duduk, di depan antara Ayah Aisyah dan juga Pak Penghulu. Di ikuti Ayah dan juga dua orang saksi dari pihakku.
Debaran dalam dada pun tak juga berhenti, malah semakin cepat saat Pak Penghulu membacakan hal-hal tentang pernikahan dan lainnya. Apa lagi saat tahu, kalau yang akan menikahkanku bukan Pak Penghulu, melainkan Ayah Aisyah sendiri.
Sejak datang tadi, aku memang belum melihat Aisyah. Sepertinya dia sudah menunggu di seberang sana, di balik tirai tempat biasa jamaah perempuan melaksanakan shalat. Mungkin saja. Di sini memang adatnya begitu. Kalau belum sah, ya belum boleh bertemu.
Beberapa menit kemudian, Ayah Aisyah mengulurkan tangan, sesuai apa yang Pak Penghulu interuksikan. Aku pun segera menjabat tangannya. Ya, kami saling menjabat tangan, di atas kitab suci Al-Qur'an. Ialah yang menjadi saksi, antara janjiku dengan Ayahnya. Seumur hidup menanggung segalanya tentang dirinya. Kemudian beliau berucap ....
“Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka, binti Aisyah Awlya Rahma 'alal mahri Surat Ar-Rahman, wa majmu'at min 'adwatusshalat, wa khatam dhahabu tsalatsatu jaram, hallan.”
Artinya:
“Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Aisyah Awlya Rahma dengan mahar Surat Ar-Rahman, dan seperangkat alat shalat, dan cincin emas tiga gram, dibayar tunai.”
Dengan menyebut nama Allah, aku pun menjawab ....
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha 'alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq.”
Artinya:
“Saya terima nikah dan kawinnya dengan mas kawin (mahar) yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.”
Pak penghulu pun berseru, "Bagaimana para saksi, SAH?"
"SAH!" Semuanya menjawab dengan serempak.
Alhamdulillahirobbil'alamiin. Ucapan syukur pun tak henti-hentinya keluar dari bibirku. Terima kasih Yaa Allah, Engkau telah lancarkan ijab qabul ini.
Dalam hati aku terus memuji-Nya. Memuji semua kebesaran-Nya. Dan do'a pun segera dipimpin oleh Pak Penghulu. Setelah itu, penyerahan mahar pun dilakukan.
"Alhamdulillah, Saudara Yusuf Khairullah sudah sah menjadi suami dari Saudari Aisyah Awlya Rahma. Ini saatnya penyerahan mahar. Yang pertama, bacakan surat Ar-Rahman, mahar yang kau sebutkan tadi!" Titah Pak Penghulu.
Aku pun segera membacakannya untuk istriku di seberang sana. Aku yakin, saat ini dia tengah mendengarkannya di balik tirai itu.
"A'uu dzubillahimnasy syaitonirrajiim. Bismillahirrahmanirrahiim. Ar-rahmaan. 'Allamal qur'aan. Khalaqal insaan. 'Allamaahul bayaan. Asy-syamsu walqamaru bihusbaan. An-najmu wasy-syajaru yas judaan. ...."
Bergetar hati ini, saat melantunkan Firman-Nya. Tak terasa, bulir bening itu pun sukses meluncur dari sudut mataku. Tak tahan lagi, merasakan haru yang tiada henti.
Kurang lebih sepuluh menit lamanya, aku menyelesaikan mahar yang pertama. Tirai pun terbuka. Terlihat sosoknya, memakai baju pengantin yang aku pilih. Dengan jilbab putih berhias bunga melati. Terlihat ayu, bak bidadari dalam mimpiku.
Subhanallah. Sungguh indah ciptaan-Mu, Yaa Allah.
Dia pun segera mendekat ke arahku, kemudian duduk di sampingku. Kemudian disusul penyerahan mahar yang kedua, berupa seperangkat alat shalat. Dia pun menerimanya dengan anggun.
Lalu lanjut mahar yang ke tiga. Aku pun segera mengambil cinci emas yang masih berada di dalam kotak perhiasan, kemudian menyematkan cincin itu di jari manisnya.
Ini adalah pertama kalinya aku menyentuh tangannya. Begitu halus dan lembut. Dia pun segera meraih tangan kananku dan menciumnya. Kemudian kuraih kepalanya, mencium persis di dahinya. Wangi. Aroma bunga melati yang cukup menggugah hasrat ini. Aku ... menginginkannya.
***
Bersambung
Ada solusi terindah thor selain poligami.