Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Bintang Ditampar
Sabtu pagi, Senja meminta izin membawa Bintang pergi.
"Sebelum makan malam sudah pulang," janjinya.
Damar mentransfer uang. "Anakku manja. Belikan yang bagus."
Senja menjemput Hana, lalu mengajak mereka ke theme park premium. Harga tiket Rp 750 ribu per orang membuat Hana hampir mundur.
"Ini cukup buat uang makan dua bulan."
"Damar yang bayar. Sekali-sekali Bintang harus senang."
Sebelum masuk, Senja berjongkok. "Di luar panggil Kakak, ya."
Bintang mengangguk meski tidak suka.
Saat Senja membeli air, Hana bertanya pelan, "Bintang punya kakak?"
"Enggak. Cuma punya Papa. Kakak Senja Mama yang Papa cari buat Bintang, tapi di luar enggak boleh bilang. Papa umur tiga puluh dua dan paling sayang Bintang."
Hana menutup mulut. Kesimpulannya langsung terbentuk: kakaknya menikah dengan duda kaya dan menjadi ibu tiri demi mahar.
"Kak Senja sering sedih?"
"Kalau sedih, Bintang peluk."
Mata Hana basah.
Sebuah balon lepas dari tangan anak lain. Bintang mengejarnya, tidak melihat perempuan yang berjalan dari arah berlawanan. Tubuh kecilnya menabrak pinggang orang itu. Es krim di tangan perempuan tersebut jatuh dan mengenai pakaiannya.
"Aduh!"
Bintang membeku. "Maaf."
Tamparan mendarat sebelum ia selesai bicara.
Kepalanya terlempar ke samping. Orang-orang berhenti, beberapa mengangkat ponsel. Perempuan yang menamparnya adalah Vania. Reza berdiri di sisi Vania dengan dua gelas minuman.
"Anak siapa, sih? Enggak diajarin jalan?" bentak Vania.
Bintang menjerit menangis. Hana langsung memeluknya.
Senja kembali membawa botol air tepat ketika tangan Vania masih terangkat. Ia menjatuhkan belanjaan, berlari, lalu menampar Vania dengan kekuatan penuh.
Suara tamparan membuat kerumunan senyap.
"Dia anak kecil!"
Senja berlutut dan memeriksa wajah Bintang. Pipi anak itu membengkak, sidik jari merah terlihat jelas. Bintang memeluk lehernya sambil memanggil Mama, lupa pada aturan rahasia.
Vania memegang pipinya. "Kamu berani nampar aku?"
Hana berdiri di depan Senja. "Kamu duluan yang pukul anak lima tahun. Semua orang lihat."
Ponsel-ponsel terus merekam. Reza menarik lengan Vania, tetapi perempuan itu menunjuk Senja.
"Suruh dia minta maaf!"
Petugas wahana menghentikan antrean. Seorang pengunjung menegur Vania karena memukul anak. Vania membalas agar orang itu tidak ikut campur. Ponsel-ponsel merekam dari berbagai sudut.
Bintang tidak langsung menangis setelah ditampar. Ia menyentuh pipi, menatap Vania, lalu mencari Senja. Ketika melihat Senja datang, tangisnya baru pecah.
"Mama..."
Senja tidak pernah memukul orang. Namun saat melihat tanda jari di pipi Bintang, rasa takut kepada keluarga kaya menghilang.
"Kalau ada masalah, bicara dengan orang dewasa. Jangan sentuh anak saya."
Kata anak saya keluar tanpa direncanakan. Bintang mendengarnya dan memeluk leher Senja lebih kuat.
Hana menunjukkan video kepada petugas keamanan. "Dia minta maaf sebelum dipukul. Semua terekam."
Vania menuduh mereka sengaja membuat keributan. Senja meminta identitas saksi disimpan dan kamera pengelola diperiksa. Sikap tenangnya membuat Vania makin marah.
Reza berusaha menarik Vania menjauh, tetapi perempuan itu menuntut balasan. Ia tidak peduli pipi Bintang terus membengkak, hanya memikirkan tamparan di wajahnya sendiri.
Senja melihat Reza dan menyadari lelaki yang pernah dicintainya masih memilih pihak yang paling menguntungkan, bahkan ketika korban di depannya anak kecil.
"Kami perlu membawa anak ini ke klinik," kata petugas keamanan. "Orang tuanya siapa?"
Senja membuka mulut, lalu berhenti. Mengaku sebagai ibu akan membuka pernikahan. Mengaku hanya pendamping dapat mengurangi kewenangannya saat membawa Bintang berobat.
"Saya walinya hari ini. Ayahnya sedang di area ini dan akan saya hubungi."
Jawaban itu cukup. Petugas memberikan kompres dingin sementara Hana menunjukkan video kepada petugas lain. Seorang ibu yang melihat kejadian menawarkan nomor telepon sebagai saksi.
Vania melihat dukungan kerumunan berbalik dari dirinya. Ia mulai menangis dan menuduh Bintang sengaja menabraknya.
"Anak lima tahun tidak menyusun rencana menjatuhkan es krimmu," ujar Hana. "Kamu yang dewasa."
Bintang mendengar pertengkaran dan menangis lebih keras. Senja menjauhkan anak itu dari suara, menempelkan kompres pada pipi, lalu meminta Bintang mengikuti jarinya dengan mata untuk memastikan kesadaran baik.
"Pusing? Mual?"
"Cuma sakit."
"Kita periksa ke dokter setelah ini."
"Papa marah?"
"Papa enggak akan marah sama Bintang."
Senja sendiri tidak yakin Damar tidak akan marah kepadanya. Ini kali kedua anak tersebut terluka dalam pengawasannya. Ancaman di ruang kerja kembali terdengar.
Hana menyentuh lengannya. "Jangan takut sama suamimu waktu anaknya dipukul orang lain."
"Aku meninggalkan Bintang untuk beli air."
"Itu bukan izin bagi Vania untuk menampar."
Kalimat Hana menahan Senja agar tidak tenggelam dalam rasa bersalah.
Reza mendekat dan mencoba membawa Vania pergi sebelum petugas mencatat identitas. Senja berdiri menghalangi.
"Kalian tunggu sampai laporan kejadian selesai."
"Jangan berlebihan," kata Reza. "Cuma tamparan."
"Kalau cuma tamparan, kenapa Vania menuntut saya minta maaf karena membalas?"
Orang-orang di sekitar mulai mengangguk. Reza kehilangan dukungan, lalu mengganti taktik dengan suara lebih lembut seolah sedang menengahi.
Vania mencengkeram lengannya. "Suruh dia tunduk di depan aku."
Reza melihat pilihan yang menurutnya paling menguntungkan dan kembali memilih Vania.
Seorang petugas keamanan meminta Vania tetap berada di lokasi sampai identitas semua pihak dicatat. Vania menolak dan menyebut nama keluarga Adiwangsa. Petugas itu tidak mundur. Ia menunjuk kamera di langit-langit dan menjelaskan bahwa rekaman akan diamankan sebagai bagian laporan insiden.
Hana segera mengirim video dari ponselnya ke penyimpanan awan. Seorang ibu yang melihat kejadian memberikan nomor telepon dan bersedia menjadi saksi. Dukungan kecil itu membuat Senja berani mengangkat wajah meski lututnya masih lemas.
"Saya akan bawa Bintang ke dokter setelah pencatatan selesai," kata Senja. "Kalau ada cedera, hasilnya juga masuk laporan."
Vania menatap ponsel-ponsel yang masih merekam. Kemarahannya berubah menjadi panik. "Dia yang nampar aku! Kenapa cuma aku yang dicatat?"
"Saya juga kasih identitas," jawab Senja. "Saya siap bertanggung jawab. Kamu juga harus."
Reza merendahkan suara, seolah kelembutan dapat menghapus keberpihakannya. "Senja, jangan bikin ini makin besar. Vania lagi emosi."
"Bintang juga kesakitan. Bedanya, dia baru lima tahun."
Anak itu kembali menyentuh pipinya dan meringis. Senja langsung berlutut, memeriksa apakah Bintang pusing atau mual. Hana memegang kompres sementara petugas meminta ruang dari kerumunan.
"Mama jangan takut," bisik Bintang di sela tangis. Kalimat itu justru membuat mata Senja panas. Anak yang baru dipukul masih mencoba menguatkan orang dewasa yang sedang memeluknya.
Vania menarik lengan Reza. "Kalau kamu sayang aku, suruh dia minta maaf sekarang."
Reza menatap mantannya, lalu perempuan kaya di sisinya. Semua orang menunggu pilihan yang sebenarnya sudah ia buat sejak lama.
"Senja," katanya, "minta maaf ke Vania. Biar selesai."