Kavinder Sarfaraz Natapraja, semua orang mengenalnya sebagai pria tampan dan kaya raya. Kehidupan Kavin tak pernah lepas dari media dan para wanita yang selalu mengincarnya. Menginjak umur dua puluh tujuh tahun, Kavin selalu dipaksa oleh sang ibu untuk segera memiliki seorang istri. Namun Kavin hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Menikah? Kavin tidak berpikiran sampai sejauh itu. Pokok utamanya saat ini hanya terus mengembangkan perusahaannya agar semakin jaya dan sukses. Namun, siapalah yang mampu melawan kehendak takdir yang Tuhan berikan. Di kemudian hari, Kavin dihadapkan pada satu kenyataan di mana dia harus menikahi seorang gadis belia yang umurnya terpaut cukup jauh. Ternyata gadis tersebut adalah pilihan orang tuanya.
Akankah Kavin menerima gadis yang bahkan tidak dia kenal untuk menjadi istrinya? Dan mungkinkah cinta tumbuh diantara keduanya?
cerita murni dari haluan author. cerita kedua aku, batu voting y guys❤️
MLW@JANUARI 2022
Ovie Nur'Aisyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovie NurAisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Debat
Happy reading♡
Setelah menyegarkan tubuhnya tak lupa Ashel mengoleskan salep pada bahunya. Lukanya sudah cukup kering. Kemungkinan besok ia tidak perlu memakai lagi salep.
"Kok bekasnya merah ya? Biasanya kan gelap," ucap Ashel.
"Yaudah lah, gak papa." Ashel pun keluar dari dalam kamarnya menuju ke lantai bawah.
Kakek dan para tamunya masih berada di ruang tamu namun tanpa Ningrat. Sepertinya neneknya ada di dapur.
Ashel pun hendak pergi ke dapur. Namun tiba tiba bel rumahnya berbunyi.
"Biar Riana aja grandpa," ucap Ashel saat melihat kakeknya akan membuka pintu depan.
Saat Ashel melewati ruang tamu, Kavin terus melihat ke arahnya. Rafello yang berada di samping Kavin pun memperhatikan abangnya itu.
"Bang," panggil Rafello namun Kavin menghiraukannya. Rafello memutar bola matanya heran.
"Padahal banyak cewek yang lebih cantik di kantor abang. Lagi mereka juga sering ambil perhatian abang. Anehnya abang gak pernah tuh ngalihin perhatian abang sama mereka, tapi giliran Ashel lewat kok abang liatin terus sampe segitunya?" Tanya Rafello.
"Bisa diem?" Tanya Kavin.
"Gitu aja sewot," sungut Rafello kesal. Ia pun melipat tangannya di dada.
Ashel masuk setelah menemui orang yang menekan bel rumahnya. Ia masuk dengan membawa satu boneka beruang besar berwarna pink.
"Dari siapa itu nak?" Tanya Prabu.
"Kata pak kurir dari temen Riana. Tapi pak kurirnya gak bilang siapa namanya," jelas Ashel. Ia pun menyimpan boneka beruang besar itu di kursi panjang yang ada di depan ruang tamu.
"Masa iya lo ada penggermar sih? Emang lo artis?" Tanya Rafello.
"Sirik aja lo jomblo," sahut Ashel. Rafello mendelik.
"Lo," ucap Rafello tertahan karena Kavin menahannya. Kavin sudah malas melihat perdebatan antara Rafello dan Ashel.
Ashel pun mencari sesuatu di boneka itu. Siapa tahu dia menemukan nama pengirimnya.
"Nah, ada." Ashel pun mengambil sticky notes yang ada di saku depan boneka itu.
Boneka ini gue beli waktu nganter mama ke mall. Gak sengaja sih ngeliatnya, tiba tiba gue keinget lo. Jadi gue beli.
Semoga aja lo suka ya Shel. Tunggu gue sama yang lain minggu depan. Kita liburan ke Dufan.
Angga N.
Ashel memijat pelipisnya. Lagi?
Padahal Nando tidak perlu mengirimnya barang lagi. Sudah bisa ditebak harga boneka segede gaban ini tidaklah murah.
"Wah, kok tiba tiba ada boneka? Dari siapa sayang?" Tanya Ningrat yang muncul dari arah dapur.
"Temen Grandma," jawab Ashel.
"Cowok ya?" Tebak Ningrat. Ashel menganggukan kepalanya.
"Ternyata ada yang sukain kamu juga. Grandma kira gak ada," ucap Ningrat.
"Jangan salah istriku, sudah pasti banyak yang suka dengan dia. Namun aku tidak akan mudah memberikan dia pada pria lain," ucap Prabu.
Ningrat hanya tersenyum. Ia pun menghampiri cucunya itu.
"Angga? Siapa sayang?" Tanya Ningrat setelah membaca sticky note yang dipegang Ashel.
"Temen," ucap Ashel. Ia pun beranjak dari sana menuju ke dapur.
Lapar.
Ya, Ashel sangat lapar. Tadi di jalan ia tidak sempat jajan karena takut kemalaman.
"Ayo kita makan, semuanya sudah siap," ajak Ningrat pada semuanya.
Mereka semua pun berjalan menuju ke ruang makan. Berbagai makanan terhidang di meja makan.
Ashel menggelengkan kepalanya. Hebat sekali neneknya itu. Membuat masakan sebanyak ini. Padahal orang yang akan memakannya tidaklah sebanyak satu RT.
"Riana, kamu kenapa?" Tanya Praja.
"Eh, gak papa kok pak," ucap Ashel.
"Loh, kok pak sih manggilnya. Opa aja lah," ucap Praja.
"Iya bener. Panggil saya juga oma," ucap Nata.
"Dibiasakan ya," ucap Nata. Ashel hanya mengangguk kikuk. Kenapa tiba tiba?
Mereka semua pun mulai mengambil makanan. Para istri melayani suami suami mereka. Berbeda dengan Kavin, Ashel, dan Rafello. Mereka hanya melihat para orang tua bersikap saling romantis.
"Wei," panggil Rafello pada Ashel.
"Apaan?"
"Ambilin kakanda makan dong dinda. Kakanda sudah lapar," ucap Rafello membuat para orang tua menahan tawanya.
"Nama gue Ashel buka Dinda. Lagian lo ada tangan. Masih fungsi kan? Kalo enggak yang lu sewa suster buat melayani lo setiap saat," jelas Ashel.
"Dih, gitu amat jomblo." Ashel hanya melihat Rafello sekilas. Ia malas meladeninya.
"Sembarangan kamu! Dia emang masih sendiri. Tapi liat, ada yang kirimin dia boneka bukan?" Ucap Sarah.
"Bener. Emang kamu, semua cewek di sekolahan ngaku pacar kamu. Dasar playboy," ucap Nata.
"Gini nih, kalo ada sekte baru yang nyingkirin sekte lama. Apa apa dihujat mulu," ucap Rafello kesal.
"Fello juga kan cucuk opa Prabu," ucap Prabu.
"Akhirnya ada juga yang bela aku," ucap Rafello. Saat ia akan kembali berbicara, Ashel tiba tiba menyumpal mulut Rafello dengan selada yang cukup banyak.
"Uhuk.. uhuk."
"Lo harus banyak makan sayur biar pinter," ucap Ashel. Rafello masih batuk batuk, Kavin yang tidak tega melihat adiknya tersedak pun memberinya segelas air.
"Gue udah pinter," sangkal Rafello.
"Iya pinter saking pinternya otaknya gak dipake buat mikir," ucap Ashel.
Para orang tua yang ada disana hanya menggelengkan kepalanya. Sepertinya Ashel dan Rafello tidak pernah bisa damai sebentar pun.
"Kalian itu batu banget ya kalo udah pada debat," ucap Sarah.
"Udah Fello diem! Habiskan makanannya," ucap Sarah saat Rafello akan bersuara lagi.
Akhirnya mereka bisa makan dengan tenang. Ashel dan Rafello tidak lagi berdebat.
Setelah selesai makan, mereka semua kembali ke ruang tamu.
"Kavin" panggil Prabu. Kavin pun mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah Prabu.
"Bisa kita bicara di ruang kerja saya?" Tanya Prabu.
"Boleh," Kavin hanya menganggukan kepalanya.
Prabu, Praja dan Faraz berjalan duluan menuju ke ruang kerja milik Prabu diikuti oleh Kavin.
Sebenarnya tadi Rafello memaksa untuk ikut karena ia kepo. Tapi karena Faraz melarangnya ia pun akhirnya diam. Duduk bersama para ibu ibu.
Sepuluh menit berlalu, Rafello bosan. Sarah menyadari hal itu.
"Kamu kalo mau pulang duluan gak papa. Bawa mobilnya opa. Biar nanti mama sama yang lainnya numpang sama mobil abang," ucap Sarah.
"Yaudah, Fello pulang duluan. Tapi nanti kasih tahu yang diobrolin mereka itu," ucap Rafello. Sarah pun mengangguk.
Rafello pun pamit pulang duluan. Ia sudah bosan dan juga ia akan bermain game. Ia sudah ditunggu oleh Davi dan yang lainnya.
Setelah Rafello pergi dari sana, Prabu dan yang lainnya pun kembali ke ruang tengah. Wajah mereka nampak biasa saja seperti tidak terjadi apa apa.
"Ada apa sih? Kok kalian gak ngajak kami juga," tanya Nata, Praja hanya tersenyum pada istrinya.
"Fello mana ma?" Tanya Kavin.
"Pulang," ucap Sarah. Kavin pun hanya mengangguk.
Semuanya kini sudah duduk kembali di tempat masing masing.
Tbc.
lanjut thor semangat terussss