NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: ANCAMAN DI TENGAH JALAN

...BAB 35...

...ANCAMAN DI TENGAH JALAN...

Hari-hari terasa semakin berat bagi Alina. Usahanya melaporkan kasus tabrakan ke polisi sebelumnya berakhir dengan kekecewaan. Keluarga Raka justru mempermalukannya, seolah dialah yang membuat tuduhan tanpa dasar. Namun, rasa putus asa tidak bertahan lama. Di dalam hatinya tumbuh tekad yang semakin kuat—ia tidak akan berhenti menggali kebenaran, baik mengenai kecelakaan Bu Kirana maupun kejatuhan usaha ayahnya yang selama ini terasa penuh kejanggalan.

Dengan bantuan Farhan, Alina menyusun langkah baru. Mereka sadar bukti fisik seperti motor sudah dihilangkan, tapi jejak lain pasti masih tersisa. Farhan menyarankan untuk memeriksa sumber rekaman resmi yang ada di sekitar lokasi kejadian.

Pagi itu, mereka kembali ke depan toko milik Pak Aditya. Di sana, mereka bertemu Pak Surya, warga yang sempat melihat kejadian itu dan memberikan foto awal. Begitu mendengar kesulitan yang dihadapi Alina, Pak Surya tergerak hatinya dan memberikan informasi penting.

“Sebetulnya, di tiang lampu jalan tidak jauh dari sini terpasang kamera pengawas milik dinas perhubungan. Posisi kameranya menghadap persis ke arah depan toko dan jalanan tempat kejadian berlangsung,” jelas Pak Surya sambil menunjuk ke arah tiang di seberang jalan. “Saya baru teringat belakangan ini. Mungkin saja rekamannya masih tersimpan dan bisa lebih jelas daripada sekadar foto yang saya ambil dari jauh.”

Jantung Alina berdegup kencang mendengar kabar itu. “Benarkah? Kalau begitu, kita bisa meminta izin untuk melihat rekamannya, bukan?”

“Bisa saja, tapi harus melalui prosedur resmi dan bantuan pihak kepolisian agar diperbolehkan mengaksesnya,” jawab Farhan sambil mengangguk yakin.

Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, Raka dan ayahnya sudah mulai merasa terdesak. Mendengar kabar bahwa Alina dan Farhan terus menyelidiki, Bapak Haris menjadi gelisah. Ia tahu, jika sampai kebenaran terungkap, nama baiknya dan seluruh kekayaan yang ia bangun dengan cara kotor akan hancur seketika.

“Raka, gadis itu tidak akan berhenti jika dibiarkan. Kalau dia terus menggali, kita semua bisa terjebak. Lakukan apa saja agar dia berhenti dan tidak lagi mengganggu kita,” perintah Bapak Haris dengan nada dingin dan penuh ancaman.

Raka mengangguk setuju. Rasa dendam dan ketakutan bercampur menjadi satu di hatinya. Ia tidak ingin rencananya gagal begitu saja. Malam itu, ia menyusun rencana. Ia menyuruh dua orang anak buahnya yang sering membantunya untuk menghadang Alina di jalan yang sepi, memberi pelajaran, dan mengancamnya agar menghentikan semua penyelidikan itu.

Malam itu, langit terlihat gelap hanya diterangi cahaya lampu jalan yang redup. Alina berjalan menuju rumah sakit sambil membawa tas berisi kotak makan malam yang telah disiapkan untuk Ayahnya dan Dimas. Ia sengaja berjalan kaki sebentar karena jalanan di kawasan itu tidak terlalu ramai dan jaraknya tidak jauh dari rumahnya. Hatinya tenang, pikirannya terfokus pada kesembuhan Bu Kirana, tanpa menyadari bahaya yang mengintai dari kegelapan.

Saat melewati gang yang agak sepi dan redup cahayanya, tiba-tiba dua sosok pria bertubuh besar muncul dari balik tembok, menghalangi jalan di depan dan belakangnya. Mereka berpakaian serba gelap, wajah tertutup sebagian, dan tatapan mereka terlihat mengancam.

“Mau ke mana, Nona? Lebih baik berhenti saja mencari masalah yang bukan urusanmu,” ujar salah satu pria itu dengan suara kasar.

Alina terkejut, namun ia berusaha menenangkan diri. Ia teringat semua latihan karate yang ia pelajari selama ini bersama Farhan dan gurunya. Walaupun baru menguasai dasar-dasarnya saja, ia tahu ia harus berusaha melindungi dirinya sendiri.

“Siapa kalian? Dan siapa yang menyuruh kalian datang ke sini?” tanya Alina dengan suara tenang namun tegas, mengambil posisi siap bertahan seperti yang diajarkan.

“Kami hanya menyampaikan pesan. Jika kau tidak berhenti menyelidiki kasus kecelakaan itu, jangan salahkan kami jika terjadi hal buruk padamu,” jawab pria lainnya sambil melangkah mendekat.

Tanpa menunggu lebih lama, salah satu pria itu berusaha menangkap lengan Alina. Dengan gerakan refleks yang ia latih berulang kali, Alina memutar pergelangan tangannya, melepaskan cengkeraman itu, lalu mendorong tubuh pria itu menjauh dengan satu gerakan kaki dasar. Namun, karena ia belum begitu lihai dan lawannya jauh lebih kuat secara fisik, ia mulai terdesak. Serangan kedua pria itu datang secara bergantian, membuat napas Alina terengah-engah dan tubuhnya mulai terasa lelah.

Di tengah situasi yang makin genting, terdengar suara deru motor yang melaju kencang dan berhenti mendadak di mulut gang.

“Alina! Menyingkir lah!” teriak suara yang sangat dikenalnya.

Itu Farhan. Ia khawatir mendengar kabar bahwa Alina berjalan sendirian ke Rumah Sakit saat Farhan telepon tadi, sehingga ia memutuskan untuk menyusulnya. Tanpa ragu, Farhan segera melompat turun dan menghadang kedua pria itu. Dengan kemampuan bela diri yang jauh lebih terlatih, ia berhasil melumpuhkan mereka dalam waktu singkat.

Melihat situasi berbalik, salah satu pria yang hanya mengawasi dari jauh, segera mengeluarkan ponselnya dan berteriak meminta bantuan. Dari kejauhan, sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilap melaju mendekat. Jendela kaca mobil itu terbuka sedikit, dan tak sengaja Alina melihat sosok Raka yang duduk di balik kemudi.

Raka hanya melirik sekilas, lalu segera melajukan mobilnya pergi dengan kecepatan tinggi, membiarkan kedua anak buahnya tertangkap.

“Kau tidak akan bisa lari selamanya, Rakaaa!” teriak Alina sambil menatap mobil itu yang menjauh menghilang di tikungan jalan.

Farhan segera mendekat, memeriksa keadaan Alina. “Kau tidak terluka, kan? Seharusnya kau tidak berjalan sendirian malam begini?”

Alina menggeleng, napasnya masih terengah namun tatapannya tajam. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang tepat waktu. Tapi tadi aku melihatnya… itu Raka, Han! Dia mengirim orang-orangnya untuk mengancamku.”

Saat itu juga, ingatan Alina terlintas kembali. Hari sebelumnya, saat mereka sempat diminta menunggu di halaman rumah keluarga Haris sebelum dipanggil polisi, ia melihat mobil sport hitam yang sama terparkir rapi di garasi rumah itu. Saat itu ia hanya mengira itu salah satu kendaraan mereka, namun sekarang ia yakin itu adalah mobil yang sama yang baru saja membawanya pergi.

“Farhan, tunggu sebentar,” kata Alina cepat. Ia segera mengeluarkan ponselnya, lalu membuka galeri foto yang sempat ia ambil secara diam-diam saat menunggu di halaman rumah Raka kemarin. Ia sengaja memotret semua kendaraan yang ada di garasi itu sebagai langkah berjaga-jaga, tanpa menyangka akan berguna secepat ini.

“Lihat ini. Mobil yang tadi membawanya pergi sama persis dengan ini. Dan ini bukan satu-satunya jejak yang kita miliki,” ujar Alina dengan mata berbinar, menyadari bahwa mereka semakin dekat pada kebenaran.

Farhan pun menelisiki foto mobil-mobil mewah yang terparkir dan berjejer rapi di halaman luas rumah Raka.

"Kau memang cerdik, Alin!" pujinya. Pipi Alina memerah lantas tersenyum tersipu.

Bersambung ....

Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentarnya 😆👋

1
Kam1la
tangkap saja si Raka
Kam1la
Raka pelakunya kah...?
Kam1la
semoga bu Kirana baik-baik saja
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ulah songong monyet.
Kayla Rane: 😂🤭 ulah emosi teuing
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh, terserah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tante
penulismisterius
sabar ya bu Kirana😞
nanti Alina juga perlahan luluh
penulismisterius: siap kak sama samaa😄😄
total 2 replies
Kam1la
Alina keren....
Kam1la
akhirnya, Alina menyadari juga
Kam1la
bu Kirana meski disakiti, hatinya tetap baik dan peduli
Kam1la
Alina mulai berubah
Kam1la
jujur saja Alina
Kam1la
kasihan Alina. ketakutan
Kam1la
nah kan, baru terasa kehilangan
Kam1la
akhirnya mau pulang juga
Kam1la
ayo, Alina pulang ke rumah
Kam1la
jangan pergi bu Kirana. ....
Kam1la
Alina pasti mau pulang ke rumah
Kam1la
untung ada Farhan... kamu datang tepat waktu Faran.
penulismisterius
kasihan Dimas, semoga Alina bisa akur dengan ibu tiri dan adiknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!