Penjara cinta yang suaminya ciptakan membuat Firda tak tahan lagi . Ia hidup namun tak bisa hidup dengan bebas seperti manusia pada umumnya . Suaminya itu menyuruhnya melakukan hal hal yang tak ia sukai mulai dari Memakai softlens berwarna biru setiap hari , menghadiri les memasak juga menghadiri les piano .
Bukan hanya itu saja , setiap ia pergi keluar dari rumah .Para bodyguard selalu mengikuti dirinya , ia merasa tak nyaman namun ia berusaha berpikir positif bahwa itu semua suaminya lakukan demi keselamatan nya .
Namun semakin hari ia semakin tak nyaman , ia seperti seorang boneka yang hanya bisa pasrah di mainkan dan di atur oleh orang lain . Kebebasan nya seakan terenggut saat ia menikah dengan suaminya itu . Karena merasa lelah dan muak dengan itu semua akhirnya Firda mulai tak menuruti apa mau suaminya . Ia mulai lupa mengenakan softlens biru yang suaminya suruh pakai setiap hari .
Awal nya ia kira suaminya tak akan marah namun justru ia salah . Suaminya murka dan mengamuk hingga berakibat kekerasan dalam rumah tangga yang ia alami .Hal itu semakin membuat Firda tak kuat lagi menjalankan rumah tangga nya , keinginan nya untuk mengakhiri rumah tangga nya semakin kuat setelah mengetahui fakta bahwa suaminya menikahi dirinya hanya karena ia mirip dengan istri laki aki itu yang sudah meninggal . Hatinya semakin hancur kala mengtahui jika perintah perintah yang suaminya berikan hanya lah agar dia terlihat semakin mirip dengan mendiang istrinya .
Hingga akhirnya wanita itu memilih pergi mulai dari meminta cerai yang suaminya tolak mentah mentah. Hingga memalsukan kematian nya sendiri agar terbebas dengan dari cengkraman sang suami .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34.Aku menemukan mu lagi.
Dengan paksa bawahan Brian mengangkat dagu Firda, kini terlihat lah wajah Firda yang nampak sayu. Matanya sembab dan juga bibirnya pucat menahan ketakutan yang teramat sangat.
Sementara Brian, laki laki itu terus memandang wajah Firda yang begitu menyedihkan. Laki laki itu berdecak tak suka , ia kira orang yang gugup dan menabrak bawahannya adalah Firda istrinya yang lama hilang namun ternyata itu orang lain.
Brian mendesah kecewa meski begitu ia tetap bertanya pada gadis di hadapannya itu, mengapa ia gugup dan ketakutan.
"Kenapa kamu gugup, dan ketakutan seperti tadi hingga bersikap ceroboh dan menabrak anak buah saya?" tanya Brian dengan nada dingin nya, wajah nya tegas tak berekspresi.
"Dia tak mengenaliku?" ucap Firda mulai lega karena Brian tak mengenali dirinya. Tak lama seseorang datang menghampiri Firda dan langsung memeluk nya.
Firda terkejut, wanita itu tak dapat bergerak dan hanya diam mematung mendapatkan pelukan yang begitu mendadak itu.
"Maafkan istri saya tuan, dia sedang bertengkar dengan saya makanya dia begitu sedih hingga kurang fokus. Tolong maklumi saja dia dan biarkan kami pergi ya." ucap orang itu beralibi agar Firda dapat terbebas dari Brian. Firda menatap wajah laki laki yang memeluknya dengan pandangan tak percaya..
Ia tak menyangka seseorang yang ia kira menjauhi dirinya dan tak ingin bertemu dengan nya lagi ternyata datang menyelamatkan dirinya dari situasi tak mengenakan itu.
Sedangkan Brian yang melihat mereka menjadi teringat istrinya, ia juga sering bertengkar dengan Firda. Bahkan tak jarang ia mengunakan tangan nya untuk memukul dan memberi istrinya itu pelajaran. Mengingat itu ia jadi menyesal seandainya ia tak bersikap kasar mungkin Firda masih bertahan disisinya menemani hari harinya.
Setelah lama merenung Brian pun mengalihkan kembali pandangan nya pada pria dan wanita yang saat ini sudah berdiri sambil berpelukan itu.
"Baiklah selesaikan lah masalah kalian dengan baik, jangan sampai kamu menyesal seperti ku." ucap Brian berlalu pergi setelah mengatakan hal itu. Firda langsung menangis di pelukan Farel, sementara Farel mengusap punggung wanita di pelukan nya dengan perlahan.
"Aku takut mas, takut ...aku takut dia mengenali ku dan membawa ku pergi. Aku tak mau kembali bersama nya mas." ucap Firda sesenggukan di dada bidang Farel, Farel yang merasakan kemejanya basah oleh air mata Firda pun tak masalah akan hal itu. Ia tetap membiarkan Firda menangis untuk meluapkan emosi dan perasaan nya hingga wanita itu lega sendiri.
"Tenang jangan takut, dia tak akan menyakitimu. Wajah mu sudah berubah kamu tak lagi orang yang dulu.. Jadi kamu harus tenang oke. " ucap Farel mengusap air mata yang menggenang di pipi Firda dengan kedua jari jemari nya..
"Jangan takut , tersenyum lah aku akan ada untuk mu. Akhirnya aku menemukan mu aku kira aku tak dapat melihat mu lagi tadi. " ucap farel kembali memeluk Firda erat. Firda membalas pelukan itu dengan tak kalah eratnya. Mereka saling berpelukan satu sama lainnya.
Setelah dirasa Firda cukup tenang Farel segera mengajak wanita itu pulang kerumah nya.
"Tunggu lah di sini aku akan buatkan minuman hangat untuk mu." Ucap Farel saat mereka baru tiba di rumah.
"Iya mas." Ucap Firda pelan. Wanita itu masih syok akibat pertemuan nya kembali dengan Farel. Tak lama Farel kembali dengan segelas teh hangat di tangan nya.
"Ini minumlah, selagi masih hangat " Ucap Farel menyerahkan segelas teh hangat ke hadapan Firda. Firda segera meneguk teh hangat itu hingga tandas.
"Kamu haus." ucap Farel terkekeh pelan melihat Firda langsung menghabiskan minuman yang ia buatkan.
"Saya sangat ketakutan mas, sampai tenggorokan saya terasa kering tadi karena menahan rasa takut. Tapi untung nya dia tak mengenali saya dengan wajah baru yang seduh mas berikan." Ucap Firda tersenyum, Farel ikut tersenyum melihat wanita di hadapannya itu sudah bisa lebih tenang dan kini tengah tersenyum kepadanya.
"Sekarang kamu jangan takut lagi, aku akan membantu mu membuat identitas baru agar kamu lebih tenang lagi."
Kini Firda semakin lega mendengar apa yang Farel ucapkan, wanita itu akan segera terbebas dari bayang bayang masa lalu nya yang kelam. Iya tak perlu terlalu takut dan khawatir lagi sekarang.
"Em tapi kenapa mas tak menemui saya 2 hari ini, apa mas menjauhi saya?" tanya Firda penasaran dengan alasan Farel tak menemuinya dua hari terakhir ini.
Deg.
Jantung Farel berdetak lebih cepat, ia tak tau harus menjawab apa. Apa ia akan menjawab jika dirinya sedikit merasa bersalah dan syok dengan hasil oprasi Firda yang begitu mirip istrinya. Atau ia harus diam dan memendam rahasia itu sendiri?. Jika ia mengatakan yang sebenarnya maka wanita di hadapannya itu akan terluka dan mungkin tak mau mengenal dirinya lagi.
Farel semakin bingung dan tak ingin Firda mengetahui hal itu. Ia tak ingin Firda membenci dan menjauhi dirinya, jadi ia hanya bisa diam seraya menutup mulutnya rapat rapat agar wanita itu tak curiga nantinya.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya sedang sibuk dengan pekerjaan ku saja. Aku tak bermaksud menjauhi mu." Ucap Farel sedikit gugup karena telah berbohong kepada Firda.
"Em seperti itu ya, mas...aku sebenarnya tak enak tinggal di sini. Aku ini bukan siapa siapa kamu, jadi untuk menghindari hal hal tak di inginkan aku ingin izin keluar dari rumah ini setelah aku mendapatkan pekerjaan nanti. Bagaimana, kamu tak masalah kan akan hal itu?" Tanya Firda dengan nada lemah lembut nya. Farel terdiam, ada sedikit rasa tak rela jika ia tak bisa melihat wajah yang mirip istrinya itu lagi.
Namun ia juga tak bisa memaksa Firda untuk tinggal bersama nya, karena ia bukan siapa siapa nya. Ia tak ada hak mengatur hidup wanita malang itu. Ia hanya penolong nya tak lebih dari itu.
"Baiklah jika itu keputusan mu aku tak akan menghalangi mu, tapi jika kamu mau berubah pikiran dan mau menetap di rumah ini aku juga tak melarang nya. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk mu." Senyum seketika terbit di bibir Firda wanita itu sungguh beruntung memiliki penolong baik hati seperti Farel, andaikan farel tak berbaik hati menolong nya pasti ia sudah tertangkap oleh Brian sejak awal.
"Terimakasih ya mas, mas sudah baik sekali sama saya." Ucap Firda tersenyum begitu tulus. Ia akan menganggap Farel sebagai penolong nya sampai kapan pun itu.
"Sesama manusia memang harus saling membantu, sudahlah tak usah di pikirkan lagi. Oh iya rencana nya kamu mau cari kerja di mana?" Tanya Farel penasaran dengan planning wanita di hadapannya itu ke depan..
"Tak tau, saya berencana untuk mencari pekerjaan di toko toko terdekat. Karena mau cari pekerjaan yang lebih baik pun seperti nya mustahil. Ijazah dan identitas saya masih tertinggal di rumah besar itu."
"Em begitu ya, nanti aku bantu tanyakan pada teman ku. siapa tau ada lowongan di tempat kerja mereka." ucap Farel ingin membantu gadis di hadapannya itu.
"Iya mas terimakasih."
"Oh iya Firda, ini untuk mu ambilah agar aku mudah menghubungi mu dan kamu juga mudah menghubungi ku saat membutuhkan sesuatu" Ucap Farel menyerahkan Ponsel keluaran terbaru di hadapan Firda.
"Eh gak usah mas, ini terlalu mahal. Saya tak bisa menerima nya." Tolak Firda halus dan menggeser ponsel di hadapannya itu ke hadapan Farel.
"Tak apa lagi pula aku sudah membelinya, sayang kalau gak di pakai kan. Pakai lah, jika kamu tak mau memakai nya maka aku akan membuang nya saja."
"Eh jangan di buang dong mas, mas ini buang buang uang saja. Ya sudah saya mau menerimanya dengan terpaksa dari pada mas membuangnya kan sayang. "
Dengan berat hati Firda menerima hendphone itu. Farel tersenyum ia senang Firda akhirnya mau menerima pemberian nya ya meski harus di paksa terlebih dahulu.
.
..
.
Jangan lupa like, komen, vaf dan hadiah ya.
Dukungan kalian sangat berarti untuk kami para author.
tapi seru juga ....
semangat otor.