Norin Inayah adalah wanita cantik berusia 30 tahun dan belum menikah. Berasal dari desa yang merantau ke kota dan bekerja di salah satu pabrik garmen terbesar di kota itu.
Norin wanita yang baik dan sabar namun memiliki sikap dingin khususnya pada kaum pria, hal itu karena ia trauma pada masa lalunya hingga Norin menutup rapat hatinya sampai bertahun tahun lamanya. Dan
olokan " perawan tua " pun sering ia dapatkan dari orang orang di sekitarnya.
Apakah akan ada pria yang dapat meluluhkan hati Norin ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Norin jatuh sakit
Norin merebahkan tubuh lelahnya di ranjang empuk miliknya, ia memejamkan matanya namun fikirannya masih berkeliaran dimana mana.
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dan salam dari Bu Yayuk tetangga depan rumahnya. Norin bergegas turun dari ranjangnya kemudian membuka pintu dimana sumber suara itu berasal.
" eh ada Bu Yayuk, ayok silahkan masuk Bu." Norin mempersilahkan tetangganya itu masuk ke dalam rumahnya.
Bu Yayuk mengikuti Norin masuk ke dalam rumahnya, sampai di dalam rumah ia melihat beberapa paper bag tergeletak di atas sofa ruang tamu, ia pun mendekati dan memegangnya.
" wah, mba Norin belanjaannya banyak bener abis shoping dari mana ini mba." tanya wanita semok itu penasaran.
" di Bandung Bu." kata Norin sambil berdiri di daun pintu."
" lho lho kapan ke Bandung, kok ngga ngajak ngajak saya mba Norin."
" dadakan Bu, urusan kerjaan ketemu dengan mas Erik dan bosnya di sana."
" hah seriusan, kok bisa piye ceritane Iki mba." tanya Bu Yayuk dengan penasaran.
" serius lah Bu, perusahaan tempat kerja saya menjalin kerja sama dengan perusahaan tempat kerja mas erik yang ada di Bandung."
" oalaa jadi yang waktu itu mba Norin minta nomer Erik itu untuk kerja sama dengan adik ipar saya to."
" betul sekali Bu, makasih lho berkat Bu Yayuk yang ngasih bahan kain tempo hari itu sebagai penyelamat perusahaan dari kerugian besar."
" lho gimana gimana saya kok ngga paham sama yang di omongin sama mba Norin ini." tanya Bu Yayuk dengan muka serius.
" panjang ceritanya Bu, intinya saya berterima kasih banyak sama Bu Yayuk dan untuk oleh olehnya itu ibu pilih aja baju mana yang ibu suka."
" apa seriusan ini mba saya boleh milih." tanya Bu Yayuk sambil tangannya meraba raba paper bag tersebut.
" iya Bu, pilih aja mana yang cocok ke body Bu Yayuk." kata Norin sambil ikut duduk di sofa tersebut.
Bu Yayuk mulai mengeluarkan isi paper bag itu satu persatu dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
" ya Allah bagus bagus banget mba baju dan dress nya, nah ini sepertinya muat sama badan saya mba." kata Bu Yayuk sambil mencocokan ke tubuh semok nya, Namun seketika matanya membulat melihat harganya yang tertera di atas bandrol baju tersebut.
" hah tiga juta lima ratus ribu apa tiga ratus lima puluh ribu ini mba ? sek sek oalaa bener to harganya tiga juta lima ratus ribu mba, kok mahal bener yak." Bu yayuk terkejut baju yang dia pegang harganya jutaan.
" bener itu emang belinya di toko baju yang bermerk ."
" oala pantesan mahal mahal harganya mba, saya seneng banget lho akhirnya punya baju seharga uang belanja dapur saya sebulan hihihi." kata Bu Yayuk tertawa cekikikan.
" eh tapi mba Norin ini kok beli bajunya mahal mahal banyak duitnya mba Norin nih."
" sebenarnya bukan saya yang beli tapi di beliin sama bos saya Bu hehe." kata Norin sambil menggaruk belakang kepalanya.
" oalaa serius, baik bener bosnya mba Norin itu ya." puji Bu Yayuk.
" deeh boro boro baik yang ada nyebelin banget." gumam Norin dalam hati.
Bu Yayuk sudah pulang ke rumahnya, Norin kembali lagi ke ranjang untuk merebahkan tubuhnya yang masih terasa lelah. beberapa saat kemudian ia tertidur dengan pulas.
Sementara di sebuah mansion yang besar seorang pria tampan berdiri di atas balkon kamarnya, matanya menatap di kegelapan malam namun mulutnya terus menerus mengepulkan asap rokok.
Shin terus menerus memikirkan Norin, rasa bersalah atas ke jadian tadi siang membuat fikirannya tak tenang. "apa dia baik baik saja ?"gumamnya.
Namun kemudian, ia mengusap wajahnya dengan kasar menepis fikirannya itu. " untuk apa aku memikirkan wanita yang bukan siapa siapa aku itu, dia hanya asisten ya asistenku."
Shin mematikan rokoknya, lalu beranjak pergi dari balkon menuju ranjang empuknya, ia memejamkan matanya kemudian tertidur dengan pulas.
Pukul setengah lima subuh Norin terbangun, kepalanya terasa sakit dan pusing, tubuhnya panas, perutnya mual. Norin beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dengan sempoyongan.
Meskipun dalam ke adaan sakit Norin tetap menjalankan ibadah subuh nya. Norin melaksanakan sholat dengan tubuh yang gemetaran, baru pada tahap rukuk tubuhnya limbung kemudian jatuh pingsan di atas sajadahnya.
sayup sayup terdengar suara berisik ibu ibu sedang mengobrol dari arah luar rumahnya. Norin membuka matanya pelan pelan." astaghfirullah kenapa aku bisa tertidur di atas sajadah." kemudian ia mengingat ingat apa yang sudah terjadi." apa aku pingsan." gumamnya.
Norin meraba raba kening dan badannya masih terasa panas, perutnya pun masih terasa mual. Norin melihat jam wekernya sudah menunjukan pukul setengah sembilan. " ya Allah bagaimana ini. " paniknya.
Norin bergegas keluar dari kamar hendak menuju kamar mandi namun tiba tiba perutnya benar benar mual, ia berlari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya ke dalam closet duduk di kamar mandinya itu.
Norin terduduk lemas di lantai, ia meraba raba dinding hendak bangun. kemudian Norin keluar dari kamar mandi pelan pelan sambil tangannya berpegangan pada dinding rumahnya.
Sampai di kamarnya ia mencari cari kotak obat, ia lupa dimana ia menyimpannya tapi beberapa saat kemudian, Norin menemukan kotak obat tersebut lalu membukanya dan mengambil obat yang ia butuhkan.
Norin merebahkan tubuh lemas nya di atas ranjang setelah meminum obat. " sepertinya aku ngga sanggup kalau hari ini masuk kerja." gumamnya dengan lirih.
Sementara di kantor tepatnya di sebuah ruangan yang cukup besar, Shin berdiri tegap menatap pemandangan yang ada di luar jendela kaca besar ruangannya.
" pantas saja dia sering berdiri di sini ternyata memang indah sekali."
Kemudian Shin menoleh pada meja makan dimana tempat biasa Norin meletakkan makanan untuknya lalu ia mendekati meja makan tersebut.
Shin duduk di kursi dimana biasa ia makan sambil mengusap usap meja makan itu. " apa kamu semarah itu hingga membiarkan saya kelaparan hari ini." gumam shin lirih.
" ah ada apa denganku ini, kenapa aku memikirkan wanita aneh itu terus." Shin menepis fikirannya, kemudian ia beranjak dari duduknya dan kembali ke meja kerjanya.
Shin mulai menyibukkan dirinya bekerja tanpa mau mengingat pada wanita yang sudah mengisi fikirannya dalam dua hari ini lagi.
Satu jam Kemudian terdengar suara ketukan pintu, Shin terperangah " Norin." gumamnya sambil menatap ke arah pintu. Namun beberapa saat kemudian munculah pria paruh baya dari balik pintu itu.
Shin langsung mengalihkan pandangannya setelah tahu siapa yang datang.
" apa kamu sibuk Shin hingga tidak ada waktu untuk mengangkat telpon dariku?" tanya Lee sambil jalan mendekati meja kerja shin.
" seperti yang paman lihat." jawab Shin sambil tangannya mengutak Atik laptopnya tanpa menoleh pada pamannya itu.
Direktur Lee menarik kursi yang ada di hadapan Shin kemudian ia mendudukinya. " kau tahu tunangan mu itu terus saja menghubungiku, sampai kapan kau terus menghindarinya ?"
Shin menghentikan ketikannya lalu menatap tajam pada pria paruh baya yang duduk di hadapannya itu.
" kami sudah tidak ada hubungan apa apa lagi, berhenti membicarakan dia di hadapanku." kata Shin dengan tegas.
Direktur Lee mengerutkan dahinya mendengar pengakuan dari keponakannya itu." benar kah ? tapi..."
" sudahlah paman aku sibuk, jika tidak ada hal penting untuk di bicarakan lebih baik paman keluar saja dari ruangan ku."
Direktur Lee terdiam, ia menyenderkan punggungnya ke senderan kursi. " sikap dan sifat mu tak ubahnya seperti ayah mu Shin."