Saat Reyhan menerima jabatan yang sudah ia kejar. Ternyata Mama sudah menyiapkan calon istri untuknya. Lalu bagaimana Rere yang sudah 2 tahun ini bersamanya?
Pernikahan itu pun sangat hambar. Tak ada kehangatan didalamnya. Bahkan jiwa Reyhan rasanya ingin membludak saat Aisyah sudah berani memarahi Rere. Apa salah jika Rere selalu bersamanya? Rere kekasihnya! pertengkaran setiap harinya tak mereka hindari. Hingga keduanya putus asa dan tak kuat dengan pernikahan mereka, mamah malah mengirim sebuah tiket bulan madu.
Saat senja menjadi siluet bagi Aisyah, Reyhan terdiam, desiran halus dihatinya terasa. Keringat dingin dan deru nafasnya tak beraturan menjadi bukti kepanikannya. Ia teringat mimpinya sendiri, Aisyah meninggalkannya, hatinya menjadi hampa dan begitu sakit. Ia tak ingin merasakan itu lagi, ia pun bangkit dan berjalan dengan tergesa kearah balkon. Aisyah tengah menatap senja dengan damai, wajah cantik itu seakan menyentuh hatinya.
"Jangan tinggalkan aku Aisyah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Bertemu Yusuf
Mereka duduk dilantai masjid yang begitu sejuk, menjelaskan tentang beberapa susunan acara yang sudah mereka buat. Anggota pengurus ikhwan dan akhwat pun terpisah, Ikhwan berkumpul didalam masjid sambil membereskan hijab untuk ikhwan dan akhwat yang mengikuti kajian ini. Sedangkan akhwat didekat mading membahas tentang susunan acara, "Oh iya, Aisyah, ketua pengurus juga udah ganti sama kang Yusuf, nanti aku kenalin ya. Nah, yang itu." Zahra menunjuk seorang laki-laki yang tengah memberikan arahan pada seorang anggotanya di dekat mimbar, tampak wajah mereka semua begitu ceria dan tertawa didalam sana.
Aisyah pun mengangguk, mereka kembali membahas yang lainnya. Setelah semua selesai dan masih ada waktu setengah jam sebelum acara kajian dimulai, Zahra menuntun Aisyah untuk menemui ketua pengurus yang baru, tampak lebih muda dengan perawakan seperti Reyhan. "Assalamu'alaikum kang Yusuf, kenalin pembawa acara akhwat kita, Aisyah." Yusuf itu pun membalikan badannya sedikit terkejut, namun dengan cepat ia tersenyum dan menyambut Aisyah dengan ucapan yang begitu lembut dan sopan.
Aisyah mengkerutkan keningnya, sedikit rasa terkejut dan kini ia sudah memastikan semuanya. "Maaf, kang Yusuf anak didik Kyai Abdullah?" Tanya Aisyah pelan, membuat Yusuf tampak sedikit kebingungan dan mengangguk. "Aku Aisyah kak, temen kamar Rani. Masya Allah kita ketemua disini, apa kabar kak?" Aisyah tersenyum dibalik cadarnya.
Terlihat jelas kini Yusuf sedikit terkejut, ia tersenyum melihat penampilan Aisyah yang sangat tertutup, dulu saat di pasantren Aisyah belum mengenakan cadar, wajar saja jika Yusuf tidak terlalu mengingatnya. "Masya Allah, Aisyah. Udah hampir lima tahun. Alhamdulillah kabar saya baik, gimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah kabar aku baik kak. Aisyah waktu itu dapet kabar kakak udah nikah? Selamat ya kak." Yusuf menganggukkan kepalanya sopan, Yusuf mengalihkan pandangannya pada dekat pintu masjid.
"Kalian udah kenal?" Tanya Zahra pelan.
"Udah, kita pernah satu pesantren," jawab Aisyah.
Yusuf tersenyum pada perempuan yang sedang bermain ponsel disana, lalu kembali menoleh pada Aisyah. "Itu istri saya, mau saya kenalin?" Aisyah menatap perempuan yang dimaksud, ia mengenakan gamis lebar dan terlihat jelas sedang hamil tua.
"Boleh kak," jawab Aisyah senang.
Mereka bertiga pun berjalan kearah perempuan itu, ia menyambut dengan tersenyum indah, wajahnya sangat cantik dengan campuran darah barat yang begitu terlihat. Aisyah ingat, ini adalah perempuan yang Aisyah lihat bersama Yusuf saat dulu, membuat Aisyah hanya meningalkan surat untuk Yusuf sebelum ia pergi ke Kairo. "Umi, kenalin ini Aisyah, temen pesantren Abi dulu." Mereka pun saling memperkenalkan diri, bercerita sedikit dan Aisyah menjadi tahu jika Maura adalah seorang Mualaf sejak dua tahun yang lalu.
"Usia kandungan udah masuk keberapa bulan, kak?" Tanya Aisyah sambil tersenyum, ia pun menjadi tidak sabar mendapat titipan seorang anak.
"Delapan bulan lebih seminggu, Aisyah. Udah mulai kerasa pegel." Jawabnya dengan sedikit tertawa kecil.
"Nah, Aisyah, banyak-banyak tanya tentang kehamilan, siapa tahu kamu sebentar lagi hamil." Canda Zahra, membuat Yusuf langsung melihat kearah Aisyah.
"Udah nikah, Aisyah?" tanya Yusuf dengan wajah terkejut yang gembira. Sama seperti reaksinya saat mendapatkan kabar jika Zahra sudah di khitbah.
Aisyah mengangguk dengan sorot mata bahagia. "Alhamdulillah udah kak, tapi Mas Reyhan gak ikut kesini, tadi abis nganterin langsung kerumah sakit jemput temennya kak."
"Semoga cepet dikasih titipan ya Aisyah," sahut Maura dengan ramah, membuat Aisyah semakin tersenyum senang.
"Aamiin Allahumma Aamiin (kabulkanlah ya Allah kabulkanlah)," jawab Aisyah dengan khusyuk.
luuuu kan yg udah manggil reyhan buat nemiun Rere....