Aurela seorang wanita karir yang sangat sukses tanpa sadar berpindah jiwa dan masuk kedalam tubuh Fan Jianying,tokoh utama wanita yang ada dalam novel yang baru dibacanya.
Melihat jika Fan Jianying hidup susah dan pada akhirnya mati mengenaskan karena jebakan yang telah dibuat oleh saudara dan kekasih masa kecilnya itu membuat Aurel yang sudah berada ditubuh Fan Jianying berjuang untuk membuat gadis itu bahagia dengan caranya sendiri dengan menggunakan kecerdasan dan kemampuannya di dunia modern dan berupaya untuk menghindari jebakan demi jebakan yang dilakukan oleh Bai Cheung yang dendam karena menganggap sang istri telah mengkhianatinya.
Perubahan kepribadian Fan Jianying dan kebenaran sesungguhnya mulai terungkap,Bai Cheung yang merasa sangat bersalah dan menyesal mulai mengejar cinta istrinya.
Akankah Fan Jianying memaafkan sang suami dan kembali bersamanya...
Ataukan Fan JIanying memutuskan untuk pergi demi meraih kebahagiaannya sendiri?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAKTIK LICIK
Saat ini, Fan Jianying benar – benar sudah terbiasa dengan reaksi abnormal dari suaminya. Meski begitu, dia juga tak bisa menghilangkan sikap waspadanya terhadap Bai Cheung.
Bukan satu atau dua kali suaminya itu berusaha untuk membunuhnya jika dirasa ada kesempatan, membuat Fan Jianying sangat benci kepadanya.
Dia bukanlah Fan Jianying asli yang serakah akan harta dan bersikap manis demi mencapai tujuannya. Dia juga tak perduli dengan Heng Yuan.
Fan Jianying saat ini hanya menginginkan kehidupan yang damai dan bahagia. Tanpa ada perjuangan keras sepanjang waktu, seperti kehidupan sebelumnya.
Meski dia tidak tahu dengan jelas kenapa Bai Cheung sangat membencinya dan sebisa mungkin membuatnya sengsara.
Namun, Fan Jianying yang selama ini merasa tidak pernah membuat kesalahan apapun tentunya akan membalas semua perbuatan jahat seseorang terhadapnya.
Bukan hanya sekali, tapi berkali – kali lipat dari kejahatan yang mereka lakukan kepadanya. Meski tidak memiliki sifat pendendam, namun Fan Jianying paling tidak suka diremehkan dan ditindas.
Dia adalah gadis yang tangguh, waktu dulu maupun sekarang. Selain itu, dia juga merupakan gadis yang mandiri dalam kehidupan sebelumnya, membuatnya bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain.
Sejak datang kedunia asing ini dan tiba – tiba saja menjadi madam ketiga keluarga Bai yang merupakan salah satu keluarga bangsawan yang memiliki nama disini.
Fan Jianying yang sudah terjebak dan tak dapat menemukan jalan untuk kembali dengan terpaksa akan menjalani kehidupannya sebagai bangsawan seperti yang ada dengan penuh suka cita.
Jika Fan Jiaying sudah bisa bersahabat dengan hidup barunya, lain lagi dengan Bai Cheung yang masih belum menerima jika dalam kehidupan keduanya ini dia tidak bisa mengubah apapun.
Bahkan beberapa peristiwa yang telah dilaluinya tidak sama dengan apa yang terjadi sekarang, membuat dirinya merasa dipermainkan oleh takdir.
“ Lalu…apa gunanya aku kembali ke masa ini jika aku tidak bisa mengubah takdirku. Bahkan alur yang ada pun semakin rumit dan berbeda dari sebelumnya…”, batin Bai Cheung kecewa.
Meski ada beberapa plot kehidupan yang sekarang berbeda dari kehidupan terdahulu, Bai Cheung pada awalnya masih belum terlalu memikirkan semuanya secara mendalam.
Namun peristiwa kali ini, membuat dirinya mulai berpikir dengan keras. Apakah kehidupan benar – benar berubah seperti yang terlihat ataukah ada yang mengubahnya.
Berbagai macam spekulasi seperti itulah yang sedari tadi berkecamuk dikepalanya, membuat kepalanya sekarang terasa sedikit sakit.
“ Tapi setidaknya dalam insiden kali ini, wanita jahat itu tidak merebut posisi kakak ipar. Aku bisa tenang sedikit sekarang karena untuk sementara waktu keluargaku aman…”, batin Bai Cheung sedikit lega.
Namun, sedetik kemudian Bai Cheung tertawa cukup keras waktu memikirkan jika Fan Jianying pasti sangat kecewa karena tidak berhasil mengambil alih untuk mengelola keuangan keluarga Bai setelah insiden kebakaran tersebut, membuat hatinya sangat senang.
Bai Cheung yang tertawa sangat kras membuat Liam yang berjaga didepan pintu ruang kerja tuan muda ketiganya itu berjingkat karena terkejut.
“ Aku penasaran apa yang akan dilakukan oleh wanita jahat itu selanjutnya jika posisi sebagai pengelola rumah tangga keluarga Bai tidak bisa dia pegang ?...”, guman Bai Cheung dengan senyum mengejek.
Setelah merasa kepalanya sedikit ringan saat membayangkan raut kekecewaan diwajah sang istri, Bai Cheung yang baru saja melangkah keluar dari ruang kerjanya melihat dua orang pelayan istrinya berjalan dengan sangat terburu – buru langsung menegurnya.
“ Kenapa kalian berlarian seperti itu !!!...tidak sopan !!!...”, hardik Bai Cheung dengan kedua bola mata melotot.
Kedua pelayan yang mendapat teguran dari Bai Cheung segera menghentikan langkahnya dan langsung menunduk.
“ Mohon ampun tuan muda ketiga…hamba dipanggil oleh pelayan senior Yu agar segera mengambil makan malam dikediaman utama….”, ucap salah satu pelayan tersebut dengan gugup.
Mendengar hal itu, seketika smirk devil muncul dibibir Bai Cheung. Diapun segera memerintahkan kedua pelayan istrinya untuk segera mengambil makan malam dan langsung mengantarkannya ke ruang kerjanya.
“ Ta…tapi tuan muda…makanan tersebut terbatas. A..apa tidak sebaiknya jika saya letakkan di ruang tengah…”, belum sempat pelayan tersebut menyelesaikan kalimatnya, Bai Cheung sudah memotongnya.
“ Berani melawanku !!!...”, teriak Bai Cheung dengan kedua mata melotot tajam.
“ Ham..hamba tidak berani tuan….”, ucap pelayan tersebut dengan terbata – bata.
“ Ji..jika begitu, kami mohon undur diri sekarang…”, ucap keduanya masih dengan sikap menunduk hormat.
Keduanya segera berjalan mundur dengan sikap menunduk beberapa langkah sebelum akhirnya ,mereka berbalik dan bergegas menuju kediaman utama untuk mengambil jatah makan untuk kediaman mereka.
“ Jika semua jatah makan diambil tuan muda ketiga, lalu bagaimana dengan madam ketiga ?… ”, tanya salah satu pelayan sambil berbisik.
“ Husttt…jangan banyak bicara, ayo cepat jalan…”, ucap temannya memperingatkan.
Ternyata ulah Bai Cheung tidak sampai disitu saja, dia kemudian berjalan menuju arah dapur dan melihat pelayan senior Gaeng sedang berjalan bersama beberapa orang pelayan lainnya yang terlihat sibuk membawa beberapa bumbu dan bahan makanan segar kearah dapur.
Meski dapur yang ada dikediamannya sangat jarang digunakan, namun terlihat sangat bersih karena setiap harinya ada pelayan yang membersihkan ruangan tersebut.
Selain membawa bumbu makanan segar, dapat Bai Cheung lihat jika pelayan senior Gaeng juga membawa satu set peralatan dapur lengkap beserta kayu bakar dan arang bersamanya, dibantu dengan dua pelayan yang berjalan dibelakangnya.
“ Kalian boleh pergi !!!...sekarang kamu tutup pintunya !!!.... Qiaofeng, jangan biarkan siapapun masuk atau menggunakan dapur malam ini !!!...”, perintah Bai Cheung tegas.
Bukan hanya Qiaofeng dan Liam yang terkejut dan saling berpandangan mata, namun juga pelayan senior Gaeng dan dua pelayan lainnya yang berada dibelakangnya hanya bisa terdiam dengan ulah kejam majikannya itu.
Saat pelayan senior Gaeng membuka suara, langkah Bai Cheungpun bergegas meninggalkan dapur menuju ruang kerjanya kembali.
Langkah kakinya semakin dipercepat pada saat Gaeng bersuara untuk memanggilnya. Gaeng yang diacuhkan oleh tuan mudanya hanya bisa menarik nafas dalam - dalam sambil mengelus dadadnya.
“ Kenapa tuan muda ketiga bisa sangat kejam seperti itu ?...apa salah madam ketiga ?...”, guman Gaeng sedih.
Meski Qiaofeng merasa jika tuan mudanya itu menjadi sangat kejam, terutama terhadap istrinya. Namun dia juga tidak bisa membohongi diri sendiri jika hati kecilnya saat ini merasa sangat bahagia saat mengetahui fakta jika tuan mudanya itu terus mengabaikan sang istri.
“ Meski aku tidak mungkin bisa memilikinya, namun melihatnya tidak bersama orang lain itu juga baik buatku…”, batin Qiaofeng senang.
Sementara itu, Liam yang baru saja melihat kedua pelayan madam ketiga datang segera menyuruh keduanya untuk langsung masuk kedalam ruang kerja Bai Cheung.
Setelah menata semua makanan yang dibawanya, salah satu pelayan yang kasihan kepada madam ketiganya memberanikan diri untuk bersuara.
“ Tuan muda ketiga, haruskan saya memanggil madam ketiga sekarang ?...”, ucap pelayan tersebut was – was.
Mendengar ucapan berani pelayan istrinya itu wajah Bai Cheung langsung menggelap. Dia tidak akan pernah memanggil wanita jahat itu kesini.
“ Biarkan saja dia mati kelaparan !!!...aku tidak akan pernah membagi secuilpun makanan ini kepadanya !!!...”, batin Bai Cheung sinis.
Melihat wajah tuan mudanya yang terlihat sangat marah, kedua pelayan Fan Jianying itu pun langsung pamit undur diri dan segera melesat pergi keluar.
Bai Cheung berdiri di depan mejanya dengan tatapan tajam dan mengambil amplop tebal yang dia sembunyikan disalah satu sudut meja kerjanya.
Dengan sangat hati – hati dia membaca surat yang ada didalamnya dengan seksama. Setelah memastikan bahwa tidak ada masalah, diapun segera melipat kertas dan memasukkannya kembali kedalam amplop yang bertuliskan “ untuk nenek ”.
Kemudian dia segera meletakkan surat tersebut kedalam sebuah laci rahasia yang berada disudut meja kerjanya dan langsung menguncinya.